
🌱🌱🌱
Segera kubalikkan badan, tak ditemukan seseorang di belakangku.
"Nit, aku kok berasa ada yang mengawasi kita dari belakang ya, kamu ngerasain nggak?" bisikku kepada Nita.
"Hmm ... nggak kok. Mungkin perasaan kamu saja Rani," jawab Nita.
"Tapi ...," perkataanku terputus.
"Udah, jangan dibahas!" ucap Nita menghentikan.
Aku hanya diam menanggapi perkataan Nita.
Serasa ada yang disembunyikan Nita dariku, tetapi dia tidak ingin aku mengetahuinya.
☘️☘️☘️
Disela-sela makan malam, ayah mengawali percakapan dengan membahas universitas yang akan kutempati.
"Rani, kamu kuliahnya di universitas dekat kantor ayah aja," ucap ayah.
"Ta-tapi yah, Rani udah janji sama teman-teman, kuliahnya di universitas yang berada di luar kota," ucapku.
"Dengan keadaan yang seperti ini, kamu ingin ke luar kota? nanti kalau kamu sakit tidak siapa yang ngurusin?" tanya ayah sedikit membentak.
"Rani ingin mandiri ayah!" ucapku sedikit membentak dan kemudian pergi.
Ayah dan ibu hanya diam menanggapi perkataanku tadi.
☘️☘️☘️
POV AYAH
(ayah Rani, Hendra Prakoso)
Nomor misterius telah meneleponku dan mengancam akan menyakiti dan meneror anakku yaitu Rani.
__ADS_1
Aku tidak mau putri sulungku dicelakai oleh siapapun, bagaimanapun aku harus selalu mengawasinya.
[Hendra Prakoso, ayah dari Maharani Puspita Sari. Lindungi anak anda dimanapun berada, karena nyawanya berada ditangan saya!] ancam seseorang dari seberang sana.
[Anda siapa?] tanyaku.
[Anda tidak perlu tahu siapa saya] ucapnya.
"Aku harus melaporkannya ke pihak berwajib, ini termasuk kasus pengancaman," batinku
[Dan ingat satu lagi, jika anda melaporkan saya ke polisi, anak anda menjadi tanggungannya] ucap orang misterius itu.
[Anda mau apa sama saya?] bentakku.
[Lindungi anak anda!] ucapnya.
Kemudian telepon terputus, setelah itu masuk satu pesan dari nomor misterius itu.
[Ingat itu!] pesan dari nomor misterius itu.
Aku merasa kesal dan jengkel ulah seseorang yang sangat misterius itu, mau apa dia sama anakku, aku harus selalu lindungi Rani.
BACK TO STORY
☘️☘️☘️
Ayah tidak pernah menolak permintaanku sebelumnya, apalagi untuk masalah pendidikanku, biasanya dia memberiku kebebasan untuk menentukan jenjang pendidikan yang kumau, tapi kenapa untuk sekarang ini tidak. Ayah sekarang sudah berubah.
Ternyata handphoneku sedari tadi berbunyi, dan segera kubuka aplikasi hijauku.
[Rani, kamu dimana?] pesan dari Salsa.
[Biasa, di kamar, ada apa Sal?] balasku.
[Yuk, ke cafe biasa, ada yang mau aku bicarakan]dari Salsa.
[Eh tunggu, kamu udah baikan kan?] lanjutnya.
__ADS_1
[Udah kok,] jawabku.
[Aku otw nih] lanjutku.
☘️☘️☘️
"Ada apa Sal?" tanyaku.
"Gini ran, kamu jangan marah ya," ucap Salsa
"Eh ada apa sih? buat penasaran aja," ledekku.
"Farhan," ucapnya.
"Emang ada apa ama dia?" tanyaku.
"Aku ragu untuk beritahu kamu Rani," ucap Salsa.
"Udah bilang aja!"ucapku sedikit membentak.
"Kamu nggak marah kan? janji dulu," kemudian kuacungkan jari kelingkingku kepada Salsa.
"Janji," ucapku.
Kemudian Salsa mengeluarkan handphone dari sakunya. Dan memperlihatkan beberapa foto sepasang kekasih yang lagi berduaan disertai videonya.
"Is ... kotor," ujarku jijik.
"Siapa sih ini?" tanyaku karena video dan fotonya diambil dari kejauhan.
"Ini Farhan," ucap Salsa.
"Oh dia," seketika air mataku jatuh tepat membasahi pipi dan kemudian Salsa memelukku.
"Sabar Rani, mungkin dia belum yang terbaik buat kamu," ujar Salsa.
"Tapi aku udah sayang sama dia Sal, aku tidak mau pisah darinya," ucapku dengan suara yang mulai berserak.
__ADS_1
"Udah, yang perlu kamu tahu perempuan yang bersama Farhan dia adalah ...," perkataannya terputus, karena kedatangan seseorang yang membuat salsa terkejut akan kedatangannya.