Memperbaiki Masa Lalu

Memperbaiki Masa Lalu
Bab 24


__ADS_3

Keesokan harinya Chu Yao terbangun seorang diri didalam terowongan dangkal itu. Api yang semalam terus menyala menghangatkan dirinya kini telah berupa arang yang diliputi abu.


Tanpa menunggu, Chu Yao keluar dari tempat itu dengan tubuh yang lebih stabil dari sebelumnya. Tak ada rasa sakit di luka-luka yang ia peroleh. Meski masih sedikit lebam namun herba yang diberikan Mo Yan cukup ampuh meredam rasa nyeri dan membuat luka itu menjadi cepat kering.


Chu Yao menghentikan langkah ketika ujung matanya menangkap sosok tegap Mo Yan. Laki-laki itu berdiri tidak jauh darinya dan sedang berbicara dengan seorang pria yang cukup tua.


Raut wajah kedua laki-laki itu cukup serius. Chu Yao seketika merasa tak enak hati. Seakan telah mencuri dengar pembicaraan orang lain meskipun ia sama sekali tidak tau apa yang kedua orang itu bicarakan.


Chu Yao membalikkan langkah. Menjauhkan dirinya dari orang-orang itu. Ia berjalan ditepi sungai dan duduk memandangi tempat itu.


Sendirian. Sama seperti ketika ia menunggu ajalnya di desa Liba. Dengan racun pelebur tulang yang sudah mengoyak isi tubuhnya.


Chu Yao bergidik. Otomatis merengkuh dirinya dengan kedua tangannya. Jika dimasa lalu ibu dan adik tirinya lah yang menyakitinya, sekarang ia justru harus mengesampingkan kedua orang itu dan mencari tersangka asli nya.


Meski Ah Zheng mengatakan bahwa dalang sebenarnya adalah permaisuri, namun Chu Yao masih belum menemukan motif yang mendasari perilaku kejam wanita itu.


Meruntut semua kemungkinan yang sudah pernah ia bahas bersama Mo Yan, ada suatu rahasia yang sepertinya memang menjadi kunci untuk mengakhiri semua permasalah yang dihadapinya.


Jika permaisuri memanfaatkan nyonya Xun untuk membuat ibunya bunuh diri, lantas apa keuntungan yang diperoleh wanita nomor satu itu atas kematian ibunya?


Dan apa maksud Ah Zheng dengan posisi permaisuri sebagai ibu tirinya? Apa pria itu sudah tidak waras hingga mengatakan hal yang tidak masuk akal seperti itu?


Ketika ibunya pindah ke paviliun dingin, mengapa jendral tak melakukan tindakan apapun? Meski rumor mengatakan selir Meng telah bermain gila dengan laki-laki lain, namun jendral Chu bukanlah tipe orang yang menelan berita dengan mentah-mentah. Dan, semua orang dikediaman jendral pun tau bahwa ibunya tidak pernah keluar rumah tanpa ayah yang menemaninya. Pasangan itu selalu harmonis dan saling mencintai.


Jika harus mencari seseorang yang dirugikan dengan kemesraan itu, justru nyonya Xun lah orang pertama yang menjadi tersangka. Bukan malah permaisuri.


"Jangan-jangan semua itu hanya kamuflase yang diciptakan seseorang. Apakah ada kepentingan yang lebih tinggi yang harus dijaga oleh ayah ataupun ibu?" Gumam Chu Yao pada dirinya sendiri.


Chu Yao menatap pemandangan didepannya dengan pandangan jauh. Seakan hanya badannya saja yang berada di tempat itu. Ia bahkan tidak menyadari kehadiran Mo Yan disamping nya. Pria itu bahkan sudah berdiri di sana dari beberapa menit yang lalu. Hanya menatap diam dan memperhatikan wajah perempuan itu yang tenggelam dalam pemikirannya.


"Ah, kau sudah kembali. Aku tidak menyadari kehadiran mu." Ucap Chu Yao sedikit kaget ketika mendapati sosok tampan itu telah berada disamping nya.


"Bagaimana keadaan nona?" Tanya Mo Yan sembari menyodorkan beberapa buah liar.


