Memperbaiki Masa Lalu

Memperbaiki Masa Lalu
Bab 73


__ADS_3

Airland, delapan bulan kemudian.


Matahari di atas cakrawala tak berawan. Pemandangan dari ujung ke ujung hanya berupa lanskap putih dengan butiran kecil, beku dan dingin.


Sosok perempuan dengan mata coklat cinnamon, berpakaian tebal dengan mantel panjang dari bulu serigala, menatap jauh sebuah mansion lama yang sudah terbengkalai.


Pintu berderit, membuat sensasi asing begitu ia menyeruak masuk ke dalamnya.


“Kita akhirnya ke sini..” Gumam perempuan itu pada dirinya sendiri. Entah siapa yang di sebutnya dengan kata, 'kita'. Tak ada seorang pun yang bersamanya saat itu di kediaman Chu yang sudah tua dan lapuk.


Chu Yao berjalan perlahan, menyusuri setiap lorong kediaman. Seolah-olah sedang bernostalgia pada kenangan masa lalu, dimana dia dan keluarganya melakukan banyak kesibukan diberbagai tempat di mansion besar nan luas itu.


Jemarinya menari kecil di setiap area yang telah tertumpuk oleh butiran salju. Sudut bibir berwarna merah menyunggingkan senyum.


“Kenapa berlarian seperti itu? Aku kan hanya berdiri di sini dari tadi.” A-Wei berlari, hampir tersungkur menginjak lantai yang licin saat menghampiri Chu Yao.


“Saya mencari nyonya kemana-mana. Ternyata nyonya ada di sini.” Jawab pria polos itu dengan napas yang ngos-ngosan.


Chu Yao terkekeh pelan, “Memangnya aku kemana lagi? Bukankah selama kita di Airland, hanya tempat ini yang belum aku kunjungi.”


A-Wei diam sejenak, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Saya hanya bingung sesaat. Saya takut terjadi sesuatu terhadap nyonya. Jika tuan sampai tau..”


Kata-kata A-Wei terhenti. Ia mendadak berwajah muram dan meminta maaf, “Seharusnya saya berpikir dulu sebelum berbicara. Maafkan saya. Saya pantas di hukum!”


“Tidak apa-apa, A-Wei..” Balas Chu Yao dengan sorot mata yang teduh, “..Kamu yang seperti itu malah mengingatkanku padanya..”


Chu menengadahkan wajah dan membiarkan salju menyirami seluruh panca indera nya. Ia mencari ketenangan dalam pertengahan musim dingin yang panjang. Namun, sampai detik itupun, ketenangan itu tak kunjung ia dapatkan.


“Sudahlah, lebih baik kau ikut denganku. Mari kita lihat tempat penuh kenangan itu bersama-sama.” Sang pengawal mengangguk patuh. Mengikuti langkah kaki Chu Yao dengan pelan.


Kepingan memori mulai terkumpul begitu Chu Yao dan A-Wei membuka pintu gerbang paviliun dingin. Mereka berjalan tanpa saling berbicara. Mengelilingkan pandangan dari satu tempat ke tempat lainnya secara bergantian.


“Hampir sama. Tidak ada perubahan yang begitu berarti selain suasananya saja.” Gumam Chu Yao ketika menyibak pintu kamar yang tertutup rapi.


Ia mulai menyadari sebuah keanehan baru. Kondisi kamar yang pernah ia gunakan begitu terawat dan bebas dari debu.


“Ada yang membersihkan tempat ini sebelumnya.” Ucap A-Wei yang sudah mulai menjelajah ke sekeliling ruangan.


“Apa kau tidak ingin memujiku?” Celetuk Ye Zuan sambil membawakan sepiring kudapan, “Paling tidak kau bisa mengucapkan terima kasih.”


Chu Yao mendengus dan duduk di kursi yang sudah tersedia. Ia sudah menduga jika Ye Zuan lah yang telah menjaga tempat itu untuknya.


“Kau terlalu serakah. Bukankah kau sudah sering mendapatkan ucapan terima kasih sejak kau naik tahta.” Sindir Chu Yao dengan santai kepada kaisar baru Airland.


Ye Zuan mengerucutkan bibir dan menuangkan teh yang sudah di bawa Lu Jin beberapa menit yang lalu, “Itu berbeda. Sangat berbeda! Kau tidak bisa menyamakannya.”


