Memperbaiki Masa Lalu

Memperbaiki Masa Lalu
Bab 30


__ADS_3

Mo Yan bergerak gesit saat mengikuti jenderal Chu dan Chu Zhan ke istana Kekaisaran. Meski penjagaan di tempat itu begitu ketat namun tidak membuat Mo Yan kesulitan sedikitpun.


Tentu saja demikian. Sebab ia sudah menghafal denah dan sistem penjagaan yang ada di istana. Semua itu ia dapatkan dengan mencuri lihat arsip militer pribadi milik jenderal Chu.


Daya ingat Mo Yan tidak perlu diragukan. Ia bahkan dengan mudah menghafal berbagai macam buku yang pernah ia baca sebelumnya. Jadi, jika sekedar mengingat informasi dalam lembaran arsip, itu bukanlah hal yang berat.


Dengan kemampuan beladiri serta keahlian khusus yang ia miliki, pantaslah ia menjadi yang terbaik diantara rekan seperjuangannya.


Dan untuk misi penting kali ini, ia akan mengerahkan segenap kemampuannya untuk memperoleh apa yang ia inginkan.


Mo Yan melangkah tanpa suara. Refleksnya sangat baik ketika melewati beberapa pengawal yang sedang berpatroli bergantian di koridor istana.


Langkahnya terhenti ketika dua orang yang ia ikuti bertemu pandang dengan seseorang didepan pintu masuk kediaman kaisar.


Ye Zuan!


Pria berpenampilan nyentrik itu membalas salam dari jenderal dan Chu Zhan dengan wajah yang sulit dilukiskan.


Kedua alisnya berkerut. Wajah enerjik nya begitu kuyu. Seperti seseorang yang telah mengalami syok yang bertubi-tubi.


Ye Zuan tak banyak bicara. Ia berlalu begitu saja meninggalkan kedua orang yang berpapasan dengannya dan menghilang dibalik koridor lain.


Mo Yan tak begitu memikirkan perubahan suasana hati pangeran kedelapan. Itu bukan tujuan utamanya saat ini.


Fokusnya kembali pada jenderal Chu. Pria tua berwibawa itu telah masuk kedalam bersama sang anak. Spontanitas Mo Yan mengikuti mereka, ia semakin menajamkan pendengarannya tatkala menyelinap masuk kedalam ruang pribadi kaisar.


"Duduklah. Lupakan formalitas. Aku ingin kita berbicara layaknya seorang sahabat." Ucap kaisar ketika jenderal dan Chu Zhan memberi salam hormat sesuai etika Kekaisaran.


Kaisar nampak sedikit lelah. Sesekali menarik napas panjang dan berpikir dalam diam. Dua orang yang berada di sana saling bertukar pandang. Bertanya-tanya namun lebih memilih untuk bungkam, menunggu sang kaisar selesai menerawang.


"Ding Lan, aku ingin mempercepat prosesi pernikahan anakmu dan Chang Le. Paling lambat akhir bulan ini." Kata Kaisar kepada jenderal Chu.


Jenderal Chu berprasangka namun ia tetap stagnan. Begitupun Chu Zhan. Ia hanya menundukkan kepala, menurut saja apa yang kedua orang tua itu putuskan.


Toh dari awal dirinya memang tidak diberi kesempatan untuk memberi komentar apapun. Meskipun tau tujuan pernikahan ini hanya sebagai jembatan penyelamat keluarga, Chu Zhan tak akan memberi penolakan.


"Aku telah meminta Zuan'er untuk mengambil alih semua urusan pemberkasan serta persiapan pernikahan. Kau bisa bekerjasama dengannya kelak. Aku harap kau akan memperlakukan putriku sebaik mungkin. " Jelas kaisar kepada Chu Zhan.


"Baik, Yang mulia." Jawab Chu Zhan seraya menundukkan kepala.


"Kau bisa menemui Zuan'er sekarang. Bawalah ini bersamamu. Kelak giok itu akan menjadi tanda pengenal untukmu keluar masuk istana. Kau bisa bertemu denganku secara langsung tanpa perlu plakat kemiliteran."


"Terima kasih Yang mulia."


