
"APAAAA?" Teriakan Fu Bai menggelegar ke sekeliling paviliun alam.
Pemuda ceriwis itu harus menelan pil pahit ketika mengetahui bahwa adik angkatnya, Fu Hua, telah tidur satu atap bersama yang mulia kaisar.
Fu Rong menutup telinga. Omelan Fu Bai telah ia hapal diluar kepala. Kakak laki-laki nya itu memang penganut sekte terkolot sepanjang sejarah.
Sejak kembali dari pusat medis kerajaan pagi ini, Fu Rong telah dibuat pusing oleh rentetan pertanyaan dan omelan Fu Bai yang tiada henti.
Pemuda itu seolah kebakaran jenggot mendengar berita tentang Chu Yao yang sengaja dipindahkan oleh yang mulia kaisar ke kamar pribadinya.
Meskipun sudah Fu Rong katakan alasan yang sebenarnya, pemuda itu tetap terlena dalam dramanya.
"Bagaimana mungkin kau membiarkan dua orang berjenis kelamin berbeda yang berusia matang berada satu kamar bersama?! Xiao Rong! Kau mengecewakanku!" Tutur Fu Bai dengan penuh kepanikan dan berjalan mondar-mandir didepan Fu Rong.
"Jangan berlebihan!" Jawab Fu Rong dengan nada yang jengkel, "memangnya yang mulia buta hingga menyerang kakak Hua yang brutal begitu? Berhentilah berpikir yang tidak-tidak!"
"Kau meremehkan kecemasanku, Xiao Rong!" Potong Fu Bai yang masih nampak cemas dengan pemikiran absurd nya yang semakin merajalela.
"Yang ku khawatirkan bukan semata soal gadis itu! Tapi lebih pada yang mulia kaisar. Aku takut Xiao Hua tak kuat iman melihat pria tampan itu. Dan akhirnya tak tahan untuk melakukan hal-hal diluar nalar.."
Chu Yao yang sejak tadi berdiri dibalik pintu, mengernyit mendengar percakapan tak berfaedah dari kedua saudara angkatnya itu.
Alih-alih melabrak keduanya, Chu Yao justru kembali mendengarkan dengan kedua tangan bersedekap di dada.
"Gadis itu sudah berusia lanjut. Sudah siap untuk menikah, tapi harus tinggal begitu lama di pelosok daerah yang hampir-hampir tidak menampakkan pria yang tampan, bukankah jiwanya akan meronta-ronta begitu dihadapkan dengan wajah rupawan kaisar?"
Hah? Berusia lanjut?
Fu Bai sialan! Seenaknya berbicara.
"Ya, ya, ya, memang tak ada pria yang tampan selama kita tinggal di sana. Kau pun salah satunya. " Potong Chu Yao yang sudah tidak tahan dengan tingkah Fu Bai yang berlebihan.
"Xiao Hua! Kau jahat sekali. Kakakmu ini merupakan pahatan sempurna dari karya agung dewa dewi surgawi. Ketampanan yang hakiki ini hanya ada satu-satunya di dunia ini. Sungguh tega kau tidak menyadarinya." Ucap Fu Bai yang langsung mengambil sebuah cermin didalam lengan pakaiannya.
Fu Rong menggaruk kepalanya yang tak gatal kemudian bertanya pada Chu Yao, "lupakan pria gila ini! Bagaimana kondisi yang mulia sekarang?"
"Sama saja." Jawab Chu Yao singkat dan kemudian beralih pada pria narsis di sampingnya, "Fu Bai, bagaimana denganmu? Apa kau sudah menemukan cara untuk menyembuhkan yang mulia?"
Fu Bai menoleh kearah Chu Yao dan meletakkan kembali cermin kedalam lengan bajunya.
"Tak ada cara lain selain hanya menekannya dengan racun lainnya atau akupuntur saja. Tapi itupun takkan baik jika dilakukan untuk jangka waktu yang lama." Jawab Fu Bai dengan gelengan kepala.
Ia pun menambahkan, "Aku saja masih belum bisa memecahkan teori penyatuan racun yang dialami yang mulia. Jika aku sudah memecahkannya mungkin saja cara menyembuhkan bisa segera ku temukan."
Chu Yao berpikir sejenak, "apa kau pernah mendengar metode pemindahan racun dan daun cahaya abadi?"
Fu Bai melepaskan sikap santainya dan memandang Chu Yao dengan penuh keseriusan. Sorot matanya mengatakan bahwa ini kali pertama dia mendengar dua hal yang disebutkan oleh gadis itu padanya.
