Memperbaiki Masa Lalu

Memperbaiki Masa Lalu
Bab 37


__ADS_3

Mo Yan yang tak bergerak telah membuat memori Chu Yao kembali pada ingatan di kehidupan sebelumnya.


Kilas balik ketika Mo Yan meregang nyawa akibat racun yang diberikan Chu Yao nampak jelas terpampang di dalam benaknya.


Pemandangan itu sangat mengerikan. Memberikan bekas trauma yang hebat dalam hidupnya.


Ia tak ingin mengulang hal yang sama. Dari sekian peristiwa, mengapa justru ketakutan ini yang terulang?


Lutut Chu Yao gemetar dan lemas. Ia terduduk dengan suara yang cukup nyaring hingga membuat Mo Yan membuka mata.


"Nona.. "


Suara berat Mo Yan tak juga mengembalikan pandangan yang kosong itu. Air mata perlahan menetes di pipi Chu Yao yang dingin.


Isakan lirih terdengar dari sudut bibir sang gadis. Pilu dan seakan merintih. Ia bergumam. Pelan namun terdengar cukup jelas.


"Mo Yan.. "


Chu Yao hanya memanggil satu nama berulang-ulang. Meski tubuhnya hampir diguncang oleh pria yang sejak tadi dipanggil olehnya, namun kesadaran Chu Yao masih terkunci dalam kenangan masa lalunya.


"Chu Yao! Sadarlah!" Panggil Mo Yan dengan menangkup pipi gadis itu dengan kedua telapak tangannya.


"Lagi-lagi... Kau meninggal karena aku.. "


"Ya Tuhan, Chu Yao!! Aku tidak meninggal! Aku masih hidup! Tolong sadarlah!!"


Mo Yan menggoncang tubuh perempuan itu dan memeluknya dengan sangat erat. Ia bahkan membenamkan kepalanya dileher sang gadis.


Ia sama sekali tak menyangka jika Chu Yao akan bereaksi seperti ini.


Mo Yan tak pernah berniat untuk menakuti orang yang ia cintai. Apa lagi sampai membuat gadis itu syok dengan wajah yang tidak menampakkan darah sedikitpun.


"Chu Yao.. Lihatlah aku! Aku masih hidup! Kita berdua masih hidup! Ya Tuhan, Chu Yao... Sadarlah...!"


Mo Yan hampir-hampir berteriak meminta Chu Yao untuk sadar. Ia menangkup wajah cantik yang pucat itu. Dahi mereka saling menempel. Keringat dingin membanjiri wajah Mo Yan. Ia nampak terpukul.


Perlahan kesadaran Chu Yao kembali. Siluet tampan di depannya nampak semakin jelas.


Chu Yao sumringah. Ia bahkan meraba setiap inci wajah pria yang ada didepannya sambil terus memanggil nama Mo Yan. Berulang-ulang.


"Ka, kau tidak apa-apa? Apakah kau baik-baik saja? Aku.. Aku tadi melihatmu berdarah.. Aku.. Aku..."


Chu Yao berusaha menjelaskan namun justru terlihat kesulitan. Ia begitu gelagapan hingga tanpa sadar semakin banjir dengan air mata.


Mo Yan mengusap air mata di pipi gadis itu, "Aku baik-baik saja. Maaf membuatmu khawatir."


Permintaan maaf yang diucapkan Mo Yan memang tulus adanya. Ia tak ingin Chu Yao berpikir berlebihan. Meski ia cukup senang mengetahui bahwa gadis itu juga mencemaskan keadaannya namun ia juga tak ingin melihat gadis itu menitikkan air mata karenanya.


"Tapi tadi kau memuntahkan banyak darah!"


"Tenanglah, itu hanya efek luka lama. Aku sudah menahannya dengan energi internal. Seharusnya tidak akan kambuh untuk beberapa waktu kedepan."


Chu Yao menggigit bibir bawahnya secara tidak sadar, "Kau terluka? Ku kira semua luka dalammu sudah sembuh semua, ternyata.. Tidak! Aku harus meminta paman untuk memeriksamu. Dia harus memberimu obat secepat mungkin!"


Mo Yan refleks merengkuh gadis itu dalam pelukannya dan dengan hati-hati membelai punggungnya yang terluka.


