
Suasana di ruang makan jadi berubah ketika Chu Yao bergabung. Setelah dua hari berdiam dalam paviliun pribadinya, gadis itu kembali muncul untuk sarapan bersama.
Tak ada larangan ataupun hardikan yang keluar dari mulut jenderal Chu. Semua orang tetap membisu. Memasukkan makanan ke mulut mereka dan saling melempar pandangan. Kecuali Chu Zhan, pemuda itu terlihat sedikit antusias melihat adik tirinya bergabung di meja makan.
"Makanlah yang banyak, Yao'er. Kau juga Ling'er. Kalian harus menambah berat badan. Kalian terlalu kurus. " Ucap Chu Zhan dengan kelembutan khas seorang kakak sembari menambahkan beberapa potongan daging dan sayur di mangkuk kedua adiknya.
Alih-alih mengucapkan terimakasih, Chu Yao justru tersenyum tanpa berbicara sepatah katapun. Lain hal dengan Chu Ling. Gadis itu begitu antusias berbicara dengan saudara laki-lakinya.
"Terima kasih kakak Zhan. Kakak juga harus makan yang banyak. Kakak harus merasakan semua makanan enak ini. Aku akan mengajak kakak berkeliling untuk merasakan semua makanan enak di sini."
Chu Zhan tersenyum sambil membelai rambut adik bungsunya, "Iya, nanti kita jalan-jalan bersama. Tapi tidak untuk hari ini. Kakak akan menemani ayah ke istana."
Sumpit Chu Yao hampir berhenti bergerak ketika mendengar ucapan Chu Zhan. Namun, ia kembali bersikap normal seakan tidak terpengaruh apapun. Ia tidak boleh menampakkan ekspresi tertarik karena itu akan menyebabkan gelombang pertikaian baru antara dirinya dan sang ayah.
"Apakah kalian akan bertemu yang mulia kaisar untuk membicarakan pesta pernikahan kakak dan tuan putri?" Tanya Chu Ling sembari melirik kearah jenderal Chu.
"Sepertinya begitu." Jawab Chu Zhan sesingkat mungkin. Ia seakan tak ingin membahas hal ini di meja makan.
Nyonya Xun mendelik kearah Chu Ling. Menyuruh mulut anak itu diam seperti dirinya. Namun nampaknya Chu Ling tidak mengerti isyarat yang diberikan ibunya. Ia justru semakin rewel dan bertanya-tanya.
"Ngomong-ngomong soal pernikahan, kakak Zhan tau tidak kalau kakak Yao pernah dilamar tuan muda Shu."
Chu Zhan tersentak dan menatap kearah Chu Yao. Gadis itu masih melanjutkan makannya dengan penuh ketenangan. Chu Zhan cukup kaget, ia tidak pernah mengetahui berita itu sebelumnya.
Seakan paham dengan maksud tatapan Chu Zhan kepadanya, Chu Yao akhirnya buka suara, "Hanya sebuah kesalahpahaman."
"Meski hanya kesalahpahaman tapi sangat disayangkan, kakak Yao terburu-buru menolak. Padahal tuan muda Shu sepertinya cukup serius ingin menjalin hubungan dengan kakak Yao." Celoteh Chu Ling tanpa menyadari kekesalan di wajah Chu Yao.
"Sepertinya kau harus belajar etiket lagi, Ling'er!" Sebelum Chu Yao melempar sumpit ke wajah Chu Ling, jenderal Chu lebih dulu menegur gadis itu.
Pria paruh baya itu berhenti menyuap makanannya dan pergi meninggalkan ruangan.
Nyonya Xun menatap tajam kearah putri bungsunya itu. Nampak pula kekesalan di wajah wanita itu sebelum ia beranjak menyusul sang suami keluar ruangan. Chu Ling meringkuk. Terlambat menyadari kebodohan yang telah ia lakukan. Sudah pasti sang ibu akan menceramahi panjang lebar nanti.
Padahal niat awalnya hanya ingin menyudutkan Chu Yao sesaat tapi malah sebaliknya.
Sungguh menjengkelkan bagi Chu Ling.
Tapi Chu Yao tak ambil pusing. Ia menghabiskan sarapannya dengan senyum tertahan.
Setelah aktifitas pagi itu selesai, Chu Yao beranjak keluar namun langkah kaki Chu Yao tiba-tiba dihentikan oleh Chu Zhan.
"Aku tidak menyangka adikku ini begitu populer dikalangan tuan muda ibukota." Gumam Chu Zhan yang terdengar seperti sebuah cibiran.
