Memperbaiki Masa Lalu

Memperbaiki Masa Lalu
Bab 70


__ADS_3

Pikiran dan hati Chu Yao membuat beragam kemungkinan serta firasat yang tidak-tidak. Semenjak perjalanan mengambil daun cahaya abadi, A-Wei telah menceritakan banyak hal tentang sepak terjang Mo Yan selama ini.


Pemuda itu, kaisar Alorra yang begitu diagungkan, terkenal dengan sifat dingin dan tindakan tanpa ampunnya telah melalui begitu banyak duri dan rasa sakit yang luar biasa.


Chu Yao memejamkan mata, membalik ingatan. Memanggil suara A-Wei yang terus menggema didalam benaknya tatkala menceritakan satu per satu upaya yang ditempuh Mo Yan untuknya.


"Perjuangan tuan tidak main-main.. " Ucap A-Wei saat mereka sedang beristirahat sejenak di pinggiran sungai.


"Tuan telah meminta saya untuk menghubungi pihak kerajaan Merva untuk mengganti garis keturunan nona agar bisa diterima oleh dewan istana dan para jajarannya.."


"Tuan juga telah memberikan kompensasi berupa jaminan kerjasama dan janji tertulis untuk perlindungan mereka selama satu dekade. Jika sampai ada yang berselisih dengan pihak Merva maka tuanlah orang yang pertama kali akan memasang badan, membela mereka.."


"Di rapat istana saat itu, meski sudah dengan banyak dukungan dari putra mahkota Airland serta pihak Merva tetap saja jajaran pejabat dan petinggi negara tidak bisa menerima keputusan tuan dan akhirnya membuat tuan harus melakukan sujud permohonan.."


"Sujud permohonan? Apa itu?" Tanya Chu Yao setelah membasuh wajahnya dengan air yang mengalir.


A-Wei menganggukkan kepala, "benar. Sujud permohonan adalah jalan terakhir yang bisa dilakukan oleh pimpinan tertinggi Alorra, juga sebagai hak istimewa yang diberikan pada kaisar apabila terjadi penolakan besar-besaran pada suatu keputusan yang diambil olehnya. Tentu saja dengan timbal balik yang sepadan. Yang mulia harus merasakan dua puluh cambukan, beliau rela turun takhta dan namanya tidak tercatat dalam sejarah kerajaan selama-lamanya.."


Chu Yao cukup terkejut. Meski ia tau Mo Yan akan melakukan apapun untuk mewujudkan keinginannya, namun ia tidak pernah mengira bahwa pria itu akan benar-benar memilih jalan terjal dan berbahaya seperti itu.


"Mo Yan sudah gila."


'Benar-benar sudah sangat gila!' gumam Chu Yao dalam hati yang terasa semakin perih.


"Iya, tuan memang sudah tidak waras sejak tau nona mendapat hukuman mati empat tahun yang lalu.." Sambung A-Wei.


"Setelah sadar dari efek obat bius yang nona berikan, tuan marah besar. Beliau mengamuk tak terkendali hingga Jenderal Luo dan puluhan orang ahli beladiri harus turun tangan untuk menenangkannya. Tak hanya sampai di situ, tuan bahkan tetap kukuh ingin kembali meski kondisi kesehatannya belum kunjung membaik.. "


"Demi memastikan semua asumsinya, tuan memerintahkan saya untuk kembali ke kediaman Chu secara diam-diam. Namun, bukannya nona yang saya temukan justru hanya beberapa barang dan sebilah belati lah yang saya bawa kehadapan tuan. Berita kematian nona yang disertai iring-iringan duka yang saya lihat telah membuat tuan berubah. Beliau memang tidak bertindak impulsif lagi akan tetapi semua orang mengetahui bahwa temperamen tuan semakin dingin.."


A-Wei menelan saliva dan menggenggam pedangnya dengan kuat seolah menjadikan benda itu sebagai sandaran kekuatan terhadap semua masalah dan keluhan yang sedang ia ceritakan saat itu.


Chu Yao tau, tidak mudah bagi A-Wei memendam seluruh lika-liku perjuangan mereka yang sudah mati-matian Mo Yan rahasiakan darinya.


Bagaimanapun ia sangat mengapresiasi keputusan A-Wei untuk membuka mulut tentang semua hal yang tidak ia ketahui selama ini.


Pemuda polos itu berkata, "Bertahun-tahun tuan bertahan dalam harapan bahwa nona masih hidup disuatu tempat diluar sana, membuat kami terus-terusan melakukan pencarian secara terselubung."


Chu Yao menggeser tempat duduknya dan memotong pembicaraan, "Apakah kau ataupun pejabat lainnya tidak membujuk Mo Yan untuk melakukan pengobatan seperti yang aku amanatkan?"


"Tentu saja sudah!" Bantah A-Wei dengan wajah yang masam, "nona kan tau sendiri karakter tuan yang keras, beliau mana mau melanjutkan pengobatan! Alih-alih meminum obat, beliau malah membatasi intensitas pertemuan dengan orang-orang diluar."


Chu Yao mengulum senyum dengan rasa bersalah, "Aku.. tidak tau bahwa Mo Yan akan bertindak seperti itu. Aku kira dengan membiarkannya tinggal di sini dan menjauh dariku maka ia akan bisa hidup normal. Saat itu aku berharap dia akan memulai hidup barunya dengan damai.."


'Ternyata aku salah! Aku terlalu meremehkan perasaannya.'

__ADS_1


Chu Yao mengutuk dirinya. Merutuki kebodohan dan sifatnya yang suka mudah menyepelekan.


".. Dan perjuangan tuan tidak hanya itu saja. Banyak hal kecil yang tidak bisa saya sebutkan. Jika sampai tuan tau bahwa saya telah menceritakan hal ini pada nona, bisa jadi nyawa saya akan melayang tanpa isyarat apapun. Maka dari itu, saya mohon kepada nona, tolong hargai ketulusan dan perjuangan tuan dengan tidak mendorongnya kedalam keputuasaan seperti waktu itu!" Pinta A-Wei dengan penuh keseriusan.


Chu Yao terdiam, menghela napas dan memalingkan pandangan. Ia tak bisa memberikan jawaban pasti pada pria yang sudah ia anggap seperti adik sendiri.


Alam bawah sadarnya kembali, menyeruak hempasan angin yang terus menerus menampar nya tanpa henti. Ia mengatupkan bibir dan berusaha memusatkan perhatiannya pada satu titik.


'Aku tidak bisa menjanjikan akan terus bersama Mo Yan, namun satu hal yang bisa ku yakinkan bahwa perasaanku takkan pernah berubah untuknya.'


Chu Yao menyentak tali kekang sang kuda beberapa kali. Membuat langkah hewan tersebut semakin laju menembus angin.


Walaupun jarak Chu Yao dan medan peperangan itu lumayan jauh namun riuh rendah suara mengerikan itu tetap bisa ia dengar dengan jelas.


Seumur hidup, ini adalah pertama kalinya ia terjun langsung ke medan pertempuran. Melihat pembantaian besar-besaran dengan teriakan kesakitan dan darah yang menggenang dimana-mana. Semua itu terjadi tepat didepan matanya.


Meski berusaha untuk tenang namun nyatanya ia tidaklah demikian. Alam bawah sadarnya telah mengirimkan sinyal ketakutan yang tanpa sadar membuat tangannya gemetar walau hanya sesaat.


Ia menarik napas dalam-dalam dan membulatkan tekad. Dengan langkah pasti, Chu Yao menerobos kumpulan prajurit yang saling serang dan baku hantam.


"Mo Yan!" Panggil Chu Yao sambil terus memberikan tebasan pada beberapa prajurit Airland yang ingin mencelakainya.


"Mo Yan!"


Sekali lagi Chu Yao berteriak akan tetapi suaranya tertelan begitu saja dalam kericuhan yang semakin menggila.


"Dimana Mo Yan?!" Tanya Chu Yao yang masih memberikan sabetan pedang ditengah serangan yang bertubi-tubi.


Perempuan itu menghunuskan pedang berkali-kali. Ia meringis ketika salah satu prajurit berhasil menggores pundaknya.


Jenderal Luo berlari kearah Chu Yao sambil sesekali mengibaskan senjatanya yang tajam.


"Kami tidak melihat yang mulia!" Jawab Jenderal Luo singkat. Pria paruh baya itu refleks menarik Chu Yao begitu mendengar dentuman mortar dari kejauhan.


Dalam sekejap para prajurit yang berperang itu terpental ke udara dan terjatuh tak bernyawa dengan darah yang bersimbah dimana-mana.


Wajah Chu Yao memucat. Napas nya naik turun. Pemandangan disekitarnya sudah tidak terkondisikan, tempat itu lebih pantas dikatakan sebagai lautan darah.


