
Beberapa hari kemudian kediaman Chu benar-benar penuh kesibukan. Rencana pernikahan putra satu-satunya jenderal Chu yang dipercepat oleh Kaisar telah menyebar ke seluruh penjuru negeri.
Semua orang fokus pada tugasnya masing-masing terkecuali Chu Yao.
Gadis itu tidak antusias namun tidak juga membenci pesta pernikahan sang kakak. Ia hanya diam dalam mode mengamati seraya menyibukkan diri di dalam paviliun kehidupan. Tempat itu merupakan tempat kedua yang sangat ia sukai di mansion setelah paviliun pribadinya.
Matahari sudah mulai condong kebarat saat Chu Yao beranjak keluar dari tempat itu.
"Apakah nona akan makan malam bersama tuan besar dan yang lainnya malam ini?" Tanya Xier yang sejak tadi menemaninya berkutat dalam tumpukan buku di aula kehidupan.
"Sepertinya tidak. Aku ingin makan di kamarku saja." Jawab Chu Yao acuh.
Kendati ingin bergabung, ia cukup khawatir akan melunturkan semangat keluarganya jika mereka melihat wajah Chu Yao yang tidak mereka suka.
Ia tau diri.
Cukuplah beberapa pekan yang lalu ia bersitegang dengan sang ayah. Belum lagi menyinggung perasaan sang kakak perihal undangan yang sama sekali tidak penting bagi Chu Yao.
Jika masih memaksakan kehendak, takutnya permasalahan baru kembali timbul.
Riuh rendah suara tawa terdengar tidak jauh dari koridor yang dilewati Chu Yao. Ekor matanya menangkap beberapa siluet yang keluar bersamaan dari ruang tamu.
Chu Yao melihat ada seorang pria paruh baya seusia jenderal, seorang pria dan perempuan muda di sampingnya. Serta beberapa orang pelayan pribadi mereka.
Ingatan Chu Yao telah mengenali dua orang muda diantaranya. Mereka adalah tuan muda Zhao dan adik perempuannya, Zhao Lin Lin.
Dan kemungkinan pria paruh baya yang barusan pergi ketempat lain bersama sang jenderal adalah tuan besar Zhao. Ayah kandung Zhao Ming De dan Zhao Lin Lin.
Chu Yao berlalu. Baginya keberadaan orang-orang itu tidak berkaitan apapun dengan dirinya. Akan lebih baik jika Chu Yao tidak menampakkan diri di sana. Anggap saja dia sedang berbaik hati pada adik tirinya itu. Mungkin saja dengan pertemuan mereka kali ini, hubungan yang didambakan Chu Ling akan semakin terwujud.
Namun sepertinya Tuhan berkehendak lain.
Zhao Lin Lin keburu menyadari kehadiran Chu Yao sebelum sosok gadis itu lenyap dibalik koridor. Suara sopran adik perempuan Zhao Ming De itu telah membuat orang-orang disekitarnya menoleh ketika memanggil nama Chu Yao dengan cukup keras.
"Kakak Yao! Aku mencari mu. Ku kira kau sedang beristirahat di kamarmu soalnya mereka bilang kau sedang tidak enak badan." Celoteh Lin Lin sambil melempar pandang ke arah Chu Ling dan Nyonya Xun.
Chu Yao tersenyum simpul dan hampir-hampir tergelak melihat wajah kedua orang itu yang sedikit gelagapan. Seakan terciduk sedang bersandiwara.
"Mereka benar. Aku sedang tidak enak badan. Seharian ini aku hanya beristirahat dan membaca beberapa buku di Paviliun kehidupan." Ucap Chu Yao santai. Ia tak ingin membuat sumbu perselisihan tersulut.
Jika ia ingin Jenderal Chu atau Chu Zhan buka mulut, paling tidak ia harus menciptakan situasi dan kondisi yang tenang. Setelah semua aman, baru ia akan mendekati kedua orang itu untuk mengorek informasi yang memang ia cari-cari sebelumnya.