“Suatu kelangkaan jika mendapat ucapan terima kasih dari permaisuri Alorra.” Tambah Ye Zuan dengan sedikit nada bercanda.


Chu Yao mengulum senyum, “Status itu hanya sementara. Demi menyelesaikan semua tugas yang Mo Yan tinggalkan. Jika dia sudah membuka mata dan sadar sepenuhnya, maka aku akan melepaskan semua tanggung jawab ini pada perdana menteri Alorra.”


Ye Zuan terdiam sesaat. Ia menelan saliva dan menepuk punggung tangan Chu Yao dengan lembut, “Aku yakin suatu saat Mo Yan akan kembali seperti semula.”


Ye Zuan tidak bisa memilih kata-kata yang tepat untuk menghibur perempuan itu. Sejak peperangan terakhir yang terjadi di perbatasan, kaisar Alorra tidak pernah membuka matanya. Pria itu terluka akibat hunusan pedang Long Jin Mao. Dan penyakit lamanya membuat kondisi tubuh pemuda itu semakin parah. Mo Yan berada dalam keadaan koma sejak delapan bulan yang lalu.


Chu Yao tersenyum kelu, “Aku selalu memiliki harapan bahwa dia akan segera siuman. Meski aku tidak tau kapan hari itu akan tiba, aku masih meyakininya.”


Ye Zuan menanggapi semangat Chu Yao dengan tepukan ringan di puncak kepala perempuan itu. Kemudian kembali menyeruput teh hangat di depannya. Kaisar Airland itu menjeda. Seolah-olah sedang melesap jauh ke dalam pikirannya. Situasi yang hening itu membuat Chu Yao mengambil inisiatif untuk bertanya lebih dulu.


“Apa yang sedang kau pikirkan?”


Ye Zuan menyunggingkan senyum dan menjawab, “Bukan apa-apa. Hanya kilasan masa lalu terlintas begitu saja di otakku.”


Chu Yao mengunci mulut dengan memandang butiran salju yang jatuh silih berganti dari langit. Ia bersyukur bahwa Ye Zuan dan Mo Yan saling bekerjasama dalam peperangan delapan bulan yang lalu. Jika Ye Zuan tidak menceritakan bagaimana cara mereka menyusun strategi untuk melumpuhkan kekuasaan Long Jin Mao, mungkin sampai saat ini Chu Tak kan pernah tau kebenarannya.


“Aku cukup terkejut saat tau kalian berdua telah merencanakan kematian Long Jin Mao dalam peperangan ini sebelumnya.” Ucap Chu Yao yang nampak tidak hormat ketika menyebutkan nama kaisar Airland terdahulu tanpa gelar sedikitpun.


Ye Zuan menyeringai tak perduli, ia menjawab dengan sangat santai, “Sebenarnya aku tidak ingin berkoalisi dengan kaisar Alorra. Aku tidak pernah memiliki gambaran bahwa pemimpin termuda itu adalah Mo Yan.”


“Aku sempat tercengang saat bertemu dengannya. Meski terlihat lebih menutup diri, Mo Yan tetap memperlakukan aku seperti yang dulu. Ia tidak menjauh tapi tidak juga mempersempit jarak yang ada..”

__ADS_1


Ye Zuan kembali menuangkan teh di cawannya yang telah kosong, “...Dia tetap seperti itu. Tak banyak bicara. Hanya dalam beberapa kali penjelasan yang dia berikan, aku langsung menyetujui semuanya. Entah sihir apa yang sudah ia berikan padaku saat itu. Akan tetapi, luka yang diterima Mo Yan memang di luar perkiraan dan itu juga bukan dalam rencana yang sudah kami susun.”


Helaan napas Ye Zuan membuat uap kecil dan sesaat memberikan efek samar pada sosoknya yang tampan, “Tapi semuanya sudah berakhir. Kedua negara sudah saling berdamai. Sesuai dengan keinginan semua orang.”


Tak ada yang perlu khawatir lagi dengan pemerintahan Long Jin Mao yang otoriter. Semua dendam telah terbalas. Kaisar Airland yang manipulatif telah mangkat. Permaisurinya pun sudah meregang nyawa, menggantung dirinya sendiri ketika mendengar sang suami telah tewas di medan perang.


