
Penolakan permohonan ijin pernikahan yang diajukan Mo Yan terjadi di tengah-tengah rapat istana.
Tidak hanya satu atau dua orang pejabat yang memberikan protes, hampir keseluruhan memiliki resistensi terhadap keputusan yang di ambil oleh pimpinan tertinggi mereka.
Alasan klise tetap menjadi momok yang menohok bagi Mo Yan. Dari garis keturunan, terdakwa eksekusi mati pemberontakan, identitas yang tidak jelas, hingga jalinan pertunangan yang masih terikat antara Mo Yan dan Shen Xue Ying, yang ujung-ujungnya merupakan landasan untuk menggiring opini pada perbedaan status yang sangat jauh bagi kedua calon mempelai.
Mo Yan tidaklah bodoh. Ia telah mempersiapkan mental. Ia tidak sekedar membawa tangan kosong untuk membuat semua orang yang ada di sana menyetujuinya.
"Bagaimana pun pernikahan yang mulia dengan nona Chu tidak bisa dilaksanakan. Masa lalu nona Chu tidak terlalu baik. Itu akan mempengaruhi reputasi yang mulia dan Kerajaan Alorra kedepannya." Tolak menteri Chen tanpa tedeng aling-aling.
"Menteri Chen benar. Yang mulia tidak bisa menikahi seorang wanita yang nyatanya adalah keturunan musuh bebuyutan Alorra. Apa lagi sebentar lagi kita akan melakukan invasi pada negaranya. Tidak ada jaminan jika dia tidak akan berkhianat terhadap kita." Timpal menteri Guo, selaku menteri Kebudayaan negara.
"Lagi pula, anda masih terikat pertunangan dengan putri saya, yang mulia. " Tambah perdana menteri dengan sedikit membungkukkan badan, "jika sampai pernikahan yang mulia benar-benar digelar, bagaimana masa depan anak saya? Mohon yang mulia memikirkan nya."
Mo Yan tak bergeming. Ia bahkan tidak menunjukkan roman muka marah terhadap protes para pejabatnya. Dengan tenang dan wajah datar Mo Yan menjawab, "masa lalu nona Chu memang tidak lebih baik dari masa lalu saya. Seperti halnya diri saya pribadi, dia tidak bisa memilih dimana dia lahir dan siapa yang akan jadi orang tuanya.. "
"Perihal tentang penangkapannya serta hukuman mati keluarganya, itu murni fitnah dan juga konspirasi besar yang didalangi oleh Kaisar Long. Jika tuan-tuan tidak percaya, silakan lihat buktinya.."
Mata Mo Yan bergulir kearah A-wei yang berdiri tidak jauh dari singgasana yang ia duduki. Pengawal itu dengan sigap mengeluarkan beberapa perkamen dan membawanya ditengah orang-orang yang sedang berhimpun.
Perdana menteri menyambut perkamen itu dan membukanya bersama para jajaran pejabat lainnya. Stempel basah dari kediaman putra mahkota Airland menempel jelas dibawah tulisan tangan di perkamen tersebut.
Mereka membaca semua penjelasan yang diuraikan Long Ye Zuan atas tuduhan pemberontakan yang tak berdasar didalam perkamen tersebut.
"Jika tuan-tuan masih tidak percaya keasliannya, saya harap tuan-tuan bisa bersabar menunggu pembuktian nya di medan perang nanti. Putra mahkota Airland akan mengumumkannya secara langsung dan saya berani menjamin dengan nyawa saya bahwa dia akan menepati janjinya." Terang Mo Yan yang telah berjalan menuruni undakan tangga singgasana.
"Tapi yang mulia, bukankah penjelasan dari putra mahkota kurang kuat untuk membersihkan reputasi nona Fu maksud saya nona Chu." Bantah menteri Chen yang kemudian dibenarkan oleh pejabat lainnya.
Mo Yan sudah menduga jikalau dukungan yang diberikan Ye Zuan masih belum bisa memuaskan para jajarannya.
"Saya memaklumi kekhawatiran anda, menteri Chen. Jika status Chu Yao tetap tak bisa diperbaiki maka saya akan menggunakan kuasa kerajaan Merva.."
Mo Yan mengeluarkan sebuah plakat berukiran singa yang merupakan lambang kerajaan Merva ditangannya, "saya sudah menghubungi pihak Merva dan mereka bersedia mengganti garis keturunan Chu Yao dengan keturunan asli ibunya. Mereka dengan serta merta telah menyatakan bahwa Chu Yao sejak ini bukan lagi keturunan Long melainkan keturunan Meng. Merva menjamin jika tidak akan ada pengkhianatan dari para keturunannya.."
