
Fu Bai menarik napas panjang dan dalam. Ia mencari posisi yang tepat untuk memberitahukan keadaan Chu Yao yang sebenarnya kepada penguasa Alorra didepannya.
Ia pun menceritakan bagaimana cara perempuan itu selamat dari hukuman mati kaisar Airland, "Semuanya atas rencana pangeran kedelapan," Ucap Fu Bai.
"Ye Zuan meminta saya membuat racun yang menyerupai racun pelebur tulang milik kaisar. Kami menukar racun tersebut ketika di penjara bawah tanah. Efeknya tidak mematikan seperti racun aslinya, jika di berikan penawar diwaktu yang tepat."
"Jadi Ye Zuan yang menyelamatkannya. " Gumam Mo Yan dengan remasan lembut di telapak tangan Chu Yao.
Fu Bai membenarkan, "pangeran kedelapan jugalah yang menyuruh saya membawa pergi nona Chu sejauh mungkin. Kami selalu berpindah-pindah dengan indentitas yang berbeda untuk menghindari kecurigaan. Di tahun ketiga, ketika situasi lebih tenang dan kondusif, barulah kami mulai jarang berkelana. Kami mulai sering menetap di satu tempat dengan identitas yang sama. Hingga saat ini."
"Pantas saja aku begitu sukar menemukannya." Balas Mo Yan dengan senyum kelu.
"Saya tidak begitu tau hal apa saja yang telah membuatnya menumpuk trauma yang begitu dalam hingga menyebabkan tubuhnya menimbulkan reaksi seperti itu.." Tutur Fu Bai kembali menatap adik angkatnya yang masih tidak sadarkan diri.
".. Hanya saja, penyakit itu selalu muncul jika dipicu oleh beberapa hal, salah satunya darah."
"Darah?" Ulang Mo Yan yang masih tidak begitu mengerti dengan penuturan Fu Bai.
"Tidak sepenuhnya darah, ada beberapa momen dimana darah atau bentuk penindasan yang terjadi didepan matanya akan memanggil kembali kenangan buruk yang tertanam dalam alam bawah sadarnya, dan itu akan memicu gejolak emosi yang tidak tentu." Jawab Fu Bai.
Ia kembali menjelaskan, "Respon tubuh nona Chu Yao yang tidak spesifik pada setiap kebutuhan tubuhnya, telah terganggu oleh fenomena aneh yang terjadi pada keadaan tertentu dan juga tidak dapat dihindarinya. Itulah yang menyebabkannya berubah total dan tidak terkendali.. "
"Jangan-jangan pertarungan kami dengan Long Ye Lang tadi telah memicu penyakitnya?" Tebak Mo Yang dengan alis yang saling bertaut.
Fu Bai mengangguk sebagai persetujuan. "Semua gangguan kesehatan pada fisik nona Chu Yao terdahulu sudah mengalami perkembangan yang signifikan hingga mengganggu psikisnya sehingga membuat trauma psikologis tersendiri."
Mo Yan mengepalkan tangan dan mengeraskan rahang. Raut wajahnya begitu buruk dalam kesenyapan. Ia menyerap kata demi kata yang Fu Bai tuturkan dengan rasa sakit di dadanya.
"Ini bukan kali pertama perempuan ini kolaps." Tambah Fu Bai sambil mengambil tonik yang sudah dibawa Fu Rong.
Tatapan Mo Yan teralih. Ia melemparkan pertanyaan dengan memandang iris abu Fu Bai serta merta.
Fu Bai tersenyum kecut, "Dia sudah beberapa kali seperti ini di awal tahun pelarian kami.."
"Yang mulia tidak perlu khawatir, kakak Hua sudah berada di fase reaksi kelelahan. Dia akan segera sadar." Timpal Fu Rong sembari merapikan peralatan medis yang tadi mereka gunakan.
Mo Yan melirik gadis kecil itu kemudian kembali pada Fu Bai yang memeriksa denyut nadinya.
Fu Bai memberikan tonik kepada Mo Yan dan kembali berkata, "ada tiga tahapan yang akan dilewati nona Chu jika dalam kondisi yang tidak stabil.."
