
Butiran salju menyelimuti langit malam. Nampak tumpukan dingin itu semakin meninggi di setiap sisi bangunan. Paviliun dingin semakin melukiskan rasa sunyinya saat tertimbun bongkahan es yang jatuh dari cakrawala hitam.
Napas perempuan bermanik bening yang duduk di tepi dipan itu mengeluarkan uap kecil. Sesekali ia menggosokkan kedua tangannya guna mencari kehangatan diujung jemarinya yang mulai membeku kedinginan.
Sesekali iris matanya memperhatikan sosok pria yang masih terbaring tak sadarkan diri di atas tempat tidurnya. Memperbaiki selimut tebal yang membungkus badan pria itu dan mendekatkan penghangat ruangan disekitar dipan.
Pintu kamar terketuk dan Xier muncul dengan sebuah nampan berisi dua mangkuk sup serta semangkuk tonik.
"Kata paman, nona bisa melakukan akupuntur jika pengawal Mo selesai meminum tonik. " Ucap Xier sembari meletakkan mangkuk keatas perapian kecil di atas meja.
"Aku tau. Kau boleh kembali." Balas Chu Yao pendek diiringi kepergian sang pelayan.
Chu Yao berjalan kearah meja dan duduk di salah satu kursi. Pandangannya mengarah pada sup yang dibawa Xier barusan. Jemari lentiknya mengaduk-aduk sup tersebut dengan tatapan kosong.
Alam bawah sadarnya telah kembali pada penjelasan paman Tong beberapa jam yang lalu.
"Racun itu nampaknya muncul akibat pikiran dan fisik nak Mo Yan yang tidak stabil. Seharusnya efek dari racun itu akan muncul lebih dari satu tahun. Saya hanya bisa menekan racun tersebut dengan tonik dan akupuntur."
"Apa tidak ada obat yang bisa menyembuhkan Mo Yan, paman?"
"Entahlah. Pengetahuan saya terbatas. Akan tetapi, dalam kitab medis Kekaisaran ada sebuah tanaman yang bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Kalau tidak salah namanya daun cahaya abadi. Tumbuhan itu merambat di tanah atau benda yang lembab. Hanya berupa daun yang terdiri dari tiga sampai tujuh helai daun, dan uniknya tumbuhan ini akan mengeluarkan cahaya jika terkena langsung dengan darah manusia."
"Hanya saja.. " Paman Tong menjeda dan tanpa sadar menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, "... Tumbuhan ini sangat langka. Sangat sukar ditemukan. Kebanyakan tabib mengatakan jika tumbuhan tersebut hanya sekedar tanaman fantasi yang dikarang seseorang. Tidak sepenuhnya memiliki wujud di dunia nyata."
Chu Yao diam menyimak. Raut wajahnya yang masih pucat membuat orang tua didepannya berinisiatif untuk memeriksanya. Namun Chu Yao tak menggubris. Ia sibuk berpikir.
Dan pada akhirnya, orang tua itu pergi secara diam-diam. Meninggalkan Chu Yao dengan kemelut yang menggumpal dipikirannya.
Sampai dengan beberapa jam kemudian.
Gadis itu tak beranjak dari tempat duduknya semula. Tatapannya seolah mengunci gerak sang pengawal pribadi yang tengah terbaring lemas diatas tempat tidur.
Chu Yao memijat keningnya yang berdenyut.
Perihal pemindahan racun yang dilakukan Mo Yan tanpa sepengetahuannya telah membuat hatinya sakit. Perasaan campur aduk menjadi satu.
Marah? Tentu saja ia ingin marah!
Tapi melakukan pelampiasan hanya suatu hal yang sia-sia. Toh semuanya sudah terjadi dan Mo Yan sekarang terkapar tak sadarkan diri akibat racun jahanam Shu Xian.
Tangan Chu Yao terkepal dan bibirnya terkatup rapat. Kepalanya tertunduk menahan gejolak rasa yang telah membuatnya dilema hingga berkepanjangan.
Mengapa disaat genting, didetik-detik terakhir harus terjadi hal yang diluar dugaan?
Apakah memang begitu berdosa jika dirinya ingin bersama dengan pria yang ia inginkan? Sampai-sampai tak ada jeda sedikitpun dari ujian yang langit berikan.
Mo Yan melenguh pelan. Menandakan puncak kesadarannya telah berada di alam nyata.
Chu Yao beranjak mendekat. Perlahan mata pria itu terbuka.
"Pelan-pelan."
Chu Yao membantu Mo Yan duduk ditempat tidur dan segera mengambil mangkuk sup yang masih hangat.
"Makanlah sup ini dulu sebelum kau meminum tonik pahit itu!"
Mo Yan menurut patuh. Ia mengambil mangkuk sup ditangan Chu Yao dan memakannya tanpa berkomentar apapun.
