
Sesuai perkiraan, ada kabar mengejutkan yang berasal dari istana Kekaisaran. Kasim Han ditemukan tidak bernyawa satu jam sebelum eksekusi mati.
Beberapa hari sebelumnya, rumah pribadi keluarga kasim Han di sidak oleh menteri perekonomian dan pertahanan bahan pangan atas persetujuan yang mulia Kaisar.
Ada dugaan bahwa kasim Han dan beberapa koleganya melakukan korupsi serta penyelundupan bantuan bahan makanan di daerah bencana alam di wilayah tenggara kota Jilian.
Kasim Han ditangkap dengan bukti yang cukup memberatkan. Entah bagaimana caranya, hukuman penjara pada awalnya berubah menjadi hukuman mati.
Chu Yao menduga bahwa Ye Zuan lah yang mendalangi pelenyapan nyawa orang tua itu.
Meski tidak tau bagaimana kronologinya, Chu Yao cukup puas dengan sepak terjang yang Ye Zuan lakukan. Setidaknya pria itu sudah menepati salah satu janjinya.
Berita menggemparkan itu pasti mempengaruhi permainan permaisuri dan putra mahkota. Sedikit banyaknya kepercayaan publik mulai goyah. Tidak mungkin permaisuri tidak berperan dalam tindak tanduk orang kepercayaannya. Meskipun pihak mereka telah memberikan bantahan. Publik bungkam dengan kecurigaan yang masih kentara.
Chu Yao tidak menolak kesempatan itu. Ia telah membantu Ye Zuan menyebarkan rumor baru. Dengan memanfaatkan beberapa pengemis dari luar kota, ia berhasil mempengaruhi perhatian masyarakat tanpa harus tercium jejak.
Jenderal Chu dan Chu Zhan tak menunjukkan respon apapun perihal kematian kasim Han. Meski demikian, Chu Yao sangat yakin bahwa kedua orang itu pasti sudah mengetahui berita itu jauh-jauh hari.
Setidaknya tindakan Ye Zuan berbanding lurus dengan keinginan mereka semua.
"Kau nampak bahagia. Apa karena hari ini adalah hari terakhir kau bertemu aku di rumah?" Ucap Chu Zhan ketika berjalan bersama Chu Yao ke luar paviliun pribadinya.
Ya, hari ini adalah hari pernikahan sang kakak. Yang juga menjadi awal baru bagi Chu Zhan sebagai pangeran pendamping putri Chang Le.
Sebagai Pangeran pendamping, otomatis pria itu akan pindah ke kediaman putri dan menetap di sana selamanya.
"Kakak jangan berkata demikian. Seolah aku adalah seorang adik yang durhaka. Kau paling tau bagaimana perasaanku saat ini. Bukankah aku hanya dekat denganmu. Jadi, bagaimana bisa aku tidak akan kesepian setelah kau pergi dari tempat ini?" Bujuk Chu Yao dengan sedikit mengernyitkan alis.
"Kau bermulut manis." Tawa Chu Zhan, "Kelak kau pun akan pergi dari rumah ini dengan pakaian merah sepertiku."
Chu Yao mengalihkan wajah dan menjawab, "sebelum itu terjadi, Chu Ling lah yang akan lebih dulu mewujudkan harapanmu."
"Ck, benar juga." Decak Chu Zhan seolah-olah baru tersadar dan menepuk-nepuk puncak kepala Chu Yao dengan senyum hangat.
Dari jauh nampak Jenderal Chu bersama istri dan anak perempuan bungsunya menunggu untuk menyelesaikan ritual pernikahan sebelum Chu Zhan benar-benar keluar melangkahkan kaki dari kediaman.
Yang tidak lebih mengejutkan, sosok flamboyan dengan cengiran khas juga berdiri di tengah-tengah tamu undangan.
Dia adalah Ye Zuan dan keluarga Zhao di belakangnya.
"Kau membuatku cemburu. Lihatlah pandangan berharap itu. Benar-benar nampak seperti orang yang sedang ingin memeluk sesuatu. " Bisik Chu Zhan tanpa melepas fokus pada tuan muda Zhao dari kejauhan.