"Tidak perlu membangunkan siapapun. Aku baik-baik saja. Patuhlah."


Tanpa disangka, Chu Yao membalas pelukan tersebut.


Perempuan itu bahkan membenamkan wajahnya yang basah karena air mata didada Mo Yan yang bidang. Jemarinya mencengkram erat punggung yang lebar itu.


"Kau menakutiku! Kau berhasil membuatku menyesal! Kau benar-benar tau titik lemahku! Kau memang pria paling menyebalkan diseluruh dunia!"


Mo Yan membiarkan perempuan itu memukuli tubuhnya. Ia semakin mengeratkan pelukannya dan menghirup aroma khas dibalik ubun-ubun gadis cantik itu.


"Aku yang salah.. Maafkan aku.." Bisik Mo Yan dengan sangat lembut ditelinga Chu Yao.


Gadis itu hampir saja meraung. Melepaskan semua kegundahan dan kecemasan dalam hatinya.


Alih-alih bersuara nyaring, justru tangisannya terbenam dalam hening. Sungguh menyakitkan menangis tak bersuara. Hanya getaran tubuh yang bisa melukiskan betapa takutnya Chu Yao melihat Mo Yan tak bergerak merespon panggilannya.

__ADS_1


Mo Yan tak berniat menahan luapan emosi gadis itu. Ia malah membiarkannya mengalir secara alami layaknya air hujan yang turun dengan deras.


Kini pria itu tau bahwa ucapan kasar sang gadis tadi bukanlah murni dari hati kecilnya.


Reaksi Chu Yao yang diluar dugaan justru telah menyadarkan Mo Yan tentang pesan terselubung dalam semua tindakan yang perempuan itu berikan.


Mo Yan menelan saliva. Menghirup sedalam-dalamnya aroma wangi ditubuh gadis yang ia dambakan dengan mata terpejam. Perasaannya semakin kuat.


Tidak! Bukan hanya sepihak, tapi perasaan mereka berdua benar-benar telah terikat.


Meski tak ada kata untuk melegitimasi hubungan, namun satu sama lain telah menyelami bahwasanya mereka tak bisa hidup terpisah satu sama lain.


Hanya suatu kebodohan dan keterpaksaan yang membuat mereka terpisah.


Beberapa saat kemudian Chu Yao nampak mulai tenang meski suara tercekat sesekali terdengar ketika ia berusaha menstabilkan emosinya.


"Apa kau tetap akan mengusirku meski aku tidak mau pergi darimu?" Tanya Mo Yan tanpa melepaskan pelukan sama sekali.


"Aku akan tetap melepaskanmu." Jawab Chu Yao namun justru semakin mengeratkan genggaman tangannya di punggung pria itu.


Mo Yan tersenyum, "Tapi aku tak ingin lepas darimu."


"Kau sungguh tidak tau malu."


"Dalam situasi seperti ini, apakah tidak terlambat untuk merasa malu?" Goda Mo Yan di iringi senyum yang lebar.


"Kau!"


"Baiklah, baiklah. Kali ini aku tidak akan bercanda.. " Kekeh Mo Yan yang kembali merengkuh tubuh Chu Yao dalam dekapannya, "Jangan pernah memintaku untuk pergi darimu! Apapun yang terjadi, aku akan menemanimu. Jadi, tolong! Berhentilah menyiksaku dengan permintaan yang tidak akan pernah aku kabulkan sedetikpun!"


"Tapi situasi ini sudah sangat mendesak dan berbahaya. Aku tak mau terjadi apa-apa padamu."


"Justru karena itu aku semakin tidak mau menuruti permintaanmu! Kau hanya perduli pada ketakutanmu. Apakah kau pernah menanyakan perasaanku? Ketakutanku?"


Chu Yao terdiam sesaat dan mendongakkan wajahnya hingga kedua mata mereka saling bertemu.


"Berhentilah mengkhawatirkan ku. Akupun sangat mengkhawatirkan dirimu. Tidak bisakah kita berjalan bersama tanpa harus saling menjauhkan?"


Disatu sisi ia ingin memberi kebebasan kepada Mo Yan disisi lain ia pun tak sanggup jika harus berjauhan dengan pria yang sudah mengisi semua aspek kehidupannya.


"Aku akan tetap memberimu surat pelepasan. Bagaimanapun itu akan berguna jika suatu saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada keluarga Chu." Terang Chu Yao dengan suara yang serius.