"..Sebagaimana bersihnya reputasi raja Meng, maka begitu pula bersihnya status dan keturunan dari Chu Yao saat ini. Dan jika ada yang meragukannya, maka kerajaan Merva tidak akan segan mencabut kerjasama antar negara!"
Riuh rendah suara para pejabat mulai terdengar. Mereka mulai nampak cemas. Jika Merva sampai benar-benar mencabut kontrak kerjasama, maka pemasok nikel terbesar itu benar-benar akan membuat Alorra kesulitan.
Mo Yan menarik simpul hatinya. Ia mulai merasakan sedikit kelegaan. Setidaknya harapan untuk kejenjang pernikahan bukan sekedar isapan jempol belaka.
Menteri Guo kembali membungkukkan badan dengan hormat, "yang mulia, bagaimana dengan putri perdana menteri. Jika sampai pembatalan pertunangan ini diputuskan secara sepihak, saya takut akan berdampak pada pertahanan politik dalam negara kita."
"Benar!" Timpal menteri perekonomian, "bagaimana jika yang mulia lebih dulu menikahi putri perdana menteri, setelah itu yang mulia bisa menjadikan nona Chu sebagai selir."
Beberapa orang yang ada di sana seketika melempar pandangan tajam kearah pria itu itu. Jenderal Luo yang tidak mau ikut campur terpaksa harus menyikut pinggang tua menteri perekonomian dengan cukup keras.
Saran pria paruh baya itu terdengar lancang dan merendahkan status Chu Yao sebagai keturunan langsung kerajaan Merva.
Belum lagi raut wajah sang kaisar yang dingin membuat semua orang di sana membeku dalam perasaan terintimidasi.
Menteri perekonomian menampar mulutnya tanpa sadar, "mohon ampuni hamba, yang mulia. Otak ini semakin tua hingga tidak bisa berpikir sebelum mengeluarkan kata-kata. "
Mo Yan menarik napas dalam-dalam. Alih-alih memberikan hukuman, ia justru kembali menjelaskan, "para pejabat yang hadir disini tidak perlu cemas. Saya tidak akan pernah melakukan pembatalan sepihak terhadap pertunangan saya dan Shen Xue Ying."
"Panggil nona Shen kedalam ruang rapat!" Perintah Mo Yan pada pengawal yang berjaga diluar pintu aula pertemuan.
Dengan sigap, salah seorang pengawal itu pergi dan beberapa saat kemudian kembali dengan seorang perempuan yang mereka kenal.
Shen Xue Ying berjalan anggun kedalam aula. Ia memberi salam hormat kepada kaisar Alorra serta pada para pejabat istana yang ada di sana.
__ADS_1
Dia melirik sekilas pada sang ayah, perdana menteri Alorra, yang nampak sedikit tertekan dengan situasi yang ada. Shen Xue Ying tersenyum kemudian menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa ia akan baik-baik saja.
"Shen Xue Ying hadir atas panggilan yang mulia." Ucap perempuan bermata hijau itu dengan penuh kesopanan.
"Nona Shen, saya tidak akan bertele-tele. Apakah nona Shen bersedia membatalkan pertunangan anda dan saya dihadapan para pejabat istana saat ini?" Tutur Mo Yan dengan suara tegas dan dalam.
Shen Xue Ying menjawab dengan lantang, "saya tidak keberatan asalkan yang mulia bisa mengabulkan permintaan saya. "
"Katakan, selama aku bisa, akan ku kabulkan permintaanmu." Balas Mo Yan masih dengan wajah tanpa ekspresi nya.
Shen Xue Ying tersenyum, "saya harap tuan-tuan yang ada disini bisa menjadi saksi atas janji yang dibuat oleh yang mulia hari ini."
"Baiklah, yang mulia. Saya bersedia membatalkan pertunangan kita asalkan yang mulia bersedia mengeluarkan dekrit sebagai persetujuan pernikahan saya dan pengawal A-wei!"
Hiruk pikuk kembali terdengar. Perdana menteri mengusap wajah tuanya dengan rasa lelah. Ia tak menyangka anak perempuan nya benar-benar segila itu.
"Ternyata ucapannya benar-benar serius. " Gumam perdana menteri dengan gelengan kepala.
Mo Yan tersentak. Ia cukup kaget dengan permintaan Shen Xue Ying. Jika boleh jujur, Mo Yan sama sekali tidak menduga hal itu akan Xue Ying lontarkan didalam rapat kerajaan kali ini.
"A-Wei?" Ucap Mo Yan di iringi lirikan tajam kearah pengawal pribadinya itu.
