Memperbaiki Masa Lalu

Memperbaiki Masa Lalu
Bab 49


__ADS_3

Bibi Hui menaburkan serbuk obat di tubuh Chu Yao. Sedangkan Xier mengoleskan salep di setiap lebam di wajah sang majikan. Chu Yao melenguh. Membuka mata beningnya dan berusaha duduk secara perlahan. Xier membantunya menstabilkan diri dengan hati-hati.


“Akhirnya nona sadar. Syukurlah.” Ucap Xier dan bibi Hui bersamaan.


Chu Yao mengelus puncak kepala Xier yang sejak tadi tak berhenti meratap. Gadis muda itu menangis sesenggukan. Antara sedih dan ketakutan.


“Tenanglah. Aku tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja.” Hibur Chu Yao.


Bibi Hui menatap Chu Yao dengan perasaan was-was. Seolah tau apa yang di rasakan wanita tua itu, Chu Yao memberikan elusan lembut di punggung tangan bibi Hui. Mereka saling berbicara dalam pandangan mata. Berusaha saling menguatkan meski mereka tau kemungkinan untuk bebas sangat minim.


“Mereka begitu tega melukai nona seperti ini. Sungguh manusia-manusia biadab!” Omel Xier.


“Kau ini, di situasi seperti ini pun masih sempat mengumpat orang lain!” Balas bibi Hui sedikit kesal.


Xier tidak perduli. Ia tetap melanjutkan perkataannya, “Mereka memang pantas di maki. Oh iya, apakah nona ada melihat tuan besar atau paman Tong? Kami mencemaskan mereka.”


Raut wajah Chu Yao seketika berubah, “Aku melihat ayah.. Namun tidak dengan paman..”


“Bagaimana keadaan tuan?” Tanya bibi Hui penasaran.


“Beliau..”


Belum sempat Chu Yao melanjutkan perkataannya, dua orang penjaga telah datang bersama sosok wanita paruh baya yang meronta-ronta minta dibebaskan. Nyonya Xun digiring dengan tangan terikat. Wanita itu dimasukkan ke sel yang berada tepat di depan mereka. Ia didorong dengan kuat hingga tersungkur jatuh di atas lantai.


Ketiga orang itu terdiam memandangi nyonya Xun yang berteriak memanggil para penjaga yang telah mengunci dirinya.


Chu Yao menghela napas. Ia cukup bersyukur melihat keadaan sang ibu tiri. Tidak terlihat luka-luka di tubuh anggunnya. Setidaknya kondisi wanita itu lebih baik dari yang Chu Yao rasakan. Akan tetapi, nyonya Xun malah memaki ketika menyadari bahwa Chu Yao berada di ujung matanya.


“Anak durhaka! Gara-gara kamu kami semua sengsara! Gara-gara dirimu keluarga Chu binasa! Kau perempuan pembawa sial! Lebih baik kau mati saja! Dasar jahan*m!!” Raung nyonya Xun dengan sorot mata penuh dendam.


Chu Yao tak menggubrisnya. Ia kembali memejamkan mata sambil bersandar di dinding penjara.


Nyonya Xun semakin naik pitam, “Kau, atas dasar apa kau membuat tuan jenderal melakukan hal gila ini?! Apakah kau tidak cukup puas hidup enak di keluarga kami sehingga harus membuat kami bermusuhan dengan permaisuri dan putra mahkota?!”


“Jangan berlagak hanya karena kau putri seorang kaisar! Kau hanya anak yang di sembunyikan! Kau tidak pernah di inginkan oleh siapapun!”


“Apakah dengan menghujat ku bisa mengurangi rasa sakit di hatimu? Jika benar, lakukanlah semau mu! “ Tanya Chu Yao dengan tatapan mengintimidasi.


Firasatnya mengatakan jika wanita tua itu telah bertemu dengan permaisuri sebelumnya. Tidak mungkin nyonya Xun begitu fasih mencaci, tanpa mengetahui cerita sebenarnya. Hanya permaisuri yang mempunyai keterkaitan dengan ibu tirinya. Bukan putra mahkota atau siapapun.


Xier melirik bibi Hui dengan sorot mata kebingungan. Ia hampir-hampir bertanya tentang informasi yang barusan ia dengar. Namun bibi Hui menekan niatannya dengan tatapan tajam. Nyonya Xun memberang. Mengumpat, menyumpah dan bahkan menunjuk-nunjuk ke arah Chu Yao. Bibi Hui yang begitu sabar pun akhirnya tidak tahan.


