Memperbaiki Masa Lalu

Memperbaiki Masa Lalu
Bab 23


__ADS_3

Mo Yan membawa Chu Yao berteduh di sebuah lubang bebatuan yang membentuk terowongan dangkal tepat berada di salah satu sisi tebing.


Ia meletakkan tubuh Chu Yao bersandar sementara di sisi terowongan dan melihat sekeliling dengan seksama. Ada banyak rerumputan kering menyebar di segala arah. Mo Yan segera mengumpulkannya sebanyak mungkin guna sebagai alas tidur sang majikan.


Tak lupa ia mengumpulkan beberapa ranting pohon kering dengan ukuran yang cukup besar. Ia mengambil dua buah batu dan saling menggesekkannya hingga membuat percikan api. Meski perlahan, api tersebut kian membesar dan memberikan efek hangat untuk mereka.


Mo Yan menghampiri Chu Yao dan dengan ragu melepaskan pakaian luar gadis itu. Dengan gerakan lembut, ia membaringkannya dan mengeringkan pakaian basah Chu Yao yang sudah terlepas didekat sumber api.


Ia kembali memandang wajah gadis yang masih pucat itu. Meski sedikit ragu, ia pergi keluar mencari beberapa kayu dengan ukuran besar untuk persediaan kayu bakar mereka malam ini.


Fokus matanya teralih pada beberapa buah liar yang bergelantungan disisi tebing yang curam. Pemuda keras hati itu meletakkan tumpukan kayu dan seketika melompat ke sisi tebing.


Tangannya dengan kuat mencengkram salah satu batu besar di tebing itu dan mengulangi beberapa kali lompatan untuk mengumpulkan buah-buah liar yang barusan dilihatnya.


Namun tanpa sengaja kakinya tergelincir dan salah menapak hingga menyebabkan keseimbangannya oleng beberapa saat. Buah-buah itu terjatuh kebawah dan berserakan di mana-mana. Pun, tubuh pria tangguh itu bergelantungan dengan tangan kanan memegang sebuah batu untuk menumpu bobot tubuhnya.


Ia meringis sesaat ketika menyadari punggungnya telah terluka karena bergesekan dengan batu saat ia hampir terjatuh tadi.


Meski dengan punggung yang terluka, ia kembali mendapatkan keseimbangan dengan meraih batu besar lainnya untuk berpegangan. Dengan perhitungan yang tepat ia melompat menuruni tebing itu tanpa hambatan apapun.


Tanpa menunda waktu ia segera mengumpulkan buah-buahan yang telah terpisah ke berbagai arah dan juga meraih tumpukan kayu yang ia letakkan hanya beberapa jengkal dari kakinya.


Setelah sampai dan meletakkan kayu serta buah ditempatnya, Mo Yan bergegas menghampiri Chu Yao yang terbatuk pelan dan perlahan-lahan membuka matanya.


"Mo Yan.. Kau ternyata sudah menemukan ku.." Ucap Chu Yao diiringi senyum lemah.


Ia merasa sangat lega ketika pertama kali membuka mata dan mendapati wajah yang tidak asing telah berada disampingnya.


Mo Yan tersenyum kelu dan menundukkan wajahnya. Tangannya mengepal kuat seakan berusaha menstabilkan dirinya.


"Saya sedikit terlambat. Tolong hukum saya." Balas Mo Yan dengan penuh rasa penyesalan.


"Hukum? Kau ingin aku menghukum mu?" Chu Yao menghela napas dan kembali berkata dengan pelan, "kau tidak salah, aku yang ceroboh. Dengan mudah masuk perangkap mereka. Bukankah kau bisa segera menemukan keberadaan ku?"


Mo Yan tak bergeming. Ia masih kukuh dengan pendiriannya. Chu Yao sangat memahami perasaan pria itu saat ini. Wujud kekhawatiran dan penyesalan itu memang sempat ia tampakkan beberapa menit yang lalu. Saat Chu Yao membuka matanya untuk pertama kali.


Chu Yao tersenyum dan berkata, "mendekat lah, bisakah kau meletakkan tanganmu di pipiku sekarang?"


Mo Yan terperangah mendengar permintaan Chu Yao. Ia seketika lupa apa yang barusan ia rasakan.


"Kedua tanganku terluka jadi aku tidak bisa menyentuh wajahmu. Aku hanya ingin kita saling memastikan bahwa kita masih hidup. Dan aku sangat bersyukur bahwa kaulah yang lagi-lagi menyelamatkanku. Lupakanlah formalitas, Jadi kumohon ulurkan lah tanganmu."

