Love Kamu 3000

Love Kamu 3000
part 16 Gelisah yang tak berujung


__ADS_3

🌱🌱🌱


Selama di perjalanan, tak ada satu katapun yang keluar dari mulutku, begitu juga dengan Nita, dia seperti tahu isi hatiku sekarang.


"Ran, aku mampir ya, udah lama nggak mampir," kata Nita.


"Mampir kemana?" tanyaku.


"Kehatimu, ke rumah kamu lah Rani, masa ke jembatan," ujar Nita.


"Oh ya ya," jawabku mengangguk.


Tibanya di rumah, segera kumasukkan motor ke garasi, dan kemudian pergi tanpa mengacuhkan Nita yang sedari tadi bersamaku kesini.


☘️☘️☘️


(Kamar)


"Rani, kok aku dicuekkin sih?" tanya Nita dengan kening yang sedikit mengkerut, dan segera duduk di tempat tidurku.


"Eh, oh lupa nit, hehe ...," jawabku kemudian tertawa kecil.


"Rani, by the way soal yang tadi, kamu sabar ya, mungkin itu hanya temannya dia aja," ucap Nita.


"Soal mana? emang kita ada ulangan harian ga tadi?" tanyaku.


"Dasar! itu tuh, si Fakur," jawab Nita.


Sontak kepalaku menunduk, dan tidak melontarkan kata-kata.


hening


"Kamu nggak papa kan Rani?" tanya Nita


"Enggak kok, untuk apa mikirin dia, toh dia bukan siapa-siapa, wkwkwk ...," jawabku dengan tertawa keras.


"Boong," jawab Nita.


"Serius Nitaku sayang," jawabku dengan senyum ramah.


Kebohongan ini bisa membuat Nita tidak tegang lagi dan tidak akan memikirkan tentang aku dan Fakur. Aku tidak mau temanku juga menanggung semua rasa yang aku pendam.


"Ya udah, aku letih, mau baring sebentar," ucapku.


Kubaringkan badan ke kasur yang empuk dan begitu juga dengan Nita, dia tak kalah nyamannya dari aku.


Rasa dilema yang kualami sedikit demi sedikit menghilang, karena aku sudah nyaman di kasurku ini, hehe ....


Tak ada angin tak ada hujan di benakku terlintas nama Bagas. Segera kuraih handphone di dalam laci meja belajarku dan segera kuhidupkan data selulernya.


Pucuk dicinta ulampun tiba. Ternyata Bagas lebih dulu mengirimiku pesan,


[Aku sakit beb,]

__ADS_1


[Aku rindu kamu nih]


[Aku kesana ya] dari Bagas.


[Nggak usah, kamu kan sakit] balasku.


[Nanti pingsan di jalan, aku nggak tanggung jawab ya,] balasku sekali lagi.


[Demi kamu aku nggak akan apa-apa] balasnya.


Aku hanya melihat balasan dari Bagas.


Tak lama kemudian, datang notifikasi dari nama 'Fakur' laki-laki yang telah buatku dilema tadi.


[Kakak]


[Lagi ngapain tuh?]


[Pasti lagi galau nungguin chat dari aku ya] dari Fakur.


Aku tak ingin melihat pesan darinya.


Tak lama kemudian, dia mengirimiku pesan.


[Ada apa dengan kakak?]


[Online tapi nggak ada niatan lihat chat aku sama sekali] dari Fakur.


[Eh maaf, tadi lagi balas chat di grup] balasku berbohong.


[Ya] jawabku cuek.


[Ya udah deh, aku kesana ya, tunggu aku] balasnya.


[Eh nggak usah, disini ada ayah sama ibu, nanti kamu kena marah] balasku berbohong.


[Biarin!] balasnya.


"Aduh, gimana ini? Bagas dan Fakur mau kesini, nanti jika Bagas lihat Fakur gimana ni," batinku.


"Rani, kamu kenapa sih? mondar-mandir seperti setrika, emang ada apa?" tanya Nita.


"Ini Nit, Bagas dan Fakur mau kesini, gimana dong?" tanyaku.


"Ya udah, suruh masuk saja, itu aja ribet," jawab Nita enteng.


"Bukan itu nit, kamu kaya nggak tahu Bagas saja," ucapku.


"Oh, iya iya, gimana dong, suruh salah satu dari mereka cancel untuk hari ini," ucap Nita.


"Nggak mau, semua kokoh pendirian," jawabku.


"Aduh, bisa gaswat ini," Nita tak kalah gelisahnya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Sontak aku dan Nita terkejut bukan main.


"Gimana dong Nit?" tanyaku.


"Udah, terima aja," jawab Nita pasrah.


"Ya udah deh, temani aku ya!" ujarku.


☘️☘️☘️


(Ruang tamu)


Sebelum membuka pintu, tanganku sempat gemetaran, dan mengeluarkan peluh dingin.


"Bismillah," ucap kami bersamaan.


"Salsa?" ucapku bersamaan dengan Nita.


"Aduh, hampir copot nih," ujar Nita.


"Ada apa guys?" tanya Salsa.


"Nggak ada, kami kira kamu tukang rentenir, makanya bisa begini," jawabku


"Masa, udah dandan cantik gini di bilang rentenir," jawab Salsa.


"Mana tahu besok kamu jadi rentenir," ledek Nita.


"Ya udah, ayo duduk!" ujarku.


"Aku buatin minuman dulu ya," lanjutku.


"Nah gitu dong Rani, suguhi tamu dengan minuman, lah aku sudah lama disini, nggak ada tuh kamu tawarin aku minum," ledek Nita.


"Hehe ... maaf! aku khilaf," jawabku tertawa kecil.


Heemm


Tak membutuhkan waktu lama membuatkan minum untuk mereka, ketika menuju ke ruang tamu, ternyata Bagas sudah duduk manis disana.


"Bagaimana ini?"batinku.


Nita menatap kearahku dengan tatapan pasrah.


"Aku nggak dibuatin nih?" tanya Bagas.


"Tunggu bentar yah!" jawabku.


"Mau minum apa?" tanyaku.


"Orange juice," jawab Bagas.


"Oke!"

__ADS_1


Tak butuh waktu lama bagiku untuk membuatkan minuman untuk Bagas.


__ADS_2