Meski terlihat cuek, sebenarnya Ye Zuan dan Chu Yao tetap merasakan rasa sedih. Bagaimana pun, seburuk-buruknya Long Jin Mao, pria tua itu tetaplah ayah kandung mereka.


Hanya saja, sepak terjang kaisar arogan itu memang sudah di luar nalar. Baik Ye Zuan maupun Chu Yao tidak memiliki kemampuan untuk mencegah rasa dendam dan sakit hati terhadapnya.


“Waktuku sudah habis untuk bersantai denganmu. Saatnya aku kembali.” Ucap Chu Yao sembari bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah pintu.


“Pergilah. Kabari aku jika Mo Yan kecil sudah lahir, ya.” Balas Ye Zuan dengan senyum yang menggoda.


Chu Yao tidak memberikan jawaban. Ia hanya tersenyum dan menganggukkan wajah sambil memberikan elusan lembut di perutnya yang telah membesar.


Sebulan setelah perang selesai, Chu Yao di kejutkan dengan kabar baik dari Fu Bai. Ia sama sekali tidak menduga bahwa kondisi tubuhnya yang tidak sehat saat itu adalah gejala awal kehamilannya. Fu Bai takjub, dengan situasi dan keadaan yang masih tidak stabil, janin itu tetap berkembang dengan kuat.


“Padahal kau sudah ikut berperang, menunggangi kuda bahkan melakukan kegiatan kasar lainnya, tapi benih itu tetap ada. Ya Tuhan, dia sangat kuat.” Ucap Fu Bai dengan raut wajah yang rumit.


Chu Yao sendiri memang tidak mempercayai perkataan Fu Bai. Namun semua keraguannya seketika lenyap begitu tabib istana membenarkan hipotesis sang ahli racun dengan penuh keseriusan. Dan hanya dalam beberapa waktu, semua gejala awal bermunculan seolah sedang memberikan pembenaran pada penuturan dua orang tersebut.


Chu Yao kembali menghela napas dalam-dalam. Ia memberi hormat kepada kaisar Airland kemudian pergi bersama A-Wei melintasi setiap lorong di kediaman itu.


Di depan gerbang telah tersedia dua kereta dan dua sosok yang nampak menunggu Chu Yao. Chu Zhan dan Chu Ling. Chu Yao menghampiri mereka. Melakukan sedikit basa basi untuk menguraikan kecanggungan yang ada.


“Kudengar kau akan kembali ke Alorra hari ini..” Kata Chu Zhan sambil menyerahkan beberapa kotak kue dan manisan kepada A-Wei.


“Benar. Aku sudah cukup lama di sini. Semua urusan sudah terselesaikan dan ini saat yang tepat untuk kembali. Fu Bai pasti akan menerorku jika aku terlambat dari hari yang telah ku janjikan.” Kekeh Chu Yao.


“Kalau begitu, Berhati-hatilah di jalan. Cuaca di musim dingin sangat berbahaya. Seharusnya kalian pulang setelah musim ini berakhir. Aku takut kau dan anakmu akan terserang hipotermia dalam perjalanan panjang ini.”


Chu kembali terkekeh, kali ini semburat merah menghiasi pipinya, “kau tidak perlu khawatir, anak ini sekuat ayahnya. Aku rasa dia malah merasa senang di bawa melihat pemandangan di sepanjang perjalanan.”


Chu Zhan mengalah, meski rasa cemasnya masih terlihat jelas. Ia tidak ingin membuat Chu Yao terganggu dengan kekhawatirannya. Ia pun tersenyum dan mengajak A-Wei pergi dan membiarkan kedua adiknya bercengkrama untuk beberapa menit ke depan.


“Aku hanya ingin mengantarmu..” Jawab Chu Ling sambil mengalihkan pandangan ke arah kereta.


“Kau tidak perlu merasa aneh, karena aku pun merasa tindakanku ini tidak seperti diriku sendiri. “ Ucap Chu Ling yang menyadari raut wajah Chu Yao nampak penuh keheranan.