Chu Yao merasa sedikit ragu untuk berbicara, hanya saja ia tidak memiliki pilihan lain untuk membuka jalan pengobatan untuk Mo Yan.
"Nampaknya yang mulia melakukan metode tersebut sehingga menyebabkan penyatuan racun didalam tubuhnya.. "
"..Namun satu-satunya obat yang bisa menawarkan racun tersebut hanya daun cahaya abadi yang belum pernah ditemukan dalam satu abad terakhir."
"Dari mana kau tau hal itu?" Tanya Fu Bai dengan rasa curiga.
Chu Yao menghela napas, "kau kan tau latar belakangku dulu. Tidak perlu ku jelaskan panjang lebar. Kau hanya perlu menanyakan bagaimana proses pemindahan racun itu dilakukan pada yang mulia."
"Maksudmu, kau ingin memindahkan racun yang mulia kepada orang lain?"
"Hanya itu jalan yang kita miliki saat ini."
Chu Yao bangkit dari tempat itu dan kembali menimpali, "aku harus segera kembali sebelum yang mulia selesai dengan rapatnya bersama perdana menteri."
"Sebaiknya kau bertanya langsung pada yang mulia secepatnya, " Imbuh Chu Yao dengan penuh penekan, "jangan pernah kau katakan jika kau tau informasi itu dariku. Jika tidak, aku akan mengeluarkan semua isi perutmu dan menjemur nya agar menjadi santapan binatang diluar sana!"
"Sadis sekali." Gumam Fu Rong sambil menelan saliva.
Chu Yao tidak memberikan tanggapan dan menghilang dibalik pintu paviliun alam.
Dilain tempat, sepertinya tidak ada yang bisa menentang keputusan Mo Yan untuk mengakhiri pertemuan.
__ADS_1
Pria berwatak pendiam itu tidak hanya membuat semua orang yang berada di sana menyetujui segala rencananya tanpa bisa memberikan sanggahan sedikitpun. Namun juga telah memberikan tekanan yang membuat adrenalin mereka berpacu dengan cepat.
Mo Yan keluar dari ruang rapat itu dengan gerakan maskulin. Membuat Shen Xue Ying yang sengaja menunggu diluar terkesima dan semakin jatuh cinta kepadanya.
Perempuan itu menekuk lututnya dan memberikan salam hormat di iringi suara lembut yang mendayu-dayu.
Mo Yan tak perduli. Bahkan tidak menoleh sama sekali sehingga membuat perempuan itu semakin tertantang dan bergerak agresif.
Dengan mengumpulkan seluruh keberanian, Shen Xue Ying mencegat langkah kaki Mo Yan dan mengajak pria itu bercakap sejenak.
"Bagaimana kesehatan yang mulia? Saya dengar yang mulia harus dirawat secara pribadi oleh nona Fu. Mohon maaf jika saya baru bisa menjenguk yang mulia sekarang." Tutur Shen Xue Ying dengan ekspresi malu-malunya.
"Sebagai gantinya saya membawakan gingseng berusia seratus tahun. Semoga bisa membuat yang mulia sehat dan panjang umur."
Seorang pelayan pribadi Shen Xue Ying memberikan sebuah kotak berwarna hitam kepada A-Wei yang berdiri dibelakang sang kaisar.
Tanpa memberikan respon apapun, Mo Yan kembali meluruskan pandangan dan berjalan melewati perempuan berpakaian merah muda itu.
Namun secara tiba-tiba Fu Bai muncul dan kembali memberhentikan langkah kaki Mo Yan.
"Kau sudah kembali?" Tanya Mo Yan dengan nada datar.
Fu Bai membungkukkan tubuh dan memberi hormat, "Sudah yang mulia. Hanya saja ada suatu hal yang ingin hamba sampaikan secara pribadi dengan yang mulia."
Mo Yan melirik kearah A-Wei dan pengawal itu pun langsung mengosongkan tempat itu dalam sekejap.
"Katakan!"
Fu Bai berpikir untuk merangkai kata, "jika diperkenankan, bolehkah saya mengetahuinya bagaimana cara yang mulia melakukan proses pemindahan racun?"
Mata Mo Yan seketika meruncing dan menatap tajam kearah Fu Bai. Hanya dengan satu gerakan, telapak tangan Mo Yan sudah berada di leher pria itu dengan insting predator yang aktif.
Membuat orang-orang yang berdiri jauh di seberang mereka menjadi merasakan aura intimidasi yang kuat dari energi yang Mo Yan keluarkan.
***
Dari balik sekat tebal, Chu Yao memperbaiki posisi duduknya ketika mendengar derap langkah kaki yang hampir setengah berlari dari koridor paviliun pribadi kaisar.
