Memperbaiki Masa Lalu

Memperbaiki Masa Lalu
Bab 35


__ADS_3

Jenderal Chu membuka jendela dengan lebar. Ia membiarkan semilir angin memenuhi ruangan pribadinya. Sesekali ia menyeruput teh hangat di atas meja yang telah terhidang bersamaan beberapa kudapan ringan.


Buku ditangannya ia letakkan begitu saja ketika menyadari ada sebuah siluet memasuki tempat itu. Sudut matanya menangkap dua orang paruh baya asing telah berdiri tidak jauh dari tempat duduknya.


Kedua orang itu mendekat dan memberi salam hormat kepadanya. Sang jenderal membalas dengan penuh kesopanan seraya mempersilakan keduanya duduk berhadapan.


"Tak ku sangka pejabat tersohor Alorra benar-benar menemui ku disini. Apakah kalian tidak takut jikalau pemuda itu mengetahui rencana yang sedang kalian negosiasikan ini?" Ucap Jenderal Chu sambil menyerahkan dua cawan teh.


"Kami tidak punya pilihan lain. Mohon jenderal Chu membantu kami." Ucap suara serak yang tak lain adalah jenderal Luo.


"Benar. Lagi pula Yang mulia tidak akan berada di tempat ini dalam beberapa jam kemudian. Sepertinya beliau masih sibuk menyelamatkan putri sulung anda dari serangan para pembunuh bayaran." Tambah menteri Chen santai. Ia meneguk teh dihadapannya tanpa curiga sedikitpun.


Jenderal Chu mendengus melihat keberanian kedua orang penting itu. Meski ada sedikit rasa cemas atas keselamatan Chu Yao, namun pria tua itu tetap tenang. Ia sangat yakin dengan kemampuan Mo Yan dan pengawal pribadi nya itu.


Ya, jenderal Chu telah mengetahui status Mo Yan yang sebenarnya. Pun dengan A-Wei yang merupakan pengawal pribadi milik Mo Yan.


Semua itu berkat informasi dari kedua orang yang ada di depannya saat ini.


"Kami berterimakasih secara pribadi atas bantuan jenderal Chu yang berhasil meyakinkan Kaisar Airland untuk berdamai.. " Tutur menteri Chen dengan sangat sopan.


Jenderal Chu melempar pandangan curiga, "Tuan-tuan, saya rasa keperluan tuan bukan sekedar rasa terima kasih kepada saya, bukan?"


"Sebaiknya kita persingkat saja pertemuan ini. Katakan, apa yang sebenarnya tuan-tuan inginkan dari saya?" Tambah jenderal Chu tanpa basa-basi.


Menteri Chen tersenyum dan sedikit terkekeh. Karakter jenderal Chu ini persis sama dengan rekan sejawatnya yang berada tepat disamping nya saat ini. Jenderal Chu dan jenderal Luo adalah dua kombinasi pas yang memiliki sifat yang tidak suka bertele-tele.


"Baik, karena jenderal sudah memahami maksud kedatangan kami, maka kami tidak akan berbelit-belit lagi.. " Tutur menteri Chen dengan wajah yang serius.


Pria tua itu menarik napas dan melanjutkan, "Kami ingin jenderal Chu bisa membantu kami membujuk Yang Mulia pangeran untuk pulang secepatnya!"


Jenderal Chu tak bergeming. Ia menarik napas panjang dan berdeham, "saya tidak bisa memaksa Mo Yan untuk kembali ke Alorra karena dia sudah menjadi pengawal pribadi Yao'er."


"Tuan jenderal tidak perlu memintanya pergi secara langsung, kami hanya meminta tuan untuk mempengaruhi Yang mulia hingga tekad beliau melemah. " Tukas menteri Chen.


"Maksud anda?"


