
"Maafkan saya."
Suara lirih Mo Yan beriringan dengan gerakan berlutut yang ia lakukan.
Chu Yao mengernyit. Bukan karena menahan rasa nyeri yang timbul akibat gesekan perban dan luka di punggung kecilnya sejak tadi, namun pada respon sang pengawal yang tidak ia harapkan seperti itu.
"Apa yang harus ku maafkan? Bukankah sejak awal kau memang dilatih oleh ayah. Wajar saja kau merasa dilema jika harus menyelidiki orang yang sudah berjasa dihidupmu." Ucap Chu Yao dengan pandangan yang beralih dari satu tempat ke tempat lainnya.
Pria tampan itu mendongakkan wajah dan mendapati Chu Yao telah berada tepat didepan nya.
"Bagunlah!"
Tangan Chu Yao terulur. Menunggu pemuda itu meraihnya dan berdiri kembali ke tempat semula. Namun Mo Yan tak bergeming. Ia hanya menatap raut wajah sayu sang gadis tanpa berkata apapun.
Chu Yao menghela napas dan tiba-tiba mengikuti gerakan Mo Yan. Ia berlutut dengan posisi yang sama. Saling berhadapan tanpa melepaskan pandangan satu sama lain.
"Aku merasa kau terlalu sering berlutut didepanku jadi kali ini biarkan aku menemanimu."
"Nona.. Ini tidak pantas. " Bantah Mo Yan gelagapan.
"Anggap saja ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya!" Balas Chu Yao dengan intonasi rendah dan lelah.
"Tapi.. "
"Bangun atau terus seperti ini sampai pagi?" Kata Chu Yao seakan memberi pilihan pada pengawal pribadinya itu.
"Baik, saya akan bangun."
Mo Yan mengalah seraya memapah tubuh Chu Yao untuk duduk kembali di atas tempat tidur.
Perempuan itu tak melepaskan tangan Mo Yan begitu saja, ia tetap menggenggamnya dan berkata, "Karena kau begitu banyak menyimpan rahasia dariku, apakah aku harus mengembalikanmu pada ayah?"
Tatapan pemuda itu nampak syok. Meski sekilas, Chu Yao menyadari rasa tidak rela muncul dari gerak tubuhnya yang tersentak sesaat.
"Saya hanya menunggu waktu yang tepat untuk memberitahukan semuanya pada nona." Jelas Mo Yan dengan rasa bersalah.
Tatapan Chu Yao menjadi setajam pisau, "Sebagai pengawal pribadiku saat ini, apakah kau memiliki hak untuk memutuskan sebuah keputusan? Kau membuatku menunggu seperti orang yang bodoh, Mo Yan!" Cerca Chu Yao dengan mode arogan.
"Bukan... " Suara Mo Yan tiba-tiba tertahan. Meski ingin memberikan penjelasan namun kebimbangan masih menyelimuti hatinya.
Chu Yao tak gentar. Tanpa ragu ia menambahkan, "Semakin kau mengulur waktu semakin jauh kesempatan ku untuk mengetahui semua kebenaran itu. Semakin lama pula untukku membalaskan dendam ibuku.. "
"Tindakanmu itu takkan membuat kematianku menjauh. Pada akhirnya cepat atau lambat aku juga akan mati karena racun pelebur tulang sialan itu!"
Mo Yan semakin membisu dengan tangan yang terkepal kuat. Wajah frustasi Chu Yao tak lagi bisa disembunyikan. Perempuan itu menggigit bibir menahan gejolak emosinya.
"Aku tidak perduli jikalau harus meregang nyawa dengan cara yang sama lagi. Asalkan semua kebenaran ini terungkap jelas dan nama baik ibuku bisa segera dibersihkan. Kesakitan akan racun jahanam itu akan sepadan dengan rasa puas yang kubawa mati!"
Alis Mo Yan hampir menyatu mendengar rentetan kata yang diucapkan gadis itu. Otaknya seakan saling bertabrakan menolak informasi baru.
Mati dengan cara yang sama lagi?
Maksudnya apa?
Apakah racun pelebur tulang itu memang sudah pernah Chu Yao ketahui sebelumnya?
Ataukah itu hanya sekedar kata-kata asal akibat luapan emosi yang tidak stabil pada dirinya?
Mo Yan membatin. Tangannya tak lagi diam di samping tubuhnya. Kini tangan berotot itu menggenggam tulang humerus Chu Yao dengan hentakan pelan. Raut wajahnya menjadi kompleks karena campuran berbagai emosi.
__ADS_1
"Kau tidak akan mati selama aku masih hidup! Jangan pernah berkata konyol seperti itu lagi!" Ucap Mo Yan dengan gertakan gigi yang kuat.
Chu Yao tertawa geli namun juga miris, "Kau terlalu percaya diri, Mo Yan! Meski kau tidak mengatakan apapun saat ini tapi aku tau bahwa orang-orang tadi adalah suruhan permaisuri. Apakah kau pikir kesadaran ku hilang seluruhnya ketika kau bertanya siapa yang telah mengirim mereka?"