“Ucapan nyonya begitu keterlaluan! Semua ini bukan salah nona! Tidak ada yang ingin musibah ini terjadi. Ini semata kehendak Tuhan.”


“Tuhan katamu?” Nyonya Xun tergelak, “Tak ada peran Tuhan di sini! Semua ini murni rencana yang kalian susun, bukan? Kau, pangeran ke delapan, dan juga jenderal. Bahkan kaisar, Kalian telah merencanakan ini jauh-jauh hari! Permaisuri telah mengatakan semuanya padaku!”


Setelah puas mencerca, wanita itu kembali berteriak, “Penjaga! Lepaskan aku! Aku tidak bersalah! Mereka menjebak ku!”


Suara nyaring nyonya Xun membuat ricuh penjara bawah tanah. Seorang penjaga datang dengan wajah yang tak bersahabat. Pria itu bahkan memukul jeruji besi di sel nyonya Xun dengan sangat kuat hingga menciptakan bunyi denging yang memekakkan telinga. Tidak hanya nyonya Xun bahkan semua semua orang terperanjat karenanya.


“Anda berisik sekali, nyonya! Jika anda masih mempunyai tenaga untuk berteriak, lebih baik Anda gunakan untuk berdoa agar eksekusi mati besok bisa berjalan lancar!”


Nyonya Xun terperangah dengan mata terbelalak, “Eksekusi mati? SIAPA YANG KAU MAKSUD?”


“Siapa lagi kalau bukan jenderal Chu dan kalian semua para pemberontak!”


Penjaga itu pergi dengan wajah kesal. Meninggalkan nyonya Xun yang terduduk lemas. Tidak hanya wanita itu, Xier dan bibi Hui pun tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya. Tubuh mereka bergetar dengan kepasrahan.


“Tidak mungkin.. Permaisuri sudah berjanji.. Dia tidak akan membiarkan kami mati.. Dia hanya menginginkan kepala Chu Yao.. Bukan kami!” Gumam nyonya Xun yang nampak syok pada dirinya sendiri.


Chu Yao angkat bicara tanpa membuka mata sedikitpun, “Tampaknya nyonya sudah termakan janji busuk wanita itu. Apakah nyonya memberikan sesuatu pada permaisuri sehingga dengan mudah bisa mengikat janji dengannya?”


Nyonya Xun gelagapan. Wajahnya seketika memucat. Ia terdiam seolah-olah baru menyadari kebodohan yang dilakukannya. Chu Yao membuka mata. Rasa penasaran membuatnya mengulangi pertanyaan.

__ADS_1


Dengan takut-takut, nyonya Xun menjawab, “Ti, tidak ada..”


“Benarkah?”


Masih dengan suara terbata-bata, nyonya Xun kembali menjawab, “A, aku hanya mengambil sebuah giok.. Tidak! aku, hanya meminjamnya untuk di perlihatkan kepada yang mulia permaisuri..”


Rahang Chu Yao seketika mengeras. Firasatnya mengatakan jika giok itu bukan sembarang giok.


“Giok yang seperti apa?”


Nyonya Xun semakin ketakutan dengan nada bicara Chu Yao yang serius. Dengan suara pelan, wanita itu menjawab, “Giok itu hanya giok biasa yang kebetulan memiliki bentuk yang unik. Benda itu berukiran naga yang mencengkram sebuah bola.”


Kesabaran Chu Yao mendadak hilang beberapa saat. Ia meneriaki sang ibu tiri dengan kata 'bodoh' begitu kencang. Ia bahkan meraung demi melampiaskan rasa kesalnya atas kelakuan wanita itu.


“Kenapa kau jadi marah?!” Ucap nyonya Xun setengah berteriak.


Chu Yao meradang mendengar rasa ketersinggungan wanita itu, “Tentu saja kau membuatku marah! Apakah nyonya tidak tau gara-gara kebodohan nyonya lah kita berakhir di tempat ini?!”


“A, Apa maksudmu?”


“Giok itu hanya ada dua di dunia ini. Satu pada pangeran ke delapan dan satu lagi pada ayah. Itu merupakan benda khusus yang bisa merangkap sebagai plakat dan tanda pengenal yang di hadiahkan langsung oleh kaisar secara pribadi.”


