Love Kamu 3000

Love Kamu 3000
part 5 Mengejutkan


__ADS_3

Di parkiran, ternyata ada Fiyan dan Nadya. Hanya diam seribu bahasa yang dapat kulakukan saat ini ketika melihat laki-laki yang disukai duduk manis berduaan sama perempuan lain, rasa cemburu semakin memuncak, keringat dingin membasahi tubuh, ditambah bulir bening jatuh dipipi, serasa tubuh ini berguncang, tetapi aku harus berusaha tegar untuk melihat semua ini.


Mata mulai tak sanggup untuk melihat semua ini, bergegas ku tinggalkan mereka berdua, dengan membawa api kecemburuan.


"Ran, kamu kenapa sih ngilang dari tadi, kami yang susah cariin kamu," celoteh Nita, "kami kira kamu yang kejerempet motor tadi, kirain nggak kami sangat cemas jika itu kamu," lanjutnya.


" Biarin, lebih baik itukan daripada lihat yang tadi," jawabku.


"Kamu lihat apaan Ran?" tanya Nita.


"Kan kamu ni nggak percayaan sama aku, kamu lihat Fiyan sama Nadya di parkiran kan? celoteh Salsa.


"Nggak kok, nggak lihat siapa-siapa pun, ya udah ayo kita pulang, aku udah rindu masakan ibu di rumah, hehe," ajakku.


Nita dan Salsa hanya mengangguk tanda mengiyakan.


Aku pulang bersamaan dengan Nita yang kebetulan rumah kami searah.


Di depan gerbang sekolah kami berpisah dengan Salsa.


"Daah ... beb, kita pisah dulu ya, jangan rindu aku, kata Dylan rindu itu berat biar Dylan saja," ucap Salsa yang cekikikan diatas motor maticnya.


"Oh iya Nita, jagain boneka Barbie aku ya, yang di belakang kamu tuh, mukanya kurang berseri selama naik motor kamu, mungkin efek kelaparan kali yaa, hehe," lanjut Salsa.


"Oke, siap!" jawab Nita sambil tertawa terkekeh-kekeh.


Aku hanya senyum melihat tingkah mereka berdua.


🌱🌱🌱


"Assalamualaikum ...," sapaku sambil masuk kerumah.


"Tidak ada yang menjawab salamku kah?" tanyaku.


"Issh, apaan sih Rani, tidak ada siapapun, nanti tiba-tiba ada yang jawab bisa nggak tidur aku setahun," batinku.


"Waalaikumssalam," jawab seseorang yang berasal dari kamar Qiran.


"Kan-kan betul, lah yang jawab itu siapa?" batinku.

__ADS_1


"Kayanya ini Qiran deh, eitss ... tunggu! tapi kok beda suaranya ya, jangan-jangan ... penunggu kamar Qiran lagi," batinku.


"Gak mungkin, mana ada hantu di siang bolong, yang parahnya lagi mana mungkin dia menjawab salamku," tanyaku semakin penasarannya.


"Jangan-jangan ...."


Segera ku ambil sapu di belakang pintu dapur, kuhampiri kamar Qiran, ternyata kamarnya tidak terkunci, lalu ku kumpulkan keberanian untuk membuka pintunya.


"Krek krek"


Dan ternyata benar, tidak ada orang.


Tiba-tiba tak terasa badanku lemas, lutut ku tak sanggup berdiri.


...


"Kak Rani, kak Rani, bangun kak bangun!" suara seseorang membuat mataku sedikit terbuka dan membuat pemandanganku sedikit memudar.


"Kak, maafin Qiran sama Shinta ya, tadi kami mau kasih kakak surprise, eh kakak malah pingsan duluan," ujar Qiran.


Aku hanya menatap Qiran dengan mata sendu.


"Kak Rani, jangan menatap Qiran seperti itu dong, membuat Qiran merasa bersalah saja," ucapnya.


Tatapan yang sendu itu menjadi tajam lama-kelamaan berubah dengan senyum yang sinis. Kemudian tertawa dengan lengkingnya.


"Astagfirullah, kak Rani. Kayanya keserupan Shin, tolong ambilkan air cabe Shin supaya dia sadar kembali," Shinta terheran-heran melihat kelakuan Qiran yang aneh, ditambah lagi matanya yang melambangkan kekhawatiran terhadap keadaanku, dan dia hanya membalas perintah Qiran dengan anggukan saja.


"Jangan Shinta," ucapku menghentikan Shinta, "kakak sudah sadar kok, kakak hanya bercanda, hehehe," jawabku dengan tawa terkekeh.


"Udah tau kok," ujar Qiran.


Shinta yang sedari tadi merasa dipermainkan hanya membalas dengan senyuman.


"Ya sudah, sekarang kamu menang Qiran. Tapi suatu saat kamu akan kalah dan kamu akan menangis minta belas kasihan kakak," jawabku dengan ejekkan.


"Oke ditunggu kakakku sayang," goda Qiran.


"Ya sudah kakak makan sana, ibu katanya kerumah nenek, mungkin pulangnya kemalaman, dan ayah katanya dia dinas diluar kota selama seminggu kak," lanjut Qiran.

__ADS_1


"Apahh?" tanyaku dengan suara layaknya orang keheranan.


"Ayah keluar kota selama seminggu, jadi kita pergi sekolah sama siapa?" lanjutku lagi


"Kan ada ojek, busway, angkot kak, kalau kakak mau sehat ya jalan kaki saja, hehe," jawab Qiran sambil menjulurkan lidahnya kearahku.


"Dasar!" ucapku dengan mulut sedikit dimonyongkan kearahnya.


....


"Tring tring"


Bunyi pesan masuk di aplikasi hijauku.


Ternyata ada 6 pesan masuk dan 2 panggilan tak terjawab.


Kulirik jam ternyata baru jam 21.30 malam, belum kemalaman bagiku untuk chattingan dulu dengan seseorang.


Mataku hanya fokus pada nomor baru.


[P] pesan seseorang dari seberang sana.


Kulihat foto profilnya gambar sepatu Vans berwarna hitam dengan bis berwarna putih.


[P] balasku.


Handphoneku terjatuh dengan sendirinya ketika mendengar ketukan seseorang mengetuk pintu rumahku dengan keras.


Aku berjalan kearah sana, dan ternyata disana juga ada Qiran dengan muka yang sedikit cemas.


"Siapa diluar?" tanyaku sedikit kesal.


"Nggak tahu kak, Qiran takut kak," jawabnya dengan memelukku.


"Dasar! sini kakak buka," jawabku, melepas pelukan Qiran kemudian membuka pintu dan tidak didapati seseroang diluar sana.


"Nggak ada orang diluar," ucapku dengan suara tenang.


Kami saling bertatapan satu sama lain.

__ADS_1


Kemudian kami tertegun mendengar suara ketukan di pintu belakang tepatnya di pintu dapur.


"Krek- krek," suara pintu terbuka sendirinya.


__ADS_2