“Sejujurnya aku masih merasa kesal padamu. Namun aku bukan orang yang berpikiran sempit. Aku tau Zhao Ming De lah yang bersalah. Dia memang pantas dihukum. Aku menyadari bahwa perasaan di antara kita bertiga tidak bisa dipaksakan. Aku terlalu na’if terhadap cintaku padanya dan dia pun terlalu fokus pada perasaannya, sehingga menyebabkan dia bertindak impulsif dengan obsesi yang berlebihan terhadapmu..”


Chu Yao diam mendengarkan perkataan Chu Ling. Perempuan itu di buat kaget dengan perubahan sikap sang adik yang terlihat semakin dewasa. Pemikiran Chu Ling tak lagi penuh dengan siasat. Nampaknya, hukuman penjara yang Zhao Ming De dapatkan telah membuka mata hatinya.


“Aku tidak ingin hidup dalam masa lalu. Saat ini hanya Chu Zhan dan dirimu yang masih menjadi keluargaku. Meskipun aku tau bahwa kau bukan kakak kandungku, aku akan tetap menganggapmu sebagai Chu Yao yang menyebalkan. Jadi jangan pernah berangan-angan kalau aku akan memanggilmu tuan putri atau permaisuri Alorra.”


Chu Yao tergelak mendengar ucapan Chu Ling. Meski terdengar sedikit kasar namun Chu Yao tau bahwa perempuan itu sedang membujuknya untuk berbaikan, “Baiklah.. Aku sudah memaafkanmu.. Sejujurnya aku pun tak ingin di panggil seperti itu olehmu. Entah mengapa bulu kudukku langsung meremang membayangkannya.”


Wajah Chu Ling memerah, merengut tapi ia juga terlihat senang. Ia berlagak acuh dan berkata dengan asal, “Tertawa sepuasmu...”


Perempuan itu berbalik dan melambaikan tangan, “Urusan kita sudah terselesaikan. Kembalilah dengan aman. Jangan buat dirimu kelelahan. Aku masih ingin melihat perpaduan wajahmu dan Mo Yan itu lahir ke dunia.”


Chu Yao tersenyum dan membiarkan kedua saudaranya menghilang. Ia pun memerintahkan A-Wei untuk bersiap dan segera meninggalkan Airland.


Kereta itu mulai berjalan. Menyisir setiap tempat secara perlahan. A-Wei berusaha mengendarai kereta dengan penuh kehati-hatian. Ia bahkan memelankan jalan mereka agar nyonya muda itu bisa menikmati perjalanan.


Di sepanjang jalan yang mereka lewati hanya terdapat hamparan salju berwarna putih.


Chu Yao kembali menuliskan surat, yang entah berapa kalinya, untuk pria yang masih terbaring tak sadarkan diri di sana.


Perempuan itu menggoreskan kata perkata dalam lembaran kertas, menceritakan banyak hal. Remeh hingga problematika yang berat. Semua ia curahkan dalam bait-bait frase yang penuh alur dan irama kerinduan. Meski sudah sekian surat yang ia kirim, belum ada satupun balasan dari pria berwajah datar itu.


Chu Yao tidak mempermasalahkannya. Walaupun semua jejak itu tak pernah terbaca oleh Mo Yan, ia tetap akan terus memberi kabar padanya.


Hari demi hari berlalu. Perjalanan panjang itu pun terhenti di titik akhir.


Alorra..


Dengan segala kenangannya, kembali menorehkan berbagai rasa di hati Chu Yao. Ia bernostalgia dengan semua alur kehidupan yang pernah ia lalui di sana.

__ADS_1


Chu Yao masih menatap kosong aktifitas masyarakat di sepanjang jalan. Pikirannya melayang entah kemana. Membuat ruang hampa dalam setiap detik waktu yang telah bergulir.


Gerbang kediaman pribadi kaisar nampak dari kejauhan. Deretan prajurit yang berjaga menunduk hormat tatkala kereta yang Chu Yao kendarai melewati mereka.


Jika dulu Chu Yao merasa tak nyaman dengan situasi tempat itu yang begitu ketat dan tidak bebas, kali ini justru ia sangat menikmatinya.


Bagaimanapun tempat itu adalah rumah Mo Yan. Di mana ada Mo Yan di situlah Chu Yao akan merasakan rasa aman. Hanya di tempat itu Chu Yao bisa menemukan sosok yang ia rindukan.


Bukan di Airland, atau dimanapun!


“Terima kasih A-Wei.” Ucap Chu Yao ketika pemuda itu membantunya turun dari kereta.


