
Permaisuri melemparkan semua benda yang berada di atas meja tulisnya. Nampak kuas, tinta, kertas dan buku-buku berhamburan di mana-mana. Wajah cantiknya terlihat frustasi. Napasnya memburu dengan tatanan rambut yang sedikit amburadul.
Putra mahkota dan kasim Han membungkuk takut. Emosi permaisuri kali ini benar-benar tidak terkontrol lagi.
Wanita itu sudah menghancurkan kamar pribadinya sejak beberapa jam yang lalu. Selepas informasi baru yang ia terima dari mata-mata pribadinya.
"Ye Zuan! Berani-beraninya ia mendekati Chu Yao secara langsung! Nampaknya ia sudah mulai ikut campur urusan anak haram itu! Dan sekarang Kaisar pun sudah menunjuknya menjadi pemegang kekuasaan mutlak atas pernikahan Chang Le. Apa orang tua itu ingin mengumumkan keberpihakannya pada pangeran kedelapan secara terang-terangan?!" Raung permaisuri dengan menggebrak tempat duduknya.
"Ayahanda tidak akan berani melakukan perlawanan terhadap kita, bukankah kakek memiliki pengaruh yang kuat di pemerintahan?" Hibur putra mahkota.
"Kenaifan mu itu yang kelak membuatmu jatuh! Mau sampai kapan kau berpikir hanya kakekmu saja yang memiliki pengaruh di negara ini? Kau pikir Ye Zuan dan jenderal Chu itu hanya orang-orangan sawah? Kau pikir mereka tidak memiliki dukungan dibelakang mereka seperti kakekmu si perdana menteri?! Dasar bodoh!!!" Hardik permaisuri seraya melempar cangkir teh ke depan anak kesayangannya.
"Yang mulia, tenangkan diri mu. Kita pasti bisa mengatasi masalah ini. " Ujar kasim Han menenangkan.
"Kau! Kalian berdua....!!!! Aaarrrgghhh!!!! Katakan pada anak bodoh itu betapa riskannya situasi saat ini!"
Yang mulia permaisuri terduduk dengan kerutan di dahinya. Denyutan demi denyutan mulai merayapi setiap susunan syaraf di kepalanya. Dengan gemetaran, ia meminum beberapa butir obat penenang yang sejak lama ia konsumsi. Alhasil, emosinya perlahan mereda dalam beberapa menit.
"Bunuh anak haram itu!" Tukas permaisuri ke arah kasim Han, tetapi kemudian berubah kembali, "Tidak, aku ingin kau membawanya hidup-hidup kepadaku. Bagaimanapun caranya!"
Kasim Han membungkuk mengiyakan. Sudah sewajarnya permaisuri merasa penyebab semua permasalahan yang ia hadapi berawal dari keingintahuan gadis itu. Jika bukan karena keuletan Chu Yao mencari tau akar permasalahan awal kematian selir Meng, sudah pasti semua ini tidak akan membuat permaisuri meradang.
Tangan kanan permaisuri itu undur diri. Selain memang berniat menjalankan perintah, ia pun sengaja menghindarkan diri dari amukkan emosi wanita nomor satu di Airland itu. Biar saja sang anak lah yang menjadi samsak luapan kemurkaan sang permaisuri.
"Um, apa yang sebaiknya saya lakukan untuk membantu rencana ibu?" Tanya putra mahkota takut-takut.
Permaisuri melayangkan pandang. Seakan ingin memakan pria itu bulat-bulat. Putra mahkota tau diri. Mulutnya bungkam seketika. Menunggu sang ibu bersuara sesuai suasana hati yang dimiliki.
"Apa kau penasaran mengapa aku mengincar putri pertama jenderal Chu?" Tebak permaisuri diiringi anggukan ringan putra mahkota.
"Anak itu adalah adikmu. Anak yang sudah Kaisar lindungi selama belasan tahun terakhir. Jika anak itu masih hidup, Yang mulia tidak akan pernah memberikan posisi ratu pada ibu. Sosok Shixun pasti masih terngiang-ngiang jelas di dalam pikirannya." Jelas permaisuri seraya mencengkram kuat jemarinya yang lentik.
"Hanya dengan melenyapkan gadis itu maka Yang mulia akan fokus pada tujuan awal pernikahan kami. Dan posisi mu tidak akan goyah hanya karena Ye Zuan."
Putra mahkota langsung faham apa yang ibunya cemaskan.