Mo Yan menarik napas dalam-dalam. Kali ini ia tidak akan membantah. Ia mengambil surat itu tanpa membaca sedikitpun. Kemudian memasukkannya kedalam lipatan sabuk.


"Baik. Aku sudah menuruti perintahmu. Mulai saat ini aku bukan lagi bawahanmu. Berarti aku berhak menentukan jalan hidupku, bukan?"


Chu Yao mengangguk pelan dan Mo Yan kembali bertanya, "Berarti di manapun dan dengan siapapun aku berada bukan lagi menjadi urusanmu?"


Sekali lagi Chu Yao mengangguk tapi anggukan kali ini nampak lebih tidak bersemangat. Ada sedikit rasa tidak rela namun ia tidak bisa menjilat ludah yang sudah ia keluarkan.


Senyum licik Mo Yan mengembang. Tanpa ragu pria itu menarik tubuh Chu Yao. Dalam sekejap lengan kuatnya telah mengunci pinggang kecil itu.


"Berarti aku berhak tetap berada di sisimu sampai kapanpun yang aku mau."


"Apa?"


"Kau tidak berhak memerintahku lagi. Kau bukan tuanku. Terimalah konsekuensi atas keputusanmu. "


Chu Yao merasa terjebak. Ia berusaha melepaskan diri dari jangkauan pria yang telah mendominasi dirinya. Namun semakin dia bergerak, semakin erat pelukan Mo Yan ditubuhnya.


"Mo Yan, berhenti bermain-main!"


"Kau pikir aku sedang bergurau? Apa aku harus memperlihatkan keseriusan ku dengan cara yang ekstrem?" Desis Mo Yan dengan mendorong tubuhnya hingga Chu Yao mundur terpojok di ujung dipan.


Napas Mo Yan naik turun seirama dengan tarikan napas Chu Yao. Manik mata Chu Yao menangkap ketegasan yang terukir di wajah tampan Mo Yan.


Chu Yao gugup. Ia salah tingkah. Semburat kemerahan menyebar seketika di wajah putihnya.


"Jangan seperti ini, kau membuatku berpikir seakan kau menginginkanku. Itu membuatku besar kepala." Gumam Chu Yao mengalihkan wajahnya.


"Aku memang menginginkanmu!" Ucap Mo Yan yang hampir terdengar seperti desisan.

__ADS_1


Ia menyadari bahwa ia tidak pantas berharap lebih pada gadis itu. Namun ia sudah kepalang basah. Perasaannya sudah tidak bisa di kontrol.


Mo Yan tidak perduli apakah Chu Yao akan membalas atau bahkan membencinya. Gadis itu telah memenuhi rongga kehidupannya.


Seharusnya Chu Yao tau.


Seharusnya Chu Yao bisa membaca semua gerak tubuh Mo Yan yang seakan selalu memancarkan hormon kebahagiaan saat bersama dengan perempuan itu.


Chu Yao!


Sungguh gadis yang pintar memainkan perasaan Mo Yan. Hanya sedikit kata dari Chu Yao, ia telah berhasil membuat Mo Yan yang selalu berwajah datar menampakkan berbagai emosinya.


Pemuda itu mendadak kikuk, bahkan menutup sebagian wajahnya dengan salah satu tangannya.


Mo Yan memiliki ekspresi baru. Pemuda itu bisa merasakan rasa malu dan Chu Yao sangat bersemangat melihat hal itu.


Chu Yao menangkup wajah Mo Yan dengan kedua tangannya. Senyum lebar tercetak nyata dibibirnya yang berwarna merah muda.


"Apakah kau yakin ingin bersamaku?" Tanya Chu Yao disertai anggukan pelan Mo Yan.


"Jangan salahkan aku jika selamanya kau tidak akan pernah bisa bebas lagi. Aku akan mengikatmu seumur hidupku. Aku ini orang yang serakah. Aku tidak akan pernah mau berbagi dengan orang lain jika itu berurusan tentangmu." Tegas Chu Yao dengan penuh penekanan.


"Dan aku adalah perempuan pencemburu. Apa kau sanggup menjaga perasaanku sepanjang waktu?"


Alih-alih merenung, Mo Yan justru tersenyum dan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Chu Yao. Saking dekatnya bahkan hidung mereka saling menyentuh satu dengan lainnya.


"Seharusnya aku yang berkata demikian. Aku juga seorang pencemburu. Bahkan lebih parah darimu."


"Oh ya? Kenapa aku tidak pernah melihatnya?" Goda Chu Yao tanpa mundur sedikitpun.


Mo Yan menyibak rambut Chu Yao dengan lembut. Wajahnya nampak teduh sekaligus penuh damba.


"Kau menantangku?" Gumam Mo Yan dengan suara serak dan dalam, "Kau menguji batasku. Kau harus bertanggungjawab."


Chu Yao terkesiap dan membatu sesaat ketika Mo Yan menyatukan bibir mereka dalam gerakan intim. Meski cukup membuat kaget, namun Chu Yao tidak mendorong Mo Yan untuk menjauh.


Chu Yao belajar untuk merasakan keberadaan dan kepemilikan Mo Yan terhadapnya. Perasaan gadis itu amburadul. Begitu lepas hingga membuatnya mabuk.


Perlahan tapi pasti, Mo Yan membuat Chu Yao menikmati pagutan dibibir itu. Membuat Chu Yao terlena hingga tanpa sadar memejamkan mata.


Perlakuan Mo Yan begitu lembut. Beralih dari satu sisi kesisi lainnya. Mereka saling membalas. Seolah melepaskan semua rasa yang telah lama terpendam.


Tangan Mo Yan yang semula berada di pinggang Chu Yao kini telah beralih tepat di leher perempuan itu. Meraba dan merasakan seluruh penerimaan yang diberikan Chu Yao padanya.


Pun dengan Chu Yao. Ia mengikuti alur yang Mo Yan ciptakan. Dengan ritme jantung yang semakin bedegup keras, ia tenggelam dalam sensasi aneh yang menenangkan.


"Kau harus bertanggungjawab padaku. Kau membuatku mabuk." Goda Mo Yan ketika mata mereka saling beradu.


Pemuda itu tertawa pelan seraya mengusap bibir gadis itu yang sedikit bengkak. Chu Yao kembali merona namun Mo Yan tidak perduli.


Pemuda itu mengecup lembut ubun-ubun sang gadis sambil menyematkan sebuah jepit rambut di atas kepalanya.


"Ini? Bukankah ini jepit rambut yang kau beli di kota Nian? Kau bilang jepit rambut ini akan kau berikan untuk kekasihmu?" Tanya Chu Yao antusias ketika melihat pantulan wajahnya di balik cermin.


Mo Yan menatap wajah bahagia Chu Yao dalam irisnya, "Benar. Bukankah kau adalah kekasihku? Perempuan yang ku cintai."


Lagi-lagi Chu Yao merona. Wajahnya yang malu semakin membuat Mo Yan terbius. Tapi gadis itu tak menyadarinya. Ia terlalu bahagia hingga mencium pipi Mo Yan tanpa sadar.


"Terima kasih, Mo Yan. Jepit rambut ini sangat indah. Aku akan menjaganya."


Mo Yan tak lagi diam. Ia kembali merengkuh gadis itu dan mendaratkan bibirnya di bibir Chu Yao yang masih bengkak. Kali ini ciuman itu lebih agresif. Berat dan dalam. Dengan lidah saling terpaut. Menari indah menikmati suasana intim yang tercipta ditengah malam.


Napas Mo Yan memburu. Dengan susah payah ia berusaha mengontrol dirinya.


Setelah beberapa saat mereka terdiam menjeda, akhirnya Mo Yan mengayunkan gadis itu dalam gendongannya.


"Sebaiknya kau segera beristirahat. Kau masih belum pulih sepenuhnya. Aku akan menjaga mu disini." Ucap Mo Yan ketika Chu Yao telah berada diatas tempat tidur.


Chu Yao berbaring miring ketika Mo Yan menyelimutinya dengan selimut satin berwarna merah. Perempuan itu menurut dan memejamkan mata tanpa melepaskan genggaman tangannya di ujung baju pemuda itu.


Dengan tatapan penuh kasih, Mo Yan kembali mengecup kepala Chu Yao dan duduk dengan tenang di ujung dipan. Menunggu sang kekasih tertidur dengan lelap.

__ADS_1


__ADS_2