Memperbaiki Masa Lalu

Memperbaiki Masa Lalu
Bab 51


__ADS_3

Empat tahun kemudian...


Derap kaki kuda yang memacu sebuah kereta melaju perlahan melewati suatu pedesaan di pesisir perbatasan Alorra.


Nampak seorang gadis berusia sekitar delapan belas tahunan menyibak tirai jendela. Wajahnya bulat dengan tatanan rambut yang terikat menyerupai bola dengan sebuah pita panjang di sisi kanan dan kirinya. Matanya beralih dari satu tempat ke tempat lainnya. Seakan-akan sedang mencari sesuatu. Kemudian kembali menutup tirai dengan hembusan napas.


Ia menggelengkan kepala ke arah perempuan lainnya yang duduk berseberangan dengannya di dalam kereta. Perempuan itu berparas cantik, berwajah oval dengan alis kecil. Sekilas pakaiannya yang cukup mewah merefleksikan status yang di sandangnya. Seorang nona bangsawan dari Kerajaan Alorra dan pelayan pribadinya.


Seperti paham dengan bahasa tubuh sang pelayan, nona bangsawan itu mengangguk dan menginstruksikan sesuatu kepada dua pengawal pribadinya yang duduk berdampingan sambil memegang tali kekang kereta kuda. Keduanya menjawab serempak. Memecut kuda dan melaju cepat tanpa banyak bicara.


Tak berselang lama, kereta itu berhenti di depan gerbang kecil yang terbuat dari kayu yang sudah cukup lapuk. Pintu itu di tutupi rangkaian jerami kering di setiap sisinya. Seolah sengaja ditata untuk menyembunyikan gubug di dalamnya.


Sang nona beserta pelayan perempuan nya turun perlahan di bantu dua orang pengawal. Pelayan terlihat bingung. Sesekali dia melempar pandang kepada sang majikan dan mengalihkannya kepada kedua pria yang mengawal mereka.


Salah satu pengawal itu mengetuk. Menunggu dan kembali melakukan hal yang sama. Berkali-kali. Namun tak ada respon apapun dari balik gerbang. Sang pengawal membalikkan diri dan bertanya pada majikannya, “Apakah nona ingin saya memeriksanya ke dalam?”


“Lakukanlah!” Jawaban singkat itu membuat sang pengawal menghilang dengan cepat.


Hening.


Beberapa menit berlalu hingga terdengar suara 'Brak!' dengan leguhan dari balik gerbang. Refleks pengawal lainnya yang menjaga sang nona menendang pintu kayu tersebut dan masuk ke dalam pekarangan.


“Siapa kalian? Beraninya masuk ke dalam rumah orang lain tanpa ijin?!” Teriak seorang gadis muda berpakaian hijau tosca sambil berkacak pinggang. Usianya tak lebih dari lima sampai enam belas tahunan.


“Bunuh saja penyusup tak bermoral itu, kak!” Tambahnya saat leguhan sang pengawal yang tertangkap basah itu kembali terdengar.


Perempuan bercadar putih yang di sebut kakak oleh gadis muda itu tidak bersuara. Hanya kembali menekan kakinya yang berada di atas leher sang pengawal.


Kedua tangan pengawal itu terbelit ke belakang. Terkunci oleh genggaman tangan perempuan itu hingga tak bisa bergerak sedikitpun.


Nona bangsawan menahan pengawal yang berdiri di sampingnya. Pria itu hendak maju dengan posisi menyerang. Geraknya terhenti di gantikan dengan gerak anggun sang majikan.


Nona bangsawan itu merendahkan postur tubuhnya dan menekuk sedikit lutut di iringi salam santun kepada kedua perempuan di depannya.


“Mohon maafkan ketidaksopanan kami. Kami sudah berusaha mengetuk pintu namun tidak juga mendapat tanggapan. Pengawal saya hanya melakukan perintah dari saya. Dia hanya mengecek keadaan. Mohon nona-nona bersedia memaafkan.”


Perempuan bercadar tak bergeming. Tatapan matanya tajam dan begitu dingin. Geraknya tak berpindah malah semakin memberi tekanan pada tubuh yang sedang ia jajah.


“Apa kau tidak dengar permintaan maaf nona? Lepaskan dia!” Teriak pelayan yang sejak tadi menatap ngeri kondisi pengawal yang kesakitan itu.


“Ming Ming, tidak sopan berteriak seperti itu!” Tegur sang majikan yang semakin tidak nyaman dengan aura mengintimidasi perempuan bercadar itu.