"..Pertama dia akan masuk dalam fase reaksi. Tubuhnya akan membuat pertahanan terhadap stressor yang mengancam. Ia akan menggerakkan tubuhnya untuk bersiap menghadapi tantangan. Tubuh bereaksi dengan respon komplek dan terintegrasi yang melibatkan aktivasi sistem saraf simpatis, yang meningkatkan stimulasi tubuh dan memicu pelepasan hormone stress oleh sistem endokrin. Perubahan kondisi tubuh karena stress yang berhubungan dengan reaksi waspada.. "
"Begitu stressor hilang tubuhnya akan kembali normal. Apabila stressor berlangsung dalam jangka lama, maka tubuhnya akan masuk periode tahap reaksi resistensi atau tahap adaptasi. Pelepasan hormon stress terus berada pada tingkat yang tinggi, namun tidak setinggi reaksi waspada. Pada tahap ini tubuhnya mencoba memperbaharui energi yang telah digunakan untuk memperbaiki kerusakan.."
Fu Bai menjeda sesaat dan kembali berucap, "Apabila stress masih berlanjut, maka tubuh masuk pada tahap berikutnya yaitu tahap reaksi kelelahan. Dan di fase inilah nona Chu sekarang berada."
"Hanya saja kita tak tau kapan pastinya dia akan membuka mata." Papar Fu Bai dengan sedikit hentakan napas.
Menghadapi kata-kata Fu Bai, Mo Yan tidak bisa berbicara untuk waktu yang lama. Dia hanya menatap Chu Yao dengan pandangan kompleks.
Fu Bai memberikan beberapa kertas yang dibawa Fu Rong kepada Mo Yan.
"Itu surat-surat yang Ye Zuan tulis atas balasan dari surat-surat saya terdahulu. Di sana ada beberapa informasi penting yang harus yang mulia tau."
Fu Bai membungkuk dan mengucapkan salam sebelum beranjak pergi dari ruangan itu bersama Fu Rong.
Mo Yan memfokuskan semua inderanya. Membaca satu per satu kata yang tertulis di lembaran kertas itu. Menenggelamkan semua pikirannya semata untuk mencerna setiap informasi yang diberikan Ye Zuan didalamnya.
Dengan sekali remasan kasar, lembaran kertas itu telah berubah menjadi bentuk-bentuk yang tidak konsisten di telapak tangan Mo Yan yang besar.
__ADS_1
"A-Wei," Panggil Mo Yan di tengah ruangan yang kosong, "sampaikan perintahku pada perdana menteri untuk mengumpulkan semua jajaran pejabat pemerintahan sekarang juga di istana!"
"Baik, tuan!" Balas A-Wei tanpa memunculkan diri didepan majikannya.
"Dan jangan lupa, pisahkan kepala dan tubuh Long Ye Lang. Awetkan. Simpan kepalanya ditempat lain dan taruh tubuhnya dalam peti mati. Kirimkan peti mati itu beserta suratku!"
"Siap!"
A-Wei menghilang tanpa jejak. Mo Yan berjalan kearah meja dan menuliskan beberapa surat dengan penuh keseriusan.
Ia melipat dan membungkusnya sedemikian rupa kemudian memasukkannya kedalam batang bambu berukuran kecil.
Mo Yan bersiul dan beberapa saat muncullah seekor elang hitam di langit taman. Elang tersebut mendarat tepat di lengan pemuda itu begitu Mo Yan memanggilnya.
Mo Yan mengelus bulu lembut hewan itu kemudian memberikan sepotong daging kedalam paruh nya.
"Antarkan surat ini padanya!" Bisik Mo Yan yang mengikatkan batang bambu di kaki burung pemakan daging itu.
Dengan sekali tepukan, elang hitam itupun kembali terbang meninggalkan raut wajah dingin yang menatapnya dari kejauhan.
Mo Yan menarik jubah dan pedangnya. Ia mengecup kening wanitanya dan memperbaiki selimut yang menutupi tubuh rapuh itu.