Pintu berderit dan memunculkan bunyi 'Brak!' yang tak begitu keras.
Chu Yao menunggu. Namun tak ada kelanjutan dari suara pintu yang tertutup barusan.
Beberapa menit, ia masih menunggu dan akhirnya menegakkan punggung untuk memeriksa situasi dibalik sekat yang membatasinya.
Ruangan itu kosong. Sunyi dan lengang. Hanya ada dirinya yang berdiri tegak di tengah-tengah kamar yang luas.
"Yang mulia?" Panggil Chu Yao sambil mengelilingkan pandangan kesemua arah. Namun tak ada tanda-tanda orang lain di sana.
Chu Yao kembali memanggil, dan lagi-lagi hasilnya sama.
Ketika ia membuka mulut untuk menyeru lebih keras, tiba-tiba ada sebuah serangan dari seseorang berpakaian serba hitam dengan wajah yang tertutup keseluruhan dari arah belakang.
Refleks Chu Yao timbul dengan sendirinya. Ia mengeluarkan belati di kedua tangannya kemudian berdiri dengan posisi siaga.
Tak ada yang saling berbicara. Hanya sikap saling ingin menyerang yang mereka nampak kan.
Chu Yao melompat ketika pria berpakaian hitam itu bergerak maju dengan pedangnya. Beralih ke sisi kanan lalu berpindah lagi ke sisi kiri.
Begitu Chu Yao ingin memberikan serangan, pria asing itu selalu bisa menahannya. Serangan-serangan itu dialihkan ke sembarang tempat hingga membuat sebagian besar barang-barang disitu menjadi rusak.
Perempuan itu mengerutkan alis. Ia mulai menyadari sesuatu yang janggal.
Mengapa dari tadi pria itu hanya menghancurkan setiap benda di sisi nya? Padahal pria itu mempunyai banyak kesempatan untuk melumpuhkan gerakannya?
Chu Yao berhenti berupaya. Ia merasa sedang dipermainkan. Dengan muka masam ia melempar belati itu kebawah kaki pria berpakaian hitam.
"Berhentilah membuat kerusakan! Katakan apa yang kau inginkan, A-Wei?!"
Pria itu membuka tutup kepalanya dan berkata, "nona mengenali saya, tugas saya selesai."
A-Wei meloncat kearah taman disamping kamar kemudian menghilang bak ditelan asap sebelum Chu Yao sempat untuk berkata-kata.
__ADS_1
Chu Yao menggaruk pipinya yang tidak gatal. Rasa kesal ditinggal begitu saja membuat perempuan itu menarik napas panjang. Ia pun menunduk mengambil belati yang ia lempar namun sebuah jepit rambut ikut terjatuh bersamanya.
Sebuah tangan besar yang Chu Yao kenal telah lebih dulu menyambar jepit rambut itu. Meski belum melihat siapa didepannya, Chu Yao seakan sudah tau wujud orang itu di sana. Ia menelan saliva ketika menengadahkan wajah dan mendapati Mo Yan telah berdiri tepat didepannya.
Chu Yao mendadak tidak bisa bergerak. Tangannya terkepal dengan kuat disamping tubuhnya tatkala pria itu mendekat.
"Biar aku yang memakaikannya." Bisik Mo Yan sambil meletakkan benda itu tepat diatas ikatan rambutnya.
"Jepit rambut itu mengingatkanku pada jepit rambut yang sama dengan yang pernah ku berikan pada nona pertama Chu.. "
"Sangat tidak mungkin benda itu ada pada orang lain.. Apakah tidak ada yang ingin kau jelaskan padaku, Chu Yao?"
Begitu namanya disebut, Chu Yao otomatis memundurkan badan namun refleks Mo Yan sangat baik, pria itu dengan cepat meraih tubuh gadis itu dalam dekapannya.
"Anda salah orang, yang mulia." Tutur Chu Yao dengan penuh ketenangan yang dibuat-buat.
Mo Yan menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum dalam pelukannya, "benarkah?"
"Cuma Chu Yao dan aku saja yang bisa mengenali A-Wei hanya dari gerakan bela dirinya." Bisik Mo Yan dengan napas tertahan, "Selain aku, hanya Chu Yao dan orang-orang di paviliun dingin saja yang tau tentang metode pemindahan racun yang pernah ku lakukan.."
"... Jika kau bukan Chu Yao. Lantas siapakah yang memberitahu Fu Bai tentang hal itu?" Chu Yao tidak bergerak. Ia diam dengan ketegangan di setiap kata yang Mo Yan ucapkan.