Sang pengawal pribadi hanya menundukkan wajah yang sudah merah karena malu.
"Karena status saya dan A-Wei yang begitu jauh, pasti akan banyak hambatan untuk kami jika kami benar-benar ingin melangkah kearah pernikahan. Maka dari itu, saya harap yang mulia bisa merestuinya." Tutur Shen Xue Ying sambil berlutut.
"Nona Shen, anda tidak bergurau bukan?" Tanya menteri Chen dan jenderal Luo bersamaan dengan tatapan bingung kearah perdana menteri.
Sang perdana menteri hanya menghendikkan bahu. Ia kembali mengusap wajah dan mengalihkan pandangan ke sembarang arah.
"Saya tidak bergurau! Saya sudah jatuh cinta pada pengawal pribadi kaisar sejak dia menyelamatkan saya dari para penyerang di hutan waktu itu!" Jawab Shen Xue Ying tanpa ragu.
"Ya Tuhaan.. Apa lagi ini?!"
Begitulah tanggapan para pejabat yang mendengar cuitan putri perdana menteri yang frontal. Sedangkan sang perdana menteri, dengan wajah yang masam ingin segera pergi dan menggali kuburannya sendiri.
Orang tua itu sungguh malu!
Mo Yan hampir tergelak. Namun ia masih bisa menguasai raut wajahnya. Akan tetapi tidak untuk sang pengawal di sampingnya. A-Wei semakin menundukkan kepalanya. Pria polos itu nampak semakin tersipu dan salah tingkah.
Mo Yan berdeham untuk mencairkan suasana, "Baiklah! Aku berjanji akan mengabulkan permintaan nona Shen. Nona bisa menikah dengan A-Wei kapanpun nona mau."
Shen Xue Ying sumringah. Ia segera berterima kasih dan memberikan hormat kepada pimpinan tertinggi kerajaan. Ia pun undur diri dan mencuri kesempatan untuk berkedip nakal kearah A-Wei.
Semua orang hanya bisa menggelengkan kepala. Mereka tidak menyangka perilaku putri perdana menteri bisa seperti itu. Ada baiknya perempuan itu tidak menjadi permaisuri kerajaan. Jika sampai ia menjadi wanita nomor satu Alorra, entah apa yang akan terjadi selanjutnya.
Air muka Mo Yan kembali serius. Ia berkata, "Semua permasalahan sudah teratasi, saya harap tuan-tuan bisa memberikan ijin atas pernikahan saya beberapa hari lagi."
Keraguan masih nampak di sebagian wajah para pejabat. Alih-alih mengijinkan, mereka justru kembali berspekulasi, "Kami disini bukan menolak permintaan yang mulia, hanya saja.."
'Mereka masih meragukan Chu Yao'. Batin Mo Yan lelah.
Sebegitu susahnya kah untuk membuat Alorra menerima tambatan hatinya. Hanya karena masa lalu, masa depan didepan mata yang ingin mereka raih jadi begitu buram dan berkabut.
"Bagaimana jika yang mulia menempatkan nona Chu sebagai selir sementara waktu? Setelah semuanya kondusif dan dekrit dari Airland sudah dibacakan, status nona Chu pun akan berubah menjadi permaisuri yang mulia." Bujuk menteri Chen dengan sangat hati-hati.
Rahang Mo Yan mendadak mengeras. Ia mengatupkan bibir dan mengepalkan tangan dengan erat. Pemuda itu berusaha menahan rasa kesal akibat perkataan menteri Chen yang seolah merendahkan wanitanya.
Mo Yan bergumam, "tak ada status selir dalam kepimpinan ku. Aku takkan pernah meletakkan wanitaku di status itu dan sampai matipun aku tak akan menikah dengan perempuan lain selain dirinya!"
__ADS_1
"Tapi yang mulia.."
BRUKK!!
Mo Yan berlutut secara tiba-tiba dan membuat semua orang yang ada di sana membelalakkan mata. Seolah tak percaya apa yang dilakukan sang kaisar.
Tanpa ragu, Mo Yan melepaskan jubah kebesaran dan plakat giok tanda pengenal penerus kerajaan Alorra dan menyerahkannya pada A-Wei.
"Jika status yang saya miliki menghalangi kebahagiaan dan keinginan hati, maka saya akan melepaskan tanpa rasa ragu sedikitpun.." Ucap Mo Yan dengan sorot mata yang penuh keseriusan.
"Setelah perang ini berakhir, saya akan turun dari takhta kerajaan. Dan saya serahkan kepimpinan selanjutnya pada perdana menteri seperti sebelumnya.. "
"Saya harap tuan-tuan disini bisa menerima keputusan saya ini!"
