Memperbaiki Masa Lalu

Memperbaiki Masa Lalu
Bab 56


__ADS_3

Kediaman pangeran pendamping, kota Jiang, Airland.


Satu cawan teh yang telah kosong terletak begitu saja di atas meja. Dua orang pria yang sedang duduk menikmati suasana damai sedang berbincang santai di salah satu ruang yang cukup luas.


Pangeran pendamping, Chu Zhan, bergerak dengan posisi tubuh yang berpindah-pindah. Seolah tidak sabar dengan berita yang dibawa oleh adik ipar sekaligus pangeran kedelapan, Long Ye Zuan.


"Tenanglah. Kondisinya masih aman. Dia sekarang berada di Alorra. Fu Bai akan mengabari jika terjadi sesuatu hal yang diluar dugaan." Tutur Ye Zuan sambil mengibaskan kipas kesayangannya.


"Syukurlah." Ucap Chu Zhan tenang, "saya yang tidak bisa bertemu dengannya, paling tidak akan merasa sedikit terhibur jika mendengar kabar baiknya."


"Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan ibukota?"


Ye Zuan menghela napas dengan santai, "apa yang bisa aku katakan, kau pun pasti sudah tau kabar yang sudah merebak. Dampak inflasi sudah terasa di mana-mana."


"Saat ini, Alorra memegang peranan penting diberbagai aspek perdagangan. Entah dendam apa yang menyebabkan mereka menaikkan harga import bahan pangan. Seandainya Airland tidak mengalami krisis berkepanjangan, kita pun tidak perlu harus membeli banyak keperluan negara kepada pihak Alorra."


"Yang mulia putra mahkota pasti bisa mengatasi permasalahan ini." Gumam Chu Zhan sambil menyeruput teh tanpa beban.


Ye Zuan menaikkan sebelah alisnya, "kau mengejekku?"


"Dengar Chu Zhan, meski sekarang aku sudah menggantikan Ye Lang, bukan berarti aku menginginkan status ini. Kau pun sudah tau tujuanku yang sebenarnya seperti apa."


Ye Zuan menahan rasa kesal dengan gelar yang disandangnya saat ini.


Lebih dari tiga tahun sudah pangeran kedelapan itu menjadi putra mahkota Kekaisaran Airland. Banyak hal yang harus ia benahi. Permainan Ye Lang yang tidak sehat telah meninggalkan sisa-sisa kerusakan terhadap sistem pemerintahan.


Bukan hal yang menyenangkan memiliki gelar mulia itu. Bagi sebagian orang mungkin berpikir bahwa status tinggi itu adalah bentuk kasih sayang dan rahmat dari penguasa nomor satu Airland.


Tapi tidak dengan Ye Zuan. Pengangkatan derajatnya itu merupakan cara kaisar mengikatnya. Geraknya tidak sebebas dulu. Bahkan orang-orang yang sudah lama bekerjasama dengannya harus merasakan dampak negatif dari status mulia itu.


Kaisar terus menerus mencurigai orang-orang yang setia bersamanya dan pada akhirnya, orang-orang tersebut harus rela dipindahkan ke tempat yang jauh, seperti yang Chu Zhan alami saat ini.


"Saya tidak bermaksud mengejek, yang mulia." Kekeh Chu Zhan, "Saya malah berharap yang mulia bisa memberikan perubahan yang lebih baik pada sistem Kekaisaran kita.."


"Terlebih lagi, saya sangat menantikan saat-saat dimana yang mulia bisa mengembalikan kehormatan keluarga saya seperti dulu lagi!"


Ye Zuan terdiam mendengar keseriusan yang penuh penekanan dari nada bicara Chu Zhan barusan.


Pemuda itu tau bahwa kakak iparnya itu masih belum menerima perlakuan semena-mena yang mulia kaisar terhadap keluarganya empat tahun yang lalu.


Tentu saja, siapapun yang berada diposisi Chu Zhan pasti tidak akan bisa berdamai dengan masa lalu begitu saja. Rasa sakit hati itu pasti masih ada dan meninggalkan trauma tersendiri untuk pria itu.


