
Bunyi petasan menggelegar, memekakkan telinga dengan disertai riuh rendah suara terompet yang saling bersahutan membuat suasana jalan raya begitu semarak.
Para warga saling menyelip ditepi jalan. Mereka begitu antusias menyaksikan parade iring-iringan pengantin wanita yang hari ini akan memasuki kediaman Zhao yang terkenal.
Chu Ling tidak bisa menghentikan senyum bahagianya dibalik cadar pengantin yang membungkus seluruh wajah cantiknya.
Dengan sikap dan tata krama yang baik, ia menuruni kereta dan berjalan melewati pintu gerbang kediaman Zhao yang cukup besar.
Dari jauh nampak calon pengantin pria dengan wajah datar yang berdiri menyambut kedatangannya beserta tamu undangan yang hampir membludak di aula pesta yang luas.
Chu Ling tidak perduli, apakah Zhao Ming De masih tidak menaruh hati padanya. Selama ia menjadi istri sah pemuda itu, ia akan membuat sang suami tergila-gila padanya. Ia yakin suatu saat nanti pemuda penuh karisma itu akan luluh dan jatuh cinta kepadanya.
Ritual pernikahan berjalan sebagaimana mestinya. Suasana sakral itu semakin bermakna ketika dekret kaisar dibacakan dengan lantang oleh utusan Kekaisaran.
Tidak ada yang bisa membantah. Pernikahan Zhao Ming De dan Chu Ling resmi dengan dukungan kaisar.
Zhao Lin Lin memandu sang kakak ipar untuk masuk kedalam kamar setelah prosesi selesai. Menunggu dengan sabar sang pengantin pria yang masih menemani para tamu undangan yang menikmati pesta. Para tamu itu datang silih berganti seolah tak kunjung berkurang.
Lin Lin tau, bahkan sangat tau bahwa kakak laki-laki nya tertekan. Tak ada yang rela pernikahan itu di lakukan. Namun semuanya tak memiliki pilihan untuk menolak.
Semua orang mungkin mengira tuan muda Zhao itu bahagia. Pria itu tertawa dan terus meneguk anggur disetiap kesempatan.
Sepanjang hari hingga menjelang malam. Hingga membuat kedua pipi tirusnya memerah karena pengaruh alkohol.
"Kak.. Berhentilah minum.. Kau sudah mulai mabuk. " Cegah Lin Lin saat semua tamu sudah tidak terlihat.
Zhao Ming De menepis tangan sang adik yang membantunya berdiri dengan stabil.
"Aku tidak akan berhenti sampai aku benar-benar mabuk dan tidur disini." Jawab Zhao Ming De yang mengisi kembali cawan yang telah kosong dengan anggur yang baru.
"Apakah kakak berniat membiarkan kakak ipar tidur sendirian malam ini?"
"DIA BUKAN KAKAK IPARMU!" Bentak Zhao Ming De dengan gebrakan di atas meja, "Dia hanya istri sementara! Jangan pernah menganggap posisinya sebagai kakak iparmu yang sebenarnya! Apa kau faham?!"
Mau tidak mau Zhao Lin Lin mengiyakan. Ia cukup kaget dengan nada bicara sang kakak yang tidak biasa.
Seumur hidup ia tak pernah diperlakukan kasar oleh kakak laki-laki nya itu. Dan malam ini, sikap emosional Zhao Ming De telah membuatnya bergetar ketakutan.
Zhao Ming De frustasi. Hatinya menolak status baru yang ia sandang saat ini. Ia seorang pria beristri. Namun masih mengharapkan perempuan lain disisinya.
Sungguh rantai kehidupan yang ironis.
Zhao Ming De melempar cawan yang berisi anggur ke sembarang tempat hingga pecah. Ia lunglai, duduk meringsut dengan rambut acak-acakan.
Dari kejauhan suara beberapa orang telah menyita perhatian. Kedua bersaudara itu saling bertukar pandang sembari kembali menajamkan telinga.
Mereka tidak salah dengar. Suara tuan besar Zhao mendominasi pembicaraan. Tidak begitu jelas terdengar. Hingga perlahan kericuhan itu menghilang.
"Apa yang terjadi ayah?" Tanya Lin Lin ketika tuan besar Zhao berjalan tergesa-gesa menghampiri mereka.
"Jenderal Chu ditangkap! Semua keluarganya dibawa ke penjara Kekaisaran! Mereka dituduh memberontak!" Ucap Zhao Fu Jun dengan wajah bingung dan kesal.
Zhao Ming De dan Lin Lin terperanjat kaget. Seolah tak percaya dengan apa yang mereka dengar barusan.
"Kapan itu terjadi?" Tanya Zhao Ming De yang pikirannya otomatis mengarah pada sosok gadis yang ia cintai.
__ADS_1
"Hari ini. Selepas kepergian kereta pengantin. Putra mahkota membawa banyak prajurit untuk mengepung kediaman Chu. "
"Bagaimana keadaan mereka, ayah?"
"Apalagi yang harus dipertanyakan, bukankah keadaannya sama seperti para tawanan pemberontak lainnya!" Balas tuan besar Zhao dengan kesabaran diambang batas.