__ADS_1


Mo Yan berpikir dan ragu-ragu. Meski nalurinya sangat menginginkan hal itu namun sebagai seorang pengawal ia harus bisa mengendalikan dirinya dan tau dimana posisinya.


Chu Yao tak sabar. Ia berusaha bangkit dengan tenaga yang belum sepenuhnya ada. Gerakan nya terlihat begitu payah hingga Mo Yan harus membantunya untuk duduk dengan tegak.


Perempuan itu tidak memaksakan kehendak. Ia justru mengambil inisiatif untuk meraba wajah pria itu dengan tangan kiri nya yang penuh luka.


"Lihatlah, aku tidak bohong jika kedua tanganku sudah terluka." Ucapnya sembari menunjukkan tangan kanan yang juga terluka. Sebenarnya tanpa ia tunjukkan pun sudah pasti Mo Yan menyadari nya sejak awal. Hanya saja cara itulah yang terlintas dipikiran Chu Yao untuk menghibur kegelisahan di hati pria kaku itu.


Mo Yan terkesiap dan dengan refleks menahan tubuh gadis itu dalam pelukan nya ketika hendak terjatuh membentur tanah. Chu Yao memejamkan mata sejenak dan berkata, "seharusnya aku yang meminta maaf karena sering membuatmu bertaruh nyawa."


"Itu sudah menjadi tugas saya." Suara berat Mo Yan menggema di dalam terowongan.



Chu Yao mengulum senyum dan menutup matanya. Ia berpura-pura kembali tidur namun pikiran melesat jauh. Mo Yan memang pria yang memiliki prinsip. Perlakuannya itu benar-benar membuat perasaan Chu Yao naik turun. Meski ia sendiri belum terlalu memahami perasaan apa yang dimilikinya terhadap Mo Yan, namun yang pasti ia sangat bergantung dengan laki-laki itu.


Akan ada rasa yang kurang jika Mo Yan tidak berada disisinya. Ada perasaan takut ketika melihatnya terluka. Perasaan bahagia bisa melakukan hal apapun bersamanya. Dan rasa ngilu ketika pria itu menolak untuk mendekat kearahnya.


Aneh bukan? Tentu saja!


Sudah sewajarnya Mo Yan memberi batas. Baik sebagai bawahan maupun sebagai seorang pria. Itu adalah sikap normal yang berlaku pada norma-norma kehidupan.


Namun, Chu Yao tidak menyukainya. Batas itu seakan-akan memberi tamparan keras padanya. Ia harus sadar diri jika tidak semua laki-laki mempunyai hasrat untuk memilikinya. Dan Mo Yan menjadi salah satu diantaranya.


Chu Yao kembali membuka mata dan melihat Mo Yan telah mengoleskan sedikit obat herba yang sudah di haluskan nya dengan batu ke tangannya. Mo Yan meniup-niup tangan gadis itu agar menciptakan efek dingin dan bisa mengurangi rasa sakit yang Chu Yao rasakan. Tentunya dengan wajah datar yang menjadi ciri khasnya.


Mo Yan melakukan hal yang sama di beberapa luka. Baik bekas ikatan di kaki maupun di dagu Chu Yao yang telah sobek sebelumnya.


Sensasi aneh menjalar di tubuh gadis itu. Ia seketika membuang wajah saat Mo Yan meniup kembali kearah dagunya.


"Ti, tidak perlu di tiup. Sudah tidak sakit lagi." Ucap Chu Yao yang sedang menyembunyikan rasa malunya.


Mo Yan menghentikan tindakannya. Ia tiba-tiba menyadari jika yang ia lakukan merupakan hal yang melanggar kesopanan.


"Maafkan saya sudah bertindak tidak sopan."


Suara dalam milik Mo Yan kembali menyita perhatiannya. Chu Yao sedikit kebingungan untuk menjelaskan bahwa ia sama sekali tidak keberatan.


"Bukan. Aku hanya merasa canggung dan juga.. Sedikit malu." Gumam Chu Yao dengan melempar pandang ke sembarang arah.


Mo Yan tertegun sejenak dan berpura-pura tak mendengar untuk menghilangkan rasa canggungnya. Ia berbalik dan mengambil beberapa buah liar. Wajah datarnya kembali terpasang dengan normal. Ia menyodorkan buah-buah liar tersebut kepada Chu Yao.

__ADS_1


"Terima kasih." Ucap Chu Yao yang memang sudah kelaparan sebelumnya. Dengan gerakan lemah, ia bangun dan menyandarkan tubuhnya di sebuah batu besar.


Fokus Chu Yao teralih ketika pemuda itu membalikkan badan. Ia melihat sebuah sobekan yang cukup besar di punggung laki-laki itu.