Ming Ming mengkerutkan bibir dan menundukkan wajah. Kemudian meminta maaf dengan setengah hati pada perempuan dingin yang diteriakinya.


“Xiao Hua.. Apa kakimu tidak sakit? Lepaskanlah dia! Kakakmu ini tidak ingin lagi membersihkan mayat yang suka kau tinggal begitu saja.” Ucap seorang pria muda yang keluar dari balik gubug.


Perempuan bercadar putih mendengus, menarik kaki dan tangannya dari tubuh pria yang tersungkur itu. Ia berjalan ke sisi kanan dan melepas pisau yang menancap di sisi tiang tanpa berkata sedikit pun.


“Mohon maafkan kedua adik saya yang kasar.” Tutur pemuda itu dengan santun kepada orang-orang yang berada di seberang matanya.


Gadis muda yang berdiri di samping pemuda itu menyela, “Kakak Bai, mereka telah masuk secara paksa! Kakak Hua hanya berusaha menjaga kita.”


“Kau ini, ayo minta maaf.” Senyum pemuda itu yang nampak kesal. Sang adik bungsu malah membuang muka dan pergi begitu saja.


Pemuda itu menggaruk pipinya yang tak gatal kemudian malah terkekeh melihat kelakuan para saudara perempuannya. Dengan sangat sopan, ia tersenyum dan mempersilakan para tamunya masuk ke dalam 'rumah' mereka.


Sang nona bangsawan berjalan di ikuti pelayan dan pengawal pribadinya. Kemudian menyuruh para bawahannya itu menunggu di depan pintu.

__ADS_1


“Ada perihal apakah yang membuat nona yang berstatus mulia ke tempat kami yang sederhana ini?” Tanya pemuda itu sambil mempersilakan duduk.


Perempuan bangsawan itu menjadi tidak enak hati dengan perlakuan ramah tuan rumah. Dengan sangat bersahaja, dia memperkenalkan diri, “Tuan muda tidak perlu canggung. Panggil saja saya Sheng Xin. Saya mencari tuan untuk memohon bantuan.”


Pemuda itu mengulum senyum, “Bantuan seperti apa yang nona perlukan?”


“Saya harap tuan muda dan adik-adik tuan bersedia mengobati penyakit kakak saya.”


Perempuan bercadar putih, Fu Hua, yang berdiri di belakang pemuda itu mendelik tajam dengan kedua tangan bersedekap. Membuat kedua orang yang duduk mengitari meja itu menjadi kikuk secara tiba-tiba.


“Sepertinya nona salah orang. Kami tidak memiliki keahlian medis untuk mengobati kakak nona.”


“Tidak! Saya tidak mungkin salah! Tuan adalah orang yang sudah kami cari sejak lama. Saya yakin tuan adalah tabib sekaligus ahli racun, Fu bersaudara.”


Raut wajah pemuda itu seketika berubah. Seolah memberi batas secara tiba-tiba. Namun Sheng Xin tidak peduli. Ia semakin memantapkan tekadnya untuk membawa orang-orang itu kembali bersamanya.


“Pergilah dari sini! Kami tidak akan melakukan apapun untuk orang-orang yang berstatus tinggi seperti kalian!” Sela adik pemuda itu yang paling muda sembari meletakkan teh herbal di atas meja.


“Xiao Rong.”


Panggil sang kakak dengan raut wajah serba salah ke arah Sheng Xin yang berdiri dari tempat duduknya semula.


Alih-alih tersinggung, Sheng Xin malah merendahkan diri dengan berlutut memohon kepada orang-orang yang ada di depannya.


Para bawahannya seketika bergerak maju, membantu sang nona bangkit dan berdiri dengan semestinya. Namun tindakan itu justru membuat Sheng Xin memarahi mereka.


“Jangan membantuku! Aku takkan berdiri sampai tuan muda bersedia membantu!”


Tindakan Sheng Xin rupanya memicu reaksi Fu Hua. Dia berjalan menghampiri mereka dan menancapkan pisau di atas meja hingga mengagetkan orang-orang di sana.


“Nona.. Sebaiknya kita kembali saja.. Orang-orang itu nampaknya bukan keluarga tabib Fu. Mereka sangat kasar dan tidak berpendidikan.” Tutur Ming Ming yang menghampiri sang majikan.


