
🌱🌱🌱
"Aduh ... ni orang ngerepotin segala," ujar Yoga.
"Ngerepotin lu bilang, tuh Nita pingsan gara - gara elu nih, tanggung jawab napa!" ujarku.
"Yakali gara - gara gue, kan elu yang mulai duluan, jadi gue lurusin rencana elu aja," ucap Yoga.
Salsa yang melihat Nita terbaring lemah hanya diam mematung.
"Elu Sal," menarik tangan Salsa, "Nita lagi pingsan lu diam, nggak tolongin kawanannya malah bengong," celoteh Yoga.
"Gue nggak bisa," ujar Salsa kemudian pergi.
"Dasar! kawan kaga setia banget jadi orang," celoteh Yoga.
"Udah, diam lu Ga! celoteh aja dari tadi, nanti gue lem tuh mulut lu,", ujarku.
Yoga hanya diam menanggapi.
Tak lama kemudian, Nita bangun dari pingsannya.
"Eh Nita lu udah bangun," ujar Yoga.
"Plakk ...."
"Kok elu nampar gue sih? salah gue apa coba?" gertak Yoga.
"Elu hampir buat gue jantungan," jawab Nita.
"Ya udah, gue minta maaf," ujar Yoga seperti anak kecil yang sedang minta maaf.
"Hahaha,"
__ADS_1
"Malah ketawa, emang ada yang lucu?" tanya Yoga.
"Ada, lu lucu kalo lagi ngambek, pingin gue remes tuh pipi lu yang kaya bakpau," ledek Nita.
"Widih, ogah! nanti gue jomblo lagi, secara lu kan jomblo," ledek Yoga.
Bersamaan dengan itu, datang seorang murid perempuan.
"Kawan - kawan, disuruh ngumpul tuh di lapangan oleh kepsek, ayo kesana bareng!" ucapnya.
"Ayo," ucap kami bersamaan.
Ternyata kepsek menyuruh kami berkumpul karena ingin membagikan kelulusan disini, Nadya cs juga ada disana dan mereka masih menatapku dengan sinis. Bagas dan juga Fiyan mereka tidak bersama seperti dulu, tampak Fiyan menjauhi Bagas cs.
Aku memandang ke arah Fiyan, ternyata dia juga memandang kearahku, ekspresi sedih masih tergambar di raut wajah Fiyan.
"Entah apa yang ada dipikirannya, aku nggak peduli!" batinku kemudian memandang kearah kepsek berada.
Kepsek mulai mengumumkan kelulusan kami, dan saat itulah jantungku berdebar - debar dengan kencangnya.
"Hore ...."
"Hore ...."
Tak kalah juga dengan Salsa, dia menari bersamaan dengan Yoga.
"Selamat atas kelulusannya anak - anak muridku," ucap kepala sekolah.
Dan semua murid bersorak dengan semangnya.
"Dan satu lagi, sekolah kita baru pertama ini pemecah rekor nilai UN yang terbaik dan juga tertinggi dan juga mendapatkan beasiswa di universitas Indonesia, yaitu dia adalah ...," ucap kepsek membuat semua murid diam.
"Menurut Bu Hanum, siapakah orang itu?" tanya kepsek.
__ADS_1
Bu Hanum hanya diam dan melampirkan senyum.
"Dian," teriak seseorang.
"Rosa,"
"Intan,"
"Nadya,"
"Bagas, Pak," ujar salah satu taman Bagas.
Sontak semua murid tertawa berbahak - bahak.
"Kalau Bagas itu juara umum main keroyokan," ledek Yoga.
"Udah diam Ga, baik lu dengerin tuh si Bambang," ejekku.
Yoga tertawa tak kalahnya dari murid yang lain.
"Sudah, sudah," lerai kepsek.
"Orangnya Maharani Puspita Sari, kelas XII IPS 3," ucap kepsek.
Semua murid bersorak, ada yang dongkol dan ada yang tidak suka, semua guru memandangku dengan senyuman yang hangat.
"Ayo ke depan ananda Maharani Puspita Sari," ujar kepsek.
Untuk pertama kalinya, aku menang dalam pertempuran yang seperti ini, dan kali pertama aku juga maju ke depan umum.
Aku bangga, aku sangat bangga sekali.
"Semua guru bangga kepadamu, Rani," ucap kepsek.
__ADS_1
"Selamat atas kemenanganmu selama tiga tahun ini," lanjutnya
Kemudian kepsek memberiku satu piala dan piagam, tak lupa dengan amplop putih yang isinya sangat tebal.