
🌱🌱🌱
Aku sangat curiga mendengar semua itu, aku takut jika pikiran yang kualami ini benar, ayah itu selingkuh. Aku tidak boleh suuzon dulu kepada ayah kandungku sendiri.
Berniat untuk mengetuk pintunya.
"Ayah, ibu, Rani pulang," ucapku memastikan.
Ayah tidak menjawab.
Aku mengetuk pintu terus menerus, dan lama-kelamaan seseorang menjawab samar-samar terdengar olehku.
Tak lama kemudian, aku mendengar deru langkah kaki yang ingin mendekatiku, kemudian terdengar suara handle pintu yang ingin dibuka. Jantungku serasa mau copot jika nanti ayah marah karena aku telah menganggunya.
"krek krek," bunyi anak kunci tanda pintu akan segera dibuka.
"Anak ayah udah pulang?" jawab ayah kemudian keluar dan menutup pintu kembali.
"Hehe ... iya," jawabku.
"Oh iya, apakah ayah ingin dibuatkan sup daging oleh ibu? sekarang ibu di pasar," lanjutku.
"Iya, ayau rindu masakan ibumu nak, hehe ...," canda ayah.
Kemudian ayah pergi dan meninggalkanku.
Aku masih bertanya-tanya siapa perempuan yang didalam kamar bersama ayah, dengan segera kumasuk dan menjelajahi seluruh kamar itu, tidak didapatkan seseorang disana, apalagi perempuan, tapi televisi disana masih menyala, dan kudapati disana film keluarga yang sangat romantis.
"Yassalam ... jadi ini, astaga aku telah nuduh ayah yang tidak-tidak," ucapku.
☘️☘️☘️
Sehari ini, hari-hariku selalu melibatkan perasaan, dimulai dari Fiyan tiba-tiba mendekatiku, digosipin satu sekolah, Nadya yang menjambak rambutku, Fakur jadi-jadian, dan terakhir nuduh ayah selingkuh. Ini adalah hari terburukku selama ini ....
Jam di dinding sudah pukul 9 malam. Tapi belum ada rasa ngantuk yang menghantui.
Akhirnya, kuputuskan untuk memainkan handphone, ternyata disana sudah ada pesan dari Bagas.
__ADS_1
[Rani, apakah kamu baik-baik saja?] dari Fakur
[Ya, sangat baik] jawabku.
[Syukurlah, ku dengar-dengar dari anak lain, Nadya menjambak rambutmu gara-gara Fiyan, benarkah?] tanyanya.
[En-enggak kok, ini masalah perempuan] jawabku berbohong.
Aku sengaja berbohong, karena takut Bagas akan berbuat yang tidak-tidak nanti terhadap Fiyan, aku tidak mau karena gara-gara aku pertemanan mereka menjadi hancur.
[Kalau masalah itu, aku nggak akan ikut, tapi kalau menyangkut laki-laki lain, dia harus berhadapan denganku] balas Bagas.
Aku tak membalas pesan dari Bagas, karena malas mendengar ocehan kasarnya terus-menerus.
Tiba-tiba pikiranku fokus pada nama 'Fakur', dengan senang hati kubaca satu persatu chat darinya.
Senang dicampur tawa saat membaca chat darinya yang kebanyakan gombal, tetapi tiba-tiba dibawah namanya tertera kata 'mengetik ....'
"Waduh, Fakur chat aku nih," batinku.
[Ada apa?] balasku.
[Waduh, galaknya] balasnya.
[Aku ngantuk, mau tidur,] balasku.
[Beneran? nggak mau chat aku lebih lama lagi?] jawabnya.
[Saking nunggu chat dariku, kakak rela baca-baca chat lama kita, hehe ...,] balasnya.
"Aduh, dasar anak indigo ini, tahu dimana dia," batinku.
[Enggak kok] jawabku.
[Kak, doain aku dong, besok aku akan tes jadi ketua Pramuka nih, doain aku yah,] balasnya.
[Oke aku doain] balasku.
__ADS_1
Tak lama kemudian, tumbuh inisiatifku untuk membuat story di What*Appku.
strong 💪😉
[Makasih ya kakak sayang] balas Fakur.
[Ih ... geer] balasku.
Melihat pesan Fakur memanggil sayang kepadaku, berasa tubuhku tak bertulang dan darahku berdesir hebat.
"Ada apa sih dengan dia? bisa-bisa semuanya jadi begini," batinku.
[Sayang?] balasku.
[Iya sayang] balasnya.
[Dasar, ini sudah gombalan yang ke-1001 kali kamu berikan kepadaku] balasku.
[Dan kakak orang yang ke-1002 yang termakan gombalan aku, hehe ...,] jawabnya.
[Dasar, anak jin] balasku.
[Dasar calon mantu jin] balasnya.
"Ini anak banyak kepandaian ya," batinku.
Aku tidak membalas pesan darinya lagi, karena takut terbawa suasana dan juga malas mengetik panjang-panjang. Hehe ....
[Oh iya, kakak udah punya pacar, nggak?] tanyanya to the point.
[Pacar? apa itu? apakah dia hidup? sejenis apakah dia?] tanyaku konyol.
[Waduh, sulit ini] balasnya.
[Ya udah, kalau sulit. Aku mau tidur dulu, daah ...,] balasku.
Pikiran yang keras membuat kepalaku pusing, dan segera kuhempaskan badan ini ke kasur yang empuk. Ini lebih nyaman dari yang namanya pacar, hehe ....
__ADS_1