
🌱🌱🌱
Semua murid dan beberapa guru berlari dengan cepatnya ke arah kantin yang berada di samping kamar mandi tempat biasa aku mencurahkan isi hatiku.
"Yah, aku nggak jadi pingsan deh, semua orang habis lari kesana, jika aku pingsan siapa yang membopongku ke UKS?" aku bergumam dalam hati.
AUTHOR POV
Rani ini ada rada - rada lucunya juga guys, dan ada juga rada bucinnya, jadi readers jangan bosan ya dengan cerita Rani ini, karena semua masalah yang Rani hadapi akan selesai di akhirnya. 😊😊
AUTHOR OFF
BACK TO STORY
Tak mau kalah dengan yang lain, segera ku percepat langkah kaki ini supaya tidak ketinggalan berita satupun.
"Eh, itu ada apa ya?" tanyaku kepada salah satu adik kelas.
"Itu kak, kak Fiyan sama kak Bagas kelahi di belakang kantin, kak Fiyan di keroyok sama teman - temannya sendiri," jelas adik kelas itu.
"Oke, makasih infonya," ucapku.
Mendengar kata Fiyan dan Bagas, segera ku urungkan niat untuk tidak melihat kejadian itu secara langsung, karena bagiku mereka tidak penting untuk di tonton.
"Ah mereka, lebih baik aku makan di kantin daripada lihat mereka," batinku.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, seseorang memanggilku dengan nada suara yang sangat terburu - buru.
"Hey Rani, kamu mau kemana?" tanya seseorang itu dengan nafas yang ngos - ngosan.
"Ke kantin," ucapku menunjuk ke arah kantin yang dekat dengan ruang majelis guru.
"Eh kamu, Nad, yuk ke kantin!" ajakku kepada seseorang yang telah memanggiillku tadi, ternyata dia adalah Nadya.
"Apa ke kantin?" gertak Nadya.
"Iya, emang ada apa?" tanyaku.
"Dalam situasi begini lu malah ke kantin? lu gak ada rasa sosial sedikitpun," gertak Nadya.
"En-enggak juga sih, tapi tolong bilangin ke Bagas, jangan main hakim sendiri, kan Fiyan yang jadi korbannya," ucap Nadya.
"Emang mereka siapa gue? yaudah gue ke kantin dulu," ucapku kemudian pergi.
"Dasar! elu gak punya rasa sosial," ucap Nadya yang masih terdengar oleh telingaku.
☘️☘️☘️
Menuju kantin, aku harus melewati sebuah pohon yang sangat rindang, tempat biasa murid - murid yang kutu buku membaca disana.
Tetapi disana membuat mataku terfokus kepada sepasang murid yang sedang bermesraan di bawah pohon tersebut.
__ADS_1
Aku segera mendekati mereka, karena mereka melanggar peraturan sekolah bahwa tidak boleh berduaan yang bukan muhrimnya di sekolah ini, apalagi di tempat yang sepi seperti ini, mereka akan membuat nama sekolah tercemar.
Ketika hendak melangkah, seseorang memanggilku. Dan fokusku kepada orang yang memanggil tersebut.
"Eh, kak Rani ada disini, " ucap seseorang itu.
Aku mengangguk tanda mengiyakan.
"Kakak di panggil tuh ke ruangan kepsek," ucap seseorang itu.
"Oke, terimaksih," ucapku.
Kemudian seseorang itu pergi, dan fokusku kembali kepada sepasang murid tadi, segera ku berlari ke pohon itu, ternyata mereka tidak ada lagi disana, Aku mencari mereka dari sudut ke sudut, masih tidak ditemukan keberadaan mereka.
"Siapa mereka?" batinku.
"Mereka pasti mengetahui aku akan mendekatinya, karena takut akan ku laporkan ke ruang BP," ucapku.
"Dasar, kalian tidak akan bisa lari dariku," batinku.
Tak lama kemudian, teringat akan perkataan seseorang tadi, dengan segera ku percepat langkah untuk menuju ke ruangan kepsek.
Sampai disana aku melihat Fiyan dan Bagas dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan.
"Rani?"
__ADS_1