"Tunggu aku.. Aku akan segera kembali.." Bisiknya dengan sorot mata yang tidak bisa diartikan.
Pemuda itu pun pergi setelah memerintahkan semua penjaga dan para pelayan yang berada di luar kamar untuk mengawasi seluruh paviliun pribadinya.
"Panggil tabib Fu untuk berjaga didalam kamar! Patuhi apa yang dia perintahkan selagi aku tidak ada! Pastikan kalian mengabari ku jika nona Fu sudah sadar!" Perintah Mo Yan pada seluruh prajurit bayangan yang berjaga disekitar paviliun pribadinya.
Para prajurit bayangan itu menjawab patuh dengan serempak.
Mo Yan melompat keatas kuda yang sudah disiapkan A-Wei sejak awal. Ia pun memacu kendaraannya yang diiringi beberapa prajurit bayangan lainnya dibelakangnya.
Pintu gerbang terbuka dan dalam sekejap rombongan manusia pemburu itu pun hilang dalam kepulan debu jalanan.
"Apa yang kau pikirkan? Kau menyembunyikan sesuatu dariku?" Ucap Chu Yao yang membuyarkan lamunan Mo Yan pada kilasan dua minggu yang lalu.
Mo Yan tersentak namun wajahnya tetap tak menunjukkan ekspresi apapun, "tidak ada. Kau tidak perlu curiga seperti itu."
Chu Yao mendelik tak percaya, alih-alih menggerutu ia hanya membuang wajah dengan malas. Ia menarik tangan Mo Yan dan membiarkan pria itu menatapnya dari belakang.
Mereka berjalan keluar paviliun. Melewati para penjaga dan prajurit yang selalu menunduk hormat ketika berpapasan dengan mereka.
Sesekali beberapa prajurit yang tidak tahan, mencuri pandang kepada Chu Yao yang tak lagi mengenakan cadar. Mo Yan mengernyit kemudian berdeham berkali-kali hanya untuk menguraikan fokus para bawahannya yang tidak terlihat sopan itu.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Chu Yao ketika Mo Yan menutupi wajah perempuan itu dengan lengan bajunya yang cukup besar.
Mo Yan membuang muka, "ada yang silau."
"Hah?"
"Lupakan." Ucap Mo Yan yang menyematkan jemarinya di jari-jari Chu Yao yang ramping.
"Ada sesuatu yang ingin ku sampaikan padamu."
"..."
"Menikahlah denganku dalam satu minggu ini."
Angin berhembus lembut membelai kekakuan di wajah Chu Yao yang hampir membatu. Ia terdiam untuk waktu yang cukup lama hanya untuk mencerna perkataan yang diucapkan pria bernetra hitam itu.
__ADS_1
Mo Yan mengeratkan genggaman tangan dan menyibak anak rambut Chu Yao yang tengah tertiup sapuan angin. Membuat sosok rupawan itu semakin cantik dibawah terpaan sinar matahari pagi.
"Aku tidak bisa menundanya. Sebentar lagi aku akan pergi untuk waktu yang cukup lama. Aku tidak bisa meninggalkanmu tanpa status yang tidak jelas. Setidaknya jika kita menikah, aku akan merasa tenang menempatkan mu disini dengan penjagaan dan fasilitas yang lengkap." Tambah Mo Yan dengan senyum tipisnya.
"Kau mau kemana? Aku akan menemanimu."
Mo Yan kembali tersenyum dan menatapnya, "aku akan pergi berperang."
Iris mata Chu Yao seketika melebar, "berperang?"
Mo Yan menganggukkan kepalanya dan berbisik pelan, "melawan Airland."
Chu Yao mengangkat kepalanya untuk menatap Mo Yan dan sosok pria tampan itu tercermin dengan jelas dalam mata cinnamon nya yang bening.
Di tatap seperti itu membuat Mo Yan sedikit menyesali keterusterangannya.
"Jangan cemas. Semua akan baik-baik saja." Tidak ada yang baik-baik saja dalam urusan peperangan. Chu Yao sangat tau hal itu.
