
Chu Yao tidur nyenyak sepanjang hari. Tidak memperdulikan lagi bagaimana kondisi serta dimana dia saat ini. Untuknya, tidur yang nyenyak tanpa mimpi buruk merupakan suatu hal yang sangat berharga.
Sangat sulit baginya mendapatkan istirahat yang cukup dengan kualitas tidur yang baik selama ini.
Pola tidur yang tidak sehat sudah membuat berat tubuhnya berkurang.
Selama empat tahun terakhir Chu Yao harus meminum obat tertentu hanya untuk membuatnya tidur dengan tenang. Dan itu bukanlah hal yang baik untuk kesehatannya.
Chu Yao menggeliat nyaman. Ia terbangun dengan tubuh yang segar. Bola matanya bergulir melihat sekitar namun tak ada siapapun dalam kamar yang luas itu selain dirinya.
Dari semua benda yang ia lihat, ada satu hal yang mencuri perhatian Chu Yao, yaitu beberapa piring makanan telah tersedia begitu saja di atas meja.
Masih hangat. Seakan-akan memang sengaja disediakan oleh seseorang untuknya.
Perut Chu Yao mulai memberontak. Rasa lapar mulai terasa. Tapi ia tidak berniat memakan hidangan yang ada. Ia menunggu. Menunggu dan terus menunggu sampai hidangan itu dingin. Namun sosok itu tak kunjung datang.
Chu Yao merapikan meja dan memasukkan semua hidangan kembali kedalam nampan. Ia membawa benda itu keluar dan menyerahkannya kepada salah satu penjaga yang berdiri didepan gerbang.
"Bawa ini! Yang mulia tidak ada di kamar. Aku akan memberitahu kalian jika beliau kembali dan ingin makan."
Penjaga itu memandang nampan dan Chu Yao secara bergantian, "apakah nona tidak menyukai makanannya?"
Chu Yao diam terheran-heran dengan pertanyaan pria itu, "suka..?"
"Yang mulia menyuruh kami menyediakan makanan ini untuk anda. Tapi nampaknya tidak sesuai dengan selera nona. " Jawab penjaga itu dengan raut wajah kecewa.
Chu Yao tidak bisa berkata-kata. Ucapan penjaga itu membuat Chu Yao jadi tidak enak hati.
"Saya akan mengambilkan menu baru untuk nona."
"Tidak usah!" Cegat Chu Yao saat pria itu hampir pergi membawa makanan dingin itu.
"Aku akan mengambil ini. Sisanya kembalikan saja ke dapur." Tambah Chu Yao dengan dua buah bapao di kedua tangannya.
Chu Yao melenggang begitu saja keluar paviliun tanpa memperdulikan raut wajah cemas para penjaga. Ia tidak menyadari jika tindakannya yang keluar paviliun tanpa ijin akan membuat para penjaga di sana mendapatkan masalah.
Chu Yao benar-benar tidak tau. Pun demikian, rasa bosan telah membuatnya hampir memuntahkan isi kepalanya.
Setiap saat hanya melakukan aktifitas membaca buku dan tidur, menciptakan rasa jenuh yang semakin menumpuk pada dirinya.
Mumpung Mo Yan tidak ada di sana, Chu Yao akan menghirup udara segar sepuas hatinya.
Dari kejauhan, ia mendengar suara ricuh perkelahian. Ia mendekat dan melihat dengan jelas sekelompok prajurit saling menyerang secara membabi buta.
Chu Yao menyuap bapao dengan santai sambil menyipitkan mata. Ia mengamati pola perkelahian yang terjadi. Meski sama-sama memakai pakaian prajurit kerajaan Alorra, namun ada dua perbedaan yang signifikan.
Teknik beladiri mereka berbeda. Intuisi Chu Yao mengatakan bahwa tempat peristirahatan kaisar ini telah dimasuki penyusup yang handal.
Hanya orang-orang yang memiliki keahlian pedang dan beladiri yang tinggi yang bisa membobol sistem keamanan tempat itu.
Dari jauh, rombongan Shen Ruo Nan dan Guo Wang yang baru datang segera mengambil bagian. Mereka telah bergabung memberi perlawanan.
"Nona Fu menjauh lah! Ini bahaya!" Raung Shen Ruo Nan sambil memberi tebasan kepada salah satu penyusup.
"Woi nona tabib, cepat pergi! ini pertempuran! bukan tempat medis!" Teriak Guo Wang dengan wajah yang kesal kepada sikap Chu Yao yang santai.
Chu Yao menekuk wajah mendengar perkataan Guo Wang barusan. Ia membatin kesal sambil terus memasukkan bapao ke mulutnya.