Mo Yan semakin mengeratkan pelukannya, "Jangan lagi membodohi ku!"
"Saya tidak membodohi yang mulia!"
"Apa kepura-puraan mu itu bukan trik untuk membodohi ku?!"
Pelukan itu hampir berubah menjadi sebuah cengkraman yang kuat di lengan Chu Yao yang membeku.
Perasaan teraniaya yang Mo Yan rasakan begitu nyata hingga menembus benteng pertahanan Chu Yao yang kuat. Pria itu seolah sedang mengeluh. Melampiaskan semua kekecewaan dan juga harapannya pada perempuan yang masih tak memberikan respon apapun.
Mo Yan mendesis dengan segala kegundahannya, "Aku mencari mu ke seluruh tempat selama empat tahun ini tapi tak juga menemukan jejakmu.. "
"Mereka mengatakan aku terlalu terobsesi padamu hingga membutakan akal sehatku. Tapi mereka tidak tau bahwa keyakinan lah yang membuatku bertahan hidup.. Keyakinan itu jugalah yang membuatku bertemu lagi denganmu.."
Mo Yan membenamkan wajahnya dalam lekuk leher Chu Yao yang jenjang. Menghirup sedalam mungkin aroma yang ia rindukan. Suaranya serak dan bergetar. Penuh rindu dan mendamba.
"Kau telah melihatku. Namun justru berlagak tidak mengenalku. Membuat batas untuk hubungan kita. Apa kau sengaja membuatku menderita? Apa kau ingin aku tak berdaya seperti yang kau lakukan saat kau mengirim ku ke tempat asing ini?"
"Aku tidak perduli! Meski kau tidak menginginkanku lagi, aku akan terus mengikuti mu. Kau harus bertanggungjawab karena membuatku merasakan rasa sakit selama ini! Aku takkan lagi membiarkanmu pergi dariku meski sejengkal pun!"
Chu Yao menggigit bibir. Menahan goncangan emosi yang hampir meluap di dadanya.
"Aku adalah Fu Hua, bukan Chu Yao. Perempuan itu telah lama mati bersama dengan orang-orang itu di aula kematian."
Mo Yan melonggarkan dekapannya dan menatap Chu Yao dengan pandangan gelap dan dalam.
"Jika Chu Yao telah mati, maka Mo Yan pun demikian. Jika kau sekarang adalah Fu Hua maka aku adalah Xu Xiao Yan. Tidak ada yang berubah selain sebuah nama." Ucap Mo Yan sambil menarik kain tipis yang menutup sebagian wajah Chu Yao.
"Perasaanku tetap sama." Bisik Mo Yan yang meletakkan dahinya di dahi Chu Yao dengan penuh kelembutan, "Bahkan semakin dalam terhadapmu."
Chu Yao tak lagi bisa menahan perasaannya. Ia merengkuh Mo Yan dalam pelukan rindunya, "Maafkan aku! Maafkan aku!"
"Aku bersalah padamu! Aku takut kau akan membenciku! Aku takut kau pun akan terluka karena ku! Aku takut.. Mo Yan.."
Suara Chu Yao yang lirih berbanding selaras dengan tubuhnya yang gemetar tak terkendali.
Mo Yan menangkup wajah Chu Yao. Ada sebuah trauma yang begitu dalam di iris beningnya. Begitu jelas hingga Mo Yan bisa merasakannya.
"Tidak akan! Aku akan selalu bersamamu!" Ucap Mo Yan meyakinkan.
Pemuda itu memeluk Chu Yao dengan penuh rasa sayang. Ia bahkan membiarkan perempuan itu melampiaskan semua perasaan sedih dalam rengkuhannya.
Tidak perduli berapa lama, dekapan itu tetap ada hingga wanitanya menjadi lebih tenang.
Mo Yan tersenyum dalam sukacita. Tubuh yang tertidur dalam gendongannya itu nampak begitu membuai asanya. Seolah membawanya kembali merasakan atmosfer kehidupan.
Mo Yan meletakkan gadis yang nampak kelelahan itu di atas tempat tidurnya dengan penuh kelembutan. Ia bahkan dengan sengaja menyelipkan tangannya dibawah leher sang gadis hanya demi merasakan sensasi kepemilikannya.
Chu Yao menggeliat tanpa sadar dan membuat pria itu semakin gemas karenanya.
__ADS_1
"Aku berjanji, akan ku balas rasa sakit yang telah mereka berikan kepadamu!" Gumam Mo Yan dengan kecupan lembut di puncak kepala Chu Yao.