Mo Yan melepaskan semua aksesoris kerajaan dan melakukan sujud permohonan. Perbuatannya itu membuat semua orang bungkam seketika.
Dalam sistem pemerintahan Alorra, jika seorang kaisar melakukan sujud permohonan berarti sudah menekan harga dirinya ke dasar. Para pejabat dan seluruh Alorra tidak lagi berhak memberikan penolakan atas keputusan yang kaisar tetapkan. Sebagai ganti dari persetujuan paksa itu, sang kaisar akan dijatuhi hukuman dua puluh cambukan dan harus rela turun takhta tanpa dicatat namanya dalam sejarah kerajaan.
Dan keputusan Mo Yan melakukan sujud permohonan kali ini benar-benar telah diluar firasat semua orang.
Mo Yan tidak perduli, ia kembali berdiri dan pergi meninggalkan aula pertemuan tanpa berkata-kata. Ia tidak menyesali tindakannya.
Bagi Mo Yan, sejak awal ia memang tidak ingin menjadi penerus takhta Alorra. Ia hanya ingin hidup tenang dan bahagia bersama orang yang ia cintai.
"Tuan, biar saya saja yang menggantikan hukuman ini!" Ucap A-Wei yang telah berdiri didepan Mo Yan. Ia sengaja menghadang majikannya. A-Wei tak mau Mo Yan menerima hukuman cambuk yang telah tersedia di luar aula pertemuan.
Raut kecemasan A-Wei tak juga membuat Mo Yan mengurungkan niatnya. Ia malah menyuruh A-Wei untuk ke tepi dan melihatnya dari kejauhan.
"YANG MULIA, TOLONG PIKIRKAN KEMBALI KEPUTUSAN YANG MULIA!" Teriak perdana menteri yang tergopoh-gopoh keluar aula disertai semua petinggi istana lainnya.
Mo Yan tak bergeming. Ia malah membuka pakaian atasnya dan berjalan kearah tengah lapangan. Dua orang ajudan yang telah berjaga dengan cambuk di masing-masing tangannya menjadi sedikit ragu dan sungkan. Mereka merasakan ketidaknyamanan dengan situasi yang sedang mereka hadapi.
"Laksanakan!" Ucap Mo Yan dengan penuh kesungguhan sambil berlutut di tengah-tengah lapangan.
Kedua ajudan itu bimbang. Panggilan untuk menghentikan hukuman dari himpunan pejabat yang berada di luar pintu aula semakin membuat kedua orang itu serba salah.
Mereka hampir saja membatalkan vonis siksaan sebelum mendengar bentakan keras dari sang kaisar Alorra.
"LAKUKAN SEKARANG!!"
kedua ajudan itu tak punya pilihan selain mengikuti perintah. Mereka dengan patuh melecutkan cambuk ke tubuh atletis Mo Yan tanpa henti.
Berkali-kali Mo Yan tersungkur dan kembali bangkit dengan darah yang mengucur di balik punggungnya.
Tidak hanya A-Wei, semua orang yang hadir di sana mengernyitkan alis. Bahkan ada beberapa orang harus membuang wajah hanya karena ketidaktegaan dan kengerian terhadap tindakan Mo Yan yang diluar logika.
Mo Yan terkapar dengan meludahkan darah segar pada cambukan terakhir.
A-Wei, sebagai pengabdi yang setia segera menghampiri sang majikan. Pengawal itu memapah Mo Yan dengan tertatih-tatih.
"Hukuman sudah saya tunaikan. Saya harap tuan-tuan akan hadir di hari bahagia saya." Senyum Mo Yan sambil menundukkan kepala sebagai tanda penghormatan terakhir kepada para pejabat setianya.
Para pejabat tidak berkutik. Mereka hanya diam membatu sembari melihat punggung yang penuh darah itu menghilang di ujung penglihatan mereka.
"Apakah tuan ingin saya antar kembali ke paviliun?" Tanya A-Wei dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Jangan dulu!" Jawab Mo Yan dengan napas yang terputus-putus, "aku tak ingin membuatnya semakin mencemaskan keadaanku. Bawa aku ke pusat medis kerajaan. Minta tabib Qin mengobati ku dengan cepat."
A-Wei mematuhi perintah dengan anggukan kepala. Pengawal itu sangat tau siapa yang di cemaskan sang majikan saat ini. Ia tak ingin banyak berkomentar. Perjuangan tuannya bukan hal yang main-main. A-Wei berharap semoga orang yang sudah ia anggap seperti kakak kandungnya itu akan mendapatkan kebahagiaan sebagaimana yang diharapkannya.
__ADS_1