Chu Zhan sekali lagi memberi hormat. Ia menerima sebuah giok putih berukiran naga. Namun sedikit berbeda dengan milik sang ayah. Ukuran giok yang ia terima sedikit lebih kecil dan tidak menggenggam apapun dicakarnya.


Pemuda itu undur diri setelah berpamitan dengan sang ayah.


Kini, pandangan kaisar berfokus pada teman lamanya. Jenderal Chu berdeham, mengalihkan manik matanya yang saling beradu dengan kaisar.


"Hanya dirimu yang berani membuang wajah saat berhadapan denganku." Tawa kaisar memecah kecanggungan.


"Hanya dirimu jugalah yang bisa tertawa lepas dihadapan jenderal bengis sepertiku." Balas jenderal Chu dengan senyum simpul.


Kaisar semakin terbahak mendengar balasan jenderal Chu. Ia tidak tersinggung sama sekali. Malah, ia sudah terbiasa dengan balasan sarkas dari sahabatnya itu.

__ADS_1


Karakter jenderal Chu memang seperti itu. Mereka berdua sudah saling memahami temperamen masing-masing. Bahkan jika diharuskan memilih antara istri atau sang jenderal maka kaisar tidak akan pernah ragu untuk memilih bawahannya tersebut.


"Ada apa kau memanggilku secara pribadi begini? Apa kau berulah lagi?" Tanya jenderal Chu dengan santainya.


Kaisar tersenyum lembut kepada jenderal Chu. Namun senyuman itu berbanding terbalik dengan raut wajahnya yang sendu. Seakan ingin membenarkan dugaan pria itu.


"Zuan'er sudah tau. Akhirnya beban berat itu aku bagi bersama keturunanku. Kesalahanku pada Shixun dan dirimu sungguh tidak termaafkan. Terbenam di neraka pun masih tidak cukup untuk menebus rasa bersalah ku pada kalian berdua." Gumam Kaisar dengan lirih. Ia seakan pasrah menerima ketentuan langit akibat perbuatannya selama ini.


"Aku sudah menduganya." Balas jenderal Chu yang kembali teringat pertemuan nya dengan pangeran kedelapan itu beberapa menit yang lalu.


"Pangeran nampak syok." Tambah sang jenderal.


Kaisar menelan saliva nya. Mendongakkan wajah serta memejamkan kedua matanya sesaat. Ia tidak bisa menghilangkan kilas balik saat Ye Zuan hampir meluap karena amarah.


"Zuan'er... Sedikit lagi mungkin akan memberiku sebuah pukulan. Namun anak itu berhasil mengontrol emosinya.. "


"Kau memang pantas mendapatkannya. Jika aku bisa, akupun akan membuatmu penuh dengan luka sejak kau memutuskan untuk menikahi Shixun. Sayangnya status ini membatasi gerakan ku. Kau tidak hanya bersalah pada Shixun ataupun diriku. Kau berhutang pada keluarga ku dan juga pada anak itu!"


Ucapan jenderal Chu terkesan menyalahkan. Tentu saja ia sengaja. Pria dengan jabatan paling tinggi di Kekaisaran itu telah menempatkan nya dalam situasi yang sulit selama puluhan tahun.


"Kau memang tidak rasional saat itu. Padahal kau tau Shixun sudah menjadi tawanan perang dengan status sosial paling rendah masih saja kau berniat menikahinya. Jangankan para pejabat, langit pun menentang keputusan yang sudah kau pilih!"


"Semua orang menentang! Alih-alih membatalkan, kau justru menikah dengan nya secara diam-diam!"


Jenderal Chu mulai terlihat frustasi, tapi kaisar tetap tenang menimpali.


Pria berpakaian mewah dengan sulaman burung phoniex itu menambahkan omelan jenderal, "Dan malah memintamu menyelamatkannya dengan menjadikannya sebagai istri walau itu cuma sandiwara belaka."


Mo Yan yang sejak tadi diam menyimak jadi tersentak mendengar penuturan kaisar. Ia tidak menyangka ternyata selir Meng selama ini adalah salah satu selir Kekaisaran yang di rahasiakan di kediaman jenderal.


