Memperbaiki Masa Lalu

Memperbaiki Masa Lalu
Bab 63


__ADS_3

Airland, istana Kekaisaran.


Teriakkan histeris dari mantan permaisuri, putri perdana menteri, yang dihukum di istana mortalitas, terdengar begitu pilu dan menyayat hati begitu peti mati anak kesayangan tiba tepat di aula pertemuan Kekaisaran.


Peti mati berwarna hitam yang berisikan jasad tanpa kepala yang sudah diawetkan sedemikian rupa itu sengaja dikirimkan kaisar Alorra dengan selembar surat ancaman.


Long Jin Mao memberang. Matanya penuh dengan kilatan amarah tatkala membaca habis isi surat tersebut. Dia bahkan memukul kursi kebesarannya hingga membuat bunyi 'Brak!' yang cukup menghentakkan nyali para pejabat yang hadir di sana.


"KATAKAN PADAKU, BAGAIMANA BISA KEJADIAN MEMALUKAN INI TERJADI?!" Raung kaisar Airland di tengah aula dengan suara yang menggema.


"BAGAIMANA BISA ANAKKU, LONG YE LANG, PERGI KE ALORRA DAN BERNIAT MENCELAKAI KAISAR KEJAM ITU?"


"ANAK BODOH INI, BUKANNYA PULANG DENGAN KEBERHASILAN KENAPA JUSTRU KEMBALI DENGAN TUBUH YANG TIDAK LAGI UTUH?!"


Kaisar menuntut jawaban namun semua orang yang hadir mengunci mulut sambil terus menundukkan kepala.


"Tolong tenangkan diri yang mulia," Ucap Ye Zuan yang berusaha meredam situasi yang mulai memanas, "tak ada satupun dari kami yang mengetahui langkah yang diambil oleh pangeran Ye Lang beberapa waktu yang lalu."


"MUSTAHIL! DENGAN KARAKTER NYA ITU, YE LANG TAK AKAN BERANI BERTINDAK TANPA ADA DUKUNGAN DARI SESEORANG!" Bantah kaisar dengan tatapan tajam kearah wanita yang masih tersedu sedan didepannya.


"KAU PASTI TAU TABIAT ANAKMU ITU KAN, PERMAISURI?!" Tuding Long Jin Mao dengan jari telunjuk yang mengarah langsung pada wanita nomor satu di Airland.


Permaisuri menghapus air mata dan mencibir kepada suaminya, "Bukankah karena iming-iming darimu, Ye Lang jadi gelap mata."


"Kau yang menjanjikan sesuatu yang dia idam-idamkan! Kau berjanji akan mengembalikan status putra mahkota padanya jika ia berhasil membunuh musuh bebuyutan mu itu tanpa jejak!"


"KAU YANG MENDALANGI SEMUANYA DAN KAU MALAH BERLAGAK TIDAK TAU?!" balas permaisuri dengan intonasi tinggi.


"Ye Lang disini adalah korban! Kau malah berusaha mencuci tangan! Long Jin Mao, kau sungguh manusia berhati binatang!"


Wajah sang kaisar menjadi semakin hitam. Perkataan permaisuri telah membuat amarah nya semakin membesar. Tindakan wanita itu melukai harga diri dan wibawanya sebagai pimpinan tertinggi di Airland.


Long Jin Mao menggertakkan gigi, berseru nyaring kepada para prajurit yang berjaga diluar aula untuk menyeret permaisuri yang telah berkata lancang tentangnya.


"LEPASKAN AKU! KALIAN HARUS TAU BAHWA LAKI-LAKI BEJAT ITU SANGAT MANIPULATIF! DIA AKAN MEMBAWA KEHANCURAN PADA NEGERI INI! DIA YANG MENDORONG ANAKKU UNTUK MELAKUKAN PENYERANGAN ITU! AKU TIDAK BERDUSTA! AKU BERSUMPAH!!!"


Long Jin Mao bangkit dari tempat duduk nya dengan arogan, "KURUNG WANITA ITU SELAMANYA!"


Ye Zuan dan para pejabat hanya bisa berbicara dengan lirikan mata. Mereka merasa salah telah berdiri menyaksikan pertengkaran pasangan suami-istri agung Kekaisaran itu.