“Kau tidak boleh berkata seperti itu! Mereka memang tabib dan ahli racun yang kita cari. Bagaimanapun aku tidak akan berdiri sampai mereka bersedia mengobati kakak.”


“Tapi..” Ming Ming berusaha membujuk namun Sheng Xin masih tak bergerak. Seolah yakin dengan tekadnya.


Menurut informasi yang di perolehnya, Fu bersaudara memang terkenal dengan metode pengobatan yang cukup aneh. Mereka mengkombinasi antara teori medis dan racun sekaligus dalam praktek pengobatan yang mereka lakukan.


Banyak orang yang sudah terbantu dan sembuh berkat sepak terjang mereka. Hanya saja, Fu bersaudara itu memiliki sikap antipati terhadap status bangsawan. Terlebih para pejabat yang berkerja di kerajaan. Mereka sering menolak untuk mengobati penyakit para bangsawan yang jauh-jauh datang kepada mereka.


Karena sikap mereka yang seperti itu maka mereka sering berpindah-pindah tempat tinggal. Secara, banyak bangsawan yang menargetkan mereka untuk di bunuh karena sakit hati atas penolakan yang mereka lakukan.


Sheng Xin menyeka setetes air yang mengalir di pipinya. Cuaca di musim panas telah membuatnya semakin banyak berkeringat.


Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat. Matahari telah tenggelam diufuk barat dan berganti dengan gelapnya malam. Fokus Sheng Xin semakin berkurang. Tubuhnya sudah mulai kelelahan.


Hanya berselang menit, perempuan itu terkulai tak berdaya di atas lantai. Ming Ming dan kedua pengawalnya bergegas mendekat. Nampak kecemasan di wajah mereka.


“Baringkan dia di atas sana!” Seru Fu Hua saat salah satu pengawal menggendong tubuh Sheng Xin.


Orang-orang itu memandang kesal ke arah Fu Hua. Namun perempuan itu tidak perduli, justru berjalan ke arah dipan yang berada tak jauh dari tempat Sheng Xin bertutut barusan.


“Sebaiknya kalian turuti perintah adikku jika ingin nona kalian sehat seperti sedia kala.” Kekeh Fu Bai, pemuda yang memberi sambutan yang cukup ramah kepada Sheng Xin dan rombongannya.


Para bawahan Sheng Xin awalnya ragu namun akhirnya melakukan juga apa yang Fu Hua katakan. Fu Hua membuka tempat jarum akupunturnya. Memeriksa denyut nadi Sheng Xin kemudian tanpa ragu menancapkan beberapa jarum akupuntur di tubuh perempuan itu.


Beberapa menit kemudian, Sheng Xin membuka mata dan langsung di serbu haru oleh sang pelayan.

__ADS_1


“Ck, kenapa kita harus bersusah payah mengobatinya?”


Fu Rong menggerutu sambil membawa secawan tonik. Ia memberikannya kepada Ming Ming dengan wajah cemberut kemudian duduk didekat meja. Fu Hua acuh tak acuh. Ia masih bersikap tidak perduli dan membereskan perlengkapan akupunturnya tanpa berbasa-basi sedikitpun.


“Ini..”


“Minumlah tonik itu! Bukankah akhir-akhir ini nona merasa pusing dan nyeri disekitar leher?” Ucap Fu Bai di iringi rasa bingung Sheng Xin dan para bawahannya.


“Xiao Hua yang menyadarinya. Wajah dan gegak gerik nona menunjukkan semua gejala yang nona rasakan.” Jelas Fu Bai.


Sheng Xin tersenyum, “Benar. Beberapa hari ini saya memang tidak sehat. Sakit kepala dan nyeri ini membuat kualitas tidur saya berkurang. Ternyata nona Fu menyadarinya. Saya berterimakasih telah di tolong oleh nona.”


Fu Hua berlalu tanpa memberikan respon apapun.


“Kakak Hua ini memang dingin tapi sekaligus paling perduli. Tidak seperti kakak Bai yang hanya tau meracuni orang lain.” Ejek Fu Rong kepada kakak sulungnya.


Fu Bai terkekeh pelan kemudian menyentil dahi Fu Rong hingga gadis itu mengaduh kesakitan.


Sheng Xin kembali tersenyum dan meletakkan cawan yang telah kosong di tangan pelayan pribadinya, “Kebaikan tuan muda dan nona Fu akan saya ingat. Akan tetapi tujuan awal saya bukan mengobati penyakit yang saya derita, namun memohon tuan Fu bersaudara untuk ikut bersama saya, mengobati kakak.”