Semua orang pun tau bahwa pangeran kedelapan hanya terlahir dari seorang selir bangsawan rendah. Beda dengan status putra mahkota yang memang dilahirkan dari seorang perempuan yang menyandang gelar bangsawan dari keturunan langsung perdana menteri.
Namun, semua itu akan menjadi bumerang jika Ye Zuan mendapatkan dukungan dari Chu Yao. Meski terlahir dari seorang ibu berstatus tawanan perang, akan tetapi status awal Meng Shixun merupakan putri seorang raja. Status kebangsawanan yang dimiliki permaisuri tidak ada apa-apa nya jika dibandingkan dengan status kebangsawanan selir Meng.
Jika Kaisar mengukuhkan status anaknya itu dan membuat sebagian besar pejabat netral mendukungnya. Serta tambahan dukungan dari pihak jenderal Chu dan antek-antek nya. Bisa dipastikan Ye Zuan akan menggeser posisi Ye Lang sebagai putra mahkota.
Dengan pengukuhan status Chu Yao sebagai salah satu putri sah Kaisar dan Meng Shixun, kemungkinan seluruh Merva akan memberi dukungan penuh pada gadis itu.
Bagaimana tidak, anak itu merupakan satu-satunya penerus yang tersisa dari Kerajaan Merva. Maka dari itu sebelum semuanya terlambat, permaisuri harus segera bertindak.
"Tugasmu mengawasi orang-orang yang melindungi gadis itu. Pastikan mereka tidak menghalangi rencana ibu. Lakukan secara halus. Jangan sampai kau menguak identitas mu sendiri!" Tegas permaisuri kepada putra mahkota.
Pemuda berwajah tirus itu mengangguk paham. Ia kemudian undur diri setelah memberi hormat.
Setelah semua penjelasan yang ia terima, ia semakin memahami bahwa masalah yang mereka hadapi tidaklah sederhana.
Baik Chu Yao ataupun Ye Zuan, keduanya sama-sama berbahaya. Jika tidak segera dibereskan, kelak akan membuatnya dan permaisuri dalam bahaya.
Tekadnya sudah bulat. Ia akan mempertahankan posisinya dengan cara apapun. Meski harus melenyapkan saudaranya satu per satu.
***
Angin musim gugur dimalam hari sudah mulai terasa dingin. Chu Yao berjalan keluar dari dapur paviliun dingin dengan semangkuk mie hangat.
Semua orang telah tertidur lelap kecuali dua orang pelayan kiriman permaisuri. Kedua pelayan itu membungkukkan badan, memberi hormat kepadanya.
Chu Yao hanya menoleh sesaat tanpa memperdulikan mereka. Secara, nama kedua orang itu saja sampai ini tidak ia ketahui.
__ADS_1
Mereka tidak penting. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menyingkirkan orang-orang itu.
Chu Yao meletakkan mangkuk mie itu di meja taman yang terletak tepat di depan kamar pribadinya. Sudut bibirnya sedikit terangkat tatkala menyadari kehadiran seseorang didekatnya.
"Berhentilah memperhatikanku dari tempat itu, Kemarilah! Temani aku makan disini." Ucap Chu Yao pada sesosok pria yang terus memperhatikannya dari balik pohon.
Mo Yan menunjukkan diri. Ia melangkah menghampiri Chu Yao dan duduk tepat disamping perempuan itu.
Chu Yao menggeser posisi mangkuk mie didepannya ke arah Mo Yan. Ia menyuruh sang pengawal untuk memakan mie tersebut dengan sebuah isyarat. Sebelah alisnya naik dengan kepala yang sedikit miring.
Pria itu tidak berani. Mie itu tetap utuh tak terjamah sedikitpun. Chu Yao menghela napas. Mengambil sumpit dan melilitkan mie itu disana.
"Buka mulutmu!" Mo Yan refleks memundurkan tubuhnya ketika gadis itu berusaha untuk menyuapinya.
"Saya masih kenyang, nona." Tolak Mo Yan secara halus. Padahal pada kenyataannya, pria itu belum makan sama sekali.
Bukan karena tidak lapar. Nafsu makannya menghilang seketika sejak mencuri dengar pembicaraan jenderal Chu dan Kaisar.
Meski Chu Yao tidak mengerti apa yang sudah terjadi pada pemuda itu, namun Chu Yao sangat tau bahwa Mo Yan memang belum mengisi perutnya. Wajah pemuda itu nampak sedikit pucat dan penuh kelelahan.
