Memperbaiki Masa Lalu

Memperbaiki Masa Lalu
Bab 33


__ADS_3

"Apa? Ayah akan menikahkan ku dengan Chu Ling?!" Tanya Zhao Ming De dengan ulangan yang kesekian kali.


"Ayah! Saya memang menyukai salah satu putri jenderal Chu, tapi itu bukan Chu Ling! Saya menyukai Chu Yao. Tolong ayah ubah pernikahan ini!" Pinta Zhao Ming De dengan raut wajah pucat memelas.


Zhao Fu Jun menggebrak meja. Tangan tuanya yang masih kekar nampak gemetar menahan marah.


"Tidak ada yang akan berubah! Kau tetap harus menikah dengan putri bungsu jenderal Chu!"


"Tapi ayah, saya tidak mencintai Chu Ling! Tolonglah ayah! Saya tidak pernah membantah ayah. Saya selalu menuruti apa yang ayah katakan selama ini. Kali ini.. hanya untuk kali ini, saya mohon ijinkan saya menikah dengan gadis pilihan saya."


Meski Zhao Ming De melakukan kowtow, namun sang ayah tetap tak bergeming. Pria tua itu tetap kukuh pada pendiriannya.


"Ayah, saya akan melakukan apapun yang ayah perintahkan asal ayah bersedia menikahkan saya dengan Chu Yao. Saya berjanji! Apapun itu! Tolonglah ayah!"


Zhao Lin Lin yang sejak tadi melihat dari jauh akhirnya ikut melakukan kowtow bersama sang kakak. Ia tidak tega hati melihat saudara yang ia sayangi begitu tidak berdaya memperjuangkan perasaannya.


"Ayah, Lin Lin juga memohon kepada ayah. Tolong ayah bermurah hati pada kakak. Bukankah selama ini kakak selalu taat padamu. Kakak selalu berperilaku baik bahkan selalu menjaga reputasi keluarga Zhao dimata publik. Tolong, sