Memperbaiki Masa Lalu

Memperbaiki Masa Lalu
Bab 67


__ADS_3

Setelah dua hari berlalu, prosesi pernikahan itu akhirnya digelar. Tak banyak persiapan berarti yang dilakukan.


Sesuai janji Mo Yan, prosesi itu sangat sederhana yang penting bisa berlangsung dengan khidmat.


Chu Yao tak mempermasalahkan. Ia justru merasa keputusan Mo Yan sangat tepat. Ia tidak ingin menarik perhatian banyak orang walaupun sebenarnya tindakan yang mereka lakukan sudah cukup membuat geger beberapa pihak.


"Kakak Hua nampak sangat cantik." Celetuk Fu Rong yang melihat Chu Yao tengah berada didepan meja rias dengan baju pernikahan berwarna merah.


"Tentulah, kan aku yang mendandaninya!" Jawab Sheng Xin yang sudah berdiri di balik tubuh Chu Yao sedari tadi.


"Kalau begitu, saya juga ingin di rias biar cantik."


"Tunggu ada yang melamarmu baru aku bisa meriasmu."


Fu Rong memanyunkan bibir diikuti gelak tawa Sheng Xin dan Chu Yao secara bersamaan.


"Bagaimana suasana diluar?" Tanya Sheng Xin kepada Fu Rong, "apakah semuanya sudah siap? Yang mulia sudah ada disana?"


Fu Rong menhendikkan bahu, berbicara acuh tak acuh, "sepertinya sudah siap. Hanya saja yang mulia nampak sedikit sibuk dengan menteri Chen dan jenderal Luo."


Sheng Xin melirik kearah Chu Yao yang tak bergeming kemudian beralih kembali pada Fu Rong, "apa yang mereka lakukan?"


Lagi-lagi Fu Rong menggelengkan kepala, "entahlah. Saya hanya mendengar sekilas saat jenderal Luo mengatakan tentang kalaveri yang telah siap."


Keheningan melanda mereka. Chu Yao mengatupkan bibir dengan rapat. Ia tanpa sadar mencengkram ujung jubah pernikahannya.


Firasatnya mengatakan bahwa situasi semakin mendesak. Peperangan sebentar lagi terjadi.


Mungkinkah kaisar Airland telah bersiap diperbatasan saat ini?


Jika demikian, Mo Yan harus segera bergabung bersama para pasukannya. Kalau sampai ditunda lebih lama, akan memberikan dampak pada penurunan semangat juang para prajurit.


Tapi..


Peperangan ini, apakah setimpal dengan hasil yang ingin diraih?


Haruskah menelan banyak korban yang tidak berdosa baru kedamaian yang sesungguhnya bisa dicapai oleh kedua belah kerajaan?


Chu Yao menelan semua perspektifnya sendiri. Ia tidak memiliki gambaran apapun. Semua yang terjadi saat ini tidak pernah ia lalui di kehidupannya yang lalu.


Semenjak dia memutuskan untuk mencari tau penyebab kematian sang ibu, semua alur kehidupan nya berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya.


Banyak hal yang berubah.


'Benar kata ayah, aku akan menyesali semuanya jika telah mengetahui kebenaran dibaliknya.' batin Chu Yao pilu.


Disisi lain, Mo Yan yang sudah mengenakan pakaian pengantin, mendapatkan berita yang cukup mengejutkan dari jenderal Luo.


Kekaisaran Airland telah membentuk formasi diperbatasan dengan jumlah kalaveri sementara diatas sepuluh ribu batalyon pasukan.


"Dan mereka nampaknya membawa cukup banyak artileri yang sudah bersiap dibelakang pasukan kalaveri yang ada." Tutur jenderal Luo dengan wajah yang serius.

__ADS_1


"Apa mereka sengaja menempatkan artileri disana? Bukankah jika mereka sampai menembakkan proyektil dalam lintasan jarak jauh di medan perang, benda itu akan membabat habis semua prajurit yang ada. Bukan hanya prajurit kita, namun prajurit mereka sendiri pun akan tewas tak bersisa!" Timpal menteri Chen kebingungan.


"Itu salah satu strategi militer mereka." Ucap Mo Yan dengan wajah tanpa ekspresinya, "kaisar Airland nampaknya sudah tidak perduli dengan nyawa prajuritnya demi kemenangan belaka."


"Jadi bagaimana rencana kita selanjutnya yang mulia?" Tanya menteri Chen.


Mo Yan mengeluarkan selembar kertas dari balik pakaiannya, "tetap laksanakan rencana awal. Jika keadaan mendesak, beralih ke rencana cadangan."


"Kirimkan pasukan kalaveri dengan jumlah yang sama untuk berdiri didepan medan pertempuran. Selipkan seribu artileri di dalam formasi yang sudah ku bentuk di kertas itu. Pastikan jumlah infanteri yang berjaga di gerbang perbatasan hingga di ibukota cukup untuk memberikan pertahanan sampai perang berakhir dengan kemenangan mutlak ditangan Alorra!" Tegas Mo Yan sembari memberikan rancangan strategi militer di tangannya.


Jenderal Luo menganggukkan kepala dan menerima kertas tersebut dengan sigap. Kemudian berlalu meninggalkan tempat acara dengan sedikit tergesa-gesa.


Mo Yan memandang punggung jenderalnya yang setia itu dengan tatapan penuh harap. Dengan helaan napas, pemuda itupun kembali beralih pada sosok tua lain yang ia andalkan.


"Menteri Chen, anda harus berada di istana bersama perdana menteri. Kondisikan keadaan disana dengan baik seperti rencana kita. Saya serahkan segala keputusan kepada kalian berdua!"


"Baik, saya akan ke istana sekarang!"


Menteri Chen pun tidak menunda waktu. Ia segera menaiki kudanya dan menderu bagai angin di kegelapan malam.


Mo Yan mengeraskan rahang. Pandangannya jauh kedepan. Seolah-olah mencari titik terang namun seberkas cahaya pun tak kunjung ia temukan.


Meski dalam empat tahun terakhir dia sering bertarung dalam hidup dan mati dimedan peperangan, namun perang kali ini seakan membawa atmosfer tersendiri untuknya.


Mo Yan tidak lagi tidak perduli, ia sudah memiliki seseorang yang selalu menanti kehadirannya. Berharap akan keselamatannya.


Dan jika kemungkinan buruk terjadi, semoga saja perempuan itu bisa melanjutkan hidupnya seperti biasa tanpa sesal dan rasa bersalah.


"Prosesi pernikahan sudah siap dilaksanakan, yang mulia." Tutur menteri Guo dengan sedikit menundukkan badan.


Mo Yan menganggukkan kepala kemudian menolehkan wajah dengan senyum tipis di sudut bibirnya tatkala memandang sosok Chu Yao di ujung koridor.


Perempuan bertudung merah yang diapit oleh Sheng Xin dan Fu Rong itu berjalan gemulai memasuki aula pernikahan.


Mo Yan mengulurkan tangan untuk mendekatkan Chu Yao kepadanya.


"Jangan gugup!" Bisik Mo Yan ketika merasakan telapak tangan Chu Yao yang begitu dingin.


Chu Yao hanya mengeratkan genggaman tangannya dan mengikuti setiap langkah kaki Mo Yan yang lebar.


Tak ada yang saling berbicara. Seolah mereka ingin segera menyelesaikan prosesi pernikahan itu dengan segera.


Chu Yao hampir-hampir tidak memperhatikan tahapan demi tahapan yang ada pada ritual sakralnya. Ia hanya mengikuti instruksi sebagai formalitas. Bukan karena ia tidak ingin menikah, Chu Yao hanya ingin Mo Yan segera menunaikan tugas negaranya tanpa perlu mengkhawatirkan dirinya saat ini.


"Dengan ini kalian berdua resmi menjadi suami istri!" Ucap tetua kerajaan yang sudah menikahkan mereka.


Mo Yan mendekat dan perlahan menyibak tudung pernikahan yang menutupi keseluruhan wajah istrinya.


Semburat merah mewarnai wajah putih Chu Yao saat itu. Membuat Mo Yan yang biasanya selalu berwajah datar, menyunggingkan senyum yang lebar hingga menampakkan deretan giginya yang putih.


Semua orang yang berada disana ikut bahagia menyaksikan pemandangan tak lazim yang sang kaisar perlihatkan.

__ADS_1


"Ini kali pertama yang mulia tersenyum dengan hangat seperti itu." Gumam Sheng Xin pada Fu Rong dan Fu Bai.


"Semenjak beliau disini, kami tidak pernah melihat sisi lain yang mulia yang seperti ini. Beliau hanya bermuka dingin tanpa banyak melakukan interaksi kepada orang lain."