"Mo Yan.. Aku harus menemukannya.." Gumam Chu Yao yang kembali melompat keatas kuda.


"Nyonya!"


Chu Yao tidak bergeming atas panggilan jenderal Luo. Ia terus menghentakkan kudanya dan menderap maju, menerobos pasukan yang saling membunuh tanpa henti disekitarnya.


Perempuan itu seolah tidak mendengar rentetan mortar yang saling bersahutan, membuat dentuman berkali-kali hingga korban yang berjatuhan sudah tak terhitung jumlahnya.

__ADS_1


Kecepatan langkah kaki kuda milik Chu Yao perlahan melambat tatkala melihat dua sosok yang ia kenal saling menyabetkan pedang.


Long Jin Mao tertawa keras saat pedangnya menancap tepat didada kiri kaisar Alorra. Membuat Chu Yao membelalakkan mata dan bergetar hebat.


"TIDAAAAAKKKK!!!"


Chu Yao berteriak keras. Wajahnya yang pucat semakin nampak seputih kapas. Dengan sekali sentakan, ia melaju dengan kencang. Melesap masuk kedalam himpunan prajurit yang masih saling membantai.


Perempuan itu merebut paksa sebuah busur dan anak panah dari salah satu prajurit.


Tanpa memperdulikan keselamatannya, Chu Yao menarik anak panah itu dan memfokuskannya pada figur arogan di ujung matanya. Hanya dalam sekali tarikan, anak panah itu terbang, melesat jauh dan mengenai sasarannya dengan tepat.


Tawa Long Jin Mao seketika terhenti bersama anak panah Chu Yao tikaman pedang dari putra mahkota Airland, Long Ye Zuan.


Pria tua itu berbalik kebelakang dan melihat putra kebanggaannya itu tersenyum dingin.


"Zu..an'..er.. Kau.." Eja Long Jin Mao yang terpukul atas pengkhianatan Ye Zuan. Putra mahkota itu tak lagi menunjukkan belas kasih, ia kembali menarik gagang pedang dan menghunuskannya tepat di jantung sang kaisar. Penguasa Airland itupun langsung ambruk tak bernyawa dengan mata terbuka serta darah yang menyembur dari kerongkongannya.


Meski sudah tau bahwa Long Jin Mao telah wafat, pria kharismatik yang identik dengan kipas dan tawanya itu kembali menghujamkan pedang ke jasad sang kaisar. Sorot mata penuh dendam tidak bisa lagi Ye Zuan sembunyikan.


Dengan figur iblisnya, Ye Zuan berkata, "satu tusukan ini untuk mendiang ibu yang kau bunuh!"


Ia mencabut pedang itu dan kembali menancapkannya di tubuh Long Jin Mao yang telah tewas, "Tusukan ini untuk semua perlakuan orang-orang di istana kepadaku karena sifat pilih kasihmu! Kesombongamu! Ketamakanmu! Kemunafikanmu!"


Ye Zuan menyeringai dan kembali mengulangi hunusan pedangnya, "Sayatan ini untuk Chu Yao dan jenderal Chu yang kau khianati! Untuk semua manusia yang tidak berdosa yang telah kau korbankan!"


Ia mengelap cipratan darah diwajahnya dengan tangan lalu bergumam, "Dan ini, untuk semua hal yang kau manfaatkan dari diriku selama ini!!"


Pangeran kedelapan itu berdiri dengan gontai kemudian berteriak, "PEPERANGAN TELAH USAI! KAISAR AIRLAND TELAH TEWAS!"


Semua prajurit berhenti saling menyerang dan diantara jeda yang cukup lama itu, Chu Yao menyibak kerumunan dan berlari tunggang-langgang kearah Mo Yan.


Langkah kaki perempuan itu mendadak lemas dan gemetaran. Membuatnya beberapa kali terjatuh dan hampir merangkak, menggapai tubuh pria yang terbaring dengan tusukan didada kirinya.


"Tidak! Tidak!"


"Mo Yan.. "


"Tidak.."


Chu Yao meraih Mo Yan dalam pelukannya. Tangannya yang gemetar senada dengan pita suaranya yang semakin serak.


"Mo Yan.. Tidak.."


"Jawab aku.. Mo Yan.."

__ADS_1


"MOYAAAANN!!!"


Raungan lirih itu terdengar pilu dan tanpa harapan. Airmata Chu Yao tak lagi bisa di bendung. Membuat perempuan itu tersentak dan seketika pingsan ditempat.


__ADS_2