"Saya tidak berpikir demikian." Jawab Mo Yan dengan pikiran yang mulai terbuka. Ia kembali menyadari bahwa Chu Yao bukanlah perempuan yang bodoh. Gadis itu merupakan gadis paling cerdas yang pernah ia temui di kehidupannya.
"Kasim Han adalah tangan kanan permaisuri, bukan? Sebentar lagi kita akan mendapat kabar baik tentangnya." Gumam Chu Yao dengan seringai liciknya. Ia sudah tidak sabar mendengar kehancuran salah satu orang yang telah membuatnya dan orang-orang yang disayanginya menderita.
"Mulai sekarang kau tidak perlu menyelidiki apapun. Baik tentang ayah atau apapun itu! Akan ada seseorang yang akan melakukannya untukku." Tukas Chu Yao tegas.
Perkataan Chu Yao telah membuat Mo Yan tertegun. Ia sama sekali tidak menyangka jika Chu Yao akan menyuruh seseorang menggantikan tugas yang sudah di berikan kepadanya.
Ia cukup syok. Selama ini ia selalu menyelesaikan tugas yang diberikan sampai tuntas.
Belum pupus rasa syok yang diterima Mo Yan, Lagi-lagi ia harus mendapat kejutan baru atas keputusan yang Chu Yao ambil.
"Mulai besok, kau akan aku bebaskan. Aku akan memberimu surat pelepasan. Kau tidak akan bekerja sebagai bawahanku atau siapapun lagi. Kau akan bebas menjalani hidupmu sendiri tanpa tekanan dari siapapun lagi."
Chu Yao menyerahkan selembar kertas pembebasan budak yang di stempel basah oleh plakat resmi kediaman Chu kepada Mo Yan.
Alih-alih menerima, Mo Yan justru bertanya dengan suara dalam yang terdengar getir di telinga Chu Yao, "Apakah nona benar-benar tidak membutuhkan saya lagi?"
Chu Yao tak menjawab. Ia hanya membalikkan badan setelah meletakkan surat tersebut diatas meja disamping Mo Yan berada.
"Apakah nona benar-benar yakin?" Tanya Mo Yan yang telah berdiri tepat didepan Chu Yao dengan tatapan tajam.
"Aku yakin! Kau akan bebas selamanya. Ku harap kau akan hidup damai layaknya pemuda biasa." Jawab Chu Yao dengan suara tenang dan stabil.
Tak nampak rasa sesal ataupun ragu. Seakan hati perempuan itu begitu keras layaknya sebuah batu. Padahal jauh dalam lubuk hatinya, ada perasaan sakit teramat sangat melihat pria yang selalu berjuang bersamanya tengah menatapnya dengan pandangan kecewa.
"Apakah keputusan ini nona ambil karena saya melakukan kesalahan tadi? Nona boleh memberi saya hukuman apapun, tapi saya sudah bersumpah akan melayani nona sampai akhir hidup."
Justru itu!
Chu Yao hanya mencari-cari alasan untuk membuat Mo Yan menjauh. Ia tidak ingin laki-laki itu terlibat lebih jauh dalam permasalahan pelik yang tengah dihadapinya.
Ingatan perempuan itu kembali pada beberapa hari yang lalu, saat ia berada didalam paviliun kehidupan bersama pelayan pribadinya.
Saat itu, tiba-tiba Yun Yi datang dengan sepucuk surat dari pangeran kedelapan.
Dalam surat itu, Ye Zuan mengatakan bahwa ia harus mempersiapkan diri. Akan terjadi peristiwa besar di ibukota Airland pada musim dingin tahun ini.
Selama peristiwa itu belum terjadi, Ye Zuan sangat berharap bahwa Chu Yao bisa menjaga diri. Jangan sampai tertangkap oleh orang-orang suruhan permaisuri ataupun putra mahkota.
Jika hal itu sampai terjadi, maka semua rencana yang mereka susun dari jauh-jauh hari akan runyam seketika.
Ye Zuan memang tidak menjelaskan perihal 'mereka' dalam surat tersebut. Namun bisa Chu Yao pastikan bahwa ada jenderal Chu disana.
Bagaimana tidak?
Perilaku tidak biasa sang ayah telah membuat kecurigaan Chu Yao menguat hari demi hari.
Mulai dari kembalinya pasukan dari perbatasan, dekret perdamaian dengan Alorra, pernikahan Chu Zhan dan putri Chang Le yang di percepat hingga keputusan mendadak jenderal terhadap pernikahan adik tirinya dan tuan muda Zhao.
Jika diruntutkan, Chu Yao bisa membaca bahwa semua itu merupakan jejak penyelamatan yang memang di prakarsai oleh pria tua tersebut dan Yang mulia Kaisar.
Jika bukan karena keadaan terdesak, tidak mungkin semua itu dilakukan secepat kilat.
Chu Yao masih tidak mengerti alasan apa yang menyebabkan permaisuri mengincar dirinya.
