
🌱🌱🌱
"Suara apaan Rani? kamu jangan buat aku takut deh," tanya Salsa yang sudah menahan rasa takut.
"I-i-itu seperti suaranya mbak ku-,"ucapku.
"Ku apa?" tanya Salsa yang sudah takut.
"Kuntilanak ...," teriakku dan membuat Salsa lari terbirit - birit.
"Hahaha tidur gih kamu sana, kamu sedari tadi buat aku penasaran, dan ini balasannya," gerutuku dalam hati kemudian tertawa gelu karena sudah mengerjakan Salsa.
"Aku mau tahu suara siapa itu?" batinku.
Kemudian kudekati kamarnya Nita, ternyata Nita sudah tidur dengan nyenyak dengan di kelumuni selimutnya yang tebal, saking nyenyak nya tidur dia sampai lupa menutup gorden jendela nya.
Karena rasa kepedulian ku terhadap teman sangat tinggi, tumbuhlah inisiatifku untuk mengetuk pintu kamar Nita supaya dia menutup gorden jendelanya kembali, karena takut kamarnya nanti di pergoki maling atau orang - orang nakal lainnya.
"Eh pintunya enggak di kunci, dasar Nita!" batinku.
"Awas saja! kalau dia sudah bangun aku ceramahin tujuh hari tujuh malam," batinku.
"Heh, Nita. Ayo bangun! gorden nggak di tutup, pintu enggak di kunci, nanti ada maling atau hewan buas yang masuk, kan kamu yang kena,", ucapku bermaksud untuk membangunkannya.
"Heh, Nit,"
"Nit," ucapku sambil menggoyangkan badannya.
"Eh kok," ucapku sedikit heran.
__ADS_1
Kemudian kubuka selimutnya dengan paksa.
Dan ternyata hanya dua bantal guling yang di selimuti.
"Apa maksud Nita dengan semua ini?" tanyaku.
"Kemana dia pergi?"
Kemudian ku jelajahi ke halaman depan kos, masih kudapati motor tersebut parkir disana.
"Aneh, apa mungkin ini motornya saudara Nita?"
"Katanya kan dia punya saudara disini."
"Apa iya?"
"Tapi kenapa dia seperti itu?"
"Eh itu sepertinya suara Nita dengan saudaranya."
"Tapi kenapa dia ngobrol disana?"
"Disana sepi dan gelap."
Samar - samar kudengar suara manja Nita mengucapkan kata 'awan', sepertinya nama saudara Nita adalah awan.
"Dasar Nita! sama saudara sendiri manja - manjaan," gerutuku dalam hati.
"Eh kok rasa keingintahuan aku semakin kuat ya."
__ADS_1
"Baik aku hampiri saja mereka, nanti kedengaran sama tetangga, bisa menimbulkan fitnah ini," batinku.
Kemudian segera ku hampiri mereka. dan benar disana sangat gelap dan sepi.
"Nita?"
"Nita?" panggilku.
"Kamu disana?" tanyaku.
Tidak ada yang menjawab..
"Nita, aku tahu kamu disana, kamu dan saudaramu itu lebih baik ngobrolnya di kursi ruang depan deh, kalau disini nanti bisa jadi fitnah," ucapku.
"Eeh Ra-Rani, ka-kamu ke-kenapa kesini?" tanya Nita terbata - bata.
"Kamu baiknya di ruang depan ngobrolnya, kalau disini gelap dan sepi, dikirain ada apa - apanya nanti," jelasku.
"I- iya, na-nanti aku ke-kesana, kamu pergi dulu ya!" suruh Nita.
"Yaudah aku pergi, tapi kamu ngobrolnya di ruang tamu ya!" suruhku.
"Oke, aku akan kesana," ucap Nita.
Aku masih penasaran atas tingkah Nita yang sangat gerogi dan saudaranya itu, Nita sangat membanggakan saudaranya tersebut, tapi kenapa rasa penasaranku masih tinggi bahwa orang itu bukan saudaranya Nita, melainkan pacar atau teman dekatnya Nita. Tapi, kenapa Nita tidak pernah cerita, seperti nya ada yang disembunyikan Nita dariku.
Bersamaan dengan itu, Nita dan saudaranya itu masuk ke kamarnya, tetapi wajah saudaranya itu tertutupi masker dan memakai kacamata berwarna hitam dan gelap.
Tapi, ada satu kejanggalan dimataku.
__ADS_1
"Baju itu ...."