Memperbaiki Masa Lalu

Memperbaiki Masa Lalu
Bab 50


__ADS_3

Kaisar tidak bercanda ketika dia mengubah keputusannya di aula kematian.


Pria paruh baya itu tidak merasa bersalah ketika memberikan tiga pot porselen racun pelebur tulang kepada menteri kehakiman.


Bahkan, dia tidak segan meminta bawahannya itu untuk memastikan bahwa gadis yang berada di dalam penjara bawah tanah tersebut benar-benar telah mati karena racun pelebur tulang miliknya.


“Hamba akan menjalankan perintah yang mulia dengan sebaik-baiknya!”


Menteri kehakiman membungkuk hormat dan undur diri. Hanya selang beberapa langkah saat ia keluar dari kamar pribadi kaisar, gerakannya terhenti. Nampak sosok pangeran ke delapan sedang berjalan dan berpapasan dengannya.


“Di tempat biasa. Temui Lu Jin!” Desis Ye Zuan sambil terus berjalan melewati pria tua yang telah lama mengabdi pada dirinya.


Menteri kehakiman yang tadi membungkukkan badan, kini kembali melanjutkan langkahnya. Seolah-olah tidak pernah mendengar instruksi yang Ye Zuan berikan.


Begitu menghadap kaisar, Ye Zuan memberi salam sesuai etika. Akan tetapi sang Kaisar justru tidak menghiraukannya. Pria tua itu malah membelakangi sang anak dengan tangan terkait ke belakang.


“Awasi cara kerja menteri kehakiman! Pastikan jika dia telah menjalankan perintahku dengan benar. Aku tidak ingin anak itu masih bernapas!” Ucap kaisar dengan intonasi suara yang tegas dan lantang.


Ye Zuan tertegun. Ia tidak menyangka yang mulia kaisar akan tega membunuh Chu Yao, putri kandungnya sendiri. Darah dagingnya. Sama seperti Ye Zuan dan anak-anak kaisar lainnya.


Pemuda itu membatin. Bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Mengapa yang mulia tiba-tiba berubah pikiran? Bukankah di rencana sebelumya, Chu Yao dan istri jenderal Chu akan mereka selamatkan?


Mengapa sekarang justru sebaliknya?


Ye Zuan membuka suara. Ia mencoba memberanikan diri untuk bertanya, “Mengapa ayahanda mengingkari janji dan kesepakatan dengan mendiang jenderal? Ini tidak mencerminkan sifat ayahanda yang jujur dan setia kawan.”


“Tutup mulutmu!” Bentak kaisar saat Ye Zuan mengoreksi tindakannya, “Apa kau tidak mempelajari hukum sebab akibat sehingga dengan mudah memberikan penilaian terhadap keputusan yang aku ambil?!”


“Zuan'er tidak berani!” Jawab Ye Zuan dengan menundukkan kepala.


Kaisar memandang sang anak dengan rasa kesal yang tertahan, “Aku terpaksa harus membunuh mereka semua. Begitu juga dengan anak itu! Jika aku masih bersikeras menyelamatkan nyawanya, maka publik akan bertanya-tanya siapa gadis itu? Dan identitasnya sebagai putri kandungku akan terbongkar!”


“Maksud ayahanda? Apakah ayahanda takut posisi ayah akan lengser begitu saja karena status Chu Yao terkuak?!” Tebak Ye Zuan dengan raut wajah yang tidak percaya.


Kaisar tidak membantah, bahkan malah menambahkan, “Bukan hanya itu! Para pejabat yang menjadi rekan permaisuri telah berjanji akan bersekutu dengan kita jika semua permasalahan ini di babat habis hingga ke akarnya. Kita tidak perlu lagi saling menyerang. Permaisuri sudah ku kirim ke istana mortalitas dan gelarnya di cabut dengan tidak terhormat, perdana menteri dan keluarga Chu pun telah musnah. Takkan ada jejak. Semua bisa di mulai dari awal dan kau akan menggantikan posisi Ye Lang sebagai putra mahkota.”

