
Chu Yao mengantar kepergian Mo Yan dengan wajah ceria yang dibuat-buat. Perempuan bermanik coklat terang itu memberikan semangat tatkala pria berbaju zirah lengkap itu menatapnya dengan penuh ketidakrelaan.
"Tenanglah, ada A-Wei dan Fu Bai yang menemaniku." Hibur Chu Yao pada Mo Yan yang masih merasa ragu-ragu untuk meninggalkannya.
"Bukankah kau sudah memerintahkan mereka menjagaku tanpa pernah jauh barang sedetikpun. Apa kau tidak mempercayai mereka?"
"Tidak. Aku percaya."
'Yang ku cemaskan bukan perkara itu. Justru dirimu yang kadang bertindak diluar nalarku.' Batin Mo Yan.
Pemuda itu menelan saliva kemudian memeluk sang istri sepenuh hati. Dengan sedikit berbisik ia berkata, "jika bisa, aku ingin mengurungmu disini sampai situasi kembali aman terkendali."
Chu Yao mengulum senyum, "tapi sayangnya kau tidak bisa."
Mo Yan hanya menatap perempuan itu tanpa berkata-kata. Ia mengecup Chu Yao sekilas dan melompat menaiki kuda putih yang sudah tersedia.
Tanpa membuang waktu, kaisar termuda itu menghentakkan tali kekang dan melaju tanpa menolehkan wajah sekalipun kebelakang.
"A-Wei!" Panggil Chu Yao kepada pengawal pribadi suaminya, "apakah semua persiapan sudah siap?"
"Sudah, nyonya." Jawab A-Wei singkat.
Chu Yao beralih pada sosok pria berbaju putih di samping A-Wei, "Aku akan menemuinya. Ku harap dia benar-benar membawa benda yang kita cari."
"Kau tenang saja, aku sudah memastikannya. Tak mungkin dia berbohong." Tukas Fu Bai dengan sedikit helaan napas.
Ia pun menambahkan, "jika sudah mendapatkannya segera bawa kepadaku agar aku bisa cepat mengolahnya."
Chu Yao tak memberikan komentar apapun, ia justru meraih tali kekang seekor kuda yang sudah di bawa A-Wei beberapa menit yang lalu.
"Aku akan segera kembali jadi rahasiakan hal ini dari siapapun!" Ucap Chu Yao pada Fu Bai yang kemudian di balas dengan lambaian tangan yang malas.
Chu Yao dan A-Wei pun menaiki kuda mereka masing-masing dan menderu cepat, keluar dari tempat peristirahatan pribadi kaisar Alorra. Menembus cakrawala hitam yang pekat dan gelap. Tanpa rasa ragu dan ketakutan.
***
Tak ada yang bisa mencegah keinginan Long Jin Mao. Kaisar Airland itu dengan baju zirahnya bergerak tanpa memperdulikan saran dan masukan dari para pejabatnya.
Ia tetap memerintahkan seluruh prajuritnya untuk melakukan penyerangan secara brutal pada pasukan Alorra yang tengah berjaga tanpa aba-aba sebelumnya.
"Seharusnya tidak seperti ini!" Keluh menteri pertahanan kepada putra mahkota, "meskipun kita menang, ini merupakan cara yang tidak bermoral! Menyerang lebih dulu tanpa bertatap muka dimedan perang sungguh trik yang mencoreng nama baik Airland."
"Benar, seharusnya kita berperang dengan jujur dan terbuka." Timpal jenderal Yu, selaku pimpinan kalaveri yang menemani Ye Zuan berjaga dibarisan belakang pasukan Airland.
Ye Zuan menanggapi dengan wajah tenang, "apakah ada dari kalian yang bisa menghentikan ayahanda sekarang?"
Menteri Pertahanan dan jenderal Yu menelan saliva dengan wajah yang masam.
"Tidak ada bukan?" Seringai Ye Zuan yang kembali memandang sosok arogan dari bawah benteng.
Manusia itu memang tidak mengenal belas kasih dan manipulatif. Ye Zuan hanya menunggu waktu untuk mengakhiri semua sepak terjang sang kaisar.