"Jangan pernah berpikir untuk melakukan hal-hal konyol! Kau ataupun aku tak punya kekuasan untuk membebaskan mereka dari penjara itu! Apalagi tuduhan yang mereka terima begitu berat! Benar tidaknya, sebuah pemberontakan bukan permasalahan hukum yang bisa dianggap ringan! Salah langkah kepala kitapun akan melayang!"
Zhao Fu Jun memberi nasihat panjang lebar ketika menyadari sang putra kesayangan hendak berjalan keluar kediaman.
"Tapi ayah, Chu Yao disana.. "
"Berhentilah mengejar perempuan itu! Kau harus sadar kalau saat ini kau sudah beristri, Ming De!"
"Tapi.. "
"Jangan membuatku berkata untuk kedua kalinya! Apa kau ingin menyeret keluarga kita ke tiang eksekusi Kekaisaran?! Sudah cukup ketakutan yang ayah rasakan karena pernikahan ini? Apakah kau lupa jika istrimu itu sebelumnya bermarga Chu?!"
Zhao Ming De tertegun. Tangannya otomatis terkepal. Ia hampir lupa tentang Chu Ling.
"Sebaiknya kau masuk kekamar pengantinmu! Jangan berpikir untuk pergi dari tempat itu satu langkahpun! Aku akan meminta seluruh pelayan untuk menjaga semua sisi kediaman agar kau tidak bisa kabur kemanapun!"
Tidak perduli bagaimana respon yang diberikan Zhao Ming De, tuan besar Zhao melangkah pergi setelah puas memberikan ancaman kepada putra kandungnya itu.
Zhao Lin Lin pun tak bergeming. Ia perlahan meninggalkan sang kakak untuk kembali kedalam kamar pribadinya.
Kedua alis Zhao Ming De mengkerut. Raut wajahnya begitu kusut. Ia kembali meneguk anggur. Kali ini langsung dari teko poselen yang cukup besar.
Dengan langkah yang tidak stabil ia kembali kedalam kamar pengantin. Menemui Chu Ling yang telah bersiap menyambut kedatangannya dengan sikap lembut dan hangat.
Aroma anggur yang cukup kuat telah menyengat cuping hidungnya dibalik cadar merah yang ia kenakan.
Zhao Ming De mabuk!
Chu Ling menyadari hal itu. Tapi ia acuh tak acuh. Perempuan itu tetap setia menunggu untuk dibukakan cadarnya oleh sang pria yang selalu ia idam-idamkan.
Namun na'asnya keinginan itu bertolak belakang dengan kenyataan.
Zhao Ming De justru tidak menyentuhnya. Bahkan seujung kainpun. Seolah-olah menyesali pernikahan yang telah mereka lakukan.
"Kau! Meski seluruh dunia mengatakan bahwa kau istriku, namun kau tetap bukan siapa-siapanya aku! Perasaanku tidak akan pernah berubah! Aku tetap mencintai Chu Yao! Sampai kapanpun hanya dia! Bukan dirimu!"
Chu Ling menggigit bibir menahan rasa sakit akibat ucapan Zhao Ming De. Perempuan itu berusaha sabar, menganggap semua perkataan itu hanya pengaruh buruk dari anggur yang telah pria itu minum.
Namun Zhao Ming De semakin meracau, "Kau disini berbahagia. Sedangkan dia disana menderita. Apa kau tau dibalik pesta megahmu, mereka semua sengsara! Mereka terluka! Bahkan nyawa mereka dalam bahaya!"
"Apa yang kakak Ming De bicarakan? Sebaiknya kakak beristirahat sekarang juga. Kakak sudah mabuk berat. " Balas Chu Ling yang memang tidak mengerti apa yang dimaksud oleh sang suami.
"Jangan sentuh!" Tolak Zhao Ming De ketika Chu Ling berniat membantunya berbaring diatas tempat tidur.
"Aku akan tidur disana! Kau, jangan pernah berharap untuk tidur bersama denganku!"
Pria itu berjalan sempoyongan dan berbaring tepat di atas kursi panjang yang berada cukup jauh dari tempat tidur.
Dalam sekejap tuan muda Zhao itu tertidur dan mengigau. Ia menyebut nama Chu Yao berkali-kali hingga membuat Chu Ling tidak bisa tidur dengan nyenyak.
__ADS_1
Esok paginya, salju kembali turun dengan cukup lebat. Namun rasa dinginnya tidak bisa mengalahkan perlakuan dingin yang Zhao Ming De terapkan kepada Chu Ling.
Meski Chu Ling tau pria itu berlaku kasar tadi malam, akan tetapi ia sama sekali tidak menyangka hal yang sama akan terulang.
"Kenapa kakak Ming De bersusah payah seperti ini? Bukankah yang saat ini yang menjadi istrimu itu aku? Akulah yang kelak akan terus berada di sisimu. Mengapa perempuan lain yang justru kau inginkan?"
Zhao Ming De meletakkan sup pereda mabuk yang disuguhkan pelayan pribadinya diatas meja.
