
Mo Yan kembali ke rumah pribadi Lei Zuan dengan melompati beberapa tembok dan atap rumah di sana. Ia berjalan tanpa suara melewati koridor dan menuju ke kamar tempat sang majikan terlelap sebelumnya.
Firasat nya menjadi tidak nyaman ketika melihat cahaya lilin kembali menyala terang di kamar itu. Ia mempercepat langkah dan membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.
Dan benar saja, sang majikan tidak ada di tempat tidurnya. Dengan gerak cepat pria itu memeriksa ke seluruh ruangan namun perempuan dengan senyum menawan itu tak juga terlihat.
Tapak kaki Mo Yan terhenti ketika menginjak sebuah benda tipis yang menggumpal dengan bentuk yang tak beraturan.
Ya, itu adalah sebuah kertas berisi pesan singkat. Mo Yan yang telah mengambil kertas itu dengan cepat membaca pesan yang tertulis di sana.
Rahang Mo Yan mengeras. Meski mencoba tenang dengan pikiran positif namun intuisinya berkata lain. Ia memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Ia harus mengendalikan emosinya saat ini.
Setelah ketenangan itu terkumpul dalam fokusnya, mata elangnya kembali menajam dan mengaktifkan insting predator nya. Ia berlari meninggalkan kamar dengan pintu yang terbuka, melompati tembok rumah dan mendarat di tanah dengan mulus.
Ia berjalan menyisir area sekitar dengan sangat hati-hati. Meski hanya dengan bantuan cahaya bulan namun ia mampu melihat sebuah kilatan yang bersumber dari suatu benda di ujung jalan.
Pria tangkas itu mendekatkan diri ke sumber cahaya dan betapa terkejutnya ia ketika menyadari bahwa benda tersebut adalah belati yang selalu dipakai oleh sang majikan.
Mo Yan membungkuk dan mengambil belati itu. Rasa cemas kembali mengusik hatinya. Berkali-kali ia meyakinkan diri bahwa semua firasat nya itu salah. Tidak mungkin gadis itu meninggalkan belatinya tergeletak begitu saja.
Semakin ia menolak semakin besar pula rasa cemas itu menghantuinya. Seakan tak cukup dengan temuan belati, kini ia kembali dikejutkan oleh temuan bercak darah yang masih hangat.
"Chu Yao... "
Suara Mo Yan bergetar hebat memanggil nama perempuan itu. Raut wajahnya seketika menggelap merekonstruksi kejadian yang perempuan itu alami.
Kemarahan dan kekejaman menyatu dengan konstan di wajah Mo Yan yang tegas. Pria itu takkan melunakkan hati jika menemukan orang-orang yang telah menyakiti gadis itu. Ia bersumpah.
Mo Yan menegakkan badan dan menyimpan belati itu di balik lengan bajunya. Ia kembali ke dalam rumah pribadi pangeran kedelapan dan mendapati Lu Jin sedang berjaga di luar kamar.
Sorot mata Lu Jin seketika menajam berbanding selaras dengan pandangan Mo Yan kepadanya.
"Pangeran sudah tidur. Apakah telah terjadi sesuatu?" Tanya Lu Jin ketika Mo Yan berjalan menghampiri nya.
Mo Yan melemparkan remasan kertas yang berisi pesan singkat itu kepada Lu Jin dan dengan sigap ditangkap oleh pemuda itu.
"Ada yang telah memasuki tempat ini dan menyergap nonaku. Aku takkan kembali sampai berhasil menemukan mereka. Sampaikan itu pada pangeran. " Ucap Mo Yan tanpa ekspresi sedikitpun dan membalikkan badannya.
"Siapa mereka?" Lu Jin kembali bertanya ketika membaca pesan ditangannya.
Langkah Mo Yan terhenti, "tidak ada orang yang memiliki kepentingan yang berlawanan dengan pangeran kedelapan selain putra mahkota dan permaisuri, bukan?"
Lu Jin mengatupkan bibir dan mengangguk setuju, "Apa ada hal lain yang ingin kau sampaikan?"
"Sebaiknya kalian kembali ke ibu kota. Para penyusup Alorra sudah tidak ada di kota ini." Jelas Mo Yan.
Ia kembali melanjutkan ketika Lu Jin hendak menginterupsi pembicaraan, "jangan tanya dari mana aku mengetahui informasi itu! Cukup sampaikan apa yang telah kukatakan padamu!"
Mo Yan tidak membiarkan Lu Jin mengorek informasi darinya. Ia seketika melompat dan menghilang dari pandangan pengawal pangeran kedelapan itu. Ia berlari disepanjang atap rumah dengan gerakan cepat dan ringan. Mencari jejak kepergian sang majikan dalam kegelapan.
***
Keesokan harinya, Chu Yao tersadar ketika matahari sudah menyapa cakrawala dengan sinar kekuningan yang cerah diantara sela-sela daun yang kehijauan.
Suara cuitan burung yang berlarian dari satu dahan ke dahan lainnya telah mempertegas dimana keberadaan nya sekarang. Ia terbangun di tengah hutan. Dengan tiga orang pria berpakaian hitam. Wajah mereka tertutupi kain hitam dan hanya menyisakan tatapan mata yang tajam.
Chu Yao otomatis memperbaiki posisi duduknya. Ia sengaja tidak melakukan apapun. Baginya, masih hidup, masih bernapas dan duduk dengan bagian-bagian tubuh yang lengkap itu sudah merupakan suatu keberuntungan.
Hanya saja sekarang ia tak bisa bergerak dengan leluasa. Tangan dan kakinya terikat dengan mulut yang tersumpal kain.
"Hei, perempuan itu sudah bangun." Seru salah seorang dari mereka yang bertubuh paling kurus ketika melihat Chu Yao tengah memperhatikan mereka.
Kedua temannya menoleh dan seakan tak memiliki ketertarikan apapun. Mereka kembali beristirahat dengan menyandarkan tubuh ke pohon besar dibelakang mereka.
__ADS_1
"Biarkan saja. Dia tak kan bisa kemana-mana. Sebaiknya kita beristirahat. Mumpung utusan dari ibukota masih dalam perjalanan." Gumam pria lainnya yang berperawakan lebih besar.
"Benar, jarang sekali kita bisa beristirahat seperti ini. " Tambah pria yang memiliki bekas luka di area matanya.
Ibu kota?
Chu Yao membatin, dugaannya telah melayang secara otomatis kepada dua orang tersangka. Putra mahkota atau permaisuri.
"Tapi kak, perempuan itu perlu makan." Bantah pria kurus itu kepada orang yang dipanggilnya dengan sebutan kakak.
"Sudah, biarkan saja dia kelaparan untuk satu hari ini. Bukankah lebih bagus ia tidak makan agar dia tidak punya tenaga untuk melawan kita."
"Benar adik. Aku dan kakak Li sudah hampir kehilangan tenaga. Kurasa kau pun sama. Jadi beristirahat lah dulu."
Pria kurus itu akhirnya bungkam dan mengikuti saran dari kedua saudaranya. Ia kembali merebahkan diri tidak jauh dari tempat duduk Chu Yao saat ini.
Mereka tidak perduli. Mereka pikir gadis itu takkan bisa berbuat apapun dengan keadaannya yang seperti itu.
Namun nyatanya tidak. Chu Yao tak kehilangan akal. Ia menggesekkan telapak tangannya berkali-kali di kulit kayu hingga menyebabkan luka yang cukup besar.
Chu Yao meringis, menahan rasa sakit akibat darah segar yang mengucur di sela-sela jarinya. Ia dengan sengaja meninggal kan bercak darah disitu agar Mo Yan bisa melacak jejaknya.
Tak berapa lama terdengar suara tapak kaki kuda yang bergesekan dengan ritme cepat di atas tanah. Beberapa orang yang berpakaian sama seperti ketiga orang sebelumnya datang kearah mereka.
Seketika ketiga orang tadi terjaga dan bangun memberi hormat. Pria dengan posisi paling depan mengangkat tangan, mengisyaratkan sesuatu kepada orang-orang dibelakangnya.
Dua orang turun bersamaan dari kudanya. Mereka menghampiri Chu Yao dan menarik tangan gadis itu. Mereka memaksa Chu Yao untuk berdiri dengan posisi kaki yang masih terikat.
Sialnya badan gadis itu malah ambruk membentur tanah dan merobek kulit dagunya yang putih. Kembali, darah segar mengalir dari kulit yang menganga itu.
Chu Yao memaki dalam hati. Rasa perih akibat luka itu membuatnya mengutuk perbuatan orang-orang biadab itu.
"Lepaskan ikatan kakinya!" Perintah pria dengan suara serak yang berada di barisan paling depan.
Kedua orang tadi segera menuruti instruksi dengan tangkas. Dalam hitungan detik ikatan itu telah terpisah dari kaki Chu Yao dan hanya menyisakan guratan yang membentuk memar kemerah-merahan.
"Lapor tuan. Dia salah satu orang yang bersama dengan pangeran Long Ye Zuan. Kami menangkapnya ketika ia berada di kediaman pangeran tadi malam." Jawab A Peng yang tak lain pria yang memiliki bekas luka di sebelah matanya.
