
Chu Yao duduk tenang ditemani Mo Yan di taman paviliun dingin. Keduanya diam dengan posisi agak berjauhan seakan sedang menunggu waktu yang tepat untuk berbicara.
Tak berapa lama A-Wei datang bersama paman Tong, bibi Hui dan dua orang pelayan kiriman permaisuri.
A-Wei membungkuk hormat dan menjauh dari kelima orang itu. Ia mengambil posisi tepat di belakang Mo Yan. Berdiri tanpa banyak bicara.
"Kalian berdua, mendekatlah!" Perintah Chu Yao kepada kedua pelayan kiriman permaisuri.
Kedua perempuan itu saling melempar pandang kemudian patuh mengikuti perintah.
"Siapa nama kalian dan apa pekerjaan kalian sebelumnya?"
"Hamba Linuo dan dia adalah Lizin. Kami sebelumnya bekerja sebagai pelayan di kamar tidur permaisuri." Jawab Linuo dengan penuh kehati-hatian.
"Berarti kalian berdua bersama permaisuri sepanjang waktu, begitu?" Tanya Chu Yao kepada Lizin sembari menyeruput teh yang masih hangat.
"Benar nona." Jawab Lizin sambil mencuri pandang kearah Linuo.
Chu Yao tersenyum melihat Lizin yang gugup, "Sejak usia berapa kalian sudah memasuki ruang pribadi permaisuri?"
"Sejak kami berusia sepuluh tahun." Jawab Linuo masih dengan posisi membungkuk.
Chu Yao diam mengamati. Jika dilihat dengan teliti kemungkinan usia kedua pelayan itu di atas dua puluh lima tahun. Berarti diusia saat itu, mereka sudah mengetahui peristiwa kematian selir Meng.
"Berarti saat kalian mulai melayani permaisuri, kalian pasti tau berita tentang kematian ibuku."
"Kami tidak tau apa-apa, nona! Kami hanya mendengar bahwa istri jenderal Chu bunuh diri. Hanya itu. " Jawab Linuo tanpa ragu.
"Benarkah?"
Kedua pelayan itu mengangguk. Tapi Chu Yao tidak terpengaruh, ia kembali menginterogasi mereka sambil memainkan belati yang baru saja ia keluarkan dari pergelangan bajunya.
"Aku tidak akan berbasa-basi, apa kalian tau tentang racun tanpa harapan? Ku dengar racun tersebut hanya dimiliki keluarga permaisuri yang juga merupakan pihak perdana menteri. Apakah itu benar?"
"Kami tidak tau, nona!"
"Racun tersebut dikirim ke kediaman Chu oleh seorang pelayan kepada Ah Zheng. Mereka meracuni ibuku sedikit demi sedikit hingga pikirannya tidak stabil. Kemudian memfitnahnya hingga dia frustasi dan bunuh diri.. " Chu Yao bangkit dan berdiri tepat didepan kedua pelayan yang mulai gugup itu.
Linuo menelan ludah dengan tubuh yang gemetar ketika Chu Yao memainkan belatinya di leher pelayan itu.
"Menurut informasi, pelayan yang mengirim racun itu adalah salah satu dari kalian.. "
"Orang itu bukan saya! Saya bersumpah!" Ucap Lizin ketakutan, "Saat itu saya sedang dihukum di luar istana. Saya tidak tau apa-apa jika permaisuri telah menyuruh kakak Linuo ke kediaman Chu. Paman Ah Zheng bisa menjadi saksi!"
"LIZIN! jangan membual! Saya tidak mengirimkan racun! Nona, tolong percaya padaku! Saya memang menemui paman Ah Zheng untuk menyerahkan sebuah hadiah dari permaisuri. Ta, tapi itu bukan racun. Itu hanya sebuah kantong wewangian biasa untuk meredakan sakit kepala yang sering diderita paman. Begitulah yang paman katakan. Nona harus mempercayai saya!" Jelas Linuo gelagapan.
"Kantong wewangian biasa? Apa kau yakin? Jangan membodohi ku!"
__ADS_1
Teriakan kesakitan Linuo menggema di paviliun dingin yang tenang. Belati Chu Yao telah menggores pipinya hingga mengeluarkan banyak darah.
Lizin terpekik ketakutan. Pun dengan bibi Hui dan paman Tong. Kedua orang itu membatu dengan wajah seputih kapas. Namun mereka tetap diam. Seolah sudah semakin terbiasa dengan perilaku sang majikan yang kadang tidak berprikemanusiaan.
"Dan kau, jangan berpikir kau bisa selamat dari sayatan belati ku. Sebaiknya kau buka mulut sebelum habis kesabaranku!" Ancam Chu Yao kepada Lizin yang masih membeku ketakutan.
"BICARA!!!"
