
" Qiran, kamu bawa handphone kakak gak?" tanyaku ke Qiran.
" Bawa kak, tunggu sebentar!" jawab Qiran.
" Ini kak"
" Qiran letakkan di atas meja dekat kakak" Jawab Qiran.
" Kakak, mau apa?" tanya Qiran.
" Mau telvon kak Farhan ya?" tanyanya.
" Mau tidur! ya mau ambil handphone lah, masa mau lihatin induk ayam bertelur" cetusku, dan mengurungkan niatku untuk mengambil handphone.
Aku hampir emosi dengan Qiran yang selalu bertanya aku mau apa, untungnya dia tahu bagaimana aku sesungguhnya.
Jadi, dia tidak terbawa suasana. Maklumlah kakaknya ini emosinya masih terbilang anak-anak dan dia sudah memahaminya.
" Nak, temani ibu keluar sebentar ya, ada yang mau ibu urus" ucap ibu kepada Qiran.
" Terus kak Rani dengan siapa disini bu?" tanya Qiran.
" Kak Rani kan sudah mendingan, lagian kan ada Dika" ucap ibu sambil menunjuk ke arah Dika yang lagi asik bermain handphone.
" Iya deh bu" jawab Qiran pasrah.
" Nak, ibu sama Qiran keluar dulu sebentar, ada yang mau ibu urus" pamit ibu kepadaku.
" Iya bu, hati-hati ya Bu" jawabku.
Kemudian ibu dan Qiran keluar.
Aku ambil handphone tadi di atas meja. Dengan segera aku hidupkan data selulerku dan langsung masuk ke aplikasi hijau.
Pesan masuk bertubi-tubi ke aplikasi hijauku, membuatku susah untuk mencari pesan dari Fakur, pesan banyak tersebut umumnya dari teman sekelasku yang sangat khawatir dengan keadaanku.
Aku buka satu persatu pesan mereka, dan benar sekali mereka sangat mengkhawatirkan aku, sampai-sampai dia tidak semangat belajar karena tidak ada aku, ada juga yang bahagia ketika aku tidak ada, dan masih banyak lagi.
[ Rani, kamu baik-baik saja kan?] dari Nita.
[ Jangan banyak fikiran, lupakan saja Farhan dulu. Toh kalau dia sayang, dia akan balik lagi] dari Nita.
[ Kamu tidurnya nyenyak banget Ran, sampai-sampai keluar iler begitu, hehe] dari Nita.
[ Iya, iya sayong] balasku.
[ Haa benarkah? apakah Fakur melihat itu?]
[ Aku takut dia jadi ilfell lihat aku] balasku.
Pesanku hanya ceklis satu, berarti Nita tidak sedang main handphone, tetapi bisa saja dia lagi telvonan dan mematikan data selulernya.
Kemudian aku lihat pesan dari yang lain.
[ Boneka Barbieku kamu tidak apa-apa kan?] dari Salsa.
__ADS_1
[ Aku khawatir sekali, pulang sekolah aku kesana kamu masih tidur] dari Salsa dan ditambah emoticon marah.
[ Besok aku kesana ya!] dari Salsa
[ Hehe iya sayongku, aku terlalu letih makanya aku tidur ketika kamu kesini sayong] balasku dan ditambah emoticon peluk.
[ Tunggu aku besok ya sayong] balas Salsa.
[ Kamu lagi apa sekarang? sudah makan apa belum? jangan sampai terlambat makan ya] balas Salsa.
[ Iya, iya sayonku] balasku.
kemudian Salsa tidak membalas pesanku lagi, pesanku hanya ceklis dua tapi tidak berwarna.
Kemudian kulihat pesan yang lain, aku scroll ke bawah tidak ada pesan masuk dari Fakur, aku klik namanya dan disana foto profilnya tidak ada, pesanku yang kemarin hanya ceklis dua dan itupun tidak berwarna, apakah nomorku sudah di blokirnya? apakah kamu membenciku Fakur? ada apa denganmu? apa salahku?
Kemudian kulihat pesan dari teman yang lain, mataku tertuju di kontak yang bernama Bagas. Kemudian aku klik nama Bagas tersebut.
Ada 10 pesan tidak terbaca olehku dan itupun tidak masuk akal dan tidak ada hubungannya denganku.
[ Bro, sudah siapkah?] dari bagas pukul 16.00
[ Jangan buatku menunggu terlalu lama!] dari Bagas pukul 17.00
[ Woy bro, aku sudah nungguin dari tadi] dari Bagas pukul 17.55
[ Bro, gimana bro? kamu puaskan?] dari Bagas pukul 20.00
[ Mati aja sekalian dia, aku muak lihat dia hidup di muka bumi ini] dari bagas pukul 20.45
[ Apa ini? siapa yang kamu tungguin? Dan siapa yang mati?] balasku.
Dengan segera Bagas membalas pesanku.