"Benarkah? Mengapa aku justru melihat pandangan itu seolah ingin memakanku hidup-hidup?"
Chu Zhan terbahak mendengar ucapan Chu Yao yang bernada kesal, "Kau benar-benar lucu, adik!"
Alis Chu Yao mengkerut. Ekspresi nya tak lagi menginginkan canda tawa yang seperti Chu Zhan berikan.
"Apa yang ingin kakak katakan sampai harus memintaku menemuimu sendirian seperti ini?"
Langkah Chu Zhan berhenti dan menatap sang adik tiri dengan penuh keseriusan, "Kasim Han sudah mati. Kau pasti sudah tau siapa yang mendalangi semua itu.. "
"Bukankah orang itu juga berada di pihak kalian?"
"Justru karena itu aku ingin mengingatkanmu untuk semakin berhati-hati. Kematian kasim Han akan menjadikan peringatan, bukan hanya pada pihak permaisuri melainkan untuk pihak kita juga.."
__ADS_1
"Aku tau. Tapi kenapa kakak justru memberitahukan hal ini sekarang padaku? Apakah ayah yang menyuruhmu?"
"Tidak, bukan ayah. Aku sendiri yang berinisiatif memberitahumu."
Chu Yao diam sejenak sebelum kembali bertanya, "Apakah kakak takut jika kematian kasim Han menjadi bumerang untuk kita?"
"Kau gadis cerdas. Kau tidak mungkin tidak membaca kemungkinan itu, kan?" Tutur Chu Zhan sambil membalas lambaian Chu Ling dari kejauhan.
"Satu hal lagi yang kurasa kau perlu mengetahuinya.. " Chu Zhan melirik ke sekeliling dan berbisik pelan diiringi sentakan kaget Chu Yao beberapa detik kemudian.
"Maksud kakak?!"
Chu Zhan hanya berlalu dengan memunggungi adik tirinya itu. Sedangkan Chu Yao tetap berdiri membatu ditempatnya semula.
Ye Zuan menangkap perubahan sikap Chu Yao barusan. Alih-alih mendekati, pangeran kedelapan itu justru diam seolah mengerti apa yang Chu Yao rasakan saat ini.
Dari jauh, Chu Yao menyaksikan ritual pernikahan berjalan khidmat sebagaimana mestinya.
Gadis itu melihat Ye Zuan membimbing Chu Zhan untuk mengikutinya. Kaisar benar-benar mempersiapkan semuanya dengan baik. beliau sampai menyuruh putra bungsunya mengantar langsung sang mempelai ke kediaman putri agar tidak mendapat gangguan apapun ditengah perjalanan.
Chu Yao tak bergeming ketika senyum Ye Zuan terarah kepadanya sesaat sebelum ia benar-benar pergi bersama rombongan pengantin pria.
Ia bahkan ingin segera pergi dari pesta itu. Cukuplah sang ayah bersama nyonya Xun yang menyambut para tamu.
Namun tiba-tiba suara tuan muda Zhao membuatnya mengurungkan sejenak niat tersebut. Pemuda itu tanpa segan mendekat dan berbicara dengan Chu Yao di iringi tatapan curiga Chu Ling dari kejauhan.
"Ada apa tuan muda memanggil saya?" Tanya Chu Yao tanpa basa-basi.
"Bagaimana dengan lukamu? Aku tidak sempat menjenguk. Beberapa hari yang lalu aku sedang bernegosiasi dengan ayah." Tanya Zhao Ming De tanpa perkataan formal seperti biasanya. Ia mengeluarkan sebuah salep dari pergelangan bajunya dan menyodorkannya ke tangan Chu Yao.
"Nampaknya kakak sedang tidak sehat sampai harus membuat tunanganku membawakan obat khusus untukmu." Sindir Chu Ling yang tiba-tiba berada tepat di belakang Zhao Ming De.
"Kakak Ming De memang terkenal berbudi luhur dan dermawan. Wajar saja dia membawakan salep obat itu untuk kakak Yao. Kenapa kakak menolak? Ambil saja pemberian dari calon ipar kakak.."
