Memperbaiki Masa Lalu

Memperbaiki Masa Lalu
Bab 71


__ADS_3

Jenderal Luo berjalan mondar mandir di luar tenda dengan raut wajah kalut. Menunggu hasil pengobatan yang dilakukan tabib Fu kepada dua orang yang tengah kehilangan kesadarannya.


Pria tua itu bahkan belum berganti pakaian. Ia masih menggunakan zirah lengkap tatkala membawa kembali pasangan nomor satu Alorra dari medan perang.


“Tenanglah jenderal! Jika anda seperti ini makin membuat kami was-was.” Bujuk sang letnan yang bernama Bo Lan.


Sang Jenderal mengerutkan alis, memberi balasan dengan intonasi yang cukup tinggi, “Kalian memintaku untuk tenang?! Di situasi seperti ini?! Apa kalian tidak melihat bagaimana kondisi yang mulia dan istrinya tadi? Ya Tuhan... Aku benar-benar tidak habis pikir dengan kalian ini!”


“Bukan begitu jenderal. Kami juga sama khawatirnya dengan anda saat ini. Hanya saja tabib Fu perlu ketenangan untuk bisa memberikan penanganan yang tepat untuk yang mulia.”


“Aku tau itu! Kalian tidak perlu mengingatkanku!”


“Aaahhh BERISIK!!!” Bentak Fu Bai sambil menyiramkan air kepada sekelompok orang yang berdebat nyaring di luar tenda.


“Sebaliknya kalian bubar dan beristirahat! Perang sudah berakhir! Keadaan di dalam sudah aman terkendali. Kalian tidak perlu cemas lagi.” Tutur Fu Bai dengan gerakan tangan yang menyapu seolah-olah mengusir himpunan orang-orang itu secara halus.


Jenderal Luo menyeka wajahnya yang basah. Ia maju tanpa memperdulikan tatapan jengah Fu Bai. Ia bertanya dengan air muka yang penuh kegelisahan, “Bagaimana kondisi yang mulia?”


“Pria itu baik-baik saja. Dia memang banyak kehilangan darah tapi untung saja luka tusukan itu tidak membuat napasnya berhenti untuk selamanya. Jika bilah pedang itu bergeser dua centi saja ke arah kiri, aku tidak bisa menjamin hidupnya bisa bertahan sampai detik ini..” Jelas Fu Bai dengan gelengan kepala yang terlihat lelah.


“Jadi kapan kira-kira yang mulia bisa siuman?”


Fu Bai mengerutkan alis dan mencondongkan tubuhnya ke arah pria tua di depannya, “Eh pak tua, manusia di dalam sana baru melewati masa kritis dan kau malah bertanya kapan dia akan siuman? Untuk mempertahankan napasnya saja kita sudah harus bersyukur. Jangan bertanya lagi padaku kapan dia membuka matanya! Aku tidak tau!”


“Tapi kata tuan Fu tadi..”


“Iya, dia memang selamat dari musibah penikaman itu tapi aku tidak pernah bilang kalau kondisinya akan sehat seperti sedia kala!”


Fu Bai memijat keningnya dan kembali menjelaskan, “Begini, luka akibat pedang itu sebenarnya tidak seberapa, hanya saja luka tersebut menjadi lebih parah karena bersamaan dengan kambuhnya penyakit lama yang mulia.”


“Mungkin para jenderal di sini tidak menyadarinya tapi saya yakin saat peperangan itu berlangsung, efek racun sudah kembali aktif dan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa pada diri yang mulia..”


“Jadi... Ketika hunusan pedang itu mengenai tubuh yang mulia, secara otomatis pula penyakit itu menebarkan racunnya. Karena kondisi pria itu sedang lemah maka efek racun itu menjadi dua kali lipat berbahaya. Makanya dalam sekejap kesadaran yang mulia melayang tanpa bisa ia kendalikan.”


“Pantas saja yang mulia begitu mudah dikalahkan oleh baj*ngan laknat itu! Ternyata kondisi yang mulia memang sedang tidak normal.” Celetuk Bo Lan sambil mengusap jambangnya yang kasar.