Chu Yao menerima buah-buahan tersebut dan memakannya tanpa ragu. Dengan mulut yang penuh dengan buah, ia menjawab, "Aku sudah lebih baik berkat herba darimu. Um, apakah kita bisa pulang ke ibu kota secepatnya?"


Mo Yan mengamati sang majikan sebelum memberi jawaban. Ia tau dengan jelas bahwa tekad gadis itu sudah bulat untuk kembali ke ibu kota. Meski kondisinya belum sepenuhnya sehat seperti sediakala.


"Kita bisa pulang, kapanpun yang nona inginkan." Jawab Mo Yan dengan sudut bibir yang sedikit terangkat.


Pria tampan itu hampir-hampir menyunggingkan senyum ketika melihat wajah polos Chu Yao yang sedang menikmati sarapan paginya. Gadis itu tampak begitu menikmati hingga tidak menyadari ada sisa buah yang menempel di samping bibirnya.


Perasaan ingin melindungi tiba-tiba terbangun dari hati kecil Mo Yan. Dengan refleks ia menyentuh pipi gadis itu dan membuang sisa buah di sana. Sentuhan lembut itu membuat Chu Yao mematung seketika. Bibirnya membisu seakan terhipnotis oleh perlakuan pria berwajah elok itu.


Akhirnya mereka hanya saling bertukar pandang tanpa berbicara sepatah katapun.


***


Di kediaman jendral Chu...

__ADS_1


Figur seorang gadis sederhana tampaknya tak begitu Chu Ling perhatikan. Ia tetap sibuk bersukacita, menikmati setiap momentumnya yang bebas tanpa ada sosok Chu Yao di kediaman dengan mengadakan beberapa kali pesta minum teh bersama teman-teman satu frekuensinya.


Ia merasa sangat bebas. Seakan-akan hanya dialah nona satu-satunya yang berkuasa di semua paviliun yang ada. Setelah puas berpesta, ia akan pergi ke paviliun musim semi untuk sekedar bermanja-manja dengan sang ibu.


Sore ini, perempuan berwajah oval itu kembali mengunjungi ibunya. Tak lupa ia membawa beberapa kue yang memang sudah ia beli sebelumnya. Kedua pelayan yang mengikutinya hampir-hampir tidak bisa menyeimbangkan langkah akibat piring-piring kue yang mereka bawa.


Begitu tiba didepan pintu kamar, Chu Ling mendapati ibunya sedang membaca sebuah surat. Senyum penuh kasih terukir jelas di wajah wanita paruh baya itu. Chu Ling bisa menebak jika surat tersebut pasti berasal dari ayah atau kakak laki-laki nya.


"Ada berita baik apa sehingga ibuku yang cantik ini begitu terlihat bahagia?" Goda Chu Ling ketika nyonya Xun melipat kertas surat tersebut.


Sang ibu tersenyum dan membelai rambut putrinya dengan penuh kasih sayang.


"Itu surat dari ayahmu. Setelah sekian lama akhirnya beliau akan segera pulang bersama Chu Zhan. Dan kau harus tau bahwa yang mulia telah menganugerahkan pernikahan untuk kakakmu dengan putri Chang Le. Pesta besar akan terjadi di kediaman kita."


"Benarkah?! Kalau begitu aku akan membantu ibu mempersiapkan pernikahan kakak Zhan. Akan kubuat tuan putri tidak menyesal menikah dengan kakak."


Nyonya Xun terkekeh, "kau memang bermulut manis. Semoga saja tidak ada kekacauan yang terjadi dihari bahagia itu."


"Apa ibu khawatir dengan perilaku Chu Yao?"


Chu Ling menebak dengan tepat. Raut wajah ibunya seketika menggelap dan tanpa sadar tangan kanannya mengelus lengan kiri yang pernah dilukai oleh anak tirinya.


"Ibu tak perlu khawatir, bukankah ibu sudah mengirimkan beberapa surat untuk mengadukan masalah ini kepada ayah." Ucap Chu Ling membesarkan hati sang ibu.


"Benar... Tapi.. " Entah mengapa keraguan meliputi hati wanita itu. Meski ia sudah berusaha memprovokasi suaminya, namun tidak ada tanggapan apapun yang ia terima.