"... Atau jangan-jangan kakak berharap hal lain akan terjadi diantara kalian?" Tambah Chu Ling sedikit berbisik didekat Chu Yao.
Agaknya kata-kata provokatif Chu Ling justru membuat Chu Yao merasa geli. Ia tidak ragu tertawa cukup lebar hingga orang-orang disekitar mereka menolah beberapa saat.
"Tuan muda, nampaknya calon istri anda sedang menelan air cuka. Ia bahkan berhalusinasi dan berdelusi tentang hubungan kita berdua." Kekeh Chu Yao di hadapan Zhao Ming De yang tidak nyaman dengan kehadiran Chu Ling.
"Kakak jangan membuat reputasiku jatuh didepan calon suamiku. Aku hanya membuat batas agar kakak yang belum menikah tidak sampai terkena rumor yang tidak sedap. Bagaimana nanti jika tak ada satu orangpun yang mau menikahi kakak hanya karena rasa kekaguman kakak terhadap tuan muda. " Kilah Chu Ling dengan perkataan lembut yang menusuk.
"Adik, kau terlalu narsis. Kau pikir semua orang yang bertemu tuan muda Zhao akan kehilangan akal sepertimu? Benar-benar otakmu terbuat dari serpihan kayu. Mudah lapuk!"
"Kau..!"
"Satu hal yang harus kau tau. Aku tidak perlu beralasan untuk merebut perhatian tunanganmu. Justru tunangan mu lah yang telah berhutang nyawa padaku. Jadi wajar saja dia membalas budi dengan karakternya yang tau diri. Tidak seperti seseorang yang hanya tau memuntahkan rasa cemburunya di sembarang tempat!" Jelas Chu Yao angkuh menyisakan tatapan tajam kepada adik tirinya.
"Nona Yao!" Panggil Zhao Ming De ketika Chu Yao pergi meninggalkan dua sejoli itu.
"Jangan panggil dia!"
Zhao Ming De mengerucutkan bibir. Wajahnya berubah masam ketika ekor matanya menangkap sosok Chu Ling yang menarik pergelangan tangannya.
"Tuan muda, apakah benar perkataan saudari saya barusan. Apakah.. "
__ADS_1
"Benar. Jika bukan karena dia yang menyelamatkan kami, mungkin aku dan Lin Lin yang justru terluka. Jadi, tolong nona Chu Ling tidak bertindak seenak hati lagi dikemudian hari! " Balas Zhao Ming De sambil melepaskan diri dari genggaman tangan gadis posesif didepannya.
Chu Ling tersinggung. Ia tidak terima dengan perkataan tuan mudah Zhao yang seolah mengatakan bahwa dia telah berpikir pendek, "Tapi saya adalah tunangan tuan. Saya yang akan menjadi istri tuan di masa depan. Sangat wajar bagi saya mencurigai perempuan manapun yang dekat dengan tuan. Bahkan jika itu kakak saya sendiri!"
"Nona terlalu berlebihan."
"Saya tidak berlebihan. Pernikahan kita sudah mendapat dukungan dari yang mulia kaisar. Bagaimana pun tidak akan ada yang bisa membatalkan rencana pernikahan itu. Begitu pula dengan perasaan anda pada kakak saya!"
"Nona tidak bisa mengikat hati saya meskipun dengan sebuah pernikahan. Pun seandainya saya benar-benar menikah dengan nona, bukan berarti saya akan berhenti mencintainya. Sebaiknya nona instrospeksi diri sebelum berkata yang tidak-tidak!"
Chu Ling bergetar menahan marah. Zhao Ming De pergi meninggalkan dirinya tanpa bujukan sedikitpun.
Ini gara-gara Chu Yao!
Tuan muda Zhao yang biasanya ramah dan lembut berubah kasar karena perempuan penggoda itu.
Chu Ling tak tahan jika harus melihat laki-laki yang ia cintai tidak menaruh perhatian sedikitpun kepadanya.