Semua orang pun tau bahwa kaisar Alorra, Xu Xiao Yan, telah berkali-kali melewati medan peperangan. Pria tangguh itu terkenal dengan kelihaiannya memenangkan situasi seperti yang mereka alami barusan. Jadi merupakan suatu keganjilan jika pemuda itu dengan mudah di lumpuhkan oleh manusia seperti kaisar Airland. Kemampuan orang tua itu sebenarnya bukanlah setengahnya kekuatan Mo Yan.


“Jadi bagaimana? Apakah yang mulia tidak bisa disembuhkan?” Tanya Jenderal Luo yang lagi-lagi memasang wajah penuh ketakutan.

__ADS_1


Fu Bai menjeda, seolah mengatur kata-kata yang ingin ia keluarkan, “Aku sudah mengobatinya dengan daun cahaya abadi yang di bawa Chu Yao. Kemungkinan tumbuhan itu sudah meresap ke dalam aliran darah yang mulia saat ini dan mungkin pula besok pagi semua racun itu telah berhasil di tawarkan olehnya..”


“Akan tetapi, aku tetap tidak bisa menentukan kapan kesadaran yang mulia akan kembali. Semua itu tergantung diri yang mulia pribadi. Entah tiga hari, satu minggu, dua minggu, dua bulan bahkan satu tahun. Aku tidak tau. Kita hanya bisa menunggu.”


Jenderal Luo dan yang lainnya menundukkan wajah sendu. Mereka nampak terpukul dengan penjelasan yang Fu Bai berikan. Dengan langkah gontai, para pemimpin pasukan itu akhirnya berjalan ke arah tenda mereka masing-masing dan meninggalkan Fu Bai yang masih berdiri di tempatnya.


Sedangkan Fu Bai kembali memasang raut wajah iba ke arah tenda bagian dalam. Ia tak bisa mengatakan apa-apa. Sosok perempuan dengan luka di bahunya itu tetap duduk mematung. Memandangi Mo Yan yang terbaring sambil terus memegangi tangan pria itu dengan erat.


“Kau sudah siuman? Seharusnya kau beristirahat. Jika yang mulia melihatmu seperti ini, dia pasti akan merasa sangat bersalah.” Ucap Fu Bai yang sudah berdiri di belakang Chu Yao.


Perempuan bersurai hitam lurus nan panjang itu tak bergeming. Alih-alih menjawab, Chu Yao hanya meneteskan butiran bening dikedua maniknya yang kecoklatan.


Fu Bai merasa serba salah. Ia tidak pandai menghibur apalagi membujuk perempuan seperti Chu Yao. Seandainya ia tau akan seperti ini, dia pasti akan membawa Fu Rong untuk menemaninya di sini.


“Kau pun terluka. Tubuhmu juga dalam keadaan tidak stabil. Jangan memaksakan diri. Biar aku yang menjaganya. Aku akan membangunkanmu jika yang mulia telah siuman.” Tutur Fu Bai dengan penuh kelembutan.


Chu Yao tidak bergerak. Ia tetap membatu di tempatnya. Seakan-akan tidak pernah mendengar perkataan yang Fu Bai lontarkan barusan.


“Mo Yan tidak akan begini jika aku bisa menemukan tumbuhan itu dengan cepat.” Gumam Chu Yao yang terdengar seperti sedang menyalahkan diri.


“Jika aku tau dia akan pergi berperang waktu itu, aku tidak akan pernah tidur. Aku pasti akan menemaninya dan dia tidak akan terluka separah ini! Dia tidak akan berada di kondisi lemah seperti ini!”


“Dia selalu begitu.. Memang hanya dia yang bisa seperti itu kepadaku..”


Fu Bai statis. Ia tidak pernah menyangka jika hubungan Chu Yao dengan kaisar Alorra begitu dekat. Ia cukup tercengang mengetahui bahwa pemimpin tertinggi itu dulunya adalah pengawal pribadi Chu Yao.


Jika Ye Zuan tidak menceritakannya disurat mereka waktu itu, mungkin Fu Bai tidak akan pernah tau latar belakang kaisar Alorra dahulu.


Pun dengan hubungan pribadi keduanya, Fu Bai sama sekali tidak pernah memiliki gambaran jika Chu Yao dan Mo Yan benar-benar akan kejenjang yang lebih serius.