Kaisar memijat keningnya yang berdenyut. Ia menjeda beberapa waktu untuk meleburkan kemarahan yang telah menguasai dirinya sebelum kembali melakukan diskusi panjang dengan para jajarannya.


"Yang mulia, jika boleh tau, apakah isi surat yang dikirim kan oleh Kerajaan Alorra?" Ucap Ye Zuan dengan penuh kehati-hatian.


Pria tua itu memandang sang anak dengan alis yang berkerut, "Xu Xiao Yan, kaisar itu, akan melakukan konfrontasi jika kita tidak memberikan penjelasan secepat mungkin."


"Maksud yang mulia? Apakah itu adalah peperangan?" Tebak menteri pendidikan dengan suara gemetaran.


Dengan berat hati Long Jin Mao membenarkan, "perbuatan Ye Lang kali ini telah melukai kaisar Alorra dan membuat selir kesayangannya koma. Dan itu bukan perkara ringan yang mudah dimaafkan!"


Seketika suasana menjadi ramai. Para pejabat nampak saling memberikan tanggapan terhadap satu sama lain. Raut wajah yang penuh kekhawatiran mulai terlihat nyata pada diri mereka.


Ye Zuan, putra mahkota saat ini, memberanikan diri untuk bertanya kembali, "Apakah tidak ada cara agar kita bisa bernegosiasi dengan pihak Alorra?"


Ada sebuah titik terang terlihat saat Ye Zuan mengamati perubahan roman muka sang ayahanda. Ye Zuan berharap, jawaban kaisar akan menjadi penyelamat terhadap situasi yang sedang mereka hadapi saat ini.

__ADS_1


"Alorra akan memundurkan pasukan jika persyaratan yang mereka berikan disetujui oleh Airland." Tutur baginda kaisar dengan sedikit keragu-raguan.


"Bukankah itu bagus! Kita tidak perlu berperang dan mengorbankan rakyat sipil yang tidak bersalah. " Balas Ye Zuan dengan senyum senang.


Namun sang kaisar justru nampak tidak suka. Wajahnya berubah masam. Dengan suara dingin ia menimpali, "Aku tidak akan mengabulkan salah satu dari persyaratan yang mereka ajukan! Sampai kapanpun!"


Para pejabat nampak kebingungan. Alih-alih bertanya, mereka justru menunggu dengan sabar penjelasan yang akan disampaikan oleh petinggi nomor satu Airland tersebut.


"Xu Xiao Yan menuliskan tiga persyaratan yang harus aku penuhi jika tidak ingin berperang melawan mereka.."


"Pertama, aku harus mengeluarkan dekrit pemulihan nama baik mendiang jenderal Chu beserta keluarganya. Kedua, pengakuan dosa dan meminta maaf dengan penuh ketulusan karena menginvasi Alorra dua dekade yang lalu.."


Long Jin Mao menelan saliva sebelum kembali melanjutkan, "terakhir, aku harus rela turun dari jabatanku saat ini dan digantikan dengan kandidat yang lebih baik secepat mungkin."


"Jika dalam tiga hari tidak ada tanggapan, maka kaisar sadis itu akan segera menurunkan pasukan dan menyerang ibukota."


"PRIA ITU!!! JANGAN BERHARAP MELIHATKU TURUN DARI SINGGASANAKU!" Geram Long Jin Mao setelah cukup memberikan rentetan informasi kepada semua orang yang ada di aula pertemuan.


Penguasa tua itu merasa dikecilkan oleh persyaratan yang diberikan pihak Alorra kepadanya. Ia bahkan merasa tersinggung dengan pengiriman peti mati yang berisikan jasad putranya yang tanpa kepala.


Long Jin Mao menyeringai, "Xu Xiao Yan yang belum cukup umur itu mencelaku! Dia pikir Airland tidak mampu melawan mereka? Jika dia meminta peperangan maka dengan senang hati akan ku kabulkan!"


Ye Zuan bergerak maju dengan tubuh yang membungkuk, "tolong pikirkan lagi keputusan yang mulia! Jika peperangan terjadi, banyak hal yang akan menerima dampak negatifnya. Kondisi Airland saat ini tidak stabil. Krisis panjang masih kita alami. Semua itu akan bertambah parah jika di sertai perang di sana sini!"