Chu Yao memandang jauh ke depan. Nampak sosok Fu Bai, Fu Rong dan Sheng Xin telah berdiri menyambut kedatangannya di depan pintu paviliun pribadi kaisar. Sambil menggeleng-gelengkan kepala, perempuan berbadan dua itu tersenyum dalam kepahitan.


'Apa yang kau harapkan, Chu Yao?' lirihnya dalam hati, seolah sedang berdialog dengan dirinya sendiri.


'Jika memang dia telah sadar, dia pasti akan berdiri di depan sana. Menyambut kepulanganmu dengan senyumannya yang hangat.'


'Bisakah kau tidak bersikap serakah? Itu hanya akan membuatmu semakin merasakan rasa sakit yang berkepanjangan..’


Chu Yao menggigit bibir dan menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan perasaannya yang mulai lemah. Ia berusaha untuk tegar.


“Kenapa wajahmu nampak sedih seperti itu? Apa kau tidak senang karena hanya kami yang menunggumu di sini?” Sindir Fu Bai ketika Chu Yao sudah mendekat.


Sheng Xin mengulum senyum dan bertukar pandang dengan Fu Rong, “Jadi ikut kecewa juga, padahal aku sangat merindukanmu tapi kau justru tidak merindukan kami.”


“Bukan begitu, aku memang merindukan kalian tapi...” Mata Chu Yao mendadak berkabut. Ia menundukkan kepala dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Pundaknya naik turun tak terkendali.


“Aku merindukannya...” Isak Chu Yao dengan suara yang bergetar. Benteng ketegaran yang ia bangun langsung runtuh seketika.


“Aku rindu Mo Yan...”


Tangis Chu Yao pecah. Semua orang terdiam. Tak ada yang bisa memberikan ketenangan pada sosok perempuan keras kepala itu selain pria yang perempuan itu sebutkan.


Rintihan pilu Chu Yao membuatnya tak bisa mengontrol diri. Ia benar-benar lelah. Perasaannya kalut. Semua pada dirinya sudah tidak tertanggulangi.


Tiba-tiba seseorang memberikan pelukan kepadanya dari arah belakang. Membuat tangis Chu Yao yang penuh kesedihan itu terhenti sesaat.


“Aku sudah membaca semua surat yang kau kirimkan...” Bisik sosok misterius tersebut dengan pelan di leher Chu Yao.


“Bagaimana kalau nanti kita ke Airland, bersama-sama. Apa kau bersedia?”


Chu Yao meraih tangan yang tengah memeluknya. Mencengkram kuat jemari pria itu dan kembali menangis sesenggukan. Pria bersurai putih keperakan itu menaikkan ujung bibirnya, membuat senyum yang hangat di balik getaran tubuh Chu Yao yang dahsyat.


“Selamat datang.. Istri dan anakku.. Aku merindukan kalian..” Ucap Mo Yan sambil memberi kecupan di pipi Chu Yao yang memerah.


“Aku rindu..”


“Aku sangat merindukanmu..”


Chu Yao berbalik dan dengan frontal menyeruak ke dalam rengkuhan pria yang sudah lama ia dambakan.


Ia bahkan tidak lagi menahan diri untuk terlihat tegar. Perempuan itu membiarkan seluruh perasaannya meluap. Merasakan seluruh kepemilikannya terhadap Mo Yan.


“Jangan begitu lagi!” Raung Chu Yao. Ia bahkan memberikan pukulan manja di punggung Mo Yan yang lebar dan bidang.


“Aku tidak mau menunggumu untuk kedua kali!”


“Aku takut.. Kau tidak akan membuka matamu lagi... Aku takut...”


Mo Yan terkekeh sambil tetap mengernyitkan alis. Ia menahan pukulan kesal Chu Yao sambil terus mengeratkan pelukannya.


“Baik.. Aku berjanji.. Aku takkan membuatmu khawatir lagi..”


Pemuda itu menangkup wajah Chu Yao dan memberikan ciuman yang dalam di bibirnya. Membuat napas kedua insan itu saling memburu dalam kerinduan.


“Semua sudah berakhir. Kita akan hidup tenang dan bahagia seperti yang kita inginkan.”


---TAMAT ---

__ADS_1


__ADS_2