__ADS_1


Ye Zuan terkejut bak mendapat petir di siang bolong. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa yang mulia kaisar akan berpikiran demikian.


Setelah menghilangkan nyawa orang-orang yang ia sebutkan, sekarang kaisar justru ingin melengserkan Long Ye Lang.


Apakah kaisar mendadak berubah karena desakan situasi?


Atau karena Ye Zuan baru menyadari sifat asli orang tua itu?


Pemuda itu menelan saliva. Kembali bertanya dengan tenang seolah tidak terpengaruh sedikitpun terhadap perkataan yang mulia kaisar.


“Jika demikian, bagaimana dengan pangeran pendamping putri Chang Le? Serta putri bungsu mendiang jenderal Chu yang baru saja menikah? Apakah ayahanda melupakan mereka?”


Kaisar terkekeh mendengar pertanyaan sang anak. Dia berbalik dan menepuk pundak Ye Zuan, “Itu akan menjadi urusanku. Aku sudah merencanakan semuanya dengan perhitungan matang. Kau tidak perlu cemas karenanya.”


Ye Zuan kembali terdiam. Hatinya menduga yang tidak-tidak. Jika intuisinya tidak keliru, mungkin saja nasib kedua anak jenderal Chu akan sama naasnya dengan orang-orang yang meninggal hari ini.


Pemuda flamboyan itu mengerut masam. Membuang firasat buruk yang meliputi hatinya dan menata raut wajahnya agar tidak membuat sang kaisar curiga.


“Sekarang kembalilah! Kabari aku jika anak itu sudah tewas! Kubur dia bersama keluarga Chu tanpa penghormatan sejauh mungkin!”


Ye Zuan tidak memberikan balasan. Ia hanya menundukkan pandangan, membungkuk hormat dan pergi keluar dari ruangan luas yang semakin menyiksa perasaannya.


Di penjara bawah tanah Kekaisaran..


Chu Yao yang telah siuman kembali melakukan perlawanan ketika menteri kehakiman datang bersama para penjaga ke dalam sel nya.


Alih-alih terjadi perkelahian, justru gerakannya begitu mudah di lumpuhkan karena kondisi tubuhnya yang semakin tidak sehat.


Ya, luka-luka akibat penyiksaan yang di terimanya dua hari yang lalu kembali terbuka. Bahkan sekarang semakin bengkak dan meradang hebat.


Nyeri? Sudah sejadinya.


Akan tetapi kesakitan fisik itu tidak sebanding dengan luka batin yang Chu Yao terima. Rasa trauma yang di deritanya menjadi berlipat-lipat.


Ia tidak akan pernah bisa melupakan bagaimana teriakan ketakutan serta jeritan orang-orang yang meminta ampunan. Ia tidak akan pernah bisa melupakan raut wajah orang-orang yang tewas tergantung.


Mata mereka yang menonjol, lidah yang terjulur serta saliva menetes terekam dengan jelas di otak Chu Yao. Begitupun dengan korban eksekusi penggal. Kepala mereka yang terpisah langsung dari badan menyebabkan salju yang putih menjadi merah seketika. Membuat keadaan saat itu begitu menyeramkan.

__ADS_1


Tumpukan salju yang indah berubah menjadi pemandangan yang mengerikan. Hanya sekejap mata. Semua guncangan jiwa itu tidak akan pernah bisa membuat mental Chu Yao kembali normal.


Tidak akan pernah!


“Lepaskan ikatannya!” Perintah menteri kehakiman kepada salah satu penjaga.


“Baik!”


Dengan sigap penjaga tersebut melakukan perintah. Seketika semua rantai besi yang membatasi gerak Chu Yao akhirnya terlepas. Dua orang penjaga lainnya bergerak maju dan mengunci kedua tangan Chu Yao dalam genggaman mereka.


Chu Yao tidak memberi penolakan. Ia hampir tidak mempunyai tenaga lagi untuk melakukan perlawanan. Layaknya anak anjing yang patuh, Chu Yao berpasrah berdiri menyambut orang-orang yang akan menyaksikan proses kematiannya.


