
Beberapa hari kemudian..
Keadaan paviliun alam terasa sunyi dan lengang. Tak ada suara Fu Bai yang suka mengkritik. Sejak beberapa jam yang lalu, pria itu telah pergi ke pusat medis istana kerajaan yang memiliki jarak tempuh sehari semalam bersama tabib Qin.
Sebenarnya Chu Yao baru mengetahui bahwa tempat yang mereka datangi ini bukanlah istana kerajaan. Tempat itu merupakan tempat peristirahatan pribadi kaisar muda.
Semua orang tau bahwa penguasa itu tidak menyukai keramaian. Terlebih suasana istana penuh intrik dan permusuhan terselubung.
Sejak dia naik takhta, dia pun pindah ke tempat ini dan membiarkan perdana menteri mengatur segala kepentingan di istana.
Kaisar muda hanya bergerak dibalik layar. Meski semua diputuskan olehnya, tetapi tetap perdana menteri lah yang melaksanakan semua keputusan di setiap pertemuan di istana.
Itu adalah salah satu kesepakatan yang diajukan oleh sang kaisar muda sebelum naik di atas takhta.
Chu Yao tersenyum lembut tatkala teringat Mo Yan. Sekarang, pria itu sudah nampak berbeda. Bukan hanya pada fisik serta tampilan luarnya, juga pada pemikirannya.
Pria itu sepertinya telah menerapkan ilmu dari buku-buku yang pernah mereka pelajari bersama.
Pantas saja dalam kurun waktu empat tahun, pemerintahan Alorra begitu maju. Mo Yan memang cerdas. Dia pembelajar yang cepat dan handal.
Lamunan Chu Yao terusik tatkala seorang pelayan pria datang terburu-buru menghampirinya.
Pelayan itu mengatakan bahwa Fu Rong sedang bermasalah dengan putri perempuan perdana menteri yang sedang berkunjung.
Chu Yao tidak mengulur waktu. Dengan segera, ia mengikuti pelayan tersebut menuju tempat perkelahian yang dimaksud.
Dari kejauhan sudah terdengar suara nyaring yang mengintimidasi. Chu Yao mempersiapkan diri ketika menangkap sosok arogan seorang perempuan cantik berpakaian mewah berwarna pink dengan aksen merah tengah memberikan hukuman kepada adiknya.
Tidak hanya sang adik, bahkan Sheng Xin yang berada disana juga ditahan oleh beberapa pelayan pria.
"Jika boleh tau, kesalahan apakah yang saudara saya lakukan sehingga nona menghukumnya seperti ini?" Ucap Chu Yao yang sudah berdiri di belakang perempuan itu.
"Lancang sekali kau tidak menunduk patuh pada nona! Apa kau tidak tau dengan siapa kau berbicara?!" Tegur seorang pengawal yang berada di sisi kanan.
Chu Yao tidak bergeming. Sorot matanya tetap tajam seperti biasa, "Kami hanya pendatang disini. Belum sepenuhnya mengenal orang-orang disini."
"Pantas saja." Kekeh perempuan cantik berponi samping yang cantik itu, " Hanya orang asing yang tidak mengenal diriku. Aku adalah putri perdana menteri, Shen Xue Ying."
Chu Yao ber'oh' ringan kemudian menekuk salah satu kakinya untuk memberi salam hormat pada Shen Xue Ying.
Perempuan itu menyunggingkan senyum angkuh, "adikmu telah memecahkan vas bunga yang kubawa untuk yang mulia. Vas bunga itu terbuat dari porselen antik. Nyawanya pun takkan bisa menebusnya!"
Chu Yao mendekat dan mengambil pecahan vas yang ditunjuk Xue Ying. Ia tersenyum kemudian melemparkan pecahan itu tepat dibawah kaki Xue Ying.
Perempuan itu meradang, "apa yang kau lakukan?"
"Nona Shen tidak perlu bertindak impulsif. Lihatlah pecahan vas itu. Tekstur bagian dalamnya memiliki bekas korosi. Menandakan tidak tahan terhadap bahan tertentu yang bersifat keras dan tajam. Sebuah porselen antik akan mengalami proses pembakaran dengan suhu dan titik leleh yang tinggi sehingga teksturnya tetap keras. Jikapun pecah, tidak akan berhamburan sampai membentuk pecahan kecil seperti yang kita lihat."
"Porselen itu bukanlah porselen mahal. Itu hanya tiruan. Mohon nona bisa melepaskan adik saya dan nona Sheng sekarang juga."
Wajah putih Xue Ying mendadak menjadi merah. Ia nampak malu sekaligus marah.
"KAU! Apa kau mengatakan aku salah menilai?" Geram Xue Ying.
"Saya tidak berani." Jawab Chu Yao singkat seakan tidak perduli.
Xue Ying semakin berang. Bibir merahnya yang membentuk huruf M telah menegaskan keinginannya untuk memberi Chu Yao pelajaran.
Alih-alih menyerang Chu Yao, Xue Ying justru melampiaskannya kepada Fu Rong.
Perempuan arogan itu memerintahkan kedua pelayan pria yang sejak tadi memegangi Fu Rong untuk melemparkan gadis itu kedalam danau.
Fu Rong menangis ketakutan dan memohon ampunan. Namun Xue Ying tidak menggubrisnya.
Rahang Chu Yao mengeras. Melihat keadaan Fu Rong yang seperti itu membuat ingatan masa lalunya terjaga. Fu Rong berubah menjadi sosok Xier yang menghiba dimata Chu Yao. Gadis yang memelas belas kasihan di aula kematian tergambar jelas di otaknya.
Tanpa banyak pikir Chu Yao melemparkan dua buah belati yang memang selalu tersedia didalam lengan bajunya. Kedua belati itu mengenai tubuh para pelayan yang memegangi Fu Rong dan mereka langsung tewas seketika.
Sheng Xin menjerit ketakutan. Sedangkan Xue Ying mematung dengan wajah yang pucat.
Seketika para pelayan yang mengawal Xue Ying bergerak maju. Mereka menyerang Chu Yao bersamaan. Namun refleks Chu Yao sudah terlatih. Dengan mudah ia berkelit. Menendang dan memukul mereka. Berkali-kali hingga jatuh ke tanah.
Semuanya pingsan ditempat.
__ADS_1
Chu Yao menepuk-nepuk pakaiannya yang terkena debu kemudian berjalan mendekati Fu Rong dan Sheng Xin.
"Apa kau tidak takut di hukum karena membuat kekacauan di tempat peristirahatan kaisar?"
Chu Yao dan yang lain menoleh ke sumber suara. Nampak dua orang pria muncul dari balik gazebo di tepi danau.
"Kakak!" Seru Xue Ying pada pria berperawakan sedang berpakaian biru, "perempuan itu merundungku!"
Pria itu mendelik tajam kearah Xue Ying. Dalam sekejap, perempuan angkuh itu diam dan mundur dibelakang tubuh sang kakak.
Pria lainnya tertawa kemudian mendekat kearah Chu Yao, "Nyalimu cukup besar. Membuat kekacauan di tempat ini bukanlah perkara ringan."
Chu Yao menatap pria itu tanpa berkedip. Pakaian glamor yang pria itu kenakan sangat selaras dengan sifatnya.
"Saya hanya membela diri, " Ucap Chu Yao membalikkan badan dan mencabut belatinya di tubuh dua pelayan yang baru tewas tadi.
"Jika para tuan muda mempermasalahkan hal ini maka saya akan menerima konsekuensi yang diberikan. Namun sebelum itu, tolong bebaskan adik dan teman saya."
"Semudah itu? Kau meremehkan kami." Seru tuan muda yang glamor.
"Saya tidak berani."
"Tidak berani apanya?! Kau baru saja membunuh pelayan ku!" Bentak Xue Ying.
Pria berpakaian biru berdeham dan Xue Ying kembali mengunci bibir dengan cepat.
"Dari pada memperpanjang masalah perselisihan, lebih baik fokus mencari orang-orang yang membuat duplikat porselen ini. "
Pria glamor menimpali, "porselen ini begitu persis dengan aslinya. Jika tidak pecah, tidak mungkin ketahuan sisi palsunya. Orang yang membuatnya pasti seorang pengrajin tembikar yang ahli."
"Tidak mudah menemukan asal usul porselen ini."
"Benar, apa lagi jumlah pengrajin di Alorra ini begitu banyak."
Chu Yao tidak perduli dengan percakapan kedua pemuda itu. Ia mengajak Fu Rong dan Sheng Xin untuk pergi. Namun pria berpakaian biru menahannya.
"Jika boleh tau siapakah nama nona? Saya adalah Shen Ruo Nan dan dia Guo Wang."
Chu Yao menjeda sejenak sebelum benar-benar menjawab pertanyaan si pemuda.