"Benar ucapan putra mahkota, "timpal menteri perekonomian, "jika sampai peperangan itu terjadi, akan banyak kerugian yang kita dapat. Begitu pula dengan rakyat sipil yang tidak berdosa. Mereka tetap akan menjadi sasaran empuk dari imbas peperangan yang ada. Kami mohon agar yang mulia bisa kembali memikirkannya!"


"KAMI MOHON YANG MULIA BISA KEMBALI MEMIKIRKANNYA!" ulang seluruh pejabat yang hadir di aula pertemuan.


Long Jin Mao mengepalkan tangan dengan rahang yang terkatup rapat. Ia bergumam dengan desisan yang terdengar menyudutkan, "jadi kalian meragukan keputusanku? Apakah kalian menentang ku?!"


"BAGAIMANAPUN KEPUTUSAN KU TETAP SAMA. KITA AKAN BERPERANG MELAWAN ALORRA! PERSIAPKAN SEMUA PASUKAN DAN KEPERLUAN MILITER! AKU TIDAK MENERIMA ADANYA KEKALAHAN DALAM PERANG KALI INI!"


Sang kaisar mengibaskan jubah kebesarannya dan pergi meninggalkan pertemuan itu tanpa aba-aba. Ia bahkan tidak memperdulikan kekhawatiran serta kebingungan yang dirasakan para bawahannya.


Pun dengan Ye Zuan. Ia hampir tidak memiliki ide lagi untuk membujuk sang ayah. Ia tau bahwa orang tua itu sangat keras kepala dan cinta mati terhadap singgasananya.


Mau tidak mau kali ini ia harus mengikuti perintah penguasa Airland tersebut.


Putra mahkota, Long Ye Zuan, berbalik dan memberikan instruksi pada semua orang untuk segera bersiap menghadapi invasi yang akan dilancarkan oleh Alorra.


***


Alorra, paviliun pribadi kaisar.


Pemulihan diri Chu Yao berjalan cukup lancar. Meski baru beberapa hari yang lalu ia baru membuka mata, energinya sudah hampir mencapai level maksimal berkat obat-obatan dan perawatan dari Fu Bai dan Fu Rong secara bersamaan.


Chu Yao tidak bisa mengingat perihal yang terjadi setelah ia berhasil membunuh mantan putra mahkota Airland dua minggu yang lalu.


Menurut penjelasan Fu Rong, ia telah mengalami kondisi kritis yang cukup lama. Ia tak sadarkan diri selama lima hari berturut-turut. Kemudian tetap terkapar tanpa daya di atas pembaringan selama satu minggu setelahnya.


Tak ada yang mau menjelaskan. Bahkan Fu Bai atau Mo Yan melakukan kebungkaman atas segala ketidakmengertiannya. Sepanjang waktu hingga hari ini.


Sang kaisar, Xu Xiao Yan, Mo Yan, justru membatasi informasi dan gerak Chu Yao dengan menempatkan A-Wei disisinya.


"Meskipun dulu nona adalah majikan saya, namun sejatinya tuan lah yang benar-benar harus saya turuti perkataannya." Ucap A-Wei ketika Chu Yao meminta ijin keluar dari paviliun pribadi kaisar.

__ADS_1


"Nona pasti lebih mengenal temperamen tuan seperti apa. Jadi saya tidak ingin menyulut kemarahan tuan untuk kesekian kalinya." Tambah pria itu dengan ingatan yang membekas ketika Mo Yan memberikan  hukuman kepadanya empat tahun yang lalu.


Chu Yao hanya bisa tersenyum masam menanggapi alasan yang diberikan  A-Wei kepadanya. Ia kembali menutup pintu kamar dan berjalan kearah dipan dengan langkah gontai.


A-Wei menarik diri dan menghilang dibalik pintu kamar. Membiarkan perempuan itu duduk merenungi berbagai spekulasi yang membelit otaknya.


"Kenapa kau tidak beristirahat?" Suara berat Mo Yan terdengar hanya berselang menit dari percakapan terakhir yang dilakukan A-Wei barusan.