"Kau terluka?" Tanya Chu Yao sedikit khawatir.


"Hanya luka kecil." Jawab Mo Yan singkat tanpa menoleh sedikitpun.


Chu Yao menjadi semakin cemas dengan sikap Mo Yan yang menganggap remeh luka tersebut. "Kemarilah! Aku akan membantu mengoleskan herbanya untukmu."


"Tidak nona. Saya bisa melakukannya sendiri."


"Kau! Teruslah membantah, apa kau sudah tidak menganggap aku sebagai tuanmu?" Kegeraman mulai terdengar dalam intonasi bicara perempuan itu.


Mo Yan berdalih dengan perkataan lembut, "saya tidak berani! Tangan nona juga terluka. Biar saya mengobatinya sendiri."


"Baik. Kau bisa melakukan sendiri. Tapi biarkan aku melihatnya. Aku ingin tau apakah tanganmu yang kuat itu bisa menjangkau luka di punggung mu. Akupun ingin melihat seberapa keras kepalanya otakmu. Seberapa jijiknya tubuhmu tersentuh kulitku!" Cerca Chu Yao tanpa jeda kepada pria dingin didepannya.


Mo Yan membalikkan badan, alisnya saling bertaut menandakan rasa penyesalan atas kemarahan majikannya "Bukan begitu nona, hanya saja luka ditangan nona tidak boleh terkena darah lagi."


"Yang terluka adalah telapak tanganku, bukan ujung jariku. Demi Tuhan, kau benar-benar menyebalkan! Kau laki-laki paling keras kepala yang pernah kutemui di seluruh kehidupanku!" Emosi Chu Yao memuncak. Wajah pucat nya menjadi memerah sesaat.


Mo Yan terdiam. Ia sama sekali tidak menyangka amarah Chu Yao akan mudah meledak hanya karena luka yang ia terima. Padahal ketika gadis itu mendapat perundungan di kediaman jendral, ia bahkan selalu menampakkan sikap yang tenang dan terkadang terlihat masa bodoh.


Pria bermuka datar itu tidak ingin menyiram minyak kedalam api. Ia bergegas mengambil sisa herba dan meletakkannya disamping Chu Yao.


"Buka bajumu! Kau bisa masuk angin jika masih mengenakan pakaian basah itu." Kata Chu Yao dengan nada suara yang masih kesal.


Meski ingin menolak namun Mo Yan tak bisa berkutik. Ia tetap menuruti perintah perempuan itu. Ia membalikkan badan dan menyibak rambut panjangnya yang terikat ke depan. Dengan perlahan pakaian luarnya terlepas beserta sebuah kantong sachet dan jepit rambut kristal berwarna merah muda didalam nya. Benda-benda itu tergeletak di atas bebatuan dan cukup menyita perhatian Chu Yao.


Tapi, dalam hitungan detik fokus Chu Yao telah teralih pada hal lain. Tanpa sadar Chu Yao menelan saliva. Ia begitu mengagumi bentuk tubuh pemuda pendiam itu. Otot-otot punggung nya terbentuk begitu sempurna. Seakan mempertegas kekuatan yang milikinya. Wajar saja, tempaan yang telah dilalui Mo Yan tidaklah mudah.


Chu Yao mengambil herba dengan ujung jarinya dengan napas yang tercekat. Ia mengoleskan obat tersebut dengan gerakan lembut di punggung Mo Yan yang terluka.


Laki-laki itu tetap senyap. Tak ada suara apapun yang keluar dari bibirnya. Namun, sentakan samar dari tubuh nya telah mengisyaratkan rasa sakit yang luar biasa.


Demi meringankan rasa perih akibat obat itu, Chu Yao meniup punggung Mo Yan setiap kali selesai mengoleskan herba. Ia menggigit ujung pakaiannya dan membuat sobekan kain yang cukup panjang. Kain itu ia lilitkan ditubuh pemuda itu hingga menutupi keseluruhan luka dipunggung nya.


"Sudah selesai. Apa kau ada terluka di bagian tubuh lainnya?"


Mo Yan berterimakasih dengan santun. Ia menggelengkan kepala ketika sang majikan mempertanyakan luka lainnya. Pria tampan itu bangkit dari tempat duduknya. Hanya sekejap ia telah kembali berpakaian seperti sedia kala.

__ADS_1


Sebenarnya Chu Yao sangat ingin bertanya tentang kantong sachet dan jepit rambut itu namun ia menghormati privasi pengawal pribadinya. Keingintahuannya harus ia kubur dalam-dalam bersama buah liar yang masuk kedalam lambungnya.


__ADS_2