
(kelas)
Semua murid mengikuti pelajaran demi pelajaran dengan serius, karena tak ada kata main-main di semester akhir ini, hanya hitungan bulan lagi aku akan meninggalkan sekolah ini, kemudian pergi dengan membawa nilai yang selama ini aku raih selama tiga tahun ini.
Setiap yang dijelaskan pak guru selalu aku catat, bagiku kata-kata yang keluar dari mulut guru ialah ilmu yang sangat bermanfaat bagiku.
Tak lama kemudian, terlintas di benakku seseorang yang sudah dua kali menabrakku dengan badannya yang kekar itu.
Dia sangat misterius bagiku, gerak-geriknya menumbuhkan rasa keingintahuan dari diriku.
Seketika lamunanku terhenti karena seseorang memukul meja didepanku dengan keras.
"Plakkk."
"Eee ayam, ayam," terkejut mendengar suara pukulan di meja.
"Ada otak nggak lu? ini orang bukan binatang, emang sekolah punya bokap lu apa?" celotehku tanpa menoleh kearah tukang onar tersebut.
"Otak gue ada di dengkul, mau apa lu?" jawab tukang onar tersebut.
Terlintas di benakku suara tukang onar tersebut seperti laki-laki yang sudah aku kenal sebelumnya.
Reflek, kubangkitkan kepalaku untuk menatap wajah tukang onar tersebut.
"Bagas?" tanyaku.
"Iya aku BAGAS ARDHANA," jawabnya dengan penekanan kata terakhir.
"Kamu hampir membuatku jantungan karena ulahmu sendiri," jawabku.
"aku tidak akan memaafkanmu," lanjutku.
"Salah sendiri, kenapa tidur di jam istirahat," jawabnya.
"Dan aku minta maaf karena kesalahanku yang tadi," lanjutnya.
"Gak perlu minta maaf, perlakuanmu tadi telah membuatku ilfeel, jadi mulai dari sekarang jauhilah aku! karena aku risih melihat perlakuanmu baik di depanku ternyata di belakangku kamu sama seperti temanmu yang lain, sama-sama ba**ngannya," gertakku.
"Apaa? ba**ngan? oke!" jawab Bagas kemudian berlari meninggalkan kelasku.
"Deeghh ...," darahku berdesir mendengarkan kata-kataku yang terlalu kasar ke Bagas, apakah Bagas tersinggung dengan perkataanku yang telah menyinggung dia beserta membawa teman-temannya yang lain. Astaga! ini akan menjadi hari yang terburuk dalam hidupku.
Seketika kulirik ke arah meja dimana tasku berada dengan segera kuambil tas tersebut dan ingin berlari sejauh mungkin yang aku mau, aku sangat malu kepada diriku sendiri, aku terpaksa meninggalkan pelajaran untuk jam berikutnya, karena suasana hatiku saat ini sangat buruk. Dipaksakan sekeras mungkin, hasilnya sama saja, pelajaran yang aku ikuti tidak akan paham olehku. Lagian saat ini, aku tidak mau bertemu dengan teman-teman yang lain.
Kemana aku akan pergi? di tiap-tiap sudut sekolah ini pasti ada pak satpam, tidak mungkin aku lewat disana, bisa-bisa aku ditegurnya dan kemudian disuruh ke kelas lagi, seketika kamar mandi terlintas dipikiranku, kemudian dengan sedikit berlari menuju ke arah sana.
"Bughh ...," aku terjatuh sampai terduduk di atas lantai.
"Maaf, kak," katanya sambil melambaikan tangan berniat untuk membantuku berdiri.
"Makasih!"
"Lagi-lagi kita bertemu untuk ketiga kalinya disini ya kak, jangan-jangan kita ...," belum sempat dia melanjutkan perkataannya aku langsung masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
15 menit lamanya aku di dalam.
"Kak, sudah siap nangisnya? jangan lama-lama dong," katanya diluar sana.
Mendengar suara tersebut beda dari suara anak perempuan yang lain, aku merasa risih dan kemudian keluar dengan kening yang hampir mencapai sepuluh tingkat.
"Ngapain kamu disini? dasar adik kelas tak sopan kamu," gertakku.
"Dan dimana kamu tahu aku siap nangis?" tanyaku kemudian menghapus air mata yang sedari tadi aku tahan.
"Tuh!" jawabnya dengan menunjuk ke arah mataku.
"Em, oh ya, aku nggak nangis, cuma kena debu sedikit saja," menghapus kembali air mata yang masih tergenang oleh buliran bening itu, "kenapa sih kamu selalu ngikutin aku?" gertakku.
"Ayo keluar dari situ kak, nggak pengap kah disana? bau WC tahu?" ucapnya dengan sedikit menutup hidungnya.
"Sudah menyebar nih ke kakak bau nya, ihh ...," lanjutnya.
"Apah? dasar ...," dengan segera kupukul lengannya yang berisi itu, seketika dia menghindar dan berlari menjauhiku, kemudian aku mengejarnya.
Untung saja, kami hanya berlari disekitaran kamar mandi saja, karena letak kamar mandi sangat jauh dari kelasku dan kelas Bagas.