Fu Bai sempat skeptis melihat romantisme keduanya. Mungkin saja Mo Yan seperti para kaisar lainnya yang senang mengumpulkan perempuan-perempuan cantik untuk mengisi haremnya. Namun semua prasangkanya hilang begitu melihat ketulusan Mo Yan. Pria itu memang benar-benar mencintai adik angkatnya dengan menikahi perempuan itu secara resmi.


Mo Yan bahkan bersumpah bahwa ia akan setia dan selalu menjaga Chu Yao. Tak ada selir ataupun orang kedua dalam pernikahan mereka.


Ucapan Mo Yan telah membuat Fu Bai tenang. Ia tidak perlu bersusah hati melepaskan sang adik ke dalam mahligai yang Mo Yan janjikan. Namun sekarang keadaan tidak lagi sama. Pria itu terbaring tak sadarkan diri dengan sosok Chu Yao yang terus bersedih di sampingnya.


Tabib Fu, si ahli racun itu tidak lagi memberikan komentar. Ia berbalik dan kembali ke tempat peristirahatannya. Meninggalkan figur elok yang masih diliputi dengan kesedihan di dalam tenda tersebut. Sementara itu, Chu Yao yang masih duduk di tepi dipan hanya bisa memandang sang kekasih dengan tatapan yang berkabut.


Chu Yao menangis. Terisak dan hampir-hampir tak mengeluarkan bersuara.

__ADS_1


“Mo Yan..” Bisik Chu Yao sambil terus memberikan elusan lembut di punggung tangan yang terkulai tak berdaya di sampingnya.


“Aku akan bercerita tentang sebuah rahasia..”


“Rahasia penting yang hanya ku simpan untukku sendiri selama ini.. Tidak ada satu orangpun yang tau.. Dan kini aku akan membaginya denganmu..”


Chu Yao menghapus air matanya dan fokus bercerita, “Sebelumnya apa kau pernah menyadari perubahan sikapku saat aku menyelamatkanmu dari hukuman di aula keadilan waktu itu?”


“Kau pasti pernah berpikir bahwa otakku telah terganggu gara-gara insiden saat itu, bukan?” Kekeh Chu Yao dengan wajah yang sendu.


“Jika kukatakan aku bukan lah aku yang waktu itu, aku adalah diriku yang kembali melompat mundur ke masa lalu. Apa kau bisa mempercayai itu?”


Chu Yao tersenyum, “Tidak masuk akal, kan? Kau pasti berpendapat bahwa aku hanya bermimpi atau mungkin menganggapku sedikit tidak waras..”


“Tidak masalah! Kau cukup mendengarkan saja. Biarkan aku yang terus bercerita..”


Chu Yao kembali menyeka air matanya. Dengan suara serak dan terbata, perempuan itu melanjutkan, ”..Di kehidupanku yang dulu, kau meregang nyawa karena kena’ifanku. Aku memaksamu untuk meminum racun.. Dan lebih gilanya lagi, kau bahkan tidak memberikan penolakan sedikitpun..”


“Apakah saat itu kau sudah memiliki perasaan lebih untukku hingga dengan suka hati meminum racun dariku?”


“Jika benar maka kau memang pria terbodoh di dunia..”


“Kau mau saja mengorbankan nyawamu untuk perempuan dungu sepertiku. Dulu dan sekarang pun kau tetap dungu. Kedunguanmu itu membuatku selalu dihantui rasa bersalah..”


“Seperti saat ini, aku terpuruk karenamu. Gara-gara ingin menyembuhkanmu, aku bersedia dimarahi bahkan dihukum olehmu. Apa pengorbananku ini masih kurang? Seperti apa lagi yang kau inginkan padaku agar kau mau segera membuka mata? Bukankah kau sudah menjanjikan aku kehidupan yang damai. Yang jauh dari hiruk pikuk dunia..”


“Jika kau tidak mengindahkan ucapanku, maka aku akan marah! Aku akan meminta A-Wei untuk membawamu jauh dariku seperti dulu..” Isak Chu Yao sambil menundukkan kepala.


“Apakah kau tidak lelah dengan semua ini?” Bisiknya dengan suara parau dan tak jelas, “Aku.. Aku sangat, sangat, bahkan sangat lelah.. Maka dari itu..”


“Mo Yan..”


“Cepatlah sadar..”


“Temani aku..”


“Aku menunggumu..”


“Kau harus segera membuka matamu..”

__ADS_1


“Mo Yan..”


__ADS_2