Menteri kehakiman bergerak maju ke dalam sel. Wajahnya yang tanpa ekspresi berbanding kontras dengan sorot matanya yang dalam dan gelap. Manik mata mereka saling beradu. Saling meneliti satu sama lain.


Jika perempuan pada umumnya akan ketakutan. Kemudian menjilat sedemikian rupa untuk memohon pengampunan, lain halnya dengan Chu Yao. Gadis itu tidak melakukan apa-apa selain hanya berbicara dengan pandangan intimidasi yang penuh dendam.


“Kau tidak ingin mengatakan sesuatu?” Celetuk menteri kehakiman dengan rasa penasaran yang menggelitik.


Chu Yao diam. Bola matanya bergulir seolah-olah sedang berpikir, “memangnya bisa?”


Menteri kehakiman menaikkan sebelah alis, “Tentu saja. Anggaplah sebagai pesan terakhirmu.” Tangan kanannya menengadah ke belakang. Kemudian di susul sebuah cawan dengan cairan keruh hampir kekuningan mendarat tepat di atasnya.


Chu Yao tersenyum sinis, “Kalau begitu, aku ingin membunuh orang yang menyuruhmu memberikan racun itu padaku!”


Rahang menteri kehakiman mendadak mengeras. Sorot matanya semakin gelap. Perubahan di wajahnya membuat Chu Yao terkekeh pelan, “Bukankah kau berkata aku boleh mengatakan apapun sebagai pesan terakhirku?” Sindir Chu Yao, “Kalian semua memang tidak ada bedanya! Sama-sama pembohong andal. Anjing kekaisaran!”


Menteri kehakiman mencengkram cawan di tangannya. Tanpa memperdulikan perkataan Chu Yao, ia mengatakan, “Pegang dia erat-erat! Yang lainnya, bantu membuka mulutnya!”


Perintah pria itu dilaksanakan oleh para penjaga. Mereka memegang tubuh Chu Yao yang mulai bergerak kasar. Membuka paksa mulutnya kemudian melaksanakan prosesi eksekusi hukuman mati dengan semestinya.


Menteri kehakiman menuangkan racun di cawan yang ia pegang ke dalam mulut perempuan yang masih memberikan penolakan itu tanpa jeda. Chu Yao menahan diri untuk tidak menelan racun tersebut namun tangan besar menteri kehakiman menekan tenggorokan nya hingga laring nya terbuka dengan lebar.


Cawan terlempar dan racun masuk tanpa hambatan. Para penjaga melepaskan tubuh Chu Yao dan membiarkannya terkapar lemah di atas lantai. Sedangkan menteri kehakiman berbalik setelah memberikan beberapa instruksi lanjutan yang tidak terdengar jelas di telinga Chu Yao.


Selang beberapa menit. Setelah Chu Yao menelan racun secara paksa, fokusnya tidak lagi bisa ia pertahankan. Ada rasa sakit yang luar biasa menyerang persendiannya. Merambat lambat hingga mencapai daerah dada. Spontan jemarinya memberikan tekanan. Meremas dengan kuat demi mengurangi rasa sakit yang hebat di jantungnya. Rasa sakit itu begitu tajam seolah menembus jantung dan merobek setiap inci tubuhnya.


Chu Yao terjatuh, meringkuk di lantai, berusaha untuk tidak berteriak kesakitan. Ia bahkan menggigit bibirnya, namun rasa sakit itu tidak kunjung berkurang. Tangannya terkepal. Meremas kuat ke segala tempat dengan rintihan pelan. Napasnya mulai tercekat. Ia melenguh dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah. Sedikit demi sedikit, hingga semakin lama semakin banyak. Membanjiri lantai dan akhirnya membuat perempuan itu menghembuskan napas terakhirnya.

__ADS_1


Ye Zuan yang sejak tadi menyaksikan dari jauh akhirnya berjalan mendekat. Semua orang membuka jalan dengan penghormatan. Tanpa banyak bicara, pria itu meraih jasad Chu Yao dan membawanya pergi dalam gendongan.


__ADS_2