"Ampuni saya nona! Kami tidak punya pilihan. Ucapan kak Linuo memang benar. Kami diminta untuk mengantarkan beberapa kali hadiah dari permaisuri untuk paman Ah Zheng secara bergantian. Tapi, dari sekian benda selalu ada sebuah kantong wewangian bersamanya..." Tutur Lizin gemetaran.
"Pernah suatu ketika hamba bertanya, namun jawaban paman sama seperti yang kak Linuo sebutkan, itu hanya untuk sakit kepala beliau.."
"Ta, tapi ada suatu kejadian yang tidak mungkin bisa saya lupakan. Saat itu saya menemani Nyonya Li, ibu susu permaisuri, untuk mengambil beberapa barang ke kediaman perdana menteri. Saat dalam perjalanan kembali, saya tidak sengaja menjatuhkan sebuah kotak berisikan dua buah pot putih. Salah satu pot itu pecah dan mengenai roti yang dibawa salah satu pelayan untuk para kusir istana permaisuri.. "
"Awalnya saya tidak mengerti kenapa yang mulia begitu marah hanya karena sebuah pot kecil berisi air bening. Nyonya Li memohon untuk meringankan hukuman saya. Saya hanya dihukum sepuluh cambukan dan berlutut didepan aula istana selama tiga hari berturut-turut. Saya kira semua masalah telah selesai, ternyata tiga hari kemudian saya mendengar ada sekitar delapan kusir meninggal bunuh diri dihari yang sama dengan cara yang berbeda... "
Lizin menelan saliva dan menarik napas cepat, " .. Kata Nyonya Li, mereka yang meninggal itu adalah orang-orang yang memakan roti yang ditumpahi air pot yang saya pecahkan saat itu. Beliau juga bilang bahwa itu adalah racun tanpa harapan yang dipersiapkan permaisuri untuk istri jenderal Chu. Dan, itu terjadi beberapa hari sebelum akhirnya terdengar kabar kematian selir Meng yang bunuh diri."
"Ta, tapi kami memang tidak punya pilihan, nona! Kami akan dibunuh dan keluarga kami akan dibantai sampai habis jika kami menolak melakukan perintah yang mulia permaisuri. Tolong nona bermurah hati pada kami yang rendahan ini! Ampuni kami!" Ucap Linuo mengiba sembari melakukan kowtow dengan linangan air mata.
"Benar nona. Kami... "
Seketika kedua pelayan tadi terdiam dan ambruk tak bernapas di tanah. Keduanya meregang nyawa dengan cepat karena sabetan belati yang memutuskan arteri dileher mereka.
Chu Yao yang berwajah dingin, kembali duduk dan mengelap belati tersebut dengan ujung pakaiannya.
"Kedua orang itu tidak akan hidup lama meski Chu Yao tidak membunuh mereka. Mereka sudah diracun sejak mereka dikirim kesini oleh permaisuri. Mereka bertahan karena informasi yang mereka berikan. Setiap informasi yang sampai ke permaisuri akan ditukar dengan penawar sementara." Jelas Mo Yan yang kembali teringat pada kasus Ah Zheng di kota Nian.
"Berarti secara sadar atau tidak, seluruh abdi permaisuri sudah terikat untuk memberikan nyawa mereka. Suka atau tidak, para pelayan ini akan terus menjadi boneka tumbal untuk menutupi semua kebusukan permaisuri. Ternyata permaisuri Airland adalah wanita yang mengerikan." Decak A-Wei sedikit bergidik.
Mo Yan tidak membalas perkataan A-Wei. Ia sibuk memperhatikan sosok Chu Yao yang sejak tadi kembali fokus menginterogasi paman Tong dan bibi Hui.
"Jadi, saya hanya ingin mengetahui beberapa hal dari paman dan bibi. Mohon paman dan bibi menjawab sejujur-jujurnya." Ucap Chu Yao yang sudah menyimpan kembali belati kedalam lengan bajunya.
Kedua orang tua itu tak memberikan respon apapun. Mereka tetap diam seolah pasrah menunggu hukuman yang dijatuhkan Chu Yao kepada mereka.
"Apakah paman dan bibi mengetahui tentang racun tanpa harapan sebelum saya menanyakannya pada dua pelayan tadi? " Tanya Chu Yao sambil mengetukkan jari di atas meja.
Paman Tong mengangguk tapi bibi Hui menggelengkan kepala.
"Dari mana paman mengetahuinya?"
"Dari sebuah buku medis Kekaisaran. Reaksi yang ditimbulkan sebelum nyonya meninggal dunia sama persis dengan informasi yang tertera dibuku tersebut." Jawab paman Tong dengan tenang.
"Buku medis Kekaisaran? Apakah itu ada di perpustakaan istana Kekaisaran Airland?"