Fu Bai dan Fu Rong saling melempar pandang kemudian tersenyum lemah.


“Nona salah memintanya pada laki-laki ini! Seharusnya nona membujuk kakak Hua. Kami di sini hanya mengikuti apa yang dia perintahkan.” Jelas Fu Rong dengan sikap santai.


Fu Bai tertawa pelan dan membenarkan ucapan adik bungsunya itu, “Xiao Rong benar. Membujuk Xiao Hua itu pun tidaklah mudah. Suasana hati gadis itu mudah berubah.”


Sheng Xin mencengkram ujung bajunya. Alisnya sedikit berkerut namun tetap menonjolkan sisi keuletan yang menjadi karakteristiknya, “Saya akan mencoba membujuk nona Fu. Tolong ijinkan saya menginap di sini sampai nona Fu setuju untuk menolong kakak saya.”


Fu Rong menguap dan menggeliat, “Terserah kalianlah! Aku tidak akan ikut campur. Persiapkan saja mental kalian jika berhadapan dengan kak Hua. Aku mau tidur dulu!” Ia pun pergi melambaikan tangan dari belakang punggungnya.


Sheng Xin kebingungan. Ia menatap Fu Bai dengan penuh harapan. Pemuda itu pun bangkit dan berkata, “Tinggallah senyaman nona. Semoga usaha nona tidak sia-sia.”


Fu Bai membungkuk hormat kemudian pergi menyusul dua saudarinya. Meninggalkan Sheng Xin dan para bawahannya di tempat itu.


Beberapa hari berlalu, Sheng Xin tidak juga menampakkan sikap putus asa. Ia terus berusaha mendekatkan diri kepada Fu Hua. Ia membantu aktifitas Fu Hua. Dari mencari herbal, mengolahnya bahkan melakukan aktifitas kasar lainnya.


Meskipun sering tidak di perdulikan oleh Fu Hua, Sheng Xin tidak patah semangat. Ia terus berusaha membuat perempuan itu menyadari keberadaannya.


Kadang kala, ia menangis secara diam-diam karena mendapat perlakuan dingin serta perkataan kasar dari Fu Hua. Sheng Xin tidak terbiasa. Hanya saja ia tidak boleh mundur. Ia harus rela diperlakukan seperti apapun demi meluluhkan ego yang membungkus hati perempuan itu.


Kemanapun Fu Hua pergi, di situ ada Sheng Xin. Apa yang Fu Hua lakukan maka Sheng Xin akan membantunya. Terus menerus hingga suatu hari Fu Bai mengajak Fu Hua mencari herbal berdua di atas bukit. Keduanya saling berbicara meski sebagian pembicaraan tetap didominasi oleh Fu Bai. Sikap Fu Bai yang tidak biasa itu telah membuat Fu Hua curiga.


Tanpa berbasa-basi, perempuan pendiam itu berkata, “Jika kau mengajakku ke sini untuk mewakili nona Sheng, lebih baik langsung kau saja yang pergi ke sana. Aku tidak ingin pergi hanya untuk menolong orang-orang berkuasa seperti mereka.”


Fu Bai menghela napas, “Aku tidak bermaksud membujukmu untuk menolong orang yang tidak kau suka...”


“..Hanya saja, apa kau tidak kasihan kepada nona Sheng? Dia telah berhari-hari melakukan pekerjaan yang tidak pernah ia lakukan. Dia bahkan menerima semua perlakuan burukmu. Ucapanmu yang kasar.”


“Dia melakukan semua itu untuk kepentingannya. Hukum timbal balik itu ada.” Jawab Fu Hua cuek sambil memetik herbal.


Fu Bai tidak menyukai jawaban dingin yang Fu Hua berikan. Wajahnya berubah masam, “Tidak semua bangsawan seperti yang kau pikirkan. Masih banyak yang baik dan kita hanya belum bertemu dengan mereka.”


“Seperti jarum dalam tumpukan jerami.” Balas Fu Hua dengan sindiran.


“Xiao Hua..” Fu Bai menghela napas panjang, “..Empat tahun sudah berlalu. Sampai kapan kau akan hidup seperti ini? Tidak mungkin kau hidup dalam masa lalu. Kau bukan lagi Chu Yao, kau sekarang Fu Hua!”


Tatapan Fu Hua menajam. Fu Bai merasakan emosi perempuan itu meningkat pesat saat dia mengucapkan nama asli Fu Hua.

__ADS_1


__ADS_2