"Kau tidak perlu khawatir. Aku akan menepati apa yang telah ku janjikan." Tukas Ye Zuan yang mulai tidak enak hati.


Chu Zhan tersenyum menimpali. Ia pun beralih pada panggilan imut seorang anak laki-laki kecil berusia tiga tahun di balik pintu.


"Kemarilah Xiao Yi! Paman merindukanmu!" Seru Ye Zuan menghampiri keponakannya.


Anak itu, Xiao Yi, memberikan pelukan hangat terhadap sikap Ye Zuan yang bersahabat.


"Oh iya Chu Zhan, ada satu hal yang ingin ku tanyakan padamu." Celetuk Ye Zuan sambil bermain bersama Xiao Yi dalam gendongannya.


Chu Zhan yang masih duduk santai dengan cawan ditangannya, menanggapi singkat, "apa itu?"


"Sebelumnya, apakah Chu Yao pernah mengenal kaisar Alorra?"


"Entahlah, tapi saya rasa tidak. Memangnya kenapa? Apakah Yao'er mendapat kesulitan dari pria itu?" Chu Zhan balik bertanya dengan raut wajah yang heran.


"Bukan begitu, hanya saja Fu Bai menanyakan nya padaku. Sikap Yao Yao jadi sedikit aneh setelah bertemu dengan Xu Xiao Yan."


Chu Zhan mengerutkan alis mendengar ucapan Ye Zuan, "sedekat itukah kau dengan kaisar Alorra?"


"Ck, kenapa aku harus memanggilnya yang mulia, dia tidak di depanku saat ini. Lagi pula usianya juga tidak beda jauh denganku. Sudahlah, kau jawab saja dengan benar."

__ADS_1


"Saya tidak bisa menjawab secara pasti. Setau saya gadis itu tidak mengenal orang-orang Alorra saat masih berada di kediaman Chu. "


Ye Zuan membisu. Entah kenapa jawaban yang diberikan Chu Zhan tidak membuatnya memperkecil dugaan.


Menilik sifat perempuan itu yang suka berpetualang diam-diam, pastilah ia memiliki banyak hal yang tersembunyi dari penglihatan orang lain.


Tidak mengherankan jika Chu Zhan tidak mengetahui sepak terjang gadis itu. Bisa jadi Chu Yao memang mengenal baik penerus takhta Alorra yang terkenal misterius.


Pun dengan para pengawal pribadi Chu Yao. Mo Yan dan A-Wei menghilang begitu saja tanpa jejak. Seolah-olah telah ditelan ke dasar bumi yang paling dalam.


Tidak ada kabar sedikitpun. Masih hidup atau tidak. Jikapun telah tewas, mayat merekapun tak ditemukan dimana-mana. Membuat Ye Zuan berspekulasi. Apakah kepergian mereka memang suatu kesengajaan. Ataukah memang ada hal lain yang menyebabkan mereka harus meninggalkan sang majikan seorang diri.


Jika memang demikian, apakah penyebabnya?


***


Sudah hari ke tiga semenjak Chu Yao ditinggalkan begitu saja didalam kamar oleh Mo Yan.


Pria itu sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda kembali setelah pergi beberapa hari tanpa kabar.


Hingga dengan tiba-tiba di suatu malam, Chu Yao dikejutkan dengan kedatangan A-Wei yang memapah Mo Yan dengan tergopoh-gopoh.


Kedua pria itu berlumuran darah dan terluka di beberapa bagian tubuh.


Buku yang tadinya bertengger di tangan Chu Yao, kini telah terlempar begitu saja. Perempuan itu refleks memegang tubuh Mo Yan ketika A-Wei terjatuh kesakitan.


Dengan gerak cepat, Chu Yao membaringkan Tubuh Mo Yan ke atas dipan. Kemudian kembali melakukan hal yang sama kepada A-Wei.


"Saya bisa mengobati luka saya sendiri. Tolong nona segera mengobati yang mulia saja." Ucap A-Wei ketika Chu Yao merebahkan nya diatas dipan miliknya.


