Memperbaiki Masa Lalu

Memperbaiki Masa Lalu
Bab 22


__ADS_3

Mo Yan kembali menyusuri jalan dengan langkah kaki sang kuda. Panca indra nya semakin menajam membentuk sebuah fokus di atas normal. Tak jauh ia melihat beberapa bekas rumput yang tinggi disalah satu sisi dan justru pendek disisi lainnya.


Ia sangat yakin jika ditempat itu sebelumnya telah ada beberapa ekor kuda yang beristirahat dan memakan rumput dengan nyaman.


Pemuda itu kembali turun dari kudanya dan menyisir keadaan sekitar dengan ketelitian yang tinggi.


Matanya kian meruncing tajam mendapati beberapa bercak darah di sebuah pohon yang cukup besar. Tak jauh dari pohon itu, ia kembali menemukan bekas tanah yang terlihat sedikit mulus dibanding tanah disekitarnya.


Bekas di tanah itu sangat mirip dengan bekas tubuh manusia yang terjatuh. Terjerembab dengan keadaan tak berdaya seakan kaki dan tangannya telah terhalang oleh sesuatu. Masih ditempat yang sama, sebuah bercak merah terpampang semakin jelas.


Ada bekas sepasang sepatu di samping darah itu. Bekasnya yang cukup dalam telah menggambarkan dengan baik bobot dan bentuk tubuh itu di otak Mo Yan. Ingatannya kembali pada sesosok pria berkuda dibarisan paling depan yang dilihatnya di atas pohon sebelumnya.


'Bekas tapak kaki ini pasti milik pria bertubuh besar itu' batin Mo Yan.


Dengan gerakan lincah ia kembali menaiki kuda dan melesat jauh menjauhi tempat itu. Ia merasa cukup beruntung karena menemukan beberapa bercak darah lainnya di sepanjang perjalanan. Terkadang tetesan darah itu ada di atas tanah, di atas sebuah batu bahkan di sela dedaunan dan rumput dipinggir jalan.


Perempuan cerdik itu telah meninggalkan jejak untuknya dengan darah yang berasal dari luka-lukanya.


Perasaan Mo Yan semakin ngilu. Ia semakin mengencangkan tali kekang dan melaju dengan cepat. Menembus terpaan angin yang berlawanan dengan arah tujuannya. Ia tidak menghiraukan apapun asal perempuan itu bisa kembali disisinya. Bagaimanapun caranya.


Mo Yan semakin menajamkan instingnya ketika menangkap empat sosok yang berkuda tidak jauh darinya. Ia sangat yakin bahwa perempuan di tengah-tengah itu adalah Chu Yao.


Pupil mata Mo Yan seketika membesar dengan raut wajah syok ketika tubuh gadis itu lunglai dan jatuh ke sisi tebing. Dengan refleks ia melemparkan kedua belati dan mengenai kedua pria berpakaian hitam didepan nya.


Seorang diantara mereka yang masih hidup berusaha kabur. Mirisnya ia pun tidak selamat dari sabetan pedang Mo Yan yang tajam. Ketiga orang berpakaian hitam yang menculik Chu Yao telah tewas secara mengenaskan.


Dengan wajah hampir menyerupai kapas, Mo Yan melihat ke sisi tebing, mencari sosok perempuan yang sudah memenuhi pikiran nya selama ini.


Tapi di sana kosong, hanya terdapat tebing curam dan air sungai yang dalam. Rahang Mo Yan mengeras ketika terbayang sosok Chu Yao yang telah tenggelam ke dasar. Tanpa menunggu ia seketika meloncat menyusul sang gadis yang telah lebih dulu berada di tempat gelap itu.


Mo Yan membuka matanya dan mencari sosok Chu Yao meski masih berada di dalam air. Tak perlu waktu lama, tubuh perempuan yang tidak sadarkan diri itu berhasil ia temukan. Mo Yan meraih gadis itu dalam pelukannya dan membawa tubuh itu keluar dari dalam sungai tersebut.


Ia membaringkan tubuh Chu Yao di pinggir sungai dan melepaskan ikatan tangan serta sumpalan kain di mulut gadis itu. Ia mengecek pernapasan Chu Yao dengan penuh ketelitian. Raut wajahnya kembali memutih ketika tak merasakan hembusan napas di jari yang memang di letakkan nya di dekat cuping hidung perempuan itu.


Pemuda itu berusaha tidak panik. Ia meraba pergelangan tangan dan leher sang gadis. Ketakutan muncul dibibir nya yang kaku. Denyut nadi perempuan itu hampir-hampir tidak terasa.