Menteri Chen berdiri dan berjalan mengelilingi ruangan itu, "Tuan jenderal tidak perlu berpura-pura. Bukankah tuan sendiri tau resiko yang harus dihadapi jika membiarkan dua orang itu bersama terus menerus?"


"Hubungan Yang mulia pangeran dan putri anda, oh maksud saya putri yang mulia kaisar, tidak mungkin bisa sejalan. Mengingat dendam lama yang masih saling berhutang nyawa... "


".. Itu hanya berupa dampak kecil yang ditimbulkan. Dampak yang lebih besar kemungkinan akan menjadi sebuah ancaman kegagalan atas rencana perlawanan terhadap permaisuri dan para sekutunya.. "


".. Bukankah sangat disayangkan jika rencana yang sudah disusun bertahun-tahun harus hancur karena hal sepele?!" Rentet menteri Chen hampir-hampir tanpa jeda.


Tangan jenderal Chu mengepal. Sorot matanya pun menajam.


"Saya tidak mengerti apa yang tuan maksudkan. Keadaan Airland saat ini baik-baik saja. Kekaisaran pun dalam kondisi tenang. Mengapa saya harus melakukan perlawanan terhadap permaisuri?" Kilah jenderal Chu.


Menteri Chen tertawa geli diiringi kekehan serak jenderal Luo yang masih duduk menyantap beberapa kudapan di atas meja.


"Tuan boleh berkelit namun kami kesini tidak hanya asal membawa diri tanpa sebuah persiapan yang pasti. Perselisihan antara kalian yang dimulai dari kematian putri raja Merva sudah kami ketahui kebenarannya.."

__ADS_1


"... "


"Sistem pemerintahan kami sudah sangat stabil dan lebih kuat dibandingkan tahun-tahun yang lalu. Rasanya tidak akan aman jika situasi kalian saat ini kami manfaatkan sedemikian rupa hanya untuk mengambil kembali pangeran bungsu Alorra."


Jenderal Chu tetap diam sambil berpikir. Ia menimbang untung rugi dari perkataan menteri Chen barusan. Memang benar, jika pihak Alorra mengambil penerus terakhir secara terang-terangan maka publik akan gempar. Keributan tak mungkin terelakkan.


Bisa jadi musuh-musuh Airland akan memanfaatkan keadaan untuk melakukan invasi dengan membawa rumor penculikan dan penyanderaan.


Masyarakat yang tidak tau duduk permasalahan pasti akan menelan mentah-mentah rumor tersebut. Mereka tak akan percaya pembelaan diri dari pihak Airland karena pangeran terakhir Alorra masih berada di sini secara nyata.


Dan lebih menyulut emosi publik jika melihat keadaan pemuda tersebut tidak dalam keadaan yang terhormat sesuai dengan status yang ia sandang.


Menteri Chen tersenyum samar sambil duduk kembali ketempat awal, "Tuan mungkin masih ragu, tapi coba anda pikirkan. Seandainya suatu saat gadis itu mengetahui jati dirinya dan juga jati diri pangeran yang sebenarnya, apakah dia akan masih menerima hubungan mereka seperti biasa?"


"Saya rasa dengan karakter nona Chu yang keras dan bijak, dia pasti akan merasa sangat bersalah. Ia akan merasa bertanggungjawab atas tewasnya keluarga pangeran. Serta kesalahan-kesalahan lain yang sudah dilakukan kaisar terhadap orang-orang yang tidak bersalah."


Jenderal Chu memejamkan mata. Menarik napas panjang dan kembali menghirup sisa teh yang sudah dingin di cawannya.


"Jika saya menyetujui permintaan tuan, apakah saya bisa meminta satu hal dari Alorra?" Tutur jenderal Chu dengan anggukkan tegas kedua orang tua paruh baya itu.


"Selama permintaan tuan tidak membahayakan yang mulia dan Alorra, kami berjanji akan mengabulkannya." Balas jenderal Luo tanpa ragu.


