
🌱🌱🌱
"Awan dan Nita,"
Jadi Awan yang selama ini aku cari ternyata adalah panggilan Fakur dari Nita.
Nama Awan yang di anggap lebay oleh Salsa kemarin ternyata dia adalah Fakur? dan anniversary 2 tahun itu, berarti itu semua untuk Nita? jadi selama ini aku telah di permainkan oleh Fakur, tapi selama ini kenapa Nita mendukung aku dengan fakur?
Padahal mereka udah lama menjalin hubungan, dan ah ... lupakan, aku tidak mau membahas mereka lagi.
Nggak penting!
Pagi sekali bagiku untuk pergi ke kampus, karena saat ini yang aku butuhkan hanya belajar bukan memikirkan semua yang terjadi tadi malam.
Dengan jalan yang terburu - buru dan tidak menghadap ke depan, ternyata aku telah menabrak seseorang hingga membuatnya terjatuh.
"Maaf, maaf, aku tidak sengaja," ucapku.
"Yasudah, aku maafkan," ucapnya.
Kemudian kulihat wajah orang itu, dia tersenyum manis kepadaku.
"Fiyan?" ucapku.
"Kamu kenapa pagi - pagi udah ngampus? kan kita masuk jam 9," lanjutku.
"Kamu sendiri kenapa datangnya cepat?" tanyanya balik.
"A-aku takut terlambat lagi," ucapku terbata - bata.
"Kamu sendiri?" tanyaku balik.
"Ketua BEM mengirimiku pesan tadi malam, katanya disuruh ke ruangannya," jelas Fiyan.
"Ooh ... boleh aku ikut?" tawarku.
__ADS_1
"Hmm ... boleh boleh, siapa sih yang ngelarang," ujarnya.
Kemudian aku dan Fiyan berjalan beriringan sepanjang melewati gedung yang saat ini kami lewati.
"Perjalanan bersama Fiyan mengingatkanku ketika aku dan Fakur berjalan mencari jalan tikus untuk bolos sekolah," batinku.
"Kamu kenapa? seperti memikirkan sesuatu?" tanya Fiyan.
"Hmm ... eng-nggak kok."
"Yasudah," jawab Fiyan.
"Oh iya Rani, aku mau nanya," lanjutnya.
"Dan kamu jawab sejujur - jujurnya!"
"Dan kamu wajib menjawabnya!"
"Heh, kurasa itu pertanyaan yang penting bagimu," ujarku.
"Sangat penting," jawab Fiyan.
"Oke, jadi gini,"
"Gimana hubungan kamu dengan adik kelas itu?" tanya Fiyan.
Aku hanya diam.
"Kok diam? katanya mau jawab!" tegas Fiyan.
"Aduh ... Fiyan malah bahas ini, padahal aku ingin melupakan semuanya," batinku.
"Oke, diammu adalah jawaban dariku," ujar Fiyan seperti sudah tahu semuanya.
"Aku belum jawab kok," ucapku.
__ADS_1
"Kamu belum jawab pun aku sudah tahu semuanya," ucap Fiyan.
"Yasudah lupakan!" tegasku kemudian berjalan mendahului Fiyan.
"Eh dasar si tukang ngambek," ledek Fiyan.
Kemudian aku dan Fiyan sudah sampai di depan pintu ruangan ketua BEM.
"Oh iya, kamu tunggu disini ya, sepertinya ini penting sekali bagi ketua," ucap Fiyan.
"Oke!"
☘️☘️☘️
POV FIYAN
Handphone ku berdering tanda pesan masuk.
[Besok pagi kamu harus segera ke ruanganku,] pesan dari nomor tak dikenal.
[Jangan bawa siapapun]
[Ini siapa?] balasku.
[Ketua BEM] balasnya.
[Ini perintah dari ketua] balasnya.
[Oke, Besok pagi saya akan kesana, Ketua] balasku.
Ya ... benar nomor baru itu adalah ketua BEM di kampus ku. Aku selalu mengisi waktuku untuk mengikuti semua kegiatan di kampus terutama masuk anggota BEM, dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya.
Pesan dari ketua BEM itu sangat membuatku terkejut, karena dia dikenal dengan sombongnya. Aku harus mematuhi perintah darinya karena dia adalah ketua.
Karena memikirkan itu, aku tidak tidur semalaman. Entah apa yang akan di bicarakan ketua denganku.
__ADS_1
Tepat pukul tiga dini hari, segera ku laksanakan ibadah sholat tahajjud.
Setibanya di kampus, aku sangat terburu - buru, bersamaan dengan itu, tiba - tiba seseorang menabrakku dari depan dengan kerasnya dan membuatku jatuh ke lantai.