"SERANG MEREKA SAMPAI PORAK-PORANDA!" Raung Long Jin Mao dari atas benteng pertahanan.
Seakan dihantui rasa kesal, harga diri Long Jin Mao telah terinjak-injak begitu surat ancaman dari Alorra kembali berkeliaran di ingatannya.
"JANGAN SEBUT NAMAKU JIKA AKU TIDAK BISA MENAKLUKKAN NEGARA ITU DIBAWAH KAKIKU!" Tambahnya dengan teriakkan angkuh.
"MANA XU XIAO YAN?! APA DIA TIDAK BERANI MENGHADAPI KU?! AKAN KU CABIK-CABIK TUBUHNYA TANPA AMPUN!!!"
Ye Zuan menatap kearoganan sang ayah dengan sorot mata yang penuh problematis. Kemudian ia beralih pada para prajuritnya yang sedang berperang. Wajah bengisnya mulai nampak diiringi gigi yang saling menggertak.
__ADS_1
Ia nampak kesal sekaligus murka. Namun perasaan itu ia kubur dalam diamnya. Ia tak ingin seorangpun menyadari perubahan suasana hatinya.
Pangeran kedelapan itu memicingkan mata, mengarahkan fokusnya pada pertikaian berdarah di depannya.
Ia menunggu dan menunggu.
Sebuah isyarat dari seseorang di seberang sana. Di ujung medan perang.
Jika Xu Xiao Yan, sang kaisar Alorra memunculkan diri dan menyerbu benteng pertahanan mereka maka ia pun akan bergerak. Menyelesaikan semua kepelikkan yang sudah diciptakan Long Jin Mao, sang penguasa Airland.
***
Di barak kerajaan Alorra...
Mo Yan, jenderal Luo dan beberapa bawahan terpercaya sang jenderal telah berdiri mengelilingi miniatur wilayah peperangan didalam tenda pribadi sang kaisar.
Mereka membahas masalah penyerangan Airland yang bertubi-tubi selama tiga hari terakhir.
"Jumlah prajurit kita sudah berkurang setengah." Ucap jenderal Luo sambil menatap rangkaian strategi militer dan peta yang terbentang didepannya.
"Bagaimana dengan kondisi musuh?" Tanya Mo Yan dengan alis yang berkerut.
"Tak ada perbedaan yang signifikan namun jumlah kalaveri cadangan nampaknya masih memumpuni." Jawab jenderal Luo masih sedikit ragu.
Mo Yan menjeda sejenak. Ia bergelut dalam pemikirannya. Menimbang untung rugi dari rencana yang akan ia lancarkan kedepannya.
"Apakah prajurit yang tersisa masih memiliki stamina yang kuat?"
"Tujuh puluh lima persen. Sisanya sedikit mengalami keterpurukan mental akibat luka-luka yang mereka derita."
"Itu sudah cukup!" Tukas Mo Yan dengan tarikan napas, "bagi dua jumlah kalaveri yang ada. Kalaveri pertama letakkan sebagai pertahanan dan yang kedua ikut bersamaku menyerang langsung ke formasi inti Airland."
"Tapi itu berbahaya, yang mulia!" Tegur jenderal Luo keberatan, "anda akan terkepung! Kemungkinan selamat sangat minim! Sebaiknya kita tidak mengambil resiko!"
Jenderal Luo terdiam. Perkataan pemimpin tertinggi Alorra itu memang benar. Tidak ada gunanya jika hanya menunggu kematian. Setidaknya jika memberikan serangan, mental musuh akan menjadi goyah. Kemungkinan untuk menguasai medan perang akan terbuka dengan lebar.
"Baik, yang mulia! Kami akan mempersiapkan prajurit!" Seru jenderal Luo dengan hormat dan tangan mengepal didada.
Para bawahan Mo Yan yang setia itu undur diri. Mereka meninggalkan sang pemimpin dengan penalarannya sendiri. Menyimpan semua kemelut serta asumsi beragam di dalam kapasitas otaknya yang diatas rata-rata.
