
[Ini siapa?] balasku.
[Fakur] balasnya.
[Maaf, salah nomor!] balasku.
Ada rasa sedih yang mendalam jika mendengar nama ini, tetapi aku tidak boleh larut dalam kesedihan.
Dengan segera kubuka buku pelajaran ujian besok yaitu bahasa Indonesia, kubaca soal ujian di buku-buku persiapan UN, satu persatu kubaca dan kupahami sampai akhirnya menamatkan buku tersebut, aku tidak memikirkan waktu yang begitu larut, belum puas akan buku yang aku baca barusan, dengan segera kubaca buku-buku yang lain mengenai pelajaran bahasa Indonesia.
Akhirnya, penglihatanku mulai kabur dan remang-remang, tanpa disadari sampai pagi aku tertidur di meja belajar.
"Yassalam ... aku tertidur," batinku dan melirik jam Doraemonku, ternyata menunjukkan pukul 6 pagi.
🌱🌱🌱
"Ibu, aku duluan ya, doakan anak ibu nggak sesat ujiannya," ucapku dengan manja kepada bidadariku itu.
"Aamiin ... mudah-mudahan anak ibu bisa jawab soalnya dengan teliti," ucap ibu.
"Ya udah Rani pergi dulu, assalamualaikum," pamitku.
"Waalaikumssalam," jawab ibu.
☘️☘️☘️
Dan ternyata apa yang ditunggu-tunggu sebentar lagi akan segera dijalani.
Rasa gugup yang kualami makin terasa kencangnya.
Akhirnya ujian dimulai, 'bismillah' ku awali semuanya. Kubaca soal satu persatu dan menjawabnya dengan teliti.
__ADS_1
Tak terasa waktu sudah habis, semua murid berhamburan keluar, tanpa adanya diriku.
Aku masih terduduk lemas di kursi peserta ujian yang kududuki. Entah kenapa perutku terasa perih sekali, sulit bagiku untuk berdiri.
Tak lama kemudian, Nita dan Salsa berlari menghampiriku.
"Kamu kenapa Rani? wajahmu pucat," tanya Salsa.
"Nggak papa, mungkin karena efek berfikir ketika ujian tadi," jawabku sedikit menahan sakit.
"Yuk kita pulang saja, pasti kamu belum sarapan nih," celoteh Salsa.
"Nanti aja, aku mau ngumpul dulu sama kalian semua, udah rindu," jawabku dengan senyum manis kepada mereka.
"Ngumpulnya kan bisa besok, sekarang kita pulang aja, kamu pasti kecapekan," tutur Nita.
Nita dan Salsa kelihatan cemas sekali dengan keadaanku saat ini, dengan segera mereka membawaku pulang.
"Kamu bawa motor Rani?" tanya Salsa.
"Ya udah, aku aja yang bawa. Lagian aku nggak bawa motor ke sekolah," jawab Nita.
"Oke-oke," jawabku.
🌱🌱🌱
(di rumah)
"Rani, kamu kenapa nak?" tanya ibu tak kalah cemasnya.
"Tante, Rani kelihatan pucat sekali, kami takut nanti sakitnya kambuh lagi, makanya kami bawa pulang," ucap Nita.
__ADS_1
"Aduh, makasih ya nak Nita, nak Salsa," ucap ibu.
"Sama-sama Tan," jawab mereka bersamaan.
Tak lama kemudian, Nita dan Salsa pulang. Tapi masih bisa dilihat bahwa wajah mereka masih menyimpan kecemasan pada diriku.
🌱🌱🌱
Akhirnya, empat hari yang membuatku gugup kini sudah terlewatkan. Tak ada beban lagi yang harus dipikirkan, otakku kini sudah fresh, tanpa membaca buku-buku yang setebal omongan tetangga, hehe ....
"Alhamdulillah, ini hari terakhir kita, daah ... buku-buku tebal," ucap Salsa tertawa senang.
"Dasar, ini bukan terakhir, tapi ini awal kita menuju kehidupan yang sesungguhnya," jawab Nita.
"Iya, tapi untuk sementara waktu ini kita bisa bebas," ucap Salsa tak kalahnya.
"Yayaya," jawab Nita.
"Oh iya, kita dulu pernah janji harus satu kampus bersama," lanjut Nita.
"Iya juga ya, tapi ...," perkataanku terputus.
"Udah, jangan dibahas orang nggak penting itu, bikin enek tau nggak?" potong Salsa dan kemudian pergi.
"Sal, lu mau kemana? jangan gitu dong," tanya Nita kemudian berlari mengejar Salsa.
Dengan segera ku kejar mereka, ketika hendak melangkah, seseorang memukul pundakku dengan tenang dari belakang.
Segera kubalikkan badan, dan ternyata seseorang yang tak kuduga.
Maaf reader, minta support nya yaa
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan jika berkenan beri vote nya juga ya, karena partisipasi semua sangat berharga bagi karya saya.
Dan saat ini, saya ingin memperbanyak jumlah viewer, mohon dukungan semuanya ya😊😊