
🌱🌱🌱
"Maharani Puspita Sari, ada yang bisa Bapak bantu?" tanya kepsek.
"Bukannya Bapak memanggil saya untuk datang kesini?" tanyaku balik.
"Jawab pertanyaan saya!" gertak kepsek.
"Jawab juga pertanyaan saya, Pak!" Rani tak kalah gertaknya.
"Kamu jangan membentak saya di ruangan saya sendiri," ucap kepsek.
"Sa ...," perkataanku terputus karena Fiyan menutup mulutku dengan cepat dengan telapak tangannya.
"Sudah, kamu keluar!" ucap kepsek.
"Bolehkah saya bicara dengan Rani sebentar, Pak?" tanya Fiyan.
"Oke, Bapak kasih kamu waktu sepulu menit," ucap kepsek.
"Terimakasih, Pak," jawab Fiyan.
Fiyan menarik tanganku dan segera membawaku keluar.
"Rani, kamu ngapain ke ruangan kepsek?" tanya Fiyan.
Aku hanya diam, dan memutarkan mata akan pertanyaan Fiyan.
"Rani, jawab dong!" ucap Fiyan.
"Aku nggak mau bicara dengan orang yang hampir membuat duniaku hancur," ucapku.
"Maafkan aku, aku telah menjalankan perintahmu untuk tidak mendekatimu lagi, Rani," ucap Fiyan.
"Tapi aku mohon maafkan aku," lanjutnya.
"Aku akan memaafkanmu, tapi ...,"
"Tapi apa?" tanya Fiyan dengan mata yang mulai berkaca - kaca
"Jauhkan aku! hargai perasaan Nadya, karena Nadya butuh kamu," ucapku.
"Aku akan fikirkan itu, tapi aku tidak mau menjauh darimu," ucapnya.
__ADS_1
Aku hanya diam menanggapi perkataan Fiyan.
Kemudian terdengar guru BP memanggil nama Fiyan beberapa kali.
"Fiyan?" panggil guru BP.
"Iya Bu, sebentar lagi saya akan kesana," ucap Fiyan.
Kemudian guru BP masuk ke ruangan kepsek.
"Oh iya, kamu kok bisa datang kesini?" tanya Fiyan
"Aku tidak akan kesini jika tidak ada panggilan," ucapku.
"Apa? kepsek memanggilmu?" tanya Fiyan heran.
"Iya," jawabku.
"Kapan?" tanyanya.
"Tadi, seseorang adik kelas yang menyampaikan nya kepadaku," ucapku
"Sepertinya kamu salah deh," ucap Fiyan.
Raut wajahku berubah.
"Kamu serius?" tanyaku.
"Iya," ucap Fiyan bersungguh - sungguh.
"Ya udah aku masuk dulu, assalamualaikum,", pamit Fiyan.
"Waalaikumssalam," jawabku.
"Baik sih, tapi sayang dia licik," batinku menantap ke punggung Fiyan, kemudian pergi.
☘️☘️☘️
"Aku akan cari adik kelas yang membohongi ku tadi," batinku.
Tepat di depan kelasnya Fakur, seseorang mengejutkanku dari belakang.
"Bwaaa ...."
__ADS_1
"Salsa ...."
"Eh dasar, aku hampir mati nih," gerutuku kepada Salsa.
"Maaf, maaf, habis kamu ngilang dari tadi, kan aku nggak ada teman," ucap Salsa dengan tawa khasnya.
"Siapa bilang, kan ada Nita," ucapku.
Kemudian raut wajah Salsa berubah ketika aku menyebut nama Nita.
"Eh ada apa sih?" tanyaku menghentikan lamunan Salsa.
"Enggak ada," ucap Salsa.
"Oh iya, sehari ini aku tidak ada lihat Nita, kemana dia?" tanyaku.
"Udah, lupakan saja!" ucap Salsa.
"Kamu ngapain kesini?" tanya Salsa.
"Itu tuh, aku tuh lagi cari adik kelas yang modusin aku," ucapku.
"Aduh ... siapa sih adik kelas yang modusin kamu?" tanya Salsa.
"Enggak tahu, pokoknya dia tadi perginya ke arah sini,"
"Emang apa kata buayanya dia buat ngerayu kamu, Rani?" tanya Salsa
"Aduh kamu ini, bucin banget, yaudah nanti aku ceritain, bantu aku cari dia dulu," kataku.
"Oke,"
Aku dan Salsa menjelajahi semua kelas, masih tidak kami dapati adik kelas yang telah membohongiku tadi.
"Aduh Rani, mau dicari kemana lagi? baik kita pulang aja," ucap Salsa.
"Aku masih penasaran, Sal," ucapku.
"Mungkin dia lagi bolos tuh, secara tampilan dia tadi seperti ******* bagiku," ledekku
"Hahaha, kamu serius? mana ada ******* di sekolah kita," ledek Salsa.
"Aku harus cari orang itu," ucapku dengan mantap
__ADS_1
"Dushh ...."
Seseorang berlari ke halaman belakang sekolah.