Tanpa menunggu respon sang Kaisar, jenderal Chu kembali mencerca, "Asal kau tau, anak itu sudah mencari tau penyebab kematian ibunya. Dia bahkan sudah pernah diserang oleh anak buah putra mahkota. Dan sekarang, permaisuri pun mengintai gerak-geriknya. Bahkan seluruh kediaman Chu tidak lepas dari kecurigaan wanita itu..."


Mo Yan kembali terperanjat mendengar ucapan jenderal. Ia menajamkan pendengarannya seolah-olah informasi yang barusan ia dengar hanya sebuah kesalahan.


Nyatanya tidak. Pendengarannya tidak salah. Nama perempuan yang ia curigai terdengar jelas saat jenderal Chu menyebutkannya secara terang-terangan.


"Chu Yao dalam bahaya! Putrimu bukan gadis pendiam seperti sebelumnya. Ia sudah mengetahui jika permaisurilah yang menyebabkan Shixun bunuh diri."


"Aku tau wanita itu sudah mulai bertindak. Kali ini aku tidak akan membiarkannya melenyapkan putriku." Jawab kaisar dengan keseriusan.


Jenderal Chu terkekeh tanpa sadar. Ia tidak bermaksud menyinggung sang kaisar namun ucapan kaisar kali ini benar-benar menggelitik isi perutnya.


Bagaimana tidak?


Seolah-olah pria nomor satu itu mampu menyingkirkan wanita berbisa Kekaisaran dalam sekejap mata. Padahal dukungan dibelakang permaisuri hampir sebanding dengan yang ia miliki saat ini.


Jika dulu sang kaisar memiliki kemampuan, selir Meng tidak akan tewas dengan rumor yang tidak pantas.


"Tidak mudah melengserkan permaisuri. Dukungan yang ia genggam saat ini sudah semakin kuat. Tidak hanya kalangan pejabat. Beberapa pengusaha ternama sudah berhasil ia tundukkan. Jika kau bersikeras melengserkannya tanpa sebab yang jelas, aku khawatir pemerintahan Airland akan goyah."


"Kau benar. Permaisuri adalah putri perdana menteri. Sejak jaman pemerintahan ayahanda, perdana menteri sudah memiliki pendukung yang kuat. Tidak mudah untuk menggoyahkan pertahanan mereka tanpa sebab yang jelas." Ucap Kaisar membenarkan dengan helaan napas yang panjang.


Jenderal Chu bangkit dan berjalan menghindari tatapan Kaisar.


"Biar seperti rencana sebelumnya. Aku jamin semua akan aman pada posisinya masing-masing. Anggap saja aku membayar hutang budiku pada mendiang Ratu terdahulu. Jika tanpa kebaikan hati beliau, aku tidak akan bisa hidup sampai usia senja seperti saat ini."

__ADS_1


Jelas jenderal Chu.


Ia teringat kembali pada kenangan indah bersama sosok yang sudah dianggapnya seperti ibu kandung nya sendiri.


Pria paruh baya itu masih ingat bagaimana kelembutan yang mulia ratu telah menyelamatkannya dari peperangan panjang.


Saat itu dia masih anak kecil yang tidak tau apa-apa. Terjebak di daerah konflik dengan sebagian besar penduduk yang telah tewas dalam berbagai serangan. Hanya dia yang selamat dan beruntung di angkat sebagai anak asuh sang ratu.


"Jika kau tidak berhutang budi pada ibunda ratu, apakah kau tidak akan menolongku?" Potong Kaisar.


"Long Jin Mao, jangan mengalihkan pembicaraan!" Desis jenderal Chu dengan tatapan yang tajam.


"Kau yang memulai lebih dulu, Ding Lan." Kelit sangat Kaisar, "Jika ibunda ratu masih hidup dan tau kau mengambil jalan pintas ini, beliau pasti akan sangat bersedih hati."


Jenderal Chu berkilah, "Beliau wanita yang bijak, pasti mengerti mengapa aku bertindak sejauh ini. Mengorbankan satu orang demi menyelamatkan orang banyak, bukankah itu sepadan?"