Di surat-surat sebelumnya, jendral Chu tak pernah menyinggung perihal putri sulungnya itu. Tidak membela, tidak juga menyalahkan. Pria tua itu selalu mengalihkan dengan bercerita tentang perkembangan mereka di perbatasan.


"Tidak! Bukan apa-apa. Itu hanya pikiran yang berlebihan saja. Oh iya, apa kau sudah mendengar kabar dari paviliun dingin? Beberapa hari ini ibu tak mendengar laporan aneh-aneh tentang anak nakal itu."


"Sepertinya dia tidak ada di paviliun nya. Aku mendengar jika gadis tengil itu pergi mencari herba di gunung beberapa hari yang lalu. Sepertinya dia lagi mempelajari ilmu medis dari beberapa buku di aula kehidupan."


Chu Ling semakin mendekat dan memegang tangan ibunya, "apa ibu memiliki rencana baru?"


"Dasar kau ini." Nyonya Xun menyentil pelan dahi anaknya.


Ia berpikir sejenak seakan menimbang setiap perkataan yang akan disampaikannya.


"Beberapa hari yang lalu kasim Han mengantarkan beberapa hadiah dari permaisuri. Diantaranya ada sepuluh pelayan yang juga pernah bekerja melayani beliau."


"Oh, kemarin aku sudah melihat mereka saat berpapasan di koridor. Sebelumnya aku malah mengira ibu telah membeli mereka di tempat penjualan budak."


Nyonya Xun menganggukkan kepala, "benar, mereka hadiah dari yang mulia permaisuri. Yang mulia juga memerintahkan dua orang pelayannya itu untuk tinggal di paviliun dingin dan melayani gadis tengik itu."


"Bagaimana mungkin? Kenapa permaisuri justru memperhatikan Chu Yao? Apa mereka sudah saling mengenal sebelumnya?" Cerca Chu Ling tanpa membuat jeda sedikitpun.


"Itu mustahil Ling'er." Bantah sang ibu dengan nada suara yang ragu.


"Tidak mungkin Chu Yao sampai miliki koneksi hingga ke istana Kekaisaran, kan ibu? Selama ini dia hanya berada di dalam paviliun nya. Dia tidak pernah ke pertemuan apapun selain pesta ulang tahun Mei'er. Tapi, mengapa sekarang justru permaisuri memberikan perhatian khusus untuknya?"

__ADS_1


Chu Ling tidak bisa menahan ketakutannya. Gadis itu berpikir bahwa Chu Yao akan membuat mereka kesusahan karena telah memiliki dukungan dari permaisuri dibelakangnya.


"Ibu... Apa yang harus kita lakukan?" Rengek Chu Ling.


Nyonya Xun hanya diam. Ia tenggelam dalam pemikiran nya. Berbeda dengan sang anak, nyonya Xun justru menaruh prasangka lain atas tindakan permaisuri. Meski belum sepenuhnya yakin, wanita itu berpikir bahwa permaisuri justru sedang memata-matai mereka, khususnya gerak-gerik anak tirinya tersebut.


Tapi untuk apa?


***


Dua hari kemudian Chu Yao dan Mo Yan telah kembali ke kediaman Jendral. Mereka diam-diam menyelinap seperti biasa. Masuk kedalam kamar pribadi Chu Yao lewat jendela. Untuk masuk tanpa harus membuat orang lain menyadari kehadiran mereka, bukan hal yang sulit bagi Mo Yan.


Dengan qinggong yang di atas rata-rata, pria tangguh itu membawa Chu Yao kedalam kamar hanya dengan satu lompatan ringan. Sangat ringan hingga tidak menimbulkan suara sedikitpun.


"Panggilkan Xier untukku. Setelah itu kembalilah ke kamarmu dan beristirahat lah. Besok pagi aku ingin kau sudah ada disini sebelum sarapan dihidangkan." Ucap Chu Yao kepada sang pengawal pribadi.


Mo Yan mengangguk patuh dan pergi menunaikan perintah sang majikan. Tak lama Xier datang dengan wajah gembira namun kegembiraan itu seketika berubah ketika melihat luka-luka yang ada di tubuh sang nona.