Selagi asik mengunyah sambil menonton perkelahian, salah satu dari penyusup itu terdorong mundur karena tendangan Shen Ruo Nan. Chu Yao menghindar dengan cepat namun sisa bapao yang berada ditangan kirinya terpental dan jatuh kedalam kolam ikan.
"Bapao ku..." Teriak Chu Yao kearah bapao yang sudah menjadi rebutan ikan koi didalam kolam.
Guo Wang mendengus semakin kesal, "Perempuan ini! Malah menangisi makanannya"
Alih-alih ingin memarahi, Guo Wang malah dibuat bengong oleh gerakan cepat Chu Yao yang membunuh dua orang penyusup sekaligus dengan belati ditangannya.
Perempuan itu dengan gesit membabat para penyusup dan dengan mudah mengimbangi gerak Shen Ruo Nan.
Mau tidak mau dua bangsawan muda itu harus mengakui bahwa beladiri perempuan itu bukan abal-abal.
Chu Yao yang masih kesal karena bapao, tidak menyadari tatapan kagum yang dilancarkan oleh mata hitam Shen Ruo Nan.
"Kalian harus mengganti jadwal makan siangku!" Ucap Chu Yao sambil memberikan tusukan memutar di perut penyusup terakhir yang sudah ia bantai.
Penyusup itu mengerang dan jatuh dengan tarikan di cadar tipis yang Chu Yao kenakan.
__ADS_1
Kain itu otomatis terlepas dan membuat Chu Yao tersentak. Dengan cepat ia meraih kain itu dan segera memakai nya kembali. Namun ia sedikit terlambat, kejadian itu membuat semua orang yang di sana melihat rupa aslinya.
Chu Yao mengelilingkan pandangan dengan wajah yang memucat. Berharap tidak ada yang menyadari kejadian barusan. Dan nampaknya perasaan Chu Yao memang berlebihan. Semua orang tidak memperdulikan kekhawatirannya. Bahkan, semua orang bersikap biasa seolah-olah tidak pernah melihat apa-apa.
"Bereskan semua mayat ini secepatnya sebelum yang mulia tiba!" Perintah Shen Ruo Nan kepada para prajurit yang ada didepannya.
Semua prajurit dengan tangkas membersihkan tempat kejadian perkara dengan arahan Guo Wang. Dalam sekejap tempat itu sudah seperti sedia kala.
"Nona Fu. " Panggil Shen Ruo Nan saat Chu Yao berniat meninggalkan tempat itu, "saya cukup terkejut dengan keahlian beladiri yang nona Fu miliki."
Chu Yao diam tanpa memberikan respon apapun dan membalikkan tubuh namun kembali dihentikan oleh pria itu.
"Nona Fu, apakah kondisi yang mulia sudah membaik? Saya dengar kesehatan beliau sempat menurun dan harus menerima perawatan nona Fu secara pribadi."
"Beliau sudah membaik. Bukankah yang mulia sudah bisa bercengkrama bersama orang-orang di sana." Jawab Chu Yao sambil menunjuk kearah gazebo besar di ujung taman.
Shen Ruo Nan tersenyum, "oh, nampaknya ayah dan adik Xue Ying sudah datang."
Chu Yao menatap rombongan itu dengan perasaan kompleks. Bibirnya mendadak mengatup dengan rapat. Siluet Mo Yan yang berjalan tegap diiringi gerak manja putri perdana menteri di sampingnya membuat hati Chu Yao berdesir tak karuan.
Chu Yao mencengkram erat belati yang masih ada di telapak tangannya, kemudian memalingkan wajahnya pada Shen Ruo Nan.
"Jika boleh bertanya, apakah tuan muda tau dari mana penyusup tadi berasal?"
Shen Ruo Nan menoleh dan menjawab dengan suara lembut, "saya tidak tau. Penyerangan seperti ini bukan sekali dua kali terjadi dan para pembunuh itu bukan hanya berasal dari satu tempat."
"Berarti kejadian seperti ini sering terjadi?"
"Tidak terlalu, namun setahun terakhir memang semakin sering." Jawab Shen Ruo Nan dengan sedikit mengernyitkan alis.
Chu Yao menarik lengan pria itu secara tiba-tiba dan membalikkan badannya. Ada sebuah luka kecil di punggung kanan bagian belakang Shen Ruo Nan.
"Kau terluka.." Ucap Chu Yao datar.
"Bisakah nona Fu mengobati saya dengan ini?" Tanya Shen Ruo Nan sambil memberikan sebuah pot obat dari balik bajunya. Chu Yao tak menjawab namun tangannya menerima benda tersebut tanpa keraguan.