__ADS_1
Meskipun dalam surat tersebut disebutkan bahwa Chu Yao bukanlah putri kandung jenderal Chu, lantas apa hubungannya dengan posisi permaisuri dan putra mahkota yang merasa terancam apabila perempuan itu masih hidup.
Ditambah lagi, Ye Zuan mengatakan bahwa Chu Yao harus membantunya melengserkan putra mahkota dengan kekuasaan yang Chu Yao miliki.
Kekuasaan macam apa yang dimaksud Ye Zuan?
Meskipun Ibu Chu Yao merupakan keturunan langsung kerajaan Merva, nyatanya kerajaan itu sudah tidak sebesar dan sekuat dulu.
Otomatis Chu Yao pun bukan siapa-siapa. Dia hanya seorang anak dari wanita tawanan perang.
Dan lagi Ye Zuan menambahkan sebelum 'mereka' benar-benar menang dengan posisi aman, Chu Yao tidak diperkenankan untuk berkeliaran tanpa pengawalan dari pihak Kekaisaran.
Itu sama halnya menjadikan Chu Yao sebagai sandera. Baik dari kubu permaisuri ataupun pangeran kedelapan. Semua itu tak ada bedanya.
"Yang mulia meminta saya menyampaikan bahwa beliau akan menjelaskan semuanya saat nona bertemu langsung dengan beliau."
Hanya itu yang Yun Yi katakan sebelum benar-benar pergi meninggalkan Chu Yao dalam keheningan.
Maka dari itu, sebelum semuanya terlambat, Chu Yao harus memastikan Mo Yan tidak lagi terlibat.
Jika jenderal Chu bisa menyelamatkan keluarganya yang lain, seharusnya Chu Yao pun harus bisa menyelamatkan Mo Yan, paman Tong, bibi Hui dan Xier dari polemik ini.
Kemelut dipikiran Chu Yao nampak menembus wajah cantiknya. Seakan menggambarkan ketidaknyamanan yang tengah ia rasakan.
Mo Yan membuka mulut seakan ingin kembali bertanya namun Chu Yao mendahuluinya, "Mulai sekarang kita bukan budak dan majikan. Kita tidak saling terikat. Pergilah sejauh mungkin. Jangan lagi saling bertemu atau mencari kabar satu sama lain."
Air muka pemuda itu berubah pucat. Tak terdengar suara apapun dari bibirnya yang tiba-tiba kelu. Tangannya hanya mengepal dan terus mengepal.
Mo Yan tiba-tiba merasa isi perutnya bergejolak. Dadanya terasa panas seakan-akan tengah terbakar hebat.
Nampaknya efek pemindahan racun yang dulu ia lakukan telah mengalami rangsangan dan memicu pergolakan internal dalam tubuhnya.
Mo Yan memilih untuk tetap diam dan tenang.
Keduanya menjeda panjang. Tanpa saling menatap wajah. Seolah saling berusaha menguatkan diri masing-masing.
Tiba-tiba suara tersedak terdengar disertai suara terjerembab dibelakang Chu Yao.
Refleks Chu Yao membalikkan badan dan mendapati Mo Yan tertunduk memuntahkan darah segar.
"MO YAN!" panggil Chu Yao seraya meraih tubuh pria yang lunglai itu dalam pelukannya.
"Mo Yan, kau kenapa? A, ada apa denganmu? Paman Tong, aku akan memanggil paman Tong! Bertahanlah!" Ucap Chu Yao panik dengan jemari yang bergetar hebat di pipi sang pengawal.
Mo Yan menggenggam pergelangan tangan Chu Yao sebelum gadis itu sempat bangkit menuju keluar kamar. Iris mata pemuda itu menangkap wajah Chu Yao yang hampir seperti hantu.
Ada ketakutan dan kekhawatiran disana.
"Aku baik-baik saja, ugh!" Gumam Mo Yan yang justru kembali memuntahkan darah segar yang kedua kalinya.
"MO YAN!!! Tidak! Ada apa denganmu? Kenapa kau terus memuntahkan darah?" Tanya Chu Yao semakin panik dengan intonasi yang meninggi.
Mo Yan mengatur dirinya. Dia duduk senyaman mungkin dengan melipat kedua kakinya. Matanya terpejam. Dengan gerak cepat, ia menotok aliran darah di beberapa bagian tubuhnya.
Lagi-lagi darah segar tersembur dari bibir pria itu dan membuat Chu Yao terguncang.
Berkali-kali Chu Yao memanggil nama Mo Yan, namun pria itu tetap diam membisu.
Sebenarnya saat ini Mo Yan sedang memperbaiki sirkulasi peredaran darah dengan tenaga dalamnya. Sehingga menghalangi kesadarannya sementara waktu.
__ADS_1
Namun Chu Yao tidak menyadarinya. Gadis itu terlanjur termakan oleh penglihatannya.
Bagi Chu Yao keadaan Mo Yan saat ini tidak baik-baik saja. Wajah pria itu begitu pucat dengan bibir yang membiru. Pemandangan yang tidak diprediksi Chu Yao itu justru semakin membuat dirinya tersedot dalam ketakutan masa lalu.