Lagi-lagi, Chu Yao menghela napas panjang. Tangannya meraih baju Mo Yan dan menariknya. Otomatis tubuh mereka jadi saling berdekatan. Saling berhadap-hadapan.
"Kalau kau tidak mau aku suapi dengan sumpit ini, apa perlu aku suapi menggunakan mulutku?" Goda Chu Yao.
Seketika wajah Mo Yan merona. Ia mengambil sumpit itu dari jemari Chu Yao yang putih. Tanpa banyak bicara ia menghabiskan mie dan menyisakan mangkuk yang kosong didepannya.
Chu Yao tersenyum puas. Sangat jarang bisa menyaksikan Mo Yan memerah karena hal sepele.
Tanpa menunggu lama gadis itu menyuruh sang pengawal mengikutinya masuk kedalam kamar. Mo Yan tau kebiasaan majikannya. Dengan sigap menutup pintu kamar serapat mungkin agar tidak seorangpun mendengar pembicaraan yang akan mereka lakukan.
"Dimana A-Wei? Aku tidak melihatnya sejak kembali dari dapur?" Tanya Chu Yao pura-pura bingung padahal ia sangat tau bahwa Mo Yan lah yang menyuruh pria itu untuk pergi sementara waktu.
"Saya memintanya pergi ke suatu tempat. Mungkin besok pagi baru A-Wei kembali. Apakah nona ingin dia memerintahkannya sesuatu?"
Pria itu kebingungan namun tetap menerimanya tanpa bantahan sedikitpun.
"Bersihkan tubuhmu. Bak mandi sudah ada disitu. Pergilah!" Perintah Chu Yao seraya menunjuk kearah bilik di belakang tempat tidurnya.
Mo Yan menurut. Ia bergegas pergi kearah yang Chu Yao tunjuk. Dalam sekejap tubuh atletis itu telah berada didalam bak berisi air dan kelopak mawar.
"Berendam lah! Rileks kan otot wajahmu yang kaku itu! Rasa stres mu hampir saja menulari ku!" Ucap Chu Yao sambil membaca sebuah buku ditangannya.
Mo Yan tak membantah. Aroma khas yang ia sukai telah menghipnotisnya. Membuat nya semakin memendamkan diri kedalam luapan air hingga kepingan kelopak mawar itu menutupi keseluruhan rambutnya.
Beberapa menit tak ada suara dari keduanya. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Chu Yao memejamkan mata sembari merebahkan kepalanya di salah satu tiang penyangga kamar. Pikirannya melayang jauh entah kemana.
Saking jauhnya sampai tidak menyadari kehadiran Mo Yan.
Pria itu sudah berpakaian rapi dengan baju santai hitam pemberian Chu Yao tadi. Rambutnya yang tadi basah, tergerai acak dan nampak sudah mulai mengering di beberapa sisi.
"Kau sudah selesai?" Ucap Chu Yao dengan nada suara yang cukup terkejut.
Ia tak menyangka kewaspadaan nya sempat menurun. Untung saja yang didepannya saat ini adalah Mo Yan. Jika itu musuhnya, bisa jadi nyawanya sudah ke alam baka beberapa menit yang lalu.
Mo Yan menyadari keterkejutan Chu Yao. Alih-alih bertanya, pemuda itu justru memilih untuk menutup rapat mulutnya. Ia dalam dilema. Antara mengatakan apa yang telah ia dengar atau tetap diam.
"Apa kau menemukan hal yang mencurigakan selama membuntuti ayah?" Tanya Chu Yao sambil berjalan mengambil handuk kecil dalam lemari.
"... Tidak, nona. Saya tidak berhasil. Nona bisa memberi saya hukuman. " Jawab Mo Yan dengan wajah datar. Ia memilih untuk merahasiakan informasi yang ia peroleh hari ini. Paling tidak untuk sementara waktu.
"Bukan salahmu. Memang agak sulit menemukan celah dari ayah." Timpal Chu Yao santai sambil menarik tubuh Mo Yan untuk duduk di ujung tempat tidurnya.
__ADS_1
"Jangan bergerak!" Gumam Chu Yao ketika pria tampan itu mencoba menjauhkan dirinya dari tangan mungil gadis itu.
Mo Yan terdiam membatu. Otaknya tiba-tiba terasa kosong saat Chu Yao mengusap rambutnya yang setengah basah dengan handuk kering.