“Apakah nyonya tau alasan ayah di tuduh sebagai pemberontak?” Tanya Chu Yao di iringi gelengan kepala nyonya Xun, “Karena benda itu di temukan berada di tangan penyusup Alorra!”


Tubuh nyonya Xun menegang. Ia terdiam dalam keterkejutan, “A, apakah saat aku membawanya kepada permaisuri, saat itu pula permaisuri telah menukarnya dengan yang palsu?”


“Sekarang kau baru berpikir demikian? Sebelumnya kemana otakmu yang selalu kau banggakan itu?”


Chu Yao menekan pelipisnya yang semakin berdenyut. Entah mengapa semua lukanya mendadak nyeri. Chu Yao berpaling. Ia tidak ingin lagi membahas permasalahan ini dengan wanita sok pintar itu. Ia menjadi sangat lelah. Bukan hanya fisik namun juga mental. Meskipun demikian, otaknya tetap berputar dengan cepat. Memikirkan cara untuk menyelamatkan orang-orang yang tidak bersalah.


Namun, dengan cara yang seperti apa?


Meminta tolong dengan siapa?


Chu Zhan? Sudah pasti dia dan istrinya dilarang pergi ke tempat ini oleh yang mulia kaisar. Tuan muda Zhao? Menikahi Chu Ling saja sudah membantu menyelamatkan satu kepala. Tidak mungkin Chu Yao tega membiarkan orang-orang itu terlibat.


Chu Yao duduk dengan lutut yang menekuk ke dada. Ia bahkan memeluk dirinya tanpa sadar. Seolah memberikan kekuatan dan dukungan untuk jiwanya yang hampir kehilangan harapan.


***


Besok paginya, semua orang dikejutkan dengan kedatangan beberapa orang penjaga yang menarik paksa Chu Yao dan Nyonya Xun secara bersamaan. Di iringi perlakuan sama pada bibi Hui, Xier dan puluhan pelayan perempuan lainnya yang pernah bekerja di kediaman Chu.


Dengan tangan dan kaki terikat rantai besi, para penjaga itu membawa mereka keluar dan menuju aula kematian untuk menjalani proses eksekusi mati.


Nyonya Xun nampak lebih tenang meski wajah tuanya semakin memucat. Chu Yao tau bahwa wanita tua itu ketakutan namun juga memiliki rasa penyesalan. Dia tidak lagi berteriak meminta pembebasan seperti sebelumnya. Malah mengunci mulutnya sepanjang perjalanan.


Sinar matahari di musim dingin tetap tidak memberi pengaruh apapun. Tetap memberikan hawa beku bagi mereka yang sudah memakai pakaian khusus narapidana yang cukup tipis.


Langkah mereka terhenti tatkala mendengar interupsi dari kepala penjaga yang mengawal mereka. Chu Yao mengernyit sesaat. Ketika rasa nyeri terkadang kumat di bagian tubuhnya yang terluka.


Ia menyipitkan mata, menatap beberapa sosok pria yang ia kenal telah berlutut di atas anjungan yang terletak di tengah-tengah aula kematian yang luas.


Dua di antara mereka adalah jenderal Chu dan paman Tong. Kondisi mereka nampak kuyu dan tidak terawat. Apa lagi sang ayah. Keadaan pria berperawakan tegas dan kekar itu tak lagi sama.


Hati Chu Yao mendadak sakit. Seolah dihantam sebuah batu besar tatkala menyadari bahwa ia tidak berdaya. Ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk memenuhi janjinya. Jangankan untuk menyelamatkan sang ayah ataupun orang lain, ia sama sekali tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri.


Chu Yao menggigit bibir. Mengekang rasa putus asa yang semakin mendominasi. Ketakutan mulai merayapi pikirannya. Bukan ketakutan akan kematian. Namun pada rasa trauma ketika dia di tinggal mati orang-orang yang ia sayangi di kehidupan sebelumnya.


Perempuan itu menarik napas panjang dan dalam. Mengalihkan semua bayangan masa lalu yang tergambar secara otomatis di kepalanya dengan hal-hal baik. Namun sangat sulit baginya untuk bisa berpikir positif dalam keadaan seperti ini.


