Love Kamu 3000

Love Kamu 3000
part 53


__ADS_3

🌱🌱🌱


Serangan dari ketua tepat mengenai batang hidungku dan mengeluarkan da*ah segar.


Melihat darah yang mengalir membuat kepalaku terasa pusing. Fiyan yang melihat ini, segera merangkul ku dan setelah itu aku tidak tahu apa - apa lagi.


"Rani, kamu akan mati!"


"Akan mati!"


"Mati ...!!!"


Ujar suara misterius yang menatap ke arahku dengan sinis, dengan pisau di tangan kirinya, dia memakai jubah hitam, ditambah mukanya yang sedikit hancur membuat kesan seram dari dirinya membuatku semakin takut.


"Tidaaaaakkkk ...."


Aku berteriak sekuat mungkin, karena orang itu mendekat dan ingin mengacungkan pisaunya yang tajam ke arahku.


"Rani, Rani, Rani," ujar seseorang yang suaranya masih samar - samar kudengar.


"Rani, istighfar, istighfar,"


Aku berusaha membuka mata tetapi tidak bisa, mataku serasa diberi lem perekat yang sangat banyak.


Seseorang membacakan ayat suci Alquran tepat di telingaku, dengan ringan mataku bisa terbuka kembali.


Segera bangkit kemudian ku peluk seseorang yang sedang berada di dekatku saat ini, rasa takut itu membuat nafasku ngos - ngosan.


"Kamu tidak apa - apa?" tanya seseorang itu, suaranya samar - samar ku dengar.

__ADS_1


"Ti-tidak," ujarku terbata - bata.


Suaranya sangat asing bagiku, suara laki - laki yang baru ini aku kenal.


"Ma-maaf, Kak," ujarku melepaskan pelukan darinya.


"Tidak, apa - apa."


"Jika kamu masih takut, aku bersedia," ujar seseorang tersebut.


Ya ... dia adalah ketua BEM.


~Victory Fernando~ nama ketua BEM.


Aku memandangi seluruh isi ruangan itu, dari sudut ke sudut, sepertinya ini adalah ruangan klinik kampus. Ya di kampus ini memiliki klinik pribadi sebagai tempat praktik anak - anak kesehatan, dan dokternya adalah dosen jurusan kesehatan.


"Siapa yang bawa saya kesini?" tanyaku.


"Fi-fiyan dimana kak?" tanyaku kemudian memandangi kembali sekeliling ruangan untuk mencari Fiyan.


Kemudian kak Victori tertawa.


Keningku mengkerut beberapa tingkat.


"Hahaha ... dia tidak setia, kamu seperti ini dia tidak peduli sama sekali, dia lebih mementingkan ambisi nya untuk menjadi ketua BEM," ucap kak Victori.


Aku terdiam sejenak menatap ke arah pintu dengan sinis.


Sekilas kulihat segerombolan senior lain, bisa dikatakan dia adalah teman sepermainan kak Victori, mereka berdiri bersama di depan klinik, dan gerak - geriknya seperti mengawasi sesuatu.

__ADS_1


"Aneh," batinku.


"Kamu kenapa? kok bisa teriak seperti itu?" tanya kak Victori menghentikan lamunanku.


"Eng-nggak ada kak, mungkin karena hidungku berdarah tadi, jadinya aku pusing, dan berteriak-teriak," jelasku berbohong.


"Oh iya, yang bacain ayat suci tadi itu kakak ya?" tanyaku to the point.


"Hah? kapan? aku sedari tadi disini enggak ngapa - ngapain, cuma liatin kamu aja," ujarnya.


"Eh ngawasin, nanti ada yang jahat," lanjutnya.


"By the way, kamu kan nggak ada yang jaga, makanya aku disini, jagain kamu," lanjutnya menahan senyum.


Aku merasa risih melihat tingkah kak Victori yang berlebihan seperti ini, segera kubangkitkan badan dan bergegas pergi dari sini.


"Eehh ...," kak Victori berusaha menghentikan.


"Kamu belum bisa bergerak bebas, kata dokter kampus kamu harus istirahat sejenak," ucap kak Victori.


"Tapi aku nggak mau ngerepotin kak Victori," ucapku berbohong.


"Kamu nggak ngerepotin kok, malah ini menjadi tugasku, karena ini semua salahku, maafkan aku ya," jelas kak Victori.


Aku mengangguk


"Kamu sakit magh ya?" tanya kak Victori.


"Dimana kakak tahu?" tanyaku balik.

__ADS_1


"Dokter kampus," jawabnya.


__ADS_2