Mo Yan menghela napas dan memijat keningnya. Perasaannya sedikit tidak tenang. Sudah hari ketiga peperangan dan sampai saat ini tak ada kabar tentang Chu Yao.
Perempuan itu seperti menghilang ditelan bumi. Ia bahkan mengajak pengawal pribadi Mo Yan dalam ekspedisinya kali ini.
Dan sialnya, A-Wei bahkan tidak memberi informasi apapun kepada Mo Yan.
Kaisar bersurai putih keperakan itu merengut dalam diam. Kekesalannya semakin menumpuk. Jika kedua orang itu kembali, ia akan memberikan mereka hukuman karena telah membuatnya tidak fokus untuk berperang.
Namun, dikala Mo Yan sibuk berspekulasi, salah seorang prajurit menerobos masuk kedalam tenda, membuat Mo Yan terkesiap dan hampir melayangkan pedang kearahnya.
Prajurit itu seketika ketakutan, namun dengan mengumpulkan keberanian ia pun angkat bicara, "nona Fu, maksud hamba nyonya telah datang, yang mulia. Hanya saja kondisi mereka tidak begitu baik. A-Wei nampaknya sedikit terluka."
Mo Yan hampir melompat. Ia segera keluar tenda peristirahatannya dan melihat siluet perempuan yang ia rindukan sedang memapah A-Wei dari kejauhan.
Kaisar bernetra hitam gelap itu berlari kearah istrinya dan mendapati tubuh perempuan itu penuh dengan cipratan merah. Wajahnya seketika memucat.
"Aku baik-baik saja. Ini bekas darah para penyusup dan A-Wei." Ucap Chu Yao tenang sembari menyerahkan A-Wei pada sekelompok prajurit untuk dirawat di barak kesehatan.
Mo Yan tak bergeming. Ia hanya meraih tangan kecil Chu Yao dan membawanya masuk kedalam tenda pribadinya. Wajahnya yang datar begitu kontras dengan tatapan matanya yang setajam elang.
Para prajurit yang berjaga otomatis mengunci akses keluar masuk tempat pribadi pimpinan mereka begitu menyadari aura intimidasi yang kuat dari Mo Yan.
__ADS_1
Pria itu, Xu Xiao Yan, sang kaisar Alorra dengan sigap mengambil pakaian ganti dan handuk kecil untuk membersihkan tubuh Chu Yao yang penuh darah.
Chu Yao pun hening, ia membiarkan begitu saja tubuhnya disentuh Mo Yan. Ia tau bahwa pria itu tengah menahan rasa marahnya. Rahangnya yang mengeras telah mendeskripsikan dengan baik betapa kuatnya pria itu menguasai gejolak emosinya.
"Beristirahatlah!" Perintah Mo Yan. Pria dingin itu membalikkan badan dan beranjak pergi.
Namun langkahnya tertahan karena pelukan erat Chu Yao. Perempuan seputih salju itu merengkuh Mo Yan dari balik punggungnya. Berusaha meredam amarah Mo Yan.
"Jangan marah! A-Wei tidak bersalah! Dia hanya melakukan apa yang aku perintahkan!" Ucap Chu Yao dengan jemari yang masih bergetar.
Mo Yan mengepalkan tangan, "jika aku memberikannya hukuman, maka kau pun takkan lepas dari sanksi yang akan kuberikan!"
Chu Yao tak perduli dengan ancaman Mo Yan. Ia semakin mengeratkan pelukannya.
"tiga hari ini, tak ada kabar sama sekali dari kalian. Sebagai pengawal pribadi, A-Wei harus diberi hukuman karena telah lalai dalam tugas!"
"A-Wei tidak bersalah! Dia sudah menjadikan dirinya tameng. Dia sudah terluka parah. Jika kau masih berniat menghukumnya, maka hukum saja aku!" Seru Chu Yao sambil berlutut.
Mo Yan membalikkan badan. Wajahnya hampir menghitam karena marah, "kau pikir aku tidak tega menghukummu?"