"Tuan-tuan tidak perlu khawatir. Saya hanya ingin meminta sebuah jaminan keamanan untuk Chu Yao. Kelak, mungkin dia tidak akan aman di tempat manapun. Namun, akan berbeda jika dia hidup di Alorra. Saya harap pihak kerajaan mau menerima dirinya sebagai salah satu penduduk lokal Alorra."


"Kami tidak keberatan asalkan memenuhi beberapa syarat. Pertama, kerajaan Alorra akan menutup mata tentang keberadaan gadis itu selama dia merubah identitasnya. Kedua, dia hanya bisa berada di pesisir atau diperbatasan kerajaan. Ketiga, dia tidak diperkenankan berada dekat dengan yang mulia dalam keadaan apapun selama berada di wilayah Alorra." Jelas menteri Chen tanpa jeda sedikitpun.


"Dan juga, jika keberadaan nya membahayakan pangeran atau stabilitas negara maka kami akan mengambil tindakan tanpa pemberitahuan kepada pihak Airland!" Tambah jenderal Luo dengan suara berat dan tegas.


Untuk masalah selanjutnya, biarlah waktu yang akan menyelesaikannya.


"Baik, saya setuju. Saya akan bergerak sesuai dengan rencana yang saya susun. Silakan tuan-tuan bersiap diri menunggu kabar dari saya." Ujar jenderal Chu seraya berdiri menghindari tatapan kedua pejabat Alorra yang mengintimidasi.


Menteri Chen dan jenderal Luo ikut bangkit dari tempat duduk mereka.


"Kalau begitu, kami tunggu gerak cepat jenderal Chu. Semoga anda beruntung." Ucap menteri Chen sebelum benar-benar pergi meninggalkan tempat itu bersama jenderal Luo.


***


Tak ada yang menyadari keadaan Chu Yao ketika Mo Yan membawanya kembali ke paviliun dingin. Malam telah larut. Semua orang sudah terlelap nyaman di pembaringannya masing-masing.


Hanya Mo Yan dan Xier yang sibuk mengobati luka Chu Yao di kamar. Untungnya luka yang diderita perempuan itu hanya berupa luka luar dan sedikit kelelahan. Jadi Xier dan Mo Yan dapat menanganinya tanpa harus melibatkan paman Tong.


Chu Yao meminum obat untuk mengembalikan tenaga. Hanya dalam beberapa kali teguk, obat di mangkuk yang Xier sediakan telah habis tak tersisa.


"Jangan pergi!" Perintah Chu Yao ketika Mo Yan hendak keluar dari kamar ketika Xier membantunya melepas pakaian luarnya.


Xier melirik aneh. Perasaan malu muncul begitu saja di raut wajah gadis polos itu. Baginya membiarkan pria dan wanita yang belum menikah berduaan dan melihat beberapa bagian tubuh pribadi merupakan hal yang amoral.


Tapi Xier memilih untuk tetap bungkam. Kepalanya menunduk seolah tidak melihat apapun. Toh ia cukup terbiasa melihat hubungan sang majikan dan pengawal pribadinya yang tidak biasa.


"Kau boleh pergi. Rahasiakan kejadian malam ini dari siapapun." Ucap Chu Yao pada Xier ketika sang pelayan telah selesai membersihkan luka-luka di tubuh putih itu.

__ADS_1


Xier mengangguk patuh. Dengan sopan ia pergi dari tempat itu. Pintu kamar kembali tertutup rapat. Hanya tertinggal Chu Yao dan Mo Yan didalamnya.


"Mendekatlah! Bantu aku mengobati luka-luka ini." Tutur Chu Yao sangat pelan.


Mo Yan tidak berkomentar namun langsung mengambil pot obat di atas meja. Pria itu mendekat dan berdiri tepat didepan Chu Yao yang duduk didepannya.


"Gigit saja jika nona merasa sangat sakit."