Ruo Nan tersenyum kemudian kembali berkata, "nona tampak berpengetahuan luas. Apakah nona bisa memberikan bantuan kepada kami terhadap masalah porselen ini?"
Kedua alis Chu Yao saling bertaut. Sepertinya kakak Xue Ying itu sedang menyelidikinya. Chu Yao tidak mungkin memberi penolakan karena sejak awal dialah yang membuat semua orang sadar jika porselen tersebut bukanlah yang asli. Itu akan membuat kecurigaan mereka semakin menjadi.
Namun, jika dia memberikan solusi seperti yang Ruo Nan minta, secara tidak langsung dia akan berurusan dengan orang-orang kerajaan.
Chu Yao menggigit bibir dibalik kain penutup wajahnya. Ia menutup mata sejenak sebelum membalas pertanyaan tuan muda Shen itu.
"Saya hanya rakyat sipil biasa yang kebetulan bisa membaca dan menulis. Suatu keberuntungan bisa membantu pihak kerajaan dengan kemampuan terbatas saya. Bantuan seperti apa yang tuan muda harapkan dari saya?"
"Nona Fu terlalu merendah. Seorang rakyat sipil biasa tanpa sebuah keahlian tidak akan bisa masuk begitu saja dalam tempat seperti ini. "
Chu Yao tak bergeming sejenak, "Baik, kalau begitu saya tidak akan berbasa-basi. Jika tuan muda ingin menyelidiki masalah porselen palsu ini dari awal. Ada dua opsi yang bisa tuan lakukan.."
"Pertama, sebaiknya tuan muda melakukan penyelidikan awal dari tempat penjualan porselen. Tetapi saya rasa penjual porselen itu pun tak akan memberikan informasi banyak. Jaringan penjualan barang tiruan berharga tidak mudah terlacak.. "
"Maka tuan muda harus menggunakan opsi kedua, menyelidiki tempat yang memiliki tanah liat yang luas juga berkomposisi sama dengan porselen yang pecah ini. Karena untuk membuat duplikat barang berharga seperti ini tidak bisa dilakukan di sembarang tempat."
Guo Wang berseru riang, "Cerdas! Saran yang kau berikan masuk akal! Kita bisa melakukan penyelidikan secepatnya."
Chu Yao diam menanggapi pujian Guo Wang. Jika boleh memilih, ia ingin segera pergi dari hadapan orang-orang itu.
"Apakah saya boleh kembali?" Tanya Chu Yao kepada Ruo Nan. Pemuda itu tidak menjawab. Hanya biaskan senyum diwajahnya.
Akan tetapi, Chu Yao tidak perduli. Dia memberi hormat dan segera menghilang dari pandangan.
"Apa-apaan perempuan itu! Sungguh tidak tau tata krama! Jika bertemu lagi akan kuberi dia pelajaran!" Geram Xue Ying.
"Sudah, sudah. Biarkan saja. Lebih baik kau segera menemui yang mulia. Bukankah kau kesini untuk melihatnya." Bujuk Guo Wang sambil mengelus kepala Xue Ying.
Mereka pergi meninggalkan tempat itu bersama-sama tanpa menyadari senyum misterius terukir lebar di bibir Shen Ruo Nan.
***
__ADS_1
Ketika gelap telah menyapu habis langit jingga, sosok tegap dengan rambut putih keperakan nampak bersinar dibawah cahaya bulan.
Mo Yan duduk, menyendiri, di serambi kamar yang terhubung langsung dengan taman pribadinya.
Wajah tampannya tak berubah. Bahkan semakin dingin dan tegas.
"A-Wei."
Sosok prajurit bayangan dan juga pengawal pribadi Mo Yan langsung muncul begitu namanya dipanggil.
"Apakah ada kabar?" Tanya Mo Yan sambil membuka sebuah kotak kayu yang cukup besar.
"Belum, tuan." Jawab A-Wei dengan raut wajah yang kompleks.
Mo Yan membisu dalam hening. Sorot matanya terlihat kosong menatap sebuah belati dan kantong sachet berwarna turquoise yang tersimpan didalam kotak kayu tersebut.
A-Wei statis namun hatinya juga sakit. Kondisi sang majikan yang tak kunjung membaik membuat pemuda itu melakukan apa saja demi menyenangkannya.
Sudah empat tahun A-Wei melakukan pencarian. Ia berusaha untuk menemukan jejak perempuan itu namun semua tak menampakkan hasil.