Mo Yan yang menyadari kegelisahan wanitanya itu memberikan sentilan kecil diujung hidung Chu Yao yang mungil, "maka dari itu menikahlah secepatnya denganku. Setidaknya aku akan lebih bersemangat untuk kembali karena ada istri yang cantik sedang menunggu kepulanganku."
Mo Yan bermaksud menghibur namun justru perkataan itu menjadi bumerang untuknya.
"Aku tidak mau menunggu! Aku akan ikut bersamamu!" Tolak Chu Yao tanpa tedeng aling-aling.
"Chu Yao.. Medan perang tidak sama seperti perkelahian yang biasa kita berdua hadapi. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu jika kau sampai ikut ketempat berdarah semacam itu." Bujuk Mo Yan dengan elusan lembut di kepala perempuan itu.
"Apa kau meragukan kemampuanku?" Tukas Chu Yao dengan napas yang tertahan, "aku bisa menyelamatkan diriku sendiri. Aku takkan menjadi beban untuk kalian di sana."
Sebelum Mo Yan menyela ucapannya, ia kembali menambahkan, "jika kau takut sesuatu yang buruk terjadi padaku, apakah kau pernah berpikir bagaimana perasaanku yang diam menunggumu disini? Apa kau pikir aku tidak takut dengan hal yang kau pikirkan itu?
Chu Yao menarik baju Mo Yan dan mencengkram nya dengan kuat, "jika kau memiliki dendam dengan mereka, aku pun sama. Keinginanmu untuk melenyapkan orang tua itu tidak kalah besarnya dengan ambisiku. Maka dari itu, ajaklah aku bersamamu!"
Menyaksikan keteguhan dan keras kepala Chu Yao yang tidak berkesudahan, akhirnya Mo Yan menganggukkan kepala.
"Baiklah, kau boleh ikut bersamaku tapi harus menikah lebih dulu denganku. Aku tidak akan melakukan tawar-menawar lagi denganmu perihal penting ini." Tegas Mo Yan.
"Tapi.."
"Kau menolak? Apa kau hanya bermain-main selama ini denganku?"
"Bukan!" Kilah Chu Yao sambil menggigit bibir bawahnya tanpa sadar, "aku merasa ini tidak pantas. Bagaimanapun aku adalah putri dari pembunuh keluargamu. Statusku sekarang ini pun tidak jelas. Tidak akan mudah untuk mewujudkan pernikahan ini. Sebaiknya kau berpikir lagi."
Mo Yan merengkuh tubuh wanitanya dengan cepat. Ia mencoba menenangkan kegundahan hati yang Chu Yao miliki, "jangan memikirkan itu! Semua itu adalah tanggung jawabku. Kau cukup mau menikah denganku, hanya itu!"
"Aku.."
"Berhentilah berpikir berlebihan. Pernikahan ini hanya pernikahan sederhana. Aku akan mengadakan seluruh prosesinya disini. Dengan para undangan yang kita kenal. Kau tak perlu takut!"
Mo Yan menatap tegas Iris mata Chu Yao, ia bahkan meletakkan kedua tangannya di tulang humerus perempuan itu sebagai bentuk kepastian.
"Aku takkan mengulangi ini untuk kedua kalinya. Jadi, tolong dengarkan baik-baik.." Pinta Mo Yan dengan penuh keseriusan, ".. Apakah kau mau menikah dengan ku beberapa hari ke depan?"
Chu Yao berpikir Mo Yan sudah tidak waras. Memintanya menikah, yang menurut Chu Yao dengan sedikit paksaan.
Tak ada salahnya mengikuti alur yang Mo Yan inginkan. Asal dia bisa menemani prianya ke medan pertempuran. Perihal selanjutnya, jikalau sampai terjadi penolakan terhadap statusnya, ia tidak akan mempersulit orang yang ia cintai. Chu Yao akan tegar pergi tanpa paksaan sedikitpun.
Chu Yao tersenyum. Ia menarik baju pria itu dan mengecup ringan bibir Mo Yan yang sedikit terbuka.
"Aku mau."
__ADS_1