__ADS_1
Tanpa banyak menunda waktu, Chu Yao kembali menyodorkan tonik kepada Mo Yan. Dan lagi-lagi tonik pahit itu dihabiskan tanpa bantahan sedikitpun.
"Pejamkan matamu! Fokuskan energi internalmu! Aku akan melakukan akupuntur dibeberapa bagian tubuhmu." Jelas Chu Yao sambil mempersiapkan deretan jarum di atas meja.
Ada rasa canggung ketika Mo Yan membuka baju atasnya dan mengatur posisi. Namun perasaan itu seketika menghilang saat Ia melakukan beberapa gerakan meditasi hingga akhirnya duduk tenang dengan seluruh energi internal yang sudah terpusat.
Dengan sigap Chu Yao menancapkan jarum akupuntur satu persatu di tubuh Mo Yan.
Jauh dalam hati, Chu Yao sangat bersyukur telah belajar ilmu akupuntur dari paman Tong. Setidaknya ia bisa menyelamatkan seseorang jika dalam keadaan terdesak.
Akan tetapi, ia tidak pernah menyangka jika ilmu yang ia pelajari itu justru pertama kali ia praktekkan pada orang yang sangat ia sayangi.
Semuanya benar-benar diluar prediksi. Nampaknya Chu Yao terlalu sombong karena menganggap semua hal bisa ia antisipasi. Hanya karena ia telah mengulang kehidupan lantas ia berkepala besar dan lupa daratan.
Jemarinya bergetar melepas jarum-jarum dari tubuh Mo Yan yang penuh lebam dan meletakkannya kembali kedalam tempat penyimpanan jarum akupuntur yang sudah terbuka di atas meja.
Keheningan menguasai keduanya. Hanya terdengar suara bara api yang saling melahap menghangatkan situasi. Serta tetesan salju yang saling bergesek dengan atap hingga menciptakan bunyi khas yang hanya ada di musim dingin.
Chu Yao masih membelakangi Mo Yan. Seolah tidak menganggap keberadaan pria itu di sana. Ia membuka lemari, mengambil sebuah mantel tebal dan memakainya.
Alih-alih terpasang rapi, benda itu justru terjatuh kelantai akibat hentakan tubuh yang tiba-tiba. Chu Yao terbungkuk menahan batuk yang mendadak datang.
Mo Yan dengan refleks bangkit dan menahan tubuh perempuan itu dalam genggaman tangannya.
Kali ini giliran pemuda itu yang tertegun. Iris matanya menangkap wajah pucat yang tersorot cahaya lilin. Bukan sekedar efek pantulan, figur yang rupawan itu sekarang benar-benar dalam kondisi yang hampir menyerupai putihnya kapas.
Kebimbangan hati telah mengalahkan ego sang pengawal pribadi. Akhirnya ia membuka mulut dan bertanya perihal kondisi perempuan itu.
"Apa kau sakit?"
Telapak tangannya yang kasar secara otomatis menempel di kening Chu Yao. Tak ada tanda-tanda demam di sana.
"Aku tidak apa-apa. Kaulah yang seharusnya beristirahat disini.."
Mo Yan menahan saat Chu Yao hendak bangkit. Pemuda itu tak berbicara. Hanya beringsut mengambil selimut tebal dan menutupi tubuh perempuan itu hingga batas leher.
Tanpa berkata-kata, pria itu duduk di tepi dipan. Mengerutkan alis dengan posisi bersedekap.
"Ada apa denganmu? Bukankah seharusnya aku yang marah, mengapa saat ini justru wajahmu yang nampak seperti orang yang sedang naik darah?"
Meskipun merasa bersalah namun Mo Yan tetap membatu. Ia memilih untuk menekan rasa cemasnya dengan membungkam mulut selama mungkin.
Chu Yao tidak tau apa yang dipikirkan Mo Yan. Ia berusaha untuk tidak berselisih dengan pria keras kepala itu.
"Kemarilah! Berbaring di sampingku!" Perintah Chu Yao sekaligus menyibak selimut tebal yang menutupi tubuhnya.
Mo Yan tak mengindahkan perintah. Pemuda berwajah datar itu mendadak canggung dengan instruksi sang majikan yang begitu eksplisit.
"Ada beberapa hal penting yang ingin ku bicarakan secara pribadi denganmu. Dan itu akan menguras energi ku jika harus mendongakkan kepalaku hanya demi memandang wajah tampanmu yang membiru itu. "
Tak ada pilihan, Mo Yan terpaksa mengikuti perintah. Ia mengunci pintu kamar dan segera masuk kedalam selimut yang tersibak.
Kini pemuda itu terbaring telentang dengan kedua tangan di atas rongga abdomennya. Sudut matanya mendapati tangan Chu Yao mengeluarkan sesuatu dibalik sabuk yang ia kenakan.