Tangannya mengepal dengan kuat. Bibir nya semakin terkatup rapat. Seolah tak percaya jika gadis itu tengah mengeringkan rambutnya. Tindakan yang tak lazim itu sungguh membuat Mo Yan kehilangan kata-kata.
Lain halnya dengan Chu Yao. Gadis itu malah sibuk dengan spekulasi dan rencana yang beragam di kepalanya.
"Malam ini tidurlah disini. Berbaringlah di tempat tidurku... " Ujar gadis itu dengan pandangan yang kompleks, "... Entah mengapa perasaanku tidak enak malam ini."
Chu Yao tidak berbohong. Perasaannya saat ini campur aduk tidak jelas. Begitu tidak enak hingga membuatnya tidak ingin tidur.
Ucapan Chu Yao telah membuat Mo Yan canggung. Meski ia ingin menolak namun tiba-tiba tenggorokan nya terasa tercekat. Wajah sendu perempuan itu telah mengisolasi geraknya. Suka tidak suka, mau tidak mau dia harus mengikuti perintah sang majikan.
Mo Yan berbaring telentang. Memposisikan kedua tangannya tepat berada di atas perutnya yang berotot. Ia memejamkan mata. Berpura-pura tertidur sesuai instruksi sebelumnya.
Pria itu mencoba rileks meski menyadari tatapan Chu Yao terus menuju kearahnya.
Satu menit berlalu...
Dua menit berlalu...
Hingga tiga jam kemudian...
Cukup lama Mo Yan harus berpura-pura terlelap, hingga terdengar ritme napas teratur sang gadis dari balik tumpukan buku.
Seperti biasa, pemuda beralis tebal layaknya pedang itu mengangkat tubuh majikannya dengan sangat lembut. Ia membaringkan tubuh mungil itu dalam balutan selimut satin yang halus.
Dengan sangat hati-hati, ia menyibak helaian rambut yang menutupi sebagian wajah cantik itu.
Mo Yan dilema. Kebingungan melanda dirinya.
Haruskah ia mengatakan semua informasi yang telah ia peroleh di istana Kekaisaran?
Bagaimana respon perempuan itu ketika mendengar kenyataan bahwa pria yang ia anggap sebagai ayah kandung bukanlah ayah yang sebenarnya?
Belum lagi kenyataan bahwa dia merupakan putri kandung kaisar dan itulah menjadi penyebab permaisuri mengawasi gerak-geriknya selama ini.
Dan yang lebih epic, kaisar akan mengorbankan nyawa gadis itu dengan sebuah racun yang mematikan.
Rahang Mo Yan mengeras. Kekesalan dan amarah nampak di matanya yang tajam. Ia benar-benar tidak bisa menapik bahwa dirinya sangat membenci Kaisar yang egois itu.
Kaisar Long Jin Mao telah bertindak semaunya tanpa memperdulikan perasaan orang lain.
Dahulu, karena ambisi mudanya, seluruh keluarga Mo Yan habis terbantai tak tersisa. Alorra porak-poranda. Rakyat yang tidak bersalah menjadi korban keserakahan pria tua itu.
Tidak puas dengan Alorra, Merva pun di invasi olehnya. Tanpa rasa bersalah malah menikahi putri raja Merva yang masih tersisa. Bukannya dilindungi, justru di sembunyikan dengan sebuah sandiwara.
Dan sandiwara itu kembali mengorbankan masa depan orang lain. Jenderal Chu dan keluarganya sangat menderita demi menutupi kesalahan sang kaisar.
Dan kini, kaisar malah ingin membunuh putrinya sendiri demi mengamankan posisi.
Apakah ada manusia yang lebih gila daripada kaisar Airland?
Apakah pantas Chu Yao memiliki darah laki-laki itu ditubuhnya?
Mo Yan mengkerut masam.
Di satu sisi ia ingin Chu Yao mendapatkan kebahagiaan. Disisi lain, ada naluri ingin membunuh sang kaisar dalam dirinya.
Sebagai satu-satunya pangeran Alorra yang tersisa, rasa ingin balas dendam semakin memenuhi pikirannya. Namun, jika dia melakukan hal itu sama halnya ia akan melukai perasaan perempuan yang ia cintai.
Mo Yan memejamkan mata. Otaknya saat ini sedang saling menyerang. Semakin ia paksa untuk mencari solusi maka semakin buntu jalan yang harus ia pilih. Mau tidak mau ia harus menunggu surat balasan dari menteri Chen dan jenderal Luo demi mendapatkan keputusan yang tepat.
__ADS_1