Pria bersuara serak melompat turun dari kudanya. Ia berjalan mendekat dan mencengkram wajah Chu Yao. Seringai bengis pria itu terukir nyata di balik kain hitam di wajahnya. Jika saja mulut Chu Yao tidak terhalang gumpalan kain, sudah pasti ia akan meludah tepat di wajah pria itu.
"Sayang sekali wajah cantik ini harus menjadi tumbal kepentingan perebutan kekuasaan. Andai saja kau tidak berada di dekat pangeran kedelapan, mungkin saja kau akan lepas dalam rencana yang mulia putra mahkota. Dan aku bisa saja menjadikanmu istri keduaku."
Chu Yao merasa perutnya bergolak seakan ingin menyiram wajah pria itu dengan muntahan asam lambungnya.
"Apa kau tau nasibmu benar-benar tragis di kehidupan ini? Kau akan dijadikan kambing hitam untuk menjebak pangeran kedelapan. Kau akan di tuduh sebagai salah satu penyusup Alorra. Dan kau akan mati."
Pria itu tergelak melihat reaksi Chu Yao yang pura-pura terkejut, "sungguh kasian. Kau bahkan tidak tau bahwa pemuda itu adalah seorang pangeran."
Chu Yao tak bergeming mendengar penuturan pria itu. Meski orang-orang itu mengira dia hanya warga sipil biasa yang tinggal di kota Nian. Yang kebetulan kenal dengan tuan muda Lei Zuan dan menginap di rumah pribadinya namun ada sepercik kekhawatiran timbul dalam hati Chu Yao.
Akan sangat runyam dan berbahaya jika sampai identitas aslinya berhasil mereka verifikasi. Bagaimanapun ia harus bisa melarikan diri dari orang-orang itu.
"A Peng, antar dia ke paviliun bawah tanah putra mahkota sekarang juga! Kami harus menyelesaikan tugas lain dari yang mulia. Nanti kita akan bertemu kembali di sana." Ucap pria bersuara serak yang kembali menaiki kudanya.
"Siap!" A Peng dan kedua rekannya menangkupkan tangan dan membungkuk hormat.
Rombongan pria bersuara serak itupun pergi meninggalkan mereka.
Dalam beberapa menit kemudian Chu Yao sudah berada di atas kuda dengan posisi tubuh masih terikat bersama ketiga orang yang sudah menculik dirinya tadi malam.
Mereka mengapit kuda yang dinaiki Chu Yao dari depan dan belakang. Sehingga sangat tidak memungkinkan untuk Chu Yao menyentak tubuh kuda agar melaju dengan kencang, menerobos penjagaan mereka.
Chu Yao hanya bisa menggenggam telapak tangan dan jari jemarinya yang masih terluka agar menjadi tetesan darah yang ia bisa tinggalkan sebagai jejak petunjuk untuk sang pengawal pribadi.
__ADS_1
Dalam beberapa jam perjalanan, mereka melewati sebuah jalan dengan tebing yang lumayan curam disisi kirinya. Langkah kuda yang semula melaju kencang perlahan mulai melambat.
Terlihat gerak tubuh Chu Yao mulai tidak seimbang. Wajahnya semakin lama semakin terlihat pucat. Tidak hanya karena menahan rasa sakit akibat luka-luka yang dideritanya, ia pun merasa lemas karena lapar.
Dengan tenaga yang tersisa ia kembali meremas luka ditangannya. Darah kembali menetes ke tanah dan itu menjadi darah terakhir yang bisa Chu Yao jadikan sebagai petunjuk untuk Mo Yan.
Pandangan nya seketika menjadi gelap. Tubuhnya oleng jatuh dari kuda dan tanpa diduga kaki kuda tersebut mendepak tubuhnya hingga terpental jatuh kedalam tebing.
Ketiga orang di atas berteriak dengan wajah memucat. Bukan karena mencemaskan keadaan sang gadis dibawah tebing itu, namun lebih takut pada hukuman yang akan mereka terima atas kelalaian mereka kali ini.
Dilain tempat, Mo Yan memacu langkah kudanya dengan kecepatan tinggi. Sesekali ia berhenti melihat keadaan sekitar yang sudah ia lalui. Dengan teliti ia memperhatikan beberapa jejak tapak kaki kuda yang berbeda.
Ia akan memperhatikan dengan sangat serius jika tapak itu nampak lebih dalam dari pada yang lain. Bisa jadi kuda tersebut membawa muatan lebih.
Jika ia tidak salah perhitungan, kemungkinan Chu Yao akan dibawa ke ibukota. Atau mungkin kesebuah tempat rahasia yang tidak jauh dari istana putra mahkota.
Ia tidak perduli. Asal bisa menemukan Chu Yao ia takkan keberatan untuk menerobos benteng pertahanan putra mahkota atau permaisuri sekalipun.