Kaisar tiba-tiba menggebrak meja dan sedikit berteriak, "Kau kira kepalamu itu tidak berharga? Kepalamu itu setara dengan ratusan batalyon pasukan militer kerajaan! Dan kau justru ingin mengorbankannya demi kami? Itu tidak sepadan, Ding Lan!!!"


"Jika kukatakan itu sepadan ya tetap sepadan!" Balas Jenderal Chu dengan hardikan. Ia tidak perduli meski akan dijatuhi hukuman sekalipun. Toh pada akhirnya, nyawanya akan segera melayang juga.


"Dengarkan aku, Jin Mao! Ini permintaanku yang terakhir kali sebagai abdi setia dan juga saudara angkatmu. Chu Yao adalah anakmu tapi akulah yang membesarkannya. Dia juga putriku. Aku sangat menyayanginya. Aku ingin kau menyelamatkan dirimu, Chu Yao, dan seluruh pemerintahan Airland... "


"... "


"... Jika kalian selamat maka kalian bisa menolong keluarga ku. Nyawa Istri dan anak-anakku ada ditanganmu. Kau harus berjanji untuk mengamankan mereka dari bahaya apapun!"


"Yakinlah! Ada pangeran kedelapan bersamamu! Anak itu sangat berkompeten untuk mendampingimu!" Lagi-lagi jenderal menarik napas sebelum akhirnya diam untuk jangka waktu yang cukup lama.


"Baiklah. Aku tidak mau kita saling berdebat. Aku berjanji akan menyelamatkan keluargamu. Akupun akan mengirim anak itu pergi sejauh mungkin dari jangkauan Airland dan Alorra. Seperti keinginanmu." Ucap Kaisar dengan ******* lelahnya.


Tatapan sendunya kembali bergolak nyata. Seakan tengah menyesali sesuatu hal yang tidak bisa ia perbaiki.


"Seandainya aku tau akan ada akhir yang seperti ini, aku tidak akan menyerang Alorra seperti yang kulakukan beberapa belas tahun yang lalu. Padahal hanya negara itu yang aman untuk menyembunyikan Yao'er. Namun karena khilaf masa muda, aku justru membabat habis keluarga kerajaan itu. Jika masih bersikeras mengirim Yao'er kesana, sama saja menyerahkan kepala anak itu kepada penerus terakhir kerajaan Alorra."


Kaisar berjalan pelan kearah dipan panjang. Tempat yang selalu menjadi saksi disaat ia sedang berbaring dengan tumpukan pikiran seperti hari ini.


Pria itu menarik ujung dipan dan mengeluarkan sebuah pot kecil berwarna hijau pastel, kemudian menyerahkan benda itu pada sangat jenderal.


"Jika keadaan tidak juga membaik. Berikan racun pelebur tulang ini pada Yao'er."


"JIN MAO!" Teriak jenderal Chu.


Namun Kaisar tidak perduli. Ia masih melanjutkan perkataannya, "Aku masih memiliki racun itu. Jika kau tidak tega meracuninya, maka aku yang akan membunuhnya."


Tatapan serius jenderal Chu memang berhasil membuat Kaisar terdiam. Mereka menjeda beberapa waktu.


Pun, dengan Mo Yan. Saking terkejutnya ia bahkan tidak bisa bernapas secara normal. Degup jantungnya seakan ingin melompat keluar.


Sebelum Mo Yan benar-benar sadar dari rasa terkejutannya, ia memaksakan diri untuk kembali fokus pada informasi baru yang Kaisar katakan.


"Sejak awal semuanya telah salah. Permaisuri dan sekutunya takkan pernah berhenti jika masih tau Yao'er masih hidup. Kecemburuan dan ketakutannya telah membuatnya merasa terancam akan keberadaan anak itu. Hanya dengan mengakhiri hidup Yao'er, maka pemerintahan ini akan stabil. Kepercayaan seluruh pejabat akan menjadi utuh lagi."


Jenderal Chu mencengkram erat pot racun ditangannya. Sorot matanya begitu penuh amarah. Namun bibirnya terkatup rapat dengan rahang yang mengeras.


Ia berbalik dan berjalan keluar ruangan tanpa salam hormat sebagaimana mestinya. Meninggalkan sang kaisar yang masih termenung memejamkan mata.

__ADS_1


__ADS_2