Bagaimanapun perasaan cinta Chu Ling begitu dalam hingga timbul obsesi yang berlebihan. Ia takkan membiarkan Chu Yao mempengaruhi calon suaminya.
Matahari sudah condong ke barat. Remang-remang cahaya jingga kemerahan telah berubah hampir menyerupai pekatnya sang hitam.
Nyonya Xun menarik ujung lengan suaminya ketika aula pesta telah lengang. Hanya tersisa beberapa pelayan dan mereka berdua di sana.
Wanita paruh baya itu berbisik, "Apakah tuan tidak melakukan sesuatu untuk putri kita? Lihatlah tadi, dia nampak terpukul dan sedih. Chu Yao telah membuatnya terpojok. Padahal dia tau tuan muda Zhao itu calon suami adiknya. Apakah tuan tidak berniat menjauhkan mereka?"
"Kau berlebihan. Bukankah sudah dikatakan Yao'er jika dia tidak tertarik dengan tuan muda Zhao. Mengapa kalian masih mengganggunya?" Jawab jenderal Chu lelah.
"Tuan, sebagai seorang ibu aku tidak ingin Ling'er merasakan hal yang sama seperti ku!"
"Kau dan Ling'er berbeda. Apakah kau tidak puas dengan apa yang sudah kuberikan selama ini sehingga harus terus mencari-cari kesalahan Yao'er?! "
"Apa maksud tuan? Mengapa tuan balik bertanya, bukankah tuan yang lebih tau. Meski Shixun telah lama mati, namun bayangannya terus menerus menghantui tuan. Saya harus menahan rasa sakit setiap kali melihat tuan masih memikirkan wanita pezina itu. Sampai detik ini, tuan masih terus mencintainya meski kau tau aku selalu bersamamu!"
"Jangan memulai pertengkaran lagi. Aku sudah cukup lelah akhir-akhir ini. "
"Jika tuan tidak mengambil tindakan apapun, aku yang akan melakukannya! Akan ku buat dia berakhir sama seperti ibunya biar dia tidak membuat Ling'er terus bersedih karenanya!"
"CUKUP! SEKALI LAGI KAU MENGOCEH, AKU AKAN MEMUKULMU!" Raung jenderal Chu disertai gebrakan di atas meja hingga mengejutkan semua orang yang ada disana.
Nyonya Xun gemetar dengan napas tertahan, "an, anda membentak saya? Anda ingin memukul saya hanya karena anak perempuan tak berharga itu? Tuan, ANDA BENAR-BENAR KELEWATAN! "
PLAAAAKK!!!
Tamparan keras mendarat mulus di pipi Nyonya Xun. Telinganya berdenging dengan pandangan yang kabur.
Wanita itu terdiam dalam rasa kaget. Ia tidak menyangka suaminya akan benar-benar memukulnya. Seumur hidup, Laki-laki itu tidak pernah berbuat kasar padanya meski ia marah dan berteriak senyaring apapun. Namun kali ini, hanya karena ia meminta keadilan untuk putri mereka, jenderal Chu begitu tega melampiaskan amarah dengan memukulnya.
"Aku menutup mata atas semua ulah yang kau lakukan dikediaman selama aku tidak ada. Tapi nampaknya kau semakin melunjak. Jika kau tidak tahan, kau bisa membawa anakmu itu kembali ke keluargamu! aku akan dengan senang hati menceraikan mu, kapanpun yang kau mau!"
Jenderal Chu pergi dengan wajah menghitam. Ia terlihat sangat marah. Semua pelayan bahkan bersujud tanpa berani mengangkat wajah sedikitpun.
Semua ketakutan. Tak terkecuali Nyonya Xun. Ia bahkan ambruk terduduk syok dilantai yang dingin. Wajahnya seputih kapas. Ia tak menyangka jika ia akan diceraikan hanya karena aduan singkat.
"TUAN! KAU KETERLALUAN! KAU TIDAK BISA MENCERAIKAN KU HANYA KARENA ANAK ITU! TUAN! TUAAAAAANNNNNN!!!!!!"
__ADS_1