"Benar."
__ADS_1
"Bagaimana bisa paman memiliki akses untuk memasuki perpustakaan istana? Apakah paman memiliki seseorang yang membantu paman?" Tanya Chu Yao dengan intonasi curiga. Tidak mungkin bagi orang biasa bisa semudah itu masuk kedalam perpustakaan istana dan membaca buku medis Kekaisaran dengan mudahnya tanpa bantuan seseorang yang berpengaruh.
Paman Tong mengangguk kemudian disusul pertanyaan baru dari Chu Yao, "Siapa dia?"
"Ibumu. Meng Shixun."
Chu Yao menjeda sejenak seraya mengatur ritme jantungnya yang mulai berdegup kencang. Ia bangkit dan menghampiri paman Tong.
"Mengapa ibu? Mengapa justru bukan ayah? Padahal ayah lah yang sering berinteraksi dengan Kekaisaran. Apakah ini ada sangkut pautnya dengan yang mulia kaisar?"
"Saya tidak bisa berkomentar lebih. Maafkan saya."
Lagi-lagi Chu Yao menarik napas. Ia harus menahan diri agar tidak bertindak gegabah. Mengorek informasi dari paman Tong tidak bisa dengan ancaman atau metode biasa. Ia harus memainkan metode tarik ulur.
"Baik, kita ganti dengan pertanyaan baru. Apakah paman dan bibi mengetahui atau sudah tau dari jauh hari bahwa saya bukanlah putri kandung jenderal Chu?"
Kedua orang tua itu tersentak kaget dan saling melempar pandang. Kemudian mengangguk bersamaan.
"Mengapa kalian hanya diam tanpa memberitahukan hal itu padaku?" Tanya Chu Yao dengan tatapan yang sedikit menyudutkan.
"Sebelum kami menjawab, saya ingin bertanya pada nona. Dari mana nona mengetahui hal ini?" Paman Tong balik bertanya.
"Apakah itu penting? Dari siapapun aku tau, aku hanya ingin kepastian dari kalian. Bukan malah paman berbalik tanya padaku."
Paman Tong nampak berpikir, ia sedang merangkai kata yang pas tanpa harus membuat siapapun tersinggung atau terluka.
"Sumber informasi itu sangat penting untuk menjabarkan informasi selanjutnya yang ingin nona ketahui. Kami tidak bisa sembarang berbicara. Ada sumpah dan nama yang harus kami jaga." Jelas paman Tong dengan sikap berwibawa.
Chu Yao menggigit bibir. Ada sedikit keraguan untuk mengungkapkan identitas informan yang telah berjasa padanya. Apakah kelak akan ada dampak jika dia mengekspos nama orang tersebut di hadapan orang-orang ini?
Chu Yao membulatkan tekad seraya memejamkan mata sesaat, "Baik, yang memberitahu saya adalah pangeran kedelapan. Long Ye Zuan."
Mo Yan yang sejak tadi menyimak tiba-tiba mengerutkan alis. Nampak ia tidak menyukai tindakan yang dilakukan Ye Zuan. Namun ia kembali pada fokus awalnya sambil bersedekap dibalik tatapan dingin yang menjadi ciri khasnya.
"Pangeran kedelapan? Apakah yang mulia yang telah memberitahu nya?" Tutur bibi Hui kebingungan kepada paman Tong.
Paman Tong hanya diam. Bibi Hui yang kebingungan nampak semakin serba salah, "Ah Tong, sebaiknya kita ceritakan saja apa yang kita ketahui. Nona berhak tau. Aku tak ingin melihatnya mempertaruhkan nyawa seperti waktu itu. Saat dia kembali dari kota Nian dengan luka-luka di tubuhnya."
Perkataan lirih bibi Hui menggoyahkan hati paman Tong. Dahi tua itu berkerut. Dengan wajah yang sangat serius.
"Ah Tong... Aku sudah tidak sanggup menghindar terus seperti ini. Bukankah Yang mulia kaisar sudah memberitahu rahasia itu pada putra bungsunya. Sejatinya, ini merupakan tanda bahwa kita sudah mulai melakukan perlawanan terhadap permaisuri. "
Paman Tong menyela, "Aku tau. Aku hanya tidak ingin anak ini bertindak gegabah jika nanti sudah mengetahui siapa dirinya.. "
"Saya berjanji akan mendengarkan cerita paman dan bibi dengan kepala dingin." Janji Chu Yao dengan tatapan yakin.
Paman Tong menghela napas panjang kemudian mengatur posisi duduk dengan baik.
__ADS_1
"Baiklah.. Kami tidak memberitahu nona karena sumpah kepada tuan jenderal dan yang mulia kaisar.. Mereka meminta kami menjaga nona tanpa harus memberitahu siapa nona sebenarnya.. "