Dengan sigap Mo Yan menjepit hidung perempuan tak berdaya itu, lalu mengatupkan bibir dan mendekat ke mulut Chu Yao yang semakin membiru.


Pria tampan itu mengambil napas seperti biasa kemudian meniupkan dengan pelan ke rongga mulut Chu Yao beberapa kali.


"Bernapas lah! Kumohon bernapas lah!" Ucap Mo Yan dengan suara yang gemetar. Ketakutan semakin nampak nyata di wajah pucat nya yang hampir putus asa.

__ADS_1


Ia memposisikan telapak tangan kirinya berada di bawah tangan kanan, kemudian meletakkannya di dada tengah perempuan itu dan memberi tekanan sekitar empat sampai lima sentimeter.


"Ku mohon... Ku mohon... " Gumam Mo Yan dengan suara semakin lirih. Matanya kini berkaca-kaca.


Ia kembali melakukan bantuan pernapasan dan memompa jantung perempuan itu. Berkali-kali. Dengan harapan perempuan itu akan memberi respon sesuai yang ia harapkan.


Namun tubuh kecil itu tetap tak bergerak. Mo Yan meraih wajah cantik itu dalam dekapannya. Tubuh maskulin nya bergetar hebat. Rasa sakit menyelimuti hatinya. Bibir nya yang kelu tetap memanggil nama perempuan itu.


"Bangunlah... Ku mohon... Chu Yao.." Serunya berulang-ulang dengan suara gemetar penuh keputusasaan. Air mata yang tak pernah ia tumpahkan selama hidup justru mengalir membanjiri wajah tampannya yang sudah sangat penuh kecemasan.


Ia mendekap erat wajah gadis itu di dadanya yang bidang dan mencium ubun-ubun gadis itu dengan kelembutan yang khidmat. Mata nya telah sembab dipenuhi dengan derasnya air mata.


"Chu Yao.. Jangan seperti ini! Jika ingin menghukum ku cukup memberikanku luka fisik.. Sesakit apapun itu, akan aku terima.. Bukankah aku tidak pernah mengeluh padamu? Apapun yang kau lakukan padaku, aku menerima nya tanpa bantahan sedikitpun..."


"... Tolong, jangan hukum aku dengan perasaan seperti ini... Ini sungguh sakit.. Kau sungguh-sungguh telah menyiksaku... "


Mo Yan kembali mengusap wajah gadis itu dengan tangan yang masih gemetar. Rasa penyesalan kembali menerpa dirinya ketika menatap luka-luka di wajah dan tangan yang semakin dingin itu.


"Maafkan aku! Aku datang terlambat.. Maafkan aku !!!"


Mo Yan semakin terpuruk. Tubuhnya semakin membungkuk memeluk tubuh gadis itu dengan erat. Ia semakin terisak dalam rasa sedih dan penyesalannya. Ia menelan rasa kecewa atas ketidakmampuan nya melindungi orang yang berharga di hidupnya.


Ia menyalahkan dirinya atas musibah yang diderita perempuan yang sangat dicintainya.


Ia telah lama memendam perasaan nya dan memang tak berniat memberitahu siapapun. Ia lebih memilih untuk memendam dan melindungi orang yang dicintainya seumur hidup.


Bahkan, ia tidak perduli dengan identitas aslinya sebagai penerus kerajaan Alorra. Ia lebih memilih untuk terus bersama Chu Yao selamanya meski hanya sebagai pengawal pribadinya.


"Aku tidak pernah meminta lebih, kali ini aku akan memohon, bahkan jika kau ingin aku bersujud maka akan ku lakukan... Tolong, bernapas lah.. Kembalilah bersamaku.."


Entah keajaiban dari mana, tiba-tiba Chu Yao tersedak dan memuntahkan banyak air di dadanya. Hanya dalam beberapa detik, ia kembali pingsan. Mo Yan seketika terdiam. Pria itu meraba pernapasan sang gadis dan refleks memeluknya dengan senyum sumringah.


"Syukurlah kau mendengar ku, aku tau kau tidak akan meninggalkan ku sendirian.." Ucap Mo Yan penuh rasa syukur. Ia kembali mengecup dahi perempuan itu dengan lembut, dengan tangkas membawa gadis itu dalam gendongannya dan mencari tempat berteduh yang aman.


***


Di kamp pelatihan..


Jendral Chu dan putra sulungnya, Chu Zhan, membungkuk hormat menyambut kasim Lu didalam tenda pribadi jendral. Kasim Lu merupakan kasim kepercayaan kaisar dan kali ini kedatangannya membawa sebuah dekrit untuk dibacakan didepan kedua pejuang negara tersebut.