Tangan nyonya Xun tiba-tiba mendarat di punggung Chu Yao yang bergetar. Nampaknya wanita paruh baya itu menyadari perubahan sikap Chu Yao. Ia mengelus lembut punggung anak tirinya itu tanpa berkata-kata. Seolah memberikan ketenangan terhadap perasaan Chu Yao yang campur aduk.


Chu Yao tidak menggubrisnya. Ia masih marah terhadap wanita itu. Meski ibu tirinya menyesal dan berusaha memperbaiki hubungan mereka, Chu Yao tetap tidak akan memaafkannya. Hatinya terlanjur sakit dengan perbuatan nyonya Xun yang sudah di luar batas.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, satu persatu masyarakat ibu kota berdatangan dan memenuhi aula. Meski telah di pagar dengan ratusan prajurit bersenjata lengkap, tidak juga menyurutkan semangat mereka untuk menyaksikan peristiwa besar.


Mereka saling berdesakan hanya untuk menonton eksekusi mati jenderal Chu dan keluarganya yang terkenal paling setia pada Kekaisaran.


Berita pemberontakan yang dilakukan sang jenderal rupanya telah membuat banyak asumsi dalam khalayak ramai. Ada yang percaya juga sebaliknya, bahkan ada pula yang tidak perduli sama sekali.


Semua spekulasi itu membuat suasana menjadi bising cukup lama dan terhenti ketika kehadiran kaisar, para pangeran dan para pejabat di sana.


Chu Yao menengadah, mencari putra mahkota yang sangat ingin ia bunuh. Namun sosok itu tak nampak di jajaran para pangeran yang telah hadir. Di antara sekian banyak orang-orang yang berpengaruh di sana, hanya Ye Zuan lah yang ia kenal.


Chu Yao menatapnya dengan tajam. Seakan-akan sedang mempertanyakan janjinya. Pangeran ke delapan itu membalas dengan tatapan yang tidak bisa di jelaskan kemudian membuang wajah. Chu Yao semakin frustasi. Raut kekecewaan semakin menjalar di wajah cantiknya yang pucat.


“Bangs*t!” Maki Chu Yao yang kemudian di dengar oleh salah satu penjaga. Penjaga itu memberi pukulan di punggung Chu Yao hingga membuat gadis itu tersungkur ke tanah.


“Berhentilah membuat onar! Sebaiknya nona berdoa dari pada melakukan perlawanan yang sia-sia!” Bentak penjaga itu dengan wajah geram.


Chu Yao tak mengindahkannya. Perempuan itu bangkit dan hampir kembali oleng ketika menstabilkan diri. Ia kembali berlutut dengan mulut terkatup.


Demi mencegah kericuhan, keputusan kaisar untuk menghukum mati jenderal Chu sekeluarga akhirnya di bacakan dengan sangat lantang hingga menggema di seluruh aula.


Suara histeris terdengar seketika. Tangis ketakutan serta permohonan ampun saling beradu di telinga Chu Yao. Gadis itu terdiam mematung dengan pupil mata melebar ketika satu persatu dari tahanan pria yang pernah melayani keluarganya telah tewas dengan leher yang terpenggal.


Pun, dengan tahanan wanita. Mereka di panggil dan berdiri berjejer di bawah tiang gantungan. Lima orang bersamaan tanpa penutup wajah. Saling memandang ketika eksekusi gantung itu dilakukan.


Semua orang ketakutan. Bukan hanya para tahanan. Masyarakat awam pun demikian. Hukuman yang dilaksanakan kali ini begitu kejam. Membuat banyak orang syok hingga memuntahkan asam lambungnya. Bahkan sebagian dari mereka pingsan dan kembali pulang sebelum semua eksekusi diselesaikan.


Xier berteriak kencang. Bibi Hui pun meraung dengan tangisan, memanggil nama paman Tong saat pria itu menjadi korban eksekusi mati selanjutnya.


“Kami tidak bersalah!”


“Kami hanya difitnah!”


“Ampuni kami yang mulia!”


Pembelaan diri dari mereka tidak di dengar oleh kaisar dan para pejabatnya. Tangis putus asa tak juga membuat orang-orang yang duduk di tribun aula itu bersimpati. Seakan hati mereka tidak memiliki rasa iba. Mereka malah menikmati situasi itu seperti melihat hewan buruan.