Ketika pemuda bermata elang itu tengah melaju kencang, terdengar suara derap langkah kaki kuda dari kejauhan. Ia melambatkan langkah kaki kudanya dan mencari tempat persembunyian yang jauh dari pusat suara.
Ia melompat menaiki sebuah pohon besar dan berdiam diri menunggu gerombolan itu lewat dibawah pohon.
Tak berapa lama, orang-orang itu datang dan tanpa curiga melewati pohon itu begitu saja. Ketika pria pakaian hitam terakhir berada cukup jauh dari rombongan, Mo Yan dengan gesit melompat dan menerkam pria itu hingga jatuh dari kudanya.
Sang kuda tetap melaju kencang meninggalkan sang majikan dalam cengkraman pria asing dengan insting membunuh yang tinggi.
"Jangan bertindak gegabah! Cukup jawab pertanyaan ku dengan berkedip. Jika benar, berkedip lah sekali. Jika salah, berkedip lah dua kali. Paham!?" Ucap Mo Yan ketika berhasil menotok syaraf beladiri pria berpakaian hitam tersebut.
"Apa kau melihat seorang perempuan cantik berpakaian seperti pria dengan rambut berkuncir? " Tanya Mo Yan.
Pria berpakaian hitam tidak bergerak dan hanya menatap Mo Yan dengan tajam. Amarah Mo Yan tersulut, ia mengeluarkan belati milik Chu Yao dan menggoreskannya ke betis pria itu hingga mengeluarkan darah segar.
Akhirnya si pria berpakaian hitam itu mengedipkan mata sekali sambil menahan rasa sakit di otot tandon kakinya yang menganga.
"Berapa orang bersama perempuan itu? Dua?" Tanya Mo Yan sembari menebak dan dibalas dua kedipan oleh pria berpakaian hitam tersebut.
"Tiga?" Pria itu membalas dengan sekali berkedip.
"Apa kalian suruhan putra mahkota?"
Pria itu seketika menegang. Ada keraguan dalam gerakannya. Mo Yan menyadari, sebagai pembunuh bayaran yang terlatih dan disumpah untuk selalu setia pada tuannya, membocorkan identitas majikan sama halnya dengan berkhianat.
Hukuman yang didapat pun tidak lain adalah kematian.
Tapi Mo Yan tidak perlu tau. Ia tak perduli pria itu akan hidup ataupun mati asal informasi bisa ia dapatkan untuk menyelamatkan sang majikan.
Ia kembali menancapkan ujung belati di betis yang satunya. Dan kali ini, ia tidak hanya membuat sebuah sayatan namun juga memutar belati itu hingga menyebabkan tendon kaki sang pria berpakaian hitam nampak seperti lubang berisi cairan merah yang mengalir keluar.
"Jawab!" Geram Mo Yan tanpa rasa ampun sedikitpun meski mata pria didepannya telah memerah dan berkaca-kaca karena rasa sakit yang luar biasa.
Pria itu akhirnya mengedipkan matanya sekali. Sungguh ia lebih baik mati dari pada harus mendapat siksaan kejam seperti ini. Ia ingin berteriak dan mengekspresikan rasa sakit yang diperolehnya namun justru terhalang oleh totokan si bedebah asing ini.
Sorot mata Mo Yan semakin meruncing, "apa dia terluka?"
Dengan sedikit ketakutan, pria berpakaian hitam itu mengedipkan mata sekali. Wajah tampan Mo Yan semakin menggelap. Aura mengintimidasi meliputi keduanya.
Genggaman di belati semakin erat dan berubah menjadi cengkraman yang kuat. Ia masih menahan diri. Masih ada hal yang ingin ditanyakan nya pada pria dengan luka di kakinya itu.
Mo Yan mencekik leher pria itu namun cekikan itu belum menyebabkan kematian untuknya. Meski terlihat longgar namun kesakitan yang dirasa pria berpakaian hitam itu tak bisa di sembunyikan. Kedua alisnya berkerut dengan sudut mata yang berair.
"Kemana mereka membawa gadis itu?" Tanya Mo Yan dengan suara dalam yang dingin. Tangannya semakin menempel erat di leher pria itu.
Mo Yan membuka totokan syaraf suara tanpa melepaskan totokan syaraf lainnya. Pria yang tak berdaya itu menarik napas dengan terputus-putus. Bibirnya yang sedikit berdarah bergetar dalam sebuah jawaban.
__ADS_1
"Paviliun bawah tanah milik putra mahkota."
Itu merupakan perkataan terakhir pria malang itu. Mo Yan tanpa tedeng aling-aling menguatkan cengkeramannya dan dengan mudah mematahkan leher pria tersebut. Seketika orang itu meregang nyawa dengan mata yang masih terbuka lebar.