Chu Zhan menghela napas panjang tatkala mendengar perkataan adik tirinya. Senyumnya yang lebar telah melukiskan rasa syukur atas keputusan baik yang Chu Yao ambil. Setidaknya hari ini tidak akan terjadi adu mulut di depan para tamu.
Pun dengan Nyonya Xun dan Chu Ling yang saling bertukar pandang. Mereka cukup kaget karena gadis nakal itu tidak melakukan hal yang berlawanan seperti sebelumnya.
Hampir saja mereka berpikir Chu Yao yang lugu telah kembali, namun pikiran itu seketika tertepis ketika melihat tatapan tajam dari gadis itu.
"Nona Chu, bolehlah saya meminta waktu sebentar?" Tanya Zhao Ming De tiba-tiba kepada Chu Yao.
Chu Yao tidak memberikan respon apapun tapi Zhao Ming De tetap antusias. Ia tetap melanjutkan perkataannya, "Jika boleh tau, mengapa nona Chu tidak menghadiri undangan yang kami kirimkan beberapa hari yang lalu?"
"Benar! Padahal aku sudah menunggu-nunggu kedatanganmu." Tambah Zhao Lin Lin penasaran.
Chu Yao menggaruk dagunya yang tidak gatal. Otaknya berputar mencari alasan yang tepat.
__ADS_1
"Asal kak Yao tau, pesta itu di persiapkan dengan matang oleh kakak Ming De sendiri khusus untuk kakak Yao. Ketika dia tau kakak Yao tidak hadir, dia murung terus sepanjang hari. Baru hari ini dia nampak bersemangat setelah ayah mengajaknya berkunjung ke kediaman kalian." Timpal Zhao Lin Lin dengan senyum menggoda kearah Chu Yao dan Zhao Ming De secara bergantian.
"Lin Lin! Jaga bicaramu." Ucap tuan muda Zhao tersipu. Pria itu membungkuk hormat ke arah Chu Yao dan berkata, "Mohon nona tidak mengambil hati atas ucapan Lin Lin. Gadis ini memang suka berkata yang tidak-tidak. Atas nama Lin Lin, saya meminta maaf."
Nona muda Zhao memanyunkan bibir dan bersembunyi dibalik tubuh Chu Yao ketika sang kakak berniat menarik lengannya.
"Tuan muda Zhao tidak perlu berpikir berlebihan. Saya tidak tersinggung sama sekali..."
Chu Yao mengelus lembut telapak tangan Lin Lin yang masih menggantung di lengan bajunya, "Justru seharusnya saya yang meminta maaf karena tidak bisa memenuhi undangan tuan muda. Saya tidak bisa kesana karena memang ada urusan pribadi yang mendesak."
"Mungkin dilain waktu adik saya bisa mewakili saya berkunjung ke kediaman Zhao." Senyum Chu Yao dengan tulus.
Meski membalas dengan senyuman, namun sorot mata Zhao Ming De yang kuyu tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya. Pria itu berharap kedekatannya dengan Chu Yao. Bukan Chu Ling yang manja.
Chu Yao tidak perduli. Ia sudah memberi jalan untuk Chu Ling maju. Perkara hubungan kedua orang ini bisa berlanjut atau tidak, itu bukan menjadi urusannya lagi.
Namun Zhao Lin Lin berkata lain. Ia justru membuat semua orang terdiam dengan berkata, "ck, kakakku itu sukanya dengan kakak Yao bukan perempuan itu."
Manik mata Chu Yao bergulir melihat respon sang adik yang berdiri tepat disamping ibu tirinya. Dan benar saja, wajah perempuan itu nampak masam layaknya tersiram air cuka.
Kali ini Chu Yao tidak bisa menahan rasa gelinya. Ia terkekeh pelan hingga membuat semburat kemerahan di kedua pipinya. Tak ada niat untuk menggoda siapapun saat itu. Namun tanpa ia duga, Zhao Ming De justru terkesima karenanya.
Sialnya semua yang ada di sana pun menyadari perubahan mata si tuan muda yang tengah terpukau.