__ADS_1
Chu Yao mendengus masa bodoh. Reaksi Chu Zhan merupakan reaksi normal untuk takaran pria kolot di jamannya. Chu Yao menaikkan sebelah alis ketika pria berkharisma itu memberikan sebuah kertas undangan berwarna cream dengan bingkai merah di tengah-tengah nya kepada Chu Yao.
"Apa ini?" Tanya Chu Yao ketika menerima surat undangan itu. Ia membaca tulisan luar dan membuka surat bagian dalam. Alisnya sedikit berkerut namun kembali normal beberapa saat kemudian.
"Justru kakakmu ini yang ingin bertanya. Setelah pangeran kedelapan dan tuan muda Shu, ada hubungan apa antara Yao'er dan tuan muda Zhao?"
Chu Yao otomatis bermuka masam menanggapi pertanyaan sang kakak yang nampak menginterogasi dirinya. Dengan refleks ia mengembalikan surat itu kepada Chu Zhan, "Hanya sekedar undangan pesta musim gugur. Aku tidak tertarik. Kakak bisa memberikan undangan itu untuk Chu Ling."
"Chu Yao, undangan ini ditujukan khusus untukmu.. " Chu Zhan meraih lengan Chu Yao ketika gadis itu hendak berlalu meninggalkan nya.
"Kalau aku berikan undangan ini kepada Ling'er, bukankah akan menyakiti perasaan nya. Kita berdua juga tau kalau adik menyukai tuan muda Zhao sejak lama. Tapi tuan muda Zhao ini justru ingin berhubungan denganmu."
Rahang Chu Yao mengeras dan sudut bibirnya berkedut menahan kesal.
"Apakah kakak berpikir aku sengaja membuat tuan muda Zhao tertarik padaku?" Ucapan sarkas Chu Yao membuat Chu Zhan bungkam sesaat.
"Apa tidak sekalian saja kakak beranggapan bahwa aku telah menggoda pangeran kedelapan dan tuan muda Shu bersamaan!"
"Konyol sekali. " Chu Yao terkekeh, "jika ingin mencari kesalahanku, lebih baik cari yang lebih masuk akal."
"Bukan begitu.. Kau salah faham, Yao'er." Chu Zhan gelapan. Ia memang tidak bermaksud menyinggung adik tirinya itu. Namun perkataannya justru mematik permusuhan diantara mereka.
"Kekhawatiran kakak bisa ku pahami namun aku tidak bisa mengendalikan perasaan orang lain kepadaku. Pun, aku tidak mau ikut larut dalam drama cinta antara Chu Ling dan Zhao Ming De itu. Mereka bukan tujuanku! Bukan pula prioritasku! Jadi tolong pergilah! Urus urusan adikmu, dia lebih butuh dukunganmu dari pada aku! jangan merepotkan diri untuk mengurus undangan yang tidak penting ini!"
Chu Yao tidak perduli. Ia menepis tangan Chu Zhan dan melanjutkan langkah kakinya dengan acuh tak acuh. Ia meninggalkan Chu Zhan dengan rasa bersalah.
Dibalik pintu, Chu Ling justru mematung dengan tangan yang terkepal. Ia mencengkram erat saputangan menahan rasa sakit akibat perkataan kedua saudaranya yang seolah-olah tidak menganggap keberadaannya di tempat itu.
Apakah mereka tidak sadar atau memang sengaja?
Tidak bisakah mereka berbicara dengan suara yang lebih pelan, sekadar menjaga perasaan Chu Ling yang sedang memperhatikan mereka.
Keterlaluan!
Selain rasa kesal akibat dua saudaranya, Chu Ling pun merasakan rasa kecewa yang teramat nyata. Ia tidak menyangka bahwa tuan muda Zhao akan memberi undangan khusus untuk Chu Yao. Padahal selama ini yang berusaha menarik perhatiannya adalah Chu Ling. Mengapa justru Chu Yao yang membuat tuan muda Zhao tertarik?
Ya, Chu Yao memang telah sengaja menggoda tuan muda Zhao. Tidak mungkin pria itu tertarik begitu saja tanpa ada sebab sebelumnya. Begitu banyak perempuan cantik dan berbakat di ibukota, mengapa perhatian tuan muda Zhao justru jatuh pada perempuan liar itu?
Chu Yao memang duri dalam daging bagi Chu Ling. Meski ia tidak ingin berurusan lagi dengan perempuan gila itu namun, jika menyangkut masa depannya bersama pemuda yang ia cintai maka kakak tirinya itu wajib dibumihanguskan dari dunia ini.