Lengan kiri Mo Yan terarah didepan wajah gadis itu. Anggukkan pelan dari Chu Yao membuat Mo Yan berinisiatif untuk memulai pengobatan.


Chu Yao meringis saat Mo Yan menaburkan obat di beberapa luka di bagian lengan dan betis kirinya. Tak ada keluhan yang terdengar di bibir gadis itu.


Meski demikian, Mo Yan tau bahwa luka itu sangat perih. Karena mata bening perempuan cantik didepan nya telah merah dan berkaca-kaca.


"Apakah sangat sakit?" Tanya pria berwajah tegas itu pada Chu Yao.


Chu Yao tersenyum lembut, "Tidak, hanya sedikit perih. Tapi aku masih bisa menahannya. Kau tidak perlu cemas seperti itu."


Jemari Chu Yao yang kecil menyibak rambutnya kebagian depan. Nampak lah luka yang tidak terlalu besar namun dalam menganga di punggungnya.


Mo Yan mengerucutkan bibir tanpa sadar. Pastinya luka itu akan sangat, sangat perih dibanding luka-luka lainnya.


"Lakukan apapun yang nona ingin kan jika nanti terasa sudah tidak tertahankan."


Meski dalam kesakitan, Chu Yao masih bisa tersenyum licik. Dengan gerakan cepat, ia merengkuh tubuh Mo Yan dalam pelukannya.


Pria itu kelimpungan. Gerakan tangannya sempat terhenti sejenak. Tatapan keduanya saling terkunci. Seakan saling membius satu sama lain.


"Menunduklah." Kata Mo Yan seraya menepuk lembut puncak kepala Chu Yao dengan tangan kirinya.


Gadis itu menurut dan membiarkan kepalanya bersandar tepat diperut Mo Yan yang keras. Cengkraman tangannya mengerat dibalik pakaian luar Mo Yan yang tipis tatkala butiran bubuk obat menyatu kedalam luka yang terbuka lebar itu.


Tak ada suara yang terdengar namun Mo Yan dengan sigap memeluk tubuh mungil yang bergetar hebat itu. Ia berusaha mengurangi rasa sakit dengan meniup luka tersebut.


Cukup lama mereka dalam posisi itu hingga Mo Yan membalutkan perban di area luka. Chu Yao kembali berpakaian rapi dalam beberapa menit kemudian. Ia memperhatikan gerakan sang pengawal yang nampak tidak biasa saat merapikan kotak obat di atas meja.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Chu Yao penasaran, "kau nampak menyembunyikan sesuatu dariku akhir-akhir ini. Apakah itu berhubungan dengan tugas yang ku berikan padamu?"


Wajah datar Mo Yan tidak memberikan respon apapun. Ia tidak membenarkan ataupun membantah perkataan yang Chu Yao berikan. Ekspresi Mo Yan yang seperti itu justru makin membuat Chu Yao merasa tebakannya itu benar.


"Sepertinya kau tidak bisa mengatakan apa yang sudah kau ketahui.. "


".. Atau jangan-jangan kau sudah ditekan oleh sesuatu sehingga memilih untuk merahasiakan nya dariku?"


"Tidak seperti itu, saya tidak bermaksud demikian." Bantah Mo Yan dengan sorot mata yang serba salah.


Chu Yao memiringkan kepalanya dengan senyum terkulum. Seraya bangkit menuju jendela, ia kembali diam membelakangi sang pengawal.


"Apa kau bingung bagaimana cara menyampaikan bahwa aku bukanlah putri kandung jenderal Chu?" Tebak Chu Yao dengan suara dalam dan tegas.


Sudut matanya menangkap kekakuan tubuh Mo Yan. Ia membalikkan badan dan terkekeh pelan.

__ADS_1


"Aku mungkin tidak tau informasi lengkapnya, namun aku masih mempunyai otak untuk berpikir dan menebak. Kau telah memandang remeh kemampuan ku, Mo Yan."


__ADS_2