Perkataan Chu Ling barusan telah membuat nafsu makannya menghilang seketika. Sakit kepala akibat anggur yang hampir menghilang tiba-tiba kembali berdenyut. Seirama dengan emosi yang perlahan naik dalam dirinya.
"Chu Yao itu bukan perempuan baik-baik. Ia tidak perduli dengan reputasi. Ia tidak malu kesana kemari bersama dengan pengawal pribadinya. Semua orang pun tau hubungan mereka tidak biasa. Sikapnya tidak mencerminkan keanggunan seorang perempuan bangsawan yang berpendidikan!"
Ketajaman mata Zhao Ming De yang menyoroti Chu Ling seolah-olah sedang menguliti dirinya. Alih-alih memberang, pria itu justru bangkit dengan sisa kesadaran dan berjalan keluar kamar tanpa memperdulikan rengekan sang istri.
Namun, langkahnya tercegat ketika Lin Lin tiba didepan kamar dengan napas yang terputus-putus.
"Ada apa, Lin Lin?" Tanya Zhao Ming De seraya menenangkan sang adik yang nampak kalut.
Lin Lin menarik napas, "Mereka.. Tidak, maksudku.. Keputusan kaisar akan mengeksekusi mati keluarga Chu dalam dua hari kedepan!"
Chu Ling tertegun. Seakan-akan tidak memahami apa yang telah ia dengar.
Zhao Ming De mengcengkram tulang humerus adik satu-satunya, "Tidak mungkin! Baru kemarin mereka digiring ke penjara Kekaisaran. Mengapa begitu cepat keputusan yang diambil Yang mulia kaisar? Apa kau tidak salah dengar?"
"Tidak kak! Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan ayah dengan seseorang saat melewati aula perjamuan. Nampaknya rumor penangkapan itu sudah menyebar pesat keseluruh kota."
Chu Ling menyeruak diantara kakak beradik itu, "Apa maksudmu dengan penangkapan dan hukuman eksekusi mati keluarga Chu? Apakah yang kau maksud adalah keluargaku?"
Lin Lin terdiam. Iris matanya beralih kepada sosok laki-laki didepannya. Seolah-olah meminta penjelasan terhadap sikap sang kakak yang nampaknya belum memberitahukan fakta tentang keluarga sang istri yang sebenar-benarnya.
"Kakak Ming De, apa maksud adik Lin Lin barusan? Tidak mungkinkan Kekaisaran menangkap ayah dan orang-orang di kediaman Chu? Kemarin semua baik-baik saja. Aku bersumpah!"
"Lagi pula ayah telah mengabdi dengan setia kepada kaisar. Jasa ayah begitu banyak. Tidak mungkin mereka.... Tidak! Pasti keluarga Chu lain yang kalian maksud.."
"Apa kau pikir keluarga Chu begitu banyak di ibu kota?!" Hardik Zhao Ming De, "apa yang dikatakan Lin Lin benar adanya! Keluargamu akan dihukum mati oleh Kaisar! Mereka dituduh telah melakukan pemberontakan!"
Lutut Chu Ling tiba-tiba menjadi lemah. Ia terduduk tak berdaya diatas lantai yang dingin dengan wajah pucat.
"Tidak.. Ayah tidak mungkin berkhianat.." Gumam perempuan itu tak percaya, "aku harus kesana! Aku harus menyelamatkan ayah dan ibu! Aku.. "
"SADARLAH!" Bentakan keras Zhao Ming De mengunci gerak Chu Ling tatkala ia hendak keluar kamar.
"Apa kau begitu bodoh hingga tidak menyadari maksud dari pernikahan ini? Apa otakmu buntu hingga sulit berpikir bahwa ayahmu telah berusaha menyelamatkan nyawamu dengan menjadikanmu menantu dikeluarga Zhao?"
Chu Ling terdiam, begitupun Lin Lin.
"Berpikirlah dengan dingin! Kamu dan Chu Zhan telah beliau selamatkan dari tiang gantungan jauh-jauh hari! Apa kau idiot, pergi ke sana mengantarkan nyawa yang telah susah payah diperjuangkan jenderal! Apa kau pikir jika kau kesana maka mereka semua akan langsung dibebaskan?! Apa kau pikir tindakan konyol mu itu tidak akan menyeret keluarga Zhao?!"
Zhao Ming De mencerca tanpa jeda sedikitpun. Dengan satu gerakan ia menarik tubuh Chu Ling kembali kedalam kamar.
"Kau tidak diperkenankan keluar kamar mulai saat ini tanpa ijin dariku!!" Ucap Zhao Ming De seraya mengunci pintu kamar dan memanggil beberapa pelayan pria untuk berjaga didepan.
"Gadis bodoh." Gumam Zhao Lin Lin seraya pergi mengikuti langkah sang kakak.
Mereka meninggalkan kamar pengantin yang terkunci itu tanpa berkata-kata. Semua pelayan yang menyaksikan keributan tadi sangat tau bahwa tuan muda Zhao telah murka.
__ADS_1
Tak ada yang berani berkomentar. Ini merupakan kali pertama pria karismatik nan lembut itu lepas kendali. Dan pemandangan itu, sungguh tidak mengenakkan hati.