"Mungkin, nona Chu Yao benar-benar telah tiada. " Gumam A-Wei dengan suara yang sangat rendah.
Namun na'as, Mo Yan mendengarnya. Pemuda itu menghunuskan belati milik Chu Yao di leher sang pengawal dengan gerak kilat. Sorot matanya menjadi sangat gelap dan dalam.
"Sa, saya patut dihukum!"
A-Wei terjatuh dengan posisi berlutut saat Mo Yan menarik belati di lehernya. Napas pria muda itu terputus-putus. Sudah sekian lama dirinya mengabdi pada sang majikan, namun belum juga bisa mengatasi rasa takut terhadap sikap dingin yang dimiliki Mo Yan.
Pria itu membuat takut semua orang. Sikapnya tidak hanya dingin namun juga kejam. Bahkan tak mengenal perbedaan pria atau pun wanita. Mo Yan tetap berlaku sama.
Siang tadi saja, putri perdana menteri harus menahan malu atas penolakan yang Mo Yan berikan.
Perempuan itu terpaksa menunggu saudara nya didepan pintu paviliun. Mo Yan hanya menerima kunjungan Shen Ruo Nan dan Guo Wang. Itupun hanya dalam waktu lima belas menit.
Padahal semua orang pun tau jika Shen Xue Ying itu sudah dijodohkan dengan sang kaisar muda. Dan gadis itupun telah lama menaruh hati padanya.
Tapi apa daya. Mo Yan memang es yang membatu. Tak ada seorangpun yang bisa menembus dinding batas yang dibuatnya.
Siapa pun! Semenjak pria itu mendengar berita bahwa perempuan yang ia cintai telah meninggal dunia.
Empat tahun yang lalu, setelah proses eksekusi mati keluarga Chu dilaksanakan, A-Wei kembali ke Airland atas perintah sang majikan.
Ia pergi setelah mendapatkan hukuman yang cukup keras. Pemuda itu memasuki kediaman Chu yang sudah disegel pemerintah secara diam-diam dan mengambil beberapa benda yang tersisa dari tempat itu.
Dari sekian benda, hanya belati yang diambil oleh Mo Yan.
Sang majikan nampaknya tidak menerima kenyataan. Ia terus bersikukuh bahwa Chu Yao masih hidup. Padahal semua orang di Airland sudah melihat bahwa pangeran kedelapan membawa mayat perempuan itu keluar dari sel penjara bawah tanah.
A-Wei tidak ingin mendebat. Ia terus melakukan perintah sang majikan untuk mencari nona pertama Chu tersebut. Hingga saat ini, keyakinan Mo Yan itu tetap ada meski semakin lama semakin berkurang.
"Gantikan aku malam ini!" Ucap Mo Yan sembari menyimpan kotak kayu itu di lemari penyimpanan.
A-Wei mengangguk patuh, kemudian mematikan semua sumber cahaya didalam kamar. Tanpa banyak bicara, ia menirukan gerak dan kebiasaan sang majikan.
Mo Yan melompat dengan ringan keatas atap dan meninggalkan sang pengawal yang berpura-pura menjadi dirinya di sana.
Langkahnya terhenti ketika melewati kamar para pelayan yang masih menyala. Hiruk-pikuk didalamnya terdengar sampai keluar kamar.
Mo Yan yang masih berdiri diatas atap jadi tertarik untuk mendengarkan.
"Apakah kau tidak lihat bagaimana nona Fu melemparkan belatinya tepat didada pelayan nona Shen? Satu gerakan saja sudah menewaskan dua orang sekaligus. Sungguh mengerikan!"
"Tapi mereka pantas mendapatkannya. Aku juga tidak menyukai sikap putri perdana menteri yang suka semena-mena itu!"
"Huss! Jaga mulutmu!"
"Tapi nona Fu itu juga sama menyeramkannya, mana ada perempuan yang bersikap biasa-biasa saja setelah membunuh orang lain."
"Dia itu cerdas! Apa kau tidak lihat cara dia mengenali vas tiruan itu? Belum lagi cara dia memberi ide kepada tuan muda Shen. Menurutku, tuan muda Shen tertarik padanya."
"Tertarik apanya? Wajahnya saja tidak terlihat, bagaimana bisa tertarik? Yang benar saja ahahahaaa.."
Mo Yan yang diam menyimak, kembali mendongak menatap langit. Tangannya terkepal erat dan ia pun kembali melompati puncak bangunan dengan qinggongnya.
__ADS_1
Ia harus memastikan apakah firasatnya itu benar!