"Apa kau tidak melihat mataku yang sudah menyerupai bola ini?" Tunjuk Chu Yao pada kedua matanya yang bengkak karena tidur yang berlebihan.


Mo Yan tetap berwajah datar, akan tetapi sudut bibirnya nampak sedikit terangkat. Membentuk senyuman tipis yang hampir tak terlihat.


"Kau sama sekali tidak memberikanku kesempatan untuk melihat keadaan diluar. Apa kau berniat mengurungku selamanya disini?"


Mo Yan hanya diam. Kemudian membelai lembut wajah Chu Yao dengan perasaan campur aduk.


Ia sebenarnya ingin menjelaskan alasannya mengungkung gerak gerik perempuan itu akhir-akhir ini. Hanya saja insiden dua minggu yang lalu telah membuat bibirnya kelu dan membeku.


Kembali ke dua minggu yang lalu..


Semua orang membuka jalan dari gerbang hingga pintu depan paviliun pribadi kaisar ketika mendengar instruksi jenderal Luo dari kejauhan.


Iris mata mereka menangkap sosok mulia sedang berlari, hampir melompat, sambil membopong seorang wanita yang berlumuran darah ditubuhnya.


Tak terkecuali rombongan lain yang dipimpin menteri Chen serta perdana menteri dan kedua anaknya. Mereka nampak terperangah namun tidak berani menghadang langkah pria yang juga penuh dengan cairan berwarna merah pekat di sekujur badannya.


"Panggil tabib Fu! CEPAT!!!" Seru Mo Yan yang kembali menyaksikan darah segar keluar dari bibir pucat wanitanya.


Mo Yan tidak memperdulikan siapapun selain gadis yang ada dalam gendongannya. Ia bahkan baru meletakkan tubuh perempuan itu di atas dipan setelah Fu Bai hadir dihadapannya.


Meski tidak mengatakan apapun, Mo Yan bisa menangkap kecemasan yang tersirat di wajah Fu Bai dan Fu Rong saat itu.


Mo Yan tidak bertanya. Ia hanya mengamati semua tindak tanduk dua bersaudara itu ketika melakukan penanganan terhadap wanitanya.


"Gawat! Xiao Rong, lakukan akupuntur seperti biasa!" Perintah Fu Bai yang memposisikan tubuh Chu Yao untuk duduk dengan nyaman.


Fu Rong tak menunda perintah. Gadis kecil itu segera menancapkan beberapa jarum akupuntur di tubuh Chu Yao. Ia pun membantu Fu Bai menahan tubuh Chu Yao yang lemah itu ketika sang ahli racun menekan titik-titik syaraf.


Jarum-jarum akupuntur itu dicabut dan diakhiri dengan semburan darah dari bibir Chu Yao yang membiru. Membuat Fu Bai dan Fu Rong terkesiap hingga melepaskan genggaman tangan mereka ditubuh Chu Yao dengan tiba-tiba.


Refleks Mo Yan begitu baik. Ia dengan cepat menangkap raga itu dalam rangkulannya dan kembali membaringkan Chu Yao di atas tempat peristirahatan yang empuk itu.


"Bagaimana kondisi nya?" Tanya Mo Yan tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik yang putih bagai kapas didepannya.


Fu Bai masih mengerutkan alis. Nada suaranya terdengar penuh keragu-raguan, "belum sepenuhnya baik. Masa kritisnya belum berakhir."


Mo Yan menatap Chu Yao lekat-lekat. Raut wajahnya yang selalu datar kini nampak penuh kekhawatiran.


"Bagaimana dia bisa seperti ini?"


Fu Bai dan Fu Rong sama-sama menundukkan pandangan. Fu Rong tak bergeming. Ia hanya *******-***** ujung bajunya dengan sorot mata yang sedih.


Begitu pun dengan Fu Bai. Pria humoris itu terlihat sedikit kebingungan untuk memberikan penjelasan.


Mo Yan semakin tidak sabar melihat respon kedua orang itu atas pertanyaannya. Ia kembali memberikan penekanan, "jawab sekarang atau kalian tidak akan keluar dari kamar ini dengan selamat!"

__ADS_1


__ADS_2