Love Kamu 3000

Love Kamu 3000
part 48(2)


__ADS_3

🌱🌱🌱


"Fiyano Saputra Pratama," name tag kertas yang kudapatkan.


"Kok bisa Fiyan sih?" batinku.


Kemudian kulirik dimana Fiyan duduk, ternyata dia berada di pojok paling belakang dan sedang menatapku juga.


Fiyan menganggukkan kepalanya dan kemudian melampirkan senyumannya.


"Apa maksud anggukan Fiyan itu?" batinku.


"Nah, semua sudah melihat nama kertas yang ada di dalamnya, berarti pertemuan selanjutnya ibuk akan memberikan tugas, dan nama yang kalian lihat itu adalah nama kelompoknya masing - masing, paham?" jelas Bu dosen tanpa berhenti.


"Paham," jawab kami bersamaan.


Kemudian Bu dosen pergi meninggalkan kelas.


"Yassalam, kenapa bisa satu kelompok dengan Fiyan?" batinku.


"Heh Rani, ngelamun aja, nanti kerasukan setan loh," sanggah Salsa.


"Apaan sih, Sal."


"Oh iya, kamu dapat namanya siapa?" tanyaku.


"Enggak tahu orangnya, yang pasti dilihat dari namanya, dia perempuan deh," ucap Salsa.


"Nah kamu siapa?" tanya Salsa.


"Fiyan," ucapku.


"Eh sepertinya kalian jodoh deh," ledek Salsa.


"Ih jangan sampai, dihari aku hanya ada Fakur," ucapku.


Mendengar perkataanku itu wajah Salsa berubah menjadi murung.

__ADS_1


☘️☘️☘️


"Rani, gimana hari ini?" tanya Nita yang sudah duduk santai di depan kost sambil memainkan layar pipihnya.


Salsa hanya diam dan langsung menyelonong masuk ke dalam kamarnya.


Aku yang melihat tingkahnya hanya diam dengan penuh tanda tanya.


"Alhamdulillah berjalan lancar," ucapku.


"Syukurlah," ucap Nita.


"Kami sendiri gimana?"tanyaku.


"Ya ... seperti yang kamu lihat," ucap Nita ditambah rona merah di pipinya.


"Hehe, baiklah aku mandi dulu, capek," pamitku kemudian pergi.


---


"Siapa?" tanyaku.


"Aku, Salsa," ucap Salsa yang berada di luar.


Segera kubuka pintu dan mempersilahkan Salsa duduk di lantai yang beralaskan kasur lembut yang dibeli ibu dulu sebulan sebelum aku kuliah disini.


"Ada apa Sal malam - malam ke kamar aku?" tanyaku.


"Emang nggak boleh ya?" tanyanya"yaudah aku keluar aja," lanjutnya kemudian segera berdiri.


Menghentikan salsa, "eeh jangan dong, kamu baper banget," ledekku.


"Rani, aku minta minum dong," ucap Salsa seperti menyelidiki sesuatu.


"Ya udah, ambil aja!"


"Ada apaan sih? segitu amat lihatnya?" tanyaku

__ADS_1


"Aku mau ngomong sesuatu kebenaran sama kamu, Ran," ucap Salsa.


"Tapi sebelumnya aku pastiin dulu suasananya aman atau enggak," lanjutnya.


"Aman kok, kamar aku ini kedap suara, jadi siapa yang nguping diluar enggak akan kedengaran," ucapku.


"Oh yaudah,"


"Kamu masih komunikasi nggak sama Farhan?" tanya Salsa.


"Masih," ucapku berbohong padahal selama aku masuk ke perguruan tinggi ini, Fakur tidak ada kasih kabar satupun.


"Syukurlah kalau begitu, tapi kamu enggak bohong kan?" tanya Salsa.


"Emang aku pernah bohongin kamu?" tanyaku.


"Selama kita berteman nggak pernah sih, mana tahu kamu bohongnya sekarang," ujar Salsa.


"Eng-nggak kok," ucapku.


"Emang ada apa, Sal?" tanyaku.


"Gini ...," perkataan Salsa terputus karena mendengar teriakan seseorang dari kamar sebelah.


Kemudian aku dan Salsa segera keluar dan menghampiri sumber suara tersebut.


"Dasar, anak manja, sama kecoa aja takut," umpat seseorang.


"Eh itu ada apaan?" tanya Nita yang sedari tadi sudah berada disana.


"Itu tuh si anak manja, baru kali ini ngekos, sama kecoa aja takut, anak mami tuh dia," ucap orang itu.


Kemudian semua terlihat seperti menahan tawanya, ditambah perasan jijik yang melanda karena suasana kamar itu berantakan dan kotor sekali.


Bersamaan dengan itu, perempuan tersebut teriak sekali lagi dengan apa yang dilihatnya.


"Wuaaaaa ...."

__ADS_1


__ADS_2