Chu Yao yang sudah mengambil perlengkapan medis di lemari pakaiannya, segera memberikan dua pot obat kepada A-Wei.


"Taburkan obat itu keatas luka-lukamu dan minum pil ini sekaligus. Apa kau mengerti?!" Tukas Chu Yao disertai anggukan paham A-Wei kepadanya.


Pria itu melenguh ketika taburan obat mengenai luka di lengan kanannya. Chu Yao menggigit bibir, seolah merasakan rasa ngilu yang sama.


Manik beningnya menatap dalam keraguan ke wajah tampan yang tak sadarkan diri. Jemarinya yang tak sehalus dulu, kini meremas ujung dipan. Seolah memantapkan hati, ia menyibak kain penutup wajah dengan pelan dan memberikan tiupan kecil ke atas luka yang terbuka itu.


Setelah ritme napas Mo Yan stabil. Chu Yao kembali menutup kain cadarnya dan memeriksa denyut nadi pria itu.


Raut wajahnya mendadak masam. Dengan sekali tarikan, posisi Mo Yan telah berubah. Pria itu terduduk dan Chu Yao bergerak cepat seakan melompat ke atas dipan.


Tepat dibelakang Mo Yan, Chu Yao menotok simpul syaraf di beberapa titik ditubuh pemuda itu.


Chu Yao menarik napas dalam-dalam dan meletakkan salah satu telapak tangannya di punggung Mo Yan dan tangan lainnya di bahu pria itu.


Proses transmisi tenaga internal dilakukan. Cukup lama dan menguras energi hingga Mo Yan memuntahkan darah koagulasi berwarna hitam.


Pria berambut putih keperakan itu terbaring tak sadarkan diri di dada Chu Yao.


"Kau ini, benar-benar masih suka membuatku cemas." Bisik Chu Yao seraya bangkit setelah membaringkan Mo Yan di pembaringan.


Chu Yao berjalan lemah dan lunglai. Wajahnya memucat. Tangannya gemetar mengeluarkan satu pot kecil obat yang berada dibalik sabuk yang ia kenakan.


Obat itu masuk begitu saja dalam tenggorokannya dan beberapa menit kemudian Chu Yao telah menghilang dari kamar itu tanpa jejak sedikitpun.


Keesokan harinya, dua mangkuk besar yang berisi tonik pekat berwarna gelap telah tersedia di atas meja.


Mo Yan yang sudah duduk dengan kesadaran penuh mengerutkan alis ketika mendapati tubuhnya hanya berlapis dengan perban.


Sudut matanya menangkap sesosok perempuan sedang berbicara dengan pengawal pribadinya dibalik sekat.


Meski sebagian wajah perempuan itu tertutup kain pembatas, Mo Yan masih bisa mendapati sisa-sisa kelelahan di sana.

__ADS_1


Wajah perempuan itu nampak pucat. Kelopak mata bagian bawahnya sedikit menghitam. Menandakan ia tidak tidur semalaman.


Ada beberapa bekas memar dibagian telapak tangannya. Yang diyakini Mo Yan sebagai pertanda bahwa gadis itu telah memaksakan kondisinya untuk membuat obat tadi malam.


Mo Yan mengernyit ketika ingin berdiri untuk mengambil baju yang tergantung di tiang penyangga namun suara perempuan itu telah membuatnya kembali diam ditempat.


"Jangan berani kemanapun sebelum kalian menghabiskan tonik itu!"


A-Wei terkesiap dan langsung meneguk habis tonik yang tersedia tanpa bantahan sedikitpun. Sedangkan Mo Yan hanya memandang cawan tersebut dengan ekspresi datar.


"Apakah saya harus meminum tonik itu lebih dulu agar yang mulia yakin bahwa saya tidak meracuninya sama sekali?"


"Kalau begitu lakukanlah!" Tantang Mo Yan dengan wajah dingin.


Chu Yao mengambil tonik tersebut dan tanpa diduga melemparkan sebuah jarum akupuntur tepat di syaraf gerak sang kaisar muda.