"Sudah kak sudah! tidak capek apa? kelihatan dari roma-romanya kakak rindu masa kecil, hehe," ejeknya.
"Iya rindu banget, jika dibanding dengan keadaan sekarang ini, rasanya ingin kembali dimasa itu," ucapku dengan suara yang mulai berserak.
"Sabar, kak, aku juga merasakan hal yang sama, kita hanya bisa mengenang tetapi tidak bisa mengulanginya lagi," jawabnya dengan bijak.
"Ayo kak! kita ke kantin saja, kakak nggak haus ya?" tanyaku.
"Ini," ucapnya memberikan satu botol minuman dingin yang bersoda.
"Terimakasih," jawabku, "kamu nggak belajar ya? ini kan sudah jam pelajaran?" tanyaku yang sedang fokus membuka tutup botol minuman pemberiannya itu.
"Kakak sendiri nggak belajar apa?" tanyanya balik.
"Em, a-aku lagi ada kegiatan ekstrakurikuler yang lain, jadi izin dulu," jawabku terbata-bata, "dan kamu?" tanyaku.
"Aku juga ada kegiatan Pramuka kak, dan sekarang aku lagi pengen bolos saja," jawabnya.
"Berarti kita samaan dong," jawabku.
"Eh kakak juga bolos?" tanyanya.
"Em, ya gitu deh," jawabku.
"Lah, dulu kan kakak pernah bilang dulu waktu awal masuk sekolah ini melalui kegiatan MOS, jika ingin menjadi seorang yang sukses, rajinlah mengikuti pelajaran dan jangan suka bolos, lah sekarang kakak sendiri yang ngingkari perkataannya kakak, gimana ini?" tanyanya kemudian menatapku seperti menunggu kepastian.
"Eh, iyakah?" tanyaku sembari menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal sama sekali.
"Iyes lah," jawabnya.
"Itukan waktu MOS, sekarang bedalah, hmm ...," ucapku menyakinkannya.
__ADS_1
"Okelah, sekarang beda. Kakak nggak mau makan?" tanyanya.
"Ng-nggak usah, takut merepotkan nantinya," jawabku.
"Eh, aku harus pulang dulu, ada urusan mendadak," pamitku.
"Mau kemana?" tanyanya.
"Eh tunggu dulu!" ucapnya menghentikanku, tetapi aku tetap berjalan meninggalkannya, "Ini buk," memberikan uang dua puluh ribu kepada ibu kantin, kemudian berlari mengejarku.
"Ish ... kakak main pergi saja nggak bayar minumnya dulu?" tanyanya.
"Nggak lah, ngutang saja dulu," jawabku berbohong, padahal aku tahu bahwa laki-laki itu yang membayarkannya.
"Aku ikut!" ucapnya.
Sebenarnya aku agak risih dekat dengan laki-laki yang berstatus adik kelas ini, apa kata murid lain nanti jika aku dekat dengan adik kelas, disangka aku sukanya yang brondong nanti sama orang-orang.
"Okelah, by the way makasih ya minumnya," jawabku sambil mengiyakan perkataannya.
"Sama-sama, itu tidak seberapa kak," ucapnya dengan percaya diri.
"Tidak seberapa apanya?" tanyaku.
"Sudah lupakan saja!" jawabnya sambil berlalu.
🌱🌱🌱
Kemudian aku membawa laki-laki tersebut di jalur tikusku yang dulu aku gunakan ketika bolos sekolah. Jalur ini tembus ke salah satu tempat makanan favoritku yaitu tempat penjualan gado-gado.
"Kakak hebat juga ya, selalu tahu dimana jalan pintas untuk bolos sekolah, berarti kakak sering nih jalan kesini?" katanya dengan menyanjungku.
Dari tadi mulut laki-laki itu tidak ada berhentinya mengajakku ngobrol, sepanjang jalan hanya suara dia yang aku dengar, rayuan gombal khas dari dia lah yang aku dengar, dasar, aku merasakan seperti bicara dengan Qiran.
"Ya gitulah," jawabku ditambah senyum tipis.
"Itu sih dulu, waktu baru masuk sekolah, lah kan ini kawasan dirumah aku, pasti aku tahu dong," jawabku santai.
"Rumah kakak sekitaran sini?" tanyanya.
"He'em," jawabku.
"Oh iya kita belum sempat kenalan, namaku Rani, kamu?" ucapku kemudian mengacungkan tangan kearahnya.
"Rani Mukerje?" tanyanya.
"Maharani Puspita Sari," jawabku datar.
"Kita baru kenalan, kakak langsung membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama," godanya sambil melihat ke arah pipiku, dengan tatapan yang mendalam dan penuh makna.
"Isshh.." jawabku dengan jijik, padahal mendengar itu hati ini sedikit berbunga-bunga.
Tidak boleh, tidak boleh, aku harus fokus sekolah dulu, dan jangan sampai jatuh hati dengan adik kelas, JANGAN ...!
__ADS_1
"Kamu lihat apaan sih?" tanyaku, "jangan-jangan ... nafasku bau ya?" tanyaku sambil menutup mulut.
"Positif thinking kakakku, aku lihatin lesung pipi kakak, ada manis-manisnya gitu," jawabnya dengan mata yang berbinar-binar.