Nyonya Xun menggertakkan gerahamnya. Anak kesayangannya telah kalah sebelum berperang. Pandangan Chu Zhan pun tidak lagi terlihat lega. Rasa was-was menghampiri dirinya.
Sebelum salah satu dari tiga orang keluarganya berkomentar, Chu Yao lebih dulu menyela. Dengan sopan ia berpamitan.
"Um, saya masih sedikit tidak enak badan. Silakan tuan muda dan Lin Lin melanjutkan pembicaraan bersama keluarga saya lainnya."
Demi Tuhan! Chu Yao sangat malas berada di situasi menggelikan seperti ini. Berdiri diantara orang-orang yang fokusnya hanya urusan perasaan dan perasaan.
Entahlah...
Chu Yao memang sangat lamban untuk urusan percintaan. Ia bahkan belum bisa membedakan antara perasaan cinta, rasa suka atau sebuah obsesi.
Ia memang tidak tertarik memikirkan nya. Bukan! Anggaplah belum sama sekali.
Toh selama Mo Yan bersamanya, ia tidak pernah merasa harus mencari sosok pendamping layaknya gadis pada umumnya.
Jika menurut orang-orang bahwa Zhao Ming De itu pria yang sempurna dari segi fisik hingga materi, lain halnya dengan Chu Yao. Ia sama sekali tidak tertarik dengan sosok populer se-ibukota itu.
Tuan muda Zhao bukanlah tipenya. Terlalu mudah bagi Chu Yao menebak perubahan emosi pria itu.
Istilah kerennya 'tidak menantang'.
Chu Yao memijat dahinya yang sedikit berkerut dan tidak perlu menunggu ijin dari orang-orang di sana, gadis itu pun berlalu pergi.
Dalam beberapa langkah sosok perempuan cantik dan cerdik dambaan tuan muda Zhao telah menghilang. Meninggalkan sisa-sisa kekaguman di hati pria paling populer di ibukota.
Keesokan harinya, Chu Yao nampak sedikit terkejut ketika bibi Wen menyampaikan pesan sang jenderal kepadanya.
Pria tua paruh baya itu tiba-tiba meminta seluruh keluarga nya yang ada di kediaman untuk berkumpul di ruang makan.
Chu Yao menaruh curiga. Pasti ada sesuatu yang akan disampaikan sang ayah kepada mereka.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama gadis itu sudah berada di ruang makan. Chu Yao terbiasa dengan lirikan tidak suka yang dilemparkan nyonya Xun dan Chu Ling kepadanya. Ia tak menggubrisnya sedikitpun.
Alih-alih membalas, Chu Yao justru malah menganggap kedua orang itu tidak ada di sana.
Lebih baik seperti itu. Demi kewarasan otaknya sendiri.
"Ada yang ingin aku sampaikan perihal kedatangan keluarga Zhao kemarin." Ucap jenderal Chu setelah semua makanan telah terhidang di atas meja makan.
Semua orang hening menyimak. Tak terkecuali Chu Yao. Ia memang tak berminat mendengarkan topik tentang keluarga Zhao, namun ia harus menjadi anak baik untuk mendekati sangat ayah.
"Zhao Fu Jun dan aku telah bersepakat untuk menikahkan kedua anak kami. Chu Ling akan menikah dengan Zhao Ming De setelah Chu Zhan melaksanakan pernikahannya dengan putri Chang Le." Tutur jenderal Chu dengan postur tubuh tegap berwibawa.
Chu Ling langsung sumringah. Begitu pula sang ibu. Kedua orang itu langsung tersenyum antusias. Seolah telah mendapatkan kemenangan atas perjuangan mereka selama ini.
Chu Yao tetap tenang meski lirikan sinis masih terarah padanya.
"Ayah harap kau tidak keberatan jika adikmu melangkahi mu lebih dulu, Yao'er." Ucap jenderal Chu. Suara datarnya nampak berusaha menenangkan perasaan gadis cantik itu.
Chu membalas dengan senyum tulus, "Saya sama sekali tidak keberatan, ayah. Saya malah berharap ayah tidak mencarikan saya calon suami seperti saudara saya yang lain."
"Kelak kau pun harus menikah, adik." Potong Chu Zhan.
