
"Mana Rani? mana Rani? dia orang jahat, jahat, dia pantas mati, mati, mati ...!" teriak anak perempuan yang biasa di panggil Anggi itu.
"Istighfar, Nggi," ujar seseorang.
"Ayo panggil pak Yudha segera! dia pandai merukyah, cepat! cepat!" perintah seseorang.
"Serahkan Rani padaku, atau kalian semua menjadi taruhannya," teriak Anggi.
"Rani siapa? nggak ada Rani disini," jawab seseorang itu.
"Maharani Puspita Sari, kalian bohong, pasti kalian sembunyikan dia, hihihi ...," jawab Anggi kemudian tertawa layaknya seperti kuntilanak.
"Apa? itu aku, mau apa dia kepadaku?" batinku.
Murid lain hanya melihatku dengan sudut pandang yang berbeda, mungkin mereka menganggap akulah dalang dari semua kejadian menimpa Anggi.
"Kamu siapa?" tanya pak Rahmat penjaga sekolah.
"Aku Dea, aku mau Rani?" tanya Anggi dengan suara yang berserak.
Kemudian datanglah pak Yudha, dengan segera pak Yudha menyuruh pak Rahmat untuk membawa Anggi ke mesjid sekolah, dan pak Rahmat segera membopongnya.
Aku tidak mengikuti mereka, dan bergegas kembali ke kelas, karena risih sosok Dea itu mencariku lagi.
Dari jauh terdengar suara Anggi berteriak memanggil namaku lagi, aku tidak tahu apa yang diinginkan sosok Dea itu kepadaku, aku sama sekali tidak pernah mengusik makhluk lain yang berbeda kehidupannya dariku. Jangankan mengusik, mendengar nama itu saja aku tidak suka.
"Ran, tuh setan si Anggi kok bisa ya nyari kamu? padahal kan kamu nggak suka yang berbau mistis gitu," tanya Salsa yang menyelonong masuk ke dalam kelas.
"Aku nggak tahu Sal, makanya aku kesini. Supaya setan itu nggak cari aku lagi," jawabku sedikit panik.
"Kok bisa ya?" jawab Nita dengan melentikkan jari telunjuk ke kepalanya, "apa ada orang dibalik semua ini?" lanjutnya.
"Eh kamu ngeyel nih, Nit, nggak mungkin lah, Rani kan orangnya baik," tutur Salsa.
__ADS_1
"Jadi, siapa dong?" tanya Nita.
"Itu mungkin dia fans sama Rani, secara kan Rani mirip boneka Barbie gitu, biarpun tembem tapi mempesona juga kalau dilihat," jawab Salsa.
"Ini mah kamu yang ngawur, Sal," ucapku.
Tak terasa pikiranku fokus ke Fakur, dimana dia sekarang? kenapa di sekolah dia jarang menampakkan wajahnya? apa dia pemalu? nggak mungkin, pasti dia ada kegiatan lain, atau dia lagi makan di kantin.
"Rani, kamu di panggil kepala sekolah di ruangan BP, tuh," ucap Yoga yang baru masuk ke kelas.
"Ke-kepala sekolah a-ada urusan apa di-dia kepadaku?" tanyaku terbata-bata.
"Nggak tahu, mungkin masalah Anggi ini," jawab Yoga.
"Oke, deh," jawabku.
🌱🌱🌱
Sesampainya di ruangan BP, segera kubuka pintu "Assalamualaikum," sapaku.
"Saya Maharani Puspita Sari, pak, apakah bapak memanggil saya kesini?" tanyaku.
"Iya," jawab kepala sekolah.
"Kamu sudah tahu kan, alasan bapak memanggil kamu ke ruang BP?" tanya bapak kepala sekolah.
"Be-belum pak," jawabku terbata-bata.
"Kamu tahu Anggi? dia memberontak, semua guru kewalahan dan sebagian ada yang pingsan karena ulahnya," jelas kepala sekolah.
"Jadi, apa hubungannya dengan saya, pak?" tanyaku.
"Saya curiga kamu dalang dibalik semua ini, karena dia sempat memanggil nama kamu," jawab kepala sekolah.
__ADS_1
"Saya tidak mengerti maksud bapak, selama seminggu saya terbaring di rumah sakit, ini hari pertama saya sekolah setelah pulang dari rumah sakit, tiba-tiba bapak malah menuduh saya yang bukan-bukan," jawabku.
"Kalau menyangkut hal-hal yang mistis saya tidak mau, pak, karena saya tidak suka dengan hal-hal yang gaib," lanjutku.
"Lebih baik Bapak ambil wudhu, dan segera sholat deh, pak! karena sholat bisa menghilangkan pikiran negatif Bapak yang seperti itu," jawabku.
"Kamu jangan mengajari saya seperti itu! saya bisa sendiri tanpa kamu suruh-suruh," bentak kepala sekolah.
"Yaudah, kalau Bapak tidak mau, saya pergi dulu, karena ini bukan urusan saya," jawabku kemudian berdiri mendekati pintu, "ingat pak, sholatlah walau Bapak dalam suasana tidak tenang, karena sholat adalah obat dari semua itu, assalamualaikum," lanjutku dan menutup pintu.
Heran deh lihat kepala sekolah seperti dia, baru kali ini aku menghadapi kepala sekolah seperti itu, menuduh muridnya melakukan hal-hal yang berbau mistis. Apalagi yang dituduh aku, seorang murid yang tidak suka dengan hal-hal yang seperti itu.
Sebenarnya aku tidak sanggup berkata seperti itu kepada orang yang lebih tua dariku, terlebih dia juga kepala sekolah di sekolahku. Serasa aku adalah anak durhaka, tapi mau gimana lagi, aku tidak suka dituding, apalagi dituding dalam hal-hal mistis begitu, sungguh tidak suka!
Aku menyelonong masuk kelas dan segera duduk.
"Gimana Rani? apa kata kepala sekolah?" tanya Yoga.
"Nggak ada. Sudah, lupakan saja!" jawabku kemudian diam.
~four months later~
Empat bulan lamanya, Fakur juga tidak ada kabar sampai sekarang. Fakur seperti hilang ditelan bumi, padahal tiga hari lagi aku akan melaksanakan Ujian Nasional. Tanpa kabar dari dia, hari-hariku seperti hampa. Fakur dimana kamu sekarang?
"Kamu kenapa, Ran? bengong gitu," tanya Nita.
"Aku teringat Fakur, Nit," jawabku.
"Lupakan saja, toh dia pergi nggak ngasih kabar sama kamu, udah ... kamu fokus saja ke Ujian Nasional kita ini, ini lebih berarti dari Fakur," ujar Nita.
"I-iya deh Nit," jawabku terbata-bata.
Tak terasa netraku menangkap sepasang bola mata menatapiku sedari tadi yang duduk di kursi kantin ini, sekilas ku telusuri tatapan itu.
__ADS_1
Ternyata dia ... tak terasa jantungku berdebar dengan kencangnya