Pria itu seketika tidak bisa bergerak.


Tanpa basa-basi, Chu Yao menangkup wajah tampan Mo Yan dan menuangkan tonik tersebut kedalam mulutnya tanpa rasa takut.


Meski merasakan rasa permusuhan dari raut wajah pria itu, Chu Yao tidak ambil pusing. Ia malah mengeluarkan semua jarum akupuntur miliknya dan menancapkannya ke beberapa bagian tubuh Mo Yan.


"Mungkin ini akan terasa sedikit sakit. Bertahanlah!" Ucap Chu Yao sambil memutar jarum akupuntur yang menancap di pergelangan tangan Mo Yan.


Mo Yan terpejam dengan kedua alis yang saling bertaut. Urat-urat leher pria itu menyembul keluar disertai butiran keringat yang mengalir di sisi wajahnya yang rupawan.


Chu Yao tidak sampai hati melihat pria itu kesakitan. Namun ia harus melakukan metode pengobatan ini untuk mencegah racun-racun ditubuh Mo Yan kembali bereaksi.


"Setidaknya sampai Fu Bai menemukan penawar itu, terpaksa yang mulia harus terbiasa dengan rasa sakit dari jarum akupuntur ini." Jelas Chu Yao yang sudah mencabut semua jarum di tubuh sang kaisar.


Mo Yan tidak memberikan respon apapun. Ia hanya menatap telapak tangannya dan merasakan perbedaan yang cukup signifikan diseluruh bagian tubuhnya.


"Apa tidak ada cara lain?" Tanya A-Wei yang sudah berdiri tegak dengan pakaian lengkap disamping Chu Yao.


"Ada." Jawab Chu Yao dengan lirikan mata yang tajam, "jangan berkelahi lagi!"


"Jangan terluka lagi! Jangan menggunakan energi internal lagi! Jangan terprovokasi! Pokoknya jangan merangsang racun itu kembali!"


Setelah memberikan jawaban panjang yang terdengar sedikit sarkas, Chu Yao pun pergi menjauhi kedua pria itu tanpa memperdulikan tata krama yang berlaku.


"Apa cuma perasaan saya saja, nona Fu sepertinya sedang marah." Gumam A-Wei dengan garukan di kepala.


Mo Yan acuh tak acuh dengan perkataan A-Wei. Ia memakai baju sebebasnya dan membiarkan otot-otot perutnya terbuka. Dengan tenang, ia berjalan ketengah ruangan. Membuat Chu Yao yang sedang membaca buku tidak bisa fokus dengan benar.


"Kembali ketempat tidurmu!" Ucap Mo Yan dengan sorot mata yang dalam dan tajam.


Chu Yao memandang Mo Yan dengan perasaan heran. Alih-alih mendebat, ia justru mengikuti instruksi pria itu dengan patuh. Ia berjalan begitu saja melewati Mo Yan sambil sedikit menggeliat dan menguap.


"Jaga dia, jangan biarkan lukanya kembali terbuka." Chu Yao menepuk pundak A-Wei dan merebahkan diri keatas pembaringan. Hanya dalam beberapa menit, perempuan itu tertidur dengan tempo napas yang teratur.


"A-Wei!"


A-Wei segera mendekat ketika sang majikan menyebut namanya, "Ya, tuan."


"Berikan surat ini pada perdana menteri." Perintah Mo Yan seraya menyodorkan selembar kertas kepada pengawal pribadinya.


"Katakan padanya, jika ada yang tidak setuju, bunuh ditempat!"


A-Wei mengangguk paham kemudian membalikkan badan.


"Tunggu," Cegat Mo Yan, "aku tidak ingin diganggu siapapun sampai besok siang!"


A-Wei menundukkan badan, "baik, saya akan memerintahkan para penjaga untuk berjaga diluar paviliun dan mengantarkan makanan hanya didepan pintu kamar."

__ADS_1


Pengawal pribadi itu pun menghilang dengan sekali lompatan kearah taman.


__ADS_2