
🌱🌱🌱
"Nah, apa lagi itu?" tanya Salsa.
"Itu, takut ...," ucapnya kemudian jarinya menunjuk keluar.
"Itu kain jemuran, masa itu doang takut," ledek Salsa.
"Udah deh, baik aku ke kamar, habisin waktu aja," ucap Salsa kemudian pergi.
Dan semua orang pergi tetapi tidak termasuk denganku
"Kamu takut?" tanyaku kepada orang itu
Dia hanya mengangguk terlihat jelas dari raut wajahnya dia sangat takut sekali.
"Yaudah, sini aku bantuin bersihin kamar kamu," ucapku.
"Tapi nama kamu siapa?" tanyaku
"Nama aku Tiara Salsabila, panggil aja Tiara," ucapnya.
"Yaudah, ayo Tiara, kita bersihin kamarmu sekarang!" ujarku.
"Iya," jawabnya dan terukir senyuman dari wajahnya.
Disela - sela membersihkan kamarnya Tiara, kami berdua sempat berbincang. Dan Tiara sendiri ternyata orang nya sangat akrab dan pandai berteman. Hanya saja dia tidak suka bercanda.
Tiara adalah anak yang manja, dia kuliah dan kos disini hanya kemauan dari kedua orangtuanya, dirumahnya sendiri Tiara seperti putri kerajaan, karena di rumahnya dipekerjakan beberapa asisten rumah tangga.
Itulah sebabnya, dia sangat kotor dan takut.
__ADS_1
"Oh jadi gitu ya, Tir," ucapku paham.
Bersamaan dengan itu, suara motor seseorang yang sangat kukenal seperti sedang memasuki wilayah kos - san, dan dengan itu sedikit membuatku bahagia.
"Seperti suara motor nya Fakur?" batinku.
"Tapi dimana dia tahu bahwa aku ngekos disini? bukannya selama masuk kuliah ini kami tidak pernah berkomunikasi?" batinku bertanya - tanya.
"Tiara, aku keluar dulu ya," pamitku.
"Eeh, ada apa tuh? doi nya ya?" ledek Tiara.
"Hehee ... enggak kok, cuma teman," ucapku sedikit malu.
Sampainya aku disana, ternyata benar apa yang kupikirkan suara motor itu ialah suara motor nya Fakur. Tapi hanya motor nya yang ada disana sedangkan tuannya tidak ada.
"Aneh, kok cuma motornya yang ada," batinku.
"Eh mungkin suara motornya anak ibu kos kebetulan sama bunyi nya dengan motornya Fakur," batinku.
"Ah nggak mungkin, nggak mungkin motor Fakur sendiri yang seperti itu, mungkin aku terlalu memikirkan Fakur, makanya jadi begini," batinku.
Bersamaan dengan itu, seseorang telah memegang pundakku dari belakang.
Dengan segera ku berbalik badan.
"Salsa?" ucapku sedikit terkejut.
"Kamu ngapain ke depan sendirian?" tanya Salsa.
"A-anu, aku sepertinya dengar suara motonya ...," perkataan ku terputus.
__ADS_1
"Fakur?" tanya Salsa.
"Iya, kamu dengar juga ya?" tanyaku.
"Eng-nggak kok. Ka-kamu nya mungkin sa-salah dengar,", ucap Salsa terbata - bata.
"Yakali ya, mungkin aku salah dengar," ucapku.
"Tapi motor ini," lanjutku menunjuk ke motor yang sudah terparkir di halaman depan kos.
"En-enggak hanya mo-motor nya Fakur yang motif seperti itu, disini Jakarta Ran, kamu tahu kan Jakarta luas?" ujar Salsa.
"I-Iya juga yaa," ucapku sedikit paham.
"Yasudah, kamu tidur saja, besok kan kita ngampus," ucap Salsa.
"Kenapa Salsa kelihatan gerogi ya? apa jangan - jangan ada yang disembunyikan dari aku?" batinku.
"Tumbenan aja dia seperti ini," batinku masih bertanya - tanya.
"Ya udah, ayo!" ajak Salsa.
"Iya,"
---
Sepanjang perjalanan ke kemar masing - masing, kami sempat mendengar tawa yang sangat nyaring sekali berasal dari kamarnya Nita.
"Eh Sal, kamu dengar nggak?" tanyaku.
"En-enggak."
__ADS_1
"Emang ada apa, Rani?" tanya Salsa.
"Itu seperti tawa ....