"Jangan bergerak!" Chu Yao segera menaburkan obat tersebut ke luka yang diderita oleh Shen Ruo Nan.
Pria itu mengeluarkan suara seperti desisan pelan karena rasa perih akibat taburan obat. Lantaran suatu kebiasaan, Chu Yao langsung memberikan perlakuan yang sama seperti Mo Yan saat ia mengobati Shen Ruo Nan.
Mo Yan yang sudah berdiri didepan mereka mendadak mengeraskan rahang.
"Apa yang kalian lakukan?"
Suara berat Mo Yan terdengar dingin dan menusuk pendengaran Chu Yao dan Shen Ruo Nan. Kedua orang itu terkesiap seketika.
"Nona Fu membantu mengobati luka saya, yang mulia. " Jelas Shen Ruo Nan yang didukung langsung oleh Chu Yao dibelakangnya. Perempuan itu menunjukkan pot obat dan menggoyang-goyangkannya kearah pria bermata tajam itu.
"Kakak terluka?" Tanya Xue Ying sambil menghampiri sang kakak dan diiringi kekhawatiran yang sama oleh perdana menteri.
"Aku tidak apa-apa. Ayah dan adik tidak perlu cemas."
Mo Yan mendelik kearah Chu Yao sampai-sampai perempuan itu harus menjauhkan diri dari keluarga Shen didepannya.
"Apakah ada kekacauan disini?" Tanya Mo Yan dengan nada penuh menyelidik.
"Benar yang mulia. Beberapa waktu yang lalu ada sekelompok penyusup yang menyamar sebagai prajurit disini. Dan kami telah berhasil melumpuhkan mereka." Jawab Shen Ruo Nan seraya menjelaskan dengan penuh kesopanan.
Mo Yan mengangguk pelan kemudian memanggil seorang pelayan, "siapkan kamar tamu! antarkan perdana menteri dan yang lainnya ke kamar mereka untuk beristirahat!"
Pelayan tersebut mengiyakan perintah sang kaisar kemudian pergi mempersiapkan semua hal.
"Tuan besar Shen silakan beristirahat, besok kita akan lanjutkan pembicaraan."
Mo Yan berjalan melewati perdana menteri dan dua anaknya begitu saja. Meski tidak kentara, Chu Yao memergoki Shen Xue Ying menatap manja penuh damba terhadap pria berambut putih keperakan itu.
"Genit!" Gumam Chu Yao yang hampir tidak terdengar oleh telinga manusia pada umumnya.
Namun tidak untuk Mo Yan. Pria itu mendengar jelas ucapan yang Chu Yao lontarkan. Tanpa memperdulikan norma kesopanan, pria itu meraih kepala Chu Yao dan membawa perempuan itu untuk mengikutinya masuk kedalam paviliun pribadinya.
"Tu, tunggu.. Yang mulia.. Saya bisa jalan sendiri dengan normal.." Gumam Chu Yao sembari memperbaiki ikatan rambutnya yang tidak rapi karena perlakuan Mo Yan.
Pria itu berhenti kemudian melirik tajam kearah Chu Yao. Perempuan itu mendadak menjadi batu karena pandangan Mo Yan yang mengintimidasi.
Tanpa banyak bicara, si wajah es kembali menarik lengan Chu Yao dan membawanya masuk kedalam kamar.
__ADS_1
Begitu menutup pintu, A-Wei sudah berdiri didepan mereka dengan dua bungkusan di tangannya.
"Aku memerintahkan mu untuk memberitahu semua orang bahwa aku tidak ingin diganggu satu hari penuh!" Tutur Mo Yan dengan suara dingin yang menggema di seluruh ruangan.
"Saya patut dihukum!" Jawab A-Wei yang langsung berlutut.
"Apa kau memiliki alasan kenapa perdana menteri datang bersama rombongannya yang tidak penting itu hari ini?!"
A-Wei semakin merasa bersalah dan menundukkan wajah, "perdana menteri mengatakan akan memberi jawaban atas surat yang mulia besok lusa. Tapi... Saya tidak menduga jika perdana menteri akan menemui yang mulia satu hari sebelumnya bersama anak-anak dan rombongan beliau."
"Jadi menurutmu, perdana menteri lah yang patut disalahkan?" Tanya Mo Yan dengan penuh penekanan.
A-Wei semakin gemetar dan ketakutan, "hamba tidak berani!"