"Maafkan aku. Tapi aku benar-benar terpaksa. Situasinya serba cepat. Aku harus berkejaran dengan waktu. "
'Dan ini semua ku lakukan demi dirimu.' Ucap Chu Yao dalam hati.
"Kemana saja kalian selama ini?! Apa kau tidak tau betapa aku mencemaskan keadaanmu?! Desis Mo Yan. Suaranya dalam dan serak. Seolah sedang berusaha untuk tidak memberikan intonasi tinggi kepada Chu Yao.
"Aku bisa menjelaskannya."
"Kalau begitu, jelaskan! aku akan mendengarkan." Balas Mo Yan sambil membantu wanitanya untuk bangkit dan berdiri tegak.
Chu Yao duduk diujung dipan beserta Mo Yan di sampingnya. Ia merogoh bajunya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Didalam kotak tersebut terdapat sebuah tumbuhan aneh yang terlihat layu.
Chu Yao mengambil belati dan mengiris ujung telunjuknya kemudian meneteskan beberapa tetes darah di atas tumbuhan tersebut. Dan ajaibnya, tumbuhan yang layu itu seketika menjadi segar karena menyerap tetesan darah yang Chu Yao berikan.
"Ini.."
"Daun cahaya abadi, " Ucap Chu Yao dengan mata berbinar, "tumbuhan langka yang pernah paman Tong ceritakan. Aku sudah mendapatkannya. Kau akan segera sembuh."
Mo Yan tak bergeming. Ia masih menatap Chu Yao dengan sorot mata yang tidak bisa ditafsirkan.
"Aku sudah meminta Fu Bai kesini. Sebentar lagi dia akan tiba dan bisa segera mengolah tumbuhan ini menjadi obat. Ku harap kali ini akan berhasil." Gumam Chu Yao dengan penuh semangat.
"Sebelumnya aku minta maaf karena tidak memberitahumu lebih dulu. Aku juga telah melibatkan A-Wei dalam rencanaku. Jika aku menceritakan semuanya kepadamu, aku takut akan membuatmu semakin cemas.."
Mo Yan menanggapi alasan Chu Yao dengan wajah masam, "Sudah kuduga. Kau memang tidak bisa ditinggal begitu saja."
"Mo Yan.. Jangan marah.. Bukankah kau sudah berjanji untuk mendengarkan.." Bisik Chu Yao sambil memainkan tangan pria itu.
Mo Yan hanya bisa menghela napas panjang kemudian memberikan elusan lembut di pipi Chu Yao yang mulai dingin.
Chu Yao kembali menambahkan, "Tiga hari yang lalu aku memutuskan untuk pergi begitu Fu Bai mendapatkan informasi bahwa pusat medis Kekaisaran Airland memiliki banyak herbal langka salah satunya daun cahaya abadi. Dengan sedikit usaha dan komunikasi, Ye Zuan akhirnya mau membantu dan memberikannya pada kami.. "
"Ye Zuan?" Ulang Mo Yan dengan alis yang masih berkerut.
Chu Yao mengangguk, "benar. Ye Zuan mengambilnya dari tempat penyimpanan Long Jin Mao. Aku tidak tau bagaimana detilnya. Yang jelas, Ye Zuan meminta Chu Zhan mengantarkannya untukku. Kami bertemu disuatu tempat. Begitu kami kembali, kami sudah dihadang oleh beberapa penyusup dan kaupun tau kelanjutannya seperti apa.."
"Hanya karena benda ini kau mempertaruhkan nyawa?!" Ucap Mo Yang dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Chu Yao menengadah, "ini bukan perkara 'hanya' tapi ini benar-benar menyangkut hidup dan matiku! Jika kau tidak juga sembuh untuk apa aku hidup?!"
"Chu Yao.."
__ADS_1
"Ini pun bukan hanya tentang diriku ataupun dirimu! Ini demi Alorra dan seluruh kedamaian yang kau janjikan. Jika kondisimu tak kunjung membaik, bagaimana bisa kau akan memperjuangkan semua peperangan ini?!"