"Hanya nona Fu yang bisa mencairkan kebekuan hati yang mulia."


"Seandainya saja yang mulia bisa seperti itu terus. Setidaknya wajahnya tidak akan membuat orang lain berprasangka buruk." Balas Fu Bai dengan helaan napas panjang.


Fu Rong menyikut sang kakak dengan tatapan sinis, "beliau memiliki aura pemimpin, juga wibawa yang harus dijaga. Tidak sepertimu yang suka memamerkan wajah meminta pengakuan ketampanan dimana-mana. Dasar keledai berpantat merah."


Sheng Xin mau tidak mau terkekeh mendengar cibiran Fu Rong kepada Fu Bai. Ahli racun itu menatap adik bungsunya dengan rona malu. Ia pun menjitak kepala sang adik dengan cukup kuat hingga membuat Fu Rong mengaduh kesakitan.


"Apa yang kau tertawakan?" Tanya Chu Yao pada Mo Yan yang masih tidak bisa menyembunyikan senyum lebarnya.


"Apa aku sejelek itu sampai-sampai kau tidak bisa menahan rasa gelimu?!"


Mo Yan mengalihkan wajah yang memerah, "aku tidak mengatakan kau jelek."


"Kau justru sangat cantik hingga aku tak sabar ingin memakanmu." Bisik Mo Yan dengan lembut di telinga Chu Yao.


Kini semburat merah itu tidak hanya muncul dipipi Chu Yao, akan tetapi diseluruh wajah hingga bagian lehernya pun tak luput dari warna itu.


Hanya sebentar suasana hangat itu tercipta, kemudian dalam beberapa menit selanjutnya muncullah seorang prajurit dengan napas yang memburu turun dari kudanya.


Prajurit itu memberi salam dan menunduk hormat sesuai etika, "yang mulia, keadaan darurat! Pihak Airland mulai melancarkan serangan. Hamba diminta untuk menjemput yang mulia segera keperbatasan!"


Suasana mendadak berubah. Yang awalnya santai tiba-tiba menjadi tegang dan penuh kekhawatiran.


Semua orang yang berada disana terlihat gugup dan kebingungan.


Chu Yao mencuri pandang kearah Mo Yan. Pria itu nampak tenang namun tatapan matanya yang tajam tetap tidak bisa membohongi Chu Yao.


Perempuan itu meraih tangan sang suami dan berkata lembut, "pergilah, aku akan menyusulmu setelah menyiapkan beberapa perbekalan penting."


Mo Yan mengerutkan alis. Wajahnya nampak tidak rela untuk pergi. Ia tak bergeming namun jempol tangannya memberikan sentuhan halus pada wajah Chu Yao yang lembut dan berseri.


Pria bersurai putih keperakan itu merengkuh istrinya dengan perasaan kompleks, "maafkan aku! Tidak seharusnya aku meninggalkanmu di saat penting seperti ini."


"Ada yang lebih penting dari sekedar urusan pernikahan.., " Balas Chu Yao sambil memberikan usapan pada punggung Mo Yan yang lebar, ".. Keselamatan negara harus diutamakan. Jangan membebani dirimu dengan keadaanku saat ini. Aku tidak pernah keberatan untuk itu."


Mo Yan menggenggam tangan Chu Yao dan mengecupnya dengan mata terpejam, "setelah semua ini berakhir, kita akan bebas. Aku akan memberikanmu hidup yang damai. Bahagia. Jauh dari kericuhan dunia. Aku berjanji!"


Mo Yan menangkup wajah sang istri dan memberikan ******* dibibir Chu Yao yang ranum.


Perasaannya sangat amburadul. Bertahun-tahun hidup terpisah dan kini pun harus merasakan rasa sakit yang sama akibat perang yang sama sekali tidak mereka inginkan.


Mo Yan pernah memiliki harapan ketika ia duduk diatas takhta, semua hal akan menjadi mudah hanya dengan satu perintah darinya. Namun ternyata ia pongah! Tidak semua hal bisa ia atasi dengan kekuasaannya.


Ia sudah muak!


Benar-benar muak dengan segala rintangan yang ada.

__ADS_1


Mo Yan hanya ingin hidup tenang bersama Chu Yao. Jika harapan itu merupakan suatu hal yang terlalu berlebihan untuknya, harus bagaimana lagi agar langit memberikan restunya sehingga ia pantas menerimanya.


__ADS_2