"Kembali ke ruang latihan! Ambil hukuman berjalan dengan kedua tangan selama satu jam!" Ucap Mo Yan kepada A-Wei tanpa basa-basi.
A-Wei mengangguk patuh dan segera melaksanakan hukuman setelah menyerahkan dua bungkusan itu kepada Chu Yao.
Mo Yan menarik napas panjang dan berjalan menuju ruang pembukuan diiringi langkah kaki Chu Yao dibelakangnya.
Tak ada pembicaraan. Suasana jadi hening dan canggung untuk mereka berdua. Chu Yao menggigit bibir dan mengalihkan pandangannya ke deretan buku yang berjejer rapi di rak-rak kayu mahoni.
Sedangkan Mo Yan harus kembali fokus pada tugas-tugas negara yang menjadi tanggungjawabnya.
Sesekali manik gelapnya mencuri pandang kearah perempuan yang berjalan bolak balik didepannya.
Ia mengulum senyum. Kemudian beralih pada benda yang tergantung ditangan perempuan itu. Suara berisik dari dua bungkusan ditangan Chu Yao membuyarkan fokus Mo Yan.
Dengan wajah datar andalannya, ia bertanya, "mau sampai kapan kau akan membawa bungkusan itu? Kenapa kau tidak memakannya?"
"Oh, saya kira ini milik yang mulia." Balas Chu Yao dengan lugu, "tidak ada yang bilang ini untukku." Tambah perempuan itu yang terdengar seperti omelan.
Mo Yan hanya menarik ujung bibirnya dan berjalan mendekati Chu Yao. Ia mengambil bungkusan itu dan membukanya.
Ada lima buah bapao berbagai varian disalah satu bungkusan dan aneka kue di bungkusan lainnya.
Wajah tampan tidak berdosa itu menyodorkan makanan ditangannya dengan santai. Membuat Chu Yao limbung kebingungan.
'Sejak kapan dia membelinya?'
'Mengapa dia memperlakukan aku seperti ini?
Chu Yao membatin.
Mungkinkah Mo Yan mengetahui siapa dia sebenarnya?
Jika memang demikian mengapa pria itu tidak membuka kedoknya saja? Malah seolah mengikuti alur cerita yang sudah Chu Yao skenario kan.
Namun jika tidak, kenapa perlakuan pria itu begitu membuat Chu Yao berpikir berlebihan. Seakan-akan pemuda itu sengaja membuatnya besar kepala atau hanya sekedar memanfaatkan dirinya.
Disaat Chu Yao sedang bergulat dengan semua persepsinya, Mo Yan pun tidak ada bedanya. Pria itu mengikuti intuisi dan firasat yang ia rasakan.
Meski tidak banyak bicara namun otak Mo Yan berpikir keras. Banyak pertanyaan yang bermunculan di sana.
Jika memang perempuan didepannya itu adalah Chu Yao, mengapa dia tidak membuka penyamarannya? Malah justru bertingkah seolah-olah mereka orang yang baru saling kenal dan tidak memiliki hubungan apa-apa.
meskipun ada sesuatu hal yang mungkin membuat perempuan itu merahasiakan alasannya, apakah Mo Yan tidak bisa menjadi seseorang yang bisa diajak berbagi suka maupun duka?
Bukankah perempuan itu tau bahwa dia bisa diandalkan.
Bukankah sebelum-sebelumnya pun mereka berdua telah melewati banyak hal bersama.
Lantas apa lagi yang menjadi tujuan perempuan itu untuk mengunci mulutnya dihadapan Mo Yan?
Pun, jika dia bukan Chu Yao. Mengapa semua gerak-geriknya begitu sama persis dengan perempuan yang ia cintai. Dari sifat, sikap dan kemampuannya memainkan belati serta beladiri yang dia miliki sama persis dengan perempuan itu.
'Apakah Chu Yao sengaja menghindari ku? Atau bahkan membenciku karena aku tidak berusaha menyelamatkannya empat tahun yang lalu?'
'Ataukah ia tidak menyukaiku karena perubahan fisik ku yang mengerikan ini?'
Mo Yan skeptis. Rasanya ingin menarik cadar tipis yang menutupi sebagian wajah perempuan itu. Ia ingin bertanya. Memastikan semua dugaan dalam hati dan pikirannya.
Namun ia tidak bisa.
Tindakan semena-mena itu tidak akan membuat manusia manapun senang. Terlebih jika perempuan itu adalah Chu Yao. Gadis keras kepala yang naif dan sedikit arogan.
__ADS_1
'Sampai kapan kita harus bermain kucing-kucingan seperti ini? Aku sangat lelah.' Batin keduanya bersamaan.