Jika semakin lama dibiarkan, perempuan gatal itu akan semakin menjadi-jadi.
***
__ADS_1
Di istana pribadi kaisar..
Ye Zuan membungkuk memberi salam hormat kepada orang nomor satu di Airland. Kaisar Long menyambut pangeran kedelapan itu dengan hangat dan mempersilakan pemuda itu duduk bersebelahan dengannya di tepi kolam ikan.
"Zuan'er, apa yang telah membawamu kemari?" Tanya kaisar kepada putra bungsunya itu.
Merupakan suatu hal yang ganjil melihat Ye Zuan menemuinya di siang bolong seperti ini. Biasanya, pemuda itu akan menemui sang ayah pada malam hari.
Selalu dimalam hari.
Tapi tidak untuk hari ini. Ada hal penting apa yang telah menggerakkan naluri keberaniannya kali ini.
"Ternyata memang tidak ada yang bisa saya sembunyikan dari ayahanda." Jawab Ye Zuan dengan senyum cerahnya. Namun senyum itu seketika menghilang dan berganti dengan keseriusan.
Baginda kaisar pun menyelaraskan diri. Ia memerintahkan para pengawal dan pelayan untuk pergi menjauh dari tempat itu.
"Sebelum saya bertanya, saya harap ayahanda benar-benar bersedia menjawab dengan sejujur-jujurnya. Anggap saja ini permohonan khusus dari ananda. Tolong yang mulia bersedia mengabulkan." Ucap Ye Zuan dengan sikap penuh hormat. Ia bahkan tidak segan melakukan kowtow agar yang mulia kaisar tidak bisa menolak keinginan nya.
Meski sedikit menaruh curiga, kaisar Long tetap berusaha tenang berwibawa seperti biasanya. Ia mengangguk pelan dan membantu sang anak berdiri kembali. Ye Zuan tidak melupakan etiket. Ia berterimakasih dan kembali duduk bersama.
"Ayah, ini mengenai kematian istri pertama jenderal Chu... " Ye Zuan berkata dengan sangat hati-hati.
"Saya tidak sengaja mendengar bahwa beliau meninggal bukan karena murni bunuh diri. Melainkan karena tindakan seseorang. Apakah benar orang tersebut adalah permaisuri?"
Ye Zuan memperhatikan wajah tua disampingnya itu secara seksama. Takutnya ada perubahan yang signifikan di sana, akan tetapi seperti nya itu hanya pikiran yang berlebih. Kaisar nampak tidak terpengaruh sama sekali.
"Zuan'er, kau pasti tau hukuman menuduh keluarga Kekaisaran tanpa bukti, bukan?" Ucap Kaisar dengan ketenangan yang malah membuat Ye Zuan merasa was-was.
"Saya tidak berani menuduh. Hanya saja saya mendengarnya secara langsung dari kasim Han dan putra mahkota." Ye Zuan tidak ingin berkelit. Ia lebih baik jujur demi menunjukkan ketulusannya terhadap permasalahan yang saat ini mereka bahas.
Raut wajah kaisar seketika berubah, "Apa saja yang telah mereka bicarakan?"
Ye Zuan menarik napas dan memposisikan dirinya dengan baik sebelum menceritakan semua yang ia dengar.
Cukup lama bagi pangeran kedelapan itu menyampaikan informasi kepada sang kaisar tanpa harus menyinggung orang nomor satu di Airland. Pemilihan kata harus tepat agar tidak terkesan menyalahkan.
Pada akhirnya kaisar tetap memilih hening mendengarkan. Ada jeda panjang ketika semua informasi telah tersampaikan. Dan itu cukup membuat canggung Ye Zuan.
"Sebaiknya kau memang harus tau. Sudah cukup lama aku memendam rasa bersalah ini."
Mata Kaisar berbinar. Seakan tengah mengumpulkan kepingan memori yang telah lama di kuburnya dalam kerahasiaan. Pria tua itu terlihat sendu. Namun juga terlihat sedang merindukan sesuatu yang tidak mungkin diraihnya kembali.
Perlahan kaisar membuka mulut. Ia mulai menceritakan asal muasal peristiwa naas itu.
__ADS_1
"Semua berawal dari kemenangan kita atas Merva. Jenderal Chu membawa para tawanan yang merupakan sisa keluarga kerajaan padang rumput yang masih hidup. Salah satunya putri raja Merva, Meng Shixun. Dia adalah selir Meng, istri jenderal Chu yang semua orang ketahui."