"Mengacu pada dekrit kaisar. Jendral besar Chu dan Letnan Jendral, Chu Zhan, memiliki kesetiaan dan semangat juang yang tinggi dalam membela negara, berbudi luhur Serta telah memenangkan beberapa peperangan tanpa memperdulikan jiwa dan raga maka kaisar akan memperbolehkan mereka kembali ke ibukota kapanpun waktu yang mereka inginkan. Juga sebagai wujud syukur dan rasa senang maka kaisar akan berbesar hati menghadiahkan pernikahan antara Letnan Jendral dan putri Chang Le dalam kurun waktu tiga bulan ke depan. Titah berakhir."

__ADS_1


"Silahkan Tuan Jendral dan tuan muda bangkit dan menerima dekrit dengan semestinya." Ucap kasim Lu setelah selesai membacakan dekrit Kekaisaran untuk mereka.


Orang-orang yang berada didalam tenda kembali berdiri. Jendral Chu dengan sikap hormat menerima dekrit tersebut dengan ucapan penuh pujian dan terima kasih kepada kebaikan hati sang kaisar.


Tak lama kasim Lu undur diri bersama rombongannya untuk kembali ke ibu kota. Jendral Chu meletakkan dekrit itu kedalam peti kayu yang tak begitu besar dan meminta sang anak untuk menyimpannya.


"Simpanlah. Kau harus segera beristirahat. Persiapkan semua pasukan untuk kembali ke ibukota. Secepatnya." Perintah jendral kepada Chu Zhan.


Chu Zhan menerima dan menyimpan dekrit itu dalam genggamannya. Namun ia tak lantas meninggalkan tempat itu seperti instruksi awal sang jendral.


"Katakan apa yang ingin kau tanyakan!" Ucap jendral sembari melepaskan baju zirahnya satu per satu.


"Tidak, saya hanya tidak menyangka jika kaisar akan menyetujui permintaan ayah." Jawab Chu Zhan dengan tangan sedikit berkeringat.


"Yang mulia tidak akan bisa menolaknya. Ini merupakan kompensasi yang harus yang mulia bayar atas pengorbanan yang kulakukan selama ini." Balas Jendral dengan suara sedikit mengecil.


"Dan ingatlah pesan ayah, lakukan sesuai apa yang telah ayah katakan! Biarkan semuanya berjalan sesuai dengan rencana. Jangan sekali-kali kau membelot, keselamatan keluarga kita akan dijamin kaisar jika semua berjalan sesuai rencana yang ada." Tambahnya dengan nada yang sedikit mengintimidasi.


"Aku.. "


"Sudah! Kembalilah ke tenda mu. Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Semua akan tetap sama. Beristirahat lah!"


Jendral Chu memanggil seorang pengawal dan meminta pengawal tersebut mengantarkan sang anak kembali beristirahat ke tenda pribadinya.


Tak ada lagi yang perlu mereka diskusikan. Semua sudah berjalan sebagaimana mestinya. Sesuai dengan rencana.


Tak berapa lama seorang pengawal bayangan menyelinap masuk dan memberi hormat pada beliau.


"Ada informasi apa?" Tanya sang Jendral dengan posisi duduk santai di atas dipan.


Sang pengawal bayangan tersebut menunduk dan segera melaporkan, "kami sempat kehilangan jejak nona pertama saat menuju kota Nian dan kembali menemukannya bersama pangeran kedelapan."


"Lanjutkan!" Perintah jendral Chu dengan wajah serius.


"Kami kembali kehilangan jejak nona dua hari terakhir. Sepertinya orang-orang suruhan putra mahkota yang telah menculiknya. Tapi tuan tenang saja, pengawal Mo telah melacak jejaknya. " Jelas sang pengawal bayangan.


"Aku mengerti. Kau bisa pergi. "


Pengawal bayangan itupun mengangguk dan segera meninggalkan tenda pribadi tuannya. Sang Jendral kembali diam dalam pikirannya. Ia memang sudah memperhitungkan kemungkinan penyerangan putra mahkota kepada putri sulungnya itu namun kejadian nya yang lebih awal cukup diluar perkiraan.


Apakah putra mahkota sudah tau siapa Chu Yao sebenarnya sehingga ia telah mengambil tindakan lebih awal? Mungkinkah permaisuri telah memberitahu putra mahkota tentang peristiwa asli yang pernah terjadi beberapa tahun yang lalu?

__ADS_1


Pria paruh baya itu mengerutkan kening dan memberi pijatan kecil ditempat itu. Ia menghela napas panjang. Semakin hari beban pikiran nya semakin berat. Apakah ini merupakan sebuah firasat akan berakhirnya perang dingin yang telah terjadi sejak beberapa tahun yang lalu?


__ADS_2