
"Cieee ... Bagas rindu sama Rani, tunggu apalagi Rani, nanti Bagasnya karatan loh nungguin kamu sampai siap UN," ejek Yoga, seperti emak-emak yang sedang menggosip.
Aku melirik ke arah anak-anak perempuan tadi, mereka masih menatapku dengan sinis.
Kemudian melirik ke arah Yoga.
"Tahu dimana ini anak? dasar emak-emak tukang gosip," gerutuku dalam hati.
"Gak papa kok. Aku selalu sabar nungguin calon makmumku, apapun alasannya, aku selalu sabar menunggu," tambah Bagas dengan percayanya.
"Ciee ... coocwittt ...," sorak semua murid yang berada di kelasku itu.
"Tunggu apa lagi sih Rani, terima saja ... nanti keburu diambil orang lain loh si Bagasnya," ejek seseorang yang bernama Cindi.
Mendengar ejekan semua teman aku hanya diam. Aku tidak berani berkata apa-apa, rasanya aku sudah mati kartu menghadapi Bagas ini, dia tidak ada nyerahnya mendekatiku.
"Kan sudah aku bilang siap UN ya siap UN ...!" gertakku kepada Bagas dengan suara yang sedikit meninggi.
Bagas hanya diam seribu bahasa mendengar jawaban dariku tadi, entah dia terluka karena aku telah menggertaknya, entah karena aku menggantungnya untuk kedua kalinya.
"Bagas maafin aku ya, aku tidak maksud membuatmu terluka, hanya saja aku tidak suka lihat kamu malam itu, melihat itu seperti melihat orang-orang yang sangat aku benci," aku hanya bisa membatin dan menatap Bagas dengan kasihan, ternyata dia juga menatap ke arahku dengan tatapan yang mengiba.
Aku tidak tega melihat Bagas seperti itu, kemudian kuberanikan diri untuk berdiri dan berlari keluar kelas, Salsa menegurku, karena sebentar lagi ibu guru akan masuk.
"Rani, mau kemana kamu? sebentar lagi bel masuk akan berbunyi," ucap Salsa.
Aku hanya berlari dan tidak menghiraukan perkataan Salsa, harus kemana kuluahkan masalah ini, aku butuh tempat yang tepat, tak sengaja kumelirik ke arah kamar mandi.
Ya ... kamar mandi, setahuku kamar mandi dijadikan sebagai sarana curhat bagi murid perempuan, aku akan kesana dan kuluahkan kesedihanku ini.
Aku berlari kencang ke arah kamar mandi, tak terasa bulir bening dimataku jatuh. Ketika memasuki kamar mandi, seseorang berlari kencang ke arahku, badannya yang tegap seperti polisi, tinggi, sedikit berotot, dan berkulit putih, ditambah gaya rambut memakai minyak wangi yang eskulin. Idaman perempuan sekali.
__ADS_1
"Maaf kak, saya tidak sengaja. Saya mau buru-buru ke kelas karena sebentar lagi bel masuk akan berbunyi," kata lelaki tersebut.
Aku yang tadinya menunduk hanya melihat sekilas sepatunya dan kemudian menatap kearahnya.
"Ya sudah, kamu boleh pergi sekarang ...!" jawabku.
"Kakak nggak belajar ya? kok masih disini?" tanyanya.
"Banyak tanya," jawabku dan kemudian berlalu meninggalkannya diluar.
(kamar mandi)
Beruntung sekali saat ini kamar mandi sudah kosong, mungkin siswi yang lain lagi belajar. Jadi, ini waktu yang tepat buat aku luahkan semuanya disini, sekeras apapun suaraku, toh orang tidak akan tahu, kan di kamar mandi hanya aku sendiri, lagian kamar mandi letaknya cukup jauh dari kelas-kelas yang lain, hanya dekat dengan kantin saja.
"Kenapa bisa begini, kenapa aku menangis? hanya untuk seseorang laki-laki seperti dia? hahaha ...," batinku kemudian tertawa lepas.
"Biasanya aku selalu kuat, jatuh dari sepeda saja aku tidak nangis, tapi kenapa karena laki-laki seperti dia bisa membuatku seperti ini?" batinku dan melihat pantulan diriku sendiri di cermin kamar mandi.
"Jangan buat perasaan sekarang untuk seseorang saat ini. Aku mohon!" kataku dengan suara yang lantang.
Lamunanku terhenti karena mendengar suara handphone seseorang di pintu kamar mandi, dengan cepat kukeluar dan langsung menuju ke arah sumber suara dan ternyata tidak ada seseorang. Kemudian aku masuk kembali, dengan pikiran yang sudah campur aduk.
"Handphone siapa itu? apakah ada orang disana? tolong, jangan menakut-nakutiku," kataku dengan was-was.
"Apakah tidak ada seseorang disana? kumohon jawablah!"
"Kalau tidak, aku akan berteriak!"
Dia tidak menjawab.
Bulu Romaku merinding, keringat dingin keluar sedikit demi sedikit, dengan segera kuberlari keluar. Sebelum keluar kusempatkan untuk memakai bedak supaya yang lain tidak curiga bahwa aku selesai menangis.
__ADS_1
..
Tidak sengaja kumelirik laki-laki tadi yang menabrakku sedang duduk di kantin. Dia duduk menghadap kearah kamar mandi, persis di depanku, aku melihat kearahnya refleks dia juga melihat kearahku. Aku hanya membesarkan bola mataku kepadanya, dan dia tidak berani lagi menatap kearahku.
Ternyata bel masuk sudah berbunyi dari tadi. Aku menyelonong masuk ke dalam kelas dengan sedikit menunduk, lalu duduk tanpa rasa bersalah.
"Rani, kamu dari mana? gurumu sedang berdiri didepan, kamu tidak minta izin dulu untuk masuk?" cegah ibu guru yang bernama Hanum itu dengan mukanya yang seperti benang kusut.
"Assalamualaikum, maaf Bu saya tadi di kantin, perut saya sangat lapar, Bu," jawabku dengan berbohong.
"Bohong Bu, Rani mungkin habis curhat di kamar mandi, hehehe ...," jawab Yoga.
Sontak semua murid bersorak ke arah Yoga.
"Ya sudah, tenang semua! Rani, kamu boleh duduk, lain kali hargai gurumu yang ada di depan kelas," perintah ibu.
"Baik, Bu" jawabku.
Kemudian kukeluarkan buku di dalam tas, aku hanya fokus ke mata pelajaran sejarah dari Bu Hanum. Aku sangat menyukai pelajaran ini.
Tak lama kemudian, sepintas kumemikirkan suara handphone misterius tadi, aku jadi merinding memikirkannya.
"Handphone siapa yg berbunyi tadi? mungkinkah Yoga? dia juga tahu aku dari kamar mandi, dasar laki-laki tukang gosip," batinku.
"Atau murid lain yang mau masuk ke kamar mandi kebetulan mendengar keluhanku tadi? jangan sampai, jangan sampai. Jika benar, dia akan mengejekku sebagai perempuan yang lemah," batinku.
"Mungkinkah laki-laki modis tadi? ah tidak mungkin! siapa orangnya, yang pasti seseorang tersebut telah mendengar keluhanku di kamar mandi," batinku.
"Rani"
"Rani"
__ADS_1
"Rani ...."
♥️Mohon krisarannya yaa♥️