[ Maaf beb, aku salah kirim. Mau mengirim ke Joko malah nyampe nya ke kamu, maaf ya!] balasnya.
[ Aku nggak percaya! mana mungkin sebanyak ini salah kirim, waktu ngirimnya pun juga berbeda, kamu sudah muak lihat aku? kamu sengajakan? oke! mulai dari sekarang jangan pernah temui aku lagi, dan jangan pernah hubungi aku lagi!] balasku.
[ Oke!] balas Bagas.
Aku hanya melihat pesan dari dia, entah siapa yang dimaksud dengan pesannya itu, yang pasti mempunyai makna yang sangat mendalam.
Pesan dari temanku masih banyak yang belum aku baca, mataku tertuju pada satu nomor baru di aplikasi hijauku, dia mengirimiku satu pesan. Kemudian aku lihat foto profilnya, ada foto Fiyan dengan Nadya.
[ Hay Rani?] dari nomor baru tersebut.
" Ini Fiyan? atau Nadya? namanya saja Fiyan Nadya, fotonya pun berdua, ah males lah balasnya" batinku.
Aku hanya melihat pesan dari nomor baru tersebut.
[ Udah sombong sekarang ya] dari nomor baru tersebut.
Kemudian fotonya berubah menjadi foto Fiyan dan namanya pun juga berubah nama Fiyan, mungkin ini Fiyan.
Aku balas pesan dari Fiyan tersebut.
__ADS_1
[ Ah enggak kok, ini siapa ya?] balasku, pura-pura berbohong, padahal aku tahu itu Fiyan.
[ Ini aku Fiyan, temannya Bagas] balasnya.
[ Oh Fiyan, ada apa?] tanyaku.
[ Nggak ada kok, cuma rindu saja] balasnya.
" Ini Fiyan kenapa ya? kok bisa bilang rindu ke aku, padahal dia sudah punya pacar, apakah dia lebih senang melihat Nadya bertengkar dengan aku? dia selalu saja memancing masalah" batinku.
[ Kok nggak dibalas sih] tanyanya.
[ Oh iya, kamu sakit ya Rani?]
[ GWS ya] lanjutnya ditambah emoticon senyum.
[ Makasih ya Fiyan] balasku.
[ Kamu jangan lama-lama ya sakitnya, nanti aku jadi gila bila nggak jumpa denganmu] dari Fiyan.
" Dasar! sepertinya dia suka lihat aku bertengkar dengan Nadya, buktinya dia selalu mancing-mancing keributan seperti ini" batinku.
Aku hanya melihat pesan dari Fiyan tersebut, dan tidak akan membalasnya. Tidak akan!
Kemudian masuk lagi pesan dari Fiyan.
[ Aduh, cantik-cantik sombong ya] dari Fiyan.
[ Maaf Fiyan, bukannya sombong. Kamu sudah punya pacar yaitu Nadya, Nadya satu sekolah dengan kita. Aku tidak mau dibilang perusak hubungan orang, apalagi Nadya teman aku dulunya. Dan aku takut terjadi seperti yang kemarin, Nadya sempat menjambak rambutku dari belakang ketika kami sedang makan di kantin. Dan aku tidak mau itu terjadi lagi. Karena aku teman-temanku yang lain jadi korbannya, aku tidak mau itu terjadi lagi!] balasku, langsung ku utarakan pikiranku tentangnya, supaya dia tidak mengangguku lagi.
[ Apa hubungannya dengan Nadya?] tanyanya.
[ Aku suka padamu Rani] balasnya to the point.
[ Melihat kamu sakit seperti ini aku tidak tega] balasnya.
" Fiyan kok sebegitu amatnya ya, dulu aku yang suka sama dia, malah dia tidak suka padaku. Sekarang malah terbalik" batinku.
Dengan segera kumatikan data selulerku dan meletakkan handphoneku di atas meja. Karena efek obat tidur yang diberikan dokter tadi, mata ini bawaannya selalu ingin dipejamkan terus.
Tak lama kemudian datang lah ibu dan Qiran, tetapi aku tidak membuka mataku, aku hanya tertidur tapi masih sedikit sadar.
Samar-samar aku dengar percakapan ibu dengan Qiran.
" ibu, kakak Rani kapan bisa pulang bu?" tanya Qiran.
" Ibu belum tahu nak, kata dokter penyakit Rani semakin parah saja" jawab ibu.
" Dan penyakitnya ini sudah masuk tingkat kronis nak" lanjut ibu.
" Tapi bu, selama ini kak Rani kelihatan baik-baik saja bu, kok bisa sebegitunya bu?" tanya Qiran.
" Tidak mungkin penyakitku semakin parah, aku tidak sakit, aku tidak sakit!" batinku.
Tak lama kemudian tidak kudengar lagi percakapan ibu dan Qiran, mungkin mereka takut bahwa aku mendengar itu semua.
__ADS_1