Perempuan itu menyodorkan sebuah kantong sachet berwarna turquoise dengan sulaman bunga teratai kasar diatasnya.
"Ini... pertama kali aku membuat benda aneh semacam ini. Aku dengar para gadis di ibu kota akan memberikannya pada seseorang yang dianggap berharga di hidupnya.. " Jelas Chu Yao dengan kikuk dan memerah malu.
__ADS_1
"Awalnya aku ingin memberikan ini sebagai balasan atas jepit rambut yang kau berikan tapi nampaknya benda konyol ini sama sekali tidak pantas bersanding dengan keindahan jepit rambut itu. Kalau boleh membuangnya asal tidak terlihat olehku. Aku cukup sadar diri jika hasil sulaman itu seperti cakaran angsa. Astaga ini sungguh memalukan! Lebih baik kembalikan saja!"
Dengan gesit Mo Yan menjauhkan kantong sachet itu dari jangkauan Chu Yao. Senyum lebar menghiasi bibir pria berwajah simetris itu.
"Kau sudah memberikannya padaku berarti benda ini sudah jadi milikku. Sesuatu yang sudah diberikan tidak bisa diambil kembali."
"Itu sungguh jelek."
"Menurutku tidak. Jahitan dan sulaman ini sangat unik. Apa kau membuat kantong sachet lain selain ini?"
Chu Yao menggelengkan kepala.
"Sesuatu bisa dikatakan jelek jika ada perbandingan. Dan perbandingan itu hanya berlaku jika orang tersebutlah yang membuat benda lain sebagai bahan perbandingan. Bukankah kau hanya membuat kantong sachet ini sebagai karya satu-satunya?"
"Tetap saja jelek." Gumam Chu Yao sembari menutup sebagian wajahnya dengan selimut.
Baginya Mo Yan hanya berusaha menghiburnya. Dilihat dari sudut manapun benda itu tetaplah sebuah kantong sachet terjelek yang pernah ia lihat di dua kehidupan.
'Aku menyesal memberikannya pada Mo Yan! Benar-benar memalukan!' Batin Chu Yao.
Lain halnya dengan Mo Yan. Pemuda itu justru nampak senang. Sudut bibirnya yang melengkung keatas telah menggambarkan perasaan bahagia.
Ia bahkan membolak-balik benda itu berkali-kali dengan perasaan puas dan pada akhirnya menyelipkannya ke sisi dalam pakaian yang sedang ia kenakan.
"Terima kasih. Aku sangat menyukai hadiahnya." Tutur Mo Yan di iringi kecupan ringan di kening Chu Yao.
Perempuan itu meringkuk. Membenamkan diri dalam pelukan Mo Yan dengan hati-hati. Ia tidak ingin memar ditubuh pria itu menjadi nyeri ketika bersentuhan dengannya.
Dan nampaknya Mo Yan menyadari perasaan cemas sang gadis. Ia mengelus dan menghirup aroma rambut Chu Yao yang lembut.
"Beristirahatlah. Kau nampak tidak sehat. Besok akan ku panggilkan paman untuk memeriksa kondisimu."
"Tidak perlu. Aku akan baik seperti semula setelah tidur cukup lama."
"Baiklah. Aku akan menemanimu sampai kau membuka mata besok."
Mo Yan berhenti mendebat dan Chu Yao pun tak ingin memperpanjang pembicaraan.
Keduanya memilih untuk memejamkan mata. Berusaha tidur atau lebih tepatnya berpura-pura untuk tidur.
Sebenarnya kedua orang itu saling menyadari bahwa masing-masing memiliki gelagat mencurigakan.
Tak ada yang berani membahas masalah perkelahian hari ini. Bukan karena tidak mengerti, namun justru sangat memahami maksud dari perkelahian tersebut.
Mereka tidak ingin memulai pembicaraan yang pada akhirnya hanya menghasilkan satu kesimpulan. Yaitu perpisahan.
Satu sama lain menyadari semua konsekuensi, bahkan yang terburuk sekalipun, akan terjadi jika mereka tetap bersikeras ingin bersama.
'Setelah semua konflik ini selesai, aku harus segera pulang ke Alorra dan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Aku akan kembali menjemputmu dengan status baru yang tidak akan bisa ditolak oleh Kaisar sekalipun.'
Begitulah suara hati Mo Yan.
Pemuda itu telah mempersiapkan rencananya sendiri dengan penuh perhitungan.
Lain halnya dengan Chu Yao. Gadis itu berperang dalam pikirannya. Ia malah merencanakan rencana baru untuk menjauhkan Mo Yan dari konflik internal yang ia hadapi.
Tidak ada yang tau rencana tersebut selain dirinya sendiri. Dan rencana tersebut pasti akan ia jalankan setelah pernikahan sang adik tiri dilaksanakan.
__ADS_1