Degup jantung Chu Yao semakin tidak terkendali saat giliran Xier dan bibi Hui berada di bawah tiang gantungan. Manik beningnya menangkap tubuh kedua orang itu gemetaran. Wajah mereka pucat ketakutan. Air mata kesedihan mengalir deras hingga tubuh keduanya menggantung tak bernyawa. Chu Yao tiba-tiba terdiam. Suaranya tercekat di kerongkongan. Kejadian itu begitu cepat hingga belum sempat terekam dengan jelas di otaknya.


Belum pupus rasa terkejutnya, kini giliran sang ibu tiri dan jenderal Chu yang di panggil ke atas anjungan. Nyonya Xun berdiri tanpa di suruh. Wanita berkelas itu mendongakkan dagu dan menegakkan punggungnya. Ia berjalan dengan langkah anggun.


Begitu sampai di tangga anjungan, wanita itu merebut pedang yang di pegang seorang prajurit yang sedang lengah. Dengan gerakan memutar, pedang itu menggorok leher nyonya Xun dan membuatnya tewas seketika. Orang-orang terpekik ngeri. Tidak terkecuali dengan Chu Yao. Ia bahkan terduduk lemas di tanah. Air matanya mengalir tanpa ia sadari. Tindakan yang wanita tua itu lakukan di luar dugaan. Chu Yao sama sekali tidak mengira jika ketenangan itu merupakan rencana awal bunuh diri sang nyonya.


Bibir Chu Yao gemetar. Ia bahkan tidak bisa berpura-pura tidak melihat air mata sang ayah. Meski telah buta, jenderal Chu masih memiliki indera pendengaran yang tajam. Pastinya pria tua itu sangat terpukul mendengar kematian istri tercintanya yang hanya berjarak beberapa meter darinya dengan cara yang tragis. Pasti jenderal Chu menyesali ketidakberdayaannya saat ini. Raut wajahnya telah menggambarkan dengan jelas perasaan itu. Dan mirisnya, Chu Yao dapat memahaminya dari jauh.


Jenderal Chu berbaring telungkup di bawah pisau besar yang siap memotong lehernya.


Sebelum aba-aba terucap, pria tegas itu berteriak kencang, “LONG JIN MAO, KAU MELANGGAR JANJIMU!!!”


PRAAANGGG!!!


Kepala jenderal Chu terputus seketika dan menggelinding ke arah Chu Yao. Membuat otak Chu Yao tidak berfungsi beberapa saat.


“AYAAAAAHHHHH!!!!” suara Chu Yao yang tadinya hilang tiba-tiba keluar.


Ia berteriak histeris. Berusaha berlari menggapai jasad sang ayah yang tak lagi utuh. Namun tubuhnya berhasil ditahan para penjaga yang berdiri di sisi-sisinya. Chu Yao melawan. Dengan sisa tenaga, ia berkelahi dengan beberapa penjaga. Gadis itu bahkan tidak perduli jika luka lamanya terbuka dan mengalirkan darah lagi.


Air matanya berubah merah karena tercampur darah yang mengalir dari pelipisnya.


Chu Yao tidak perduli. Bahkan jika ia meregang nyawa sekalipun. Baginya hidup atau mati sudah tidak penting. Semua orang yang ia sayangi telah pergi dengan cara yang tragis di depan matanya sendiri. Wajah Chu Yao yang penuh amarah telah membuat yang mulia kaisar bangkit dari tempat duduknya. Pria nomor satu itu membisikkan sesuatu kepada kasim kemudian pergi meninggalkan aula kematian.


“JANGAN PERGI! KAU YANG MENYEBABKAN PERTUMPAHAN DARAH INI! KAU YANG HARUS BERTANGGUNGJAWAB!!”


“MEREKA TELAH MEMBUNUH IBUKU! MENGAPA JUSTRU KAU HABISI KELUARGAKU?! DIMANA KEADILANMU?!”

__ADS_1


Chu Yao terjerembab jatuh ke tanah setelah puas meneriaki kaisar. Ia pingsan karena pukulan yang menghantam tubuhnya dari salah satu penjaga.


Keputusan kaisar kembali di bacakan. Eksekusi Chu Yao bukan lagi di tiang gantungan, namun di ganti dengan racun pelebur tulang dengan dosis yang di tingkatkan tiga kali lipat.


__ADS_2