"Saya tidak berminat untuk menikah." Balas Chu Yao singkat.
"Kelak kau harus tetap menikah. Akan ibu carikan calon yang terbaik. Tidak mungkin kan selamanya kau berada di kediaman Chu? Atau kau memang sengaja ingin orang-orang berprasangka bahwa kau sedang menunggu suami adikmu?" Cerca nyonya Xun tanpa tedeng aling-aling.
"Ibu! Tolonglah jangan memulai pertengkaran." Ucap Chu Zhan dengan alis yang berkerut kepada sang ibu.
"Kau menyalahkan ibu? Apa telingamu sudah tuli, Zhan'er? Apa kau tidak mendengar perkataan adik tirimu itu barusan?"
"Saya mendengarnya ibu.. "
"Kalian lihat kan?! Kalian sudah melihat tabiat anak itu! Tidak cukup membuat keluarga Chu malu saat keluarga Shu melamar dirinya. Sekarang malah bertindak diluar nalar seperti itu! Jika bukan mengincar calon suami Chu Ling, lalu apa lagi?!"
Chu Yao menghela napas panjang dan menatap tajam kearah wanita itu, "Berapa kali harus ku tekankan kalau aku sama sekali tidak tertarik dengan pria manapun. Terlebih pada tuan muda Zhao. Nyonya Xun tidak perlu ketakutan seperti itu. Apakah anda tidak yakin dengan kecantikan dan kemampuan putrimu sendiri sampai harus menekan orang lain seperti ini?"
Nyonya Xun nampak geram hingga raut wajahnya jadi menghitam. Chu Ling menahan gerak ibunya yang hendak berdiri menghampiri Chu Yao.
Putri bungsu jenderal Chu berkata, "Ibu tidaklah salah jika berkata demikian. Tidak mungkin kakak melajang seumur hidup. Itu akan mencoreng nama baik keluarga dan semua orang pun tau bahwa tuan muda Zhao memang sedang tertarik dengan kakak. Jika kakak masih juga melajang selama aku menikah, bukankah itu akan membuat perspektif seperti yang ibu katakan?!"
Suara Chu Yao mendadak menjadi dalam, "Ada beberapa hal yang harus kalian ketahui tentang ku. Pertama, pilihan melajang seumur hidup atau menikah itu adalah hak pribadi ku. Aku tidak akan mengikuti pola kehidupan kolot di zaman ini. Dan kuharap kalian tidak memaksakan kehendak kalian itu padaku jika tidak ingin melihatku memberontak!"
"... Kedua, perasaan tertarik calon suamimu padaku bukan menjadi tanggungjawab ku! Baik tidaknya kehidupan rumah tanggamu kelak tergantung dari kalian sebagai pasangan suami istri.. "
"... Ketiga, aku tidak perduli perspektif dan spekulasi orang lain terhadapku! Jadi, berhentilah menekan ku hanya karena perasaan takut kalian sendiri!"
Chu Yao bangkit dari kursinya dan meninggalkan ruangan itu tanpa pamit sedikitpun. Ia bahkan menepis tangan Chu Zhan ketika pria itu berusaha meraih lengannya. Dirinya tak perlu ditenangkan oleh Chu Zhan atau siapapun.
Hanya saja perasaan kesal memang menyerang hatinya. Bukan karena perkataan ibu atau adik tirinya barusan, namun pada sikap tidak perduli sang ayah. Seharusnya jenderal tua itu menengahi pertengkaran mereka seperti biasa.
Bukan malah diam seakan sengaja membiarkan istri dan anak bungsunya itu menyerang Chu Yao dengan bebas.
Semakin lama Chu Yao semakin tidak betah tinggal satu rumah dengan orang-orang beracun seperti mereka.
Chu Yao menekan dahinya yang berdenyut. Tanpa banyak berpikir, ia memanggil A-Wei untuk menemaninya berjalan keluar mansion. Hari ini, ia akan menghabiskan waktunya mengelilingi setiap pertokoan di ibukota.
__ADS_1
Menghibur dirinya sendiri.