"Ya Tuhan! Apa yang telah terjadi pada nona?!" Tanya Xier terpekik ngeri.


"Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir!" Ucap Chu Yao dengan suara tenang.


"Siapkan air hangat untuk aku mandi. Tambahkan beberapa herba didalamnya. Aku ingin berendam untuk sementara waktu."


Xier mengiyakan dengan tatapan ngilu saat menatap luka di tubuh Chu Yao. Ia tak habis pikir, apa yang telah dilakukan tuannya sehingga bisa mendapatkan luka yang sangat tidak biasa seperti itu. Xier otomatis bergidik membayangkan rasa sakitnya.


"Apa nona ingin saya memanggilkan paman Tong untuk memeriksa nona?"


"Iya. Panggilan beliau untuk memeriksa keadaan Mo Yan lebih dulu. Kau bisa mengantarkan paman kesini setelah aku selesai mandi. Oh iya, antarkan makanan ke kamar Mo Yan. Katakan padanya untuk menghabiskannya atau aku akan memberinya hukuman."


"Baik, apakah ada perintah lainnya?" Tanya Xier sebelum melangkah pergi.


Chu Yao memutar bola matanya dan kembali bertanya, "Apa kau sudah melakukan apa yang aku perintahkan sebelumnya?"


"Sudah nona. Saya sudah membelikan beberapa pakaian baru untuk pengawal Mo dan sudah menggantungnya dalam lemari. Saya pastikan pengawal Mo akan memakai nya." Jawab Xier dengan senyum sumringah. Ia sangat menyukai tugas yang diberikan Chu Yao sebelum sang nona pergi beberapa hari yang lalu.


"Oh ya nona, di paviliun kita ada penambahan dua pelayan baru. Mereka hadiah dari permaisuri untuk nona. Sebenarnya ada sepuluh orang pelayan yang dikirim permaisuri ke kediaman. Hanya saja dua orang ini khusus yang mulia hadiahkan untuk nona. Bibi Hui meletakkan mereka di kamar belakang dekat kamar bibi. Sampai saat ini mereka masih kami larang untuk memasuki area sekitar taman dan kamar pribadi nona."


Chu Yao menahan rasa keterkejutan nya. Langkah permaisuri sungguh lebih awal dari perkiraan nya. Melihat tindakan yang mulia seperti ini, bisa jadi ucapan Ah Zheng hari itu bukan sekedar isapan jempol belaka.


Permaisuri memang ada andil dalam kematian ibunya dan kali ini wanita itu berniat ingin mematai semua gerak-geriknya.


"Hmm, apa ada lagi informasi yang perlu aku dengar?" Tanya Chu Yao ketika melihat Xier kembali ingin mengatakan sesuatu.


"Saya juga mendengar dari beberapa pelayan yang suka bergosip, sepertinya Tuan besar dan tuan muda akan segera kembali dalam waktu dekat. Tuan muda juga telah ditunangkan dengan putri Chang Le oleh yang mulia kaisar. Kabarnya pernikahan besar mereka akan terjadi dalam beberapa bulan ke depan di kediaman Jendral. Nona kedua bahkan sudah mulai membantu nyonya mempersiapkan penyambutan dan pesta pernikahan mulai kemarin. "Terang Xier sambil mengingat-ingat.


Berita ini bukan berita yang baru lagi untuk Chu Yao. Di kehidupan nya yang dulu, Chu Zhan dan putri Chang Le memang menikah. Hanya saja saat itu pesta pernikahan mereka digelar langsung di aula istana Kekaisaran. Bukan di kediaman jendral Chu seperti alur kehidupan saat ini.


Setelah cukup menjelaskan situasi, Xier kembali undur diri dan segera menyiapkan pemandian untuk sang majikan.

__ADS_1


Chu Yao yang sudah merasa agak lelah berniat memejamkan mata sesaat sembari menunggu Xier memanggilnya. Untuk saat ini, yang ia butuhkan hanyalah makan, istirahat dan beberapa obat-obatan. Selebihnya akan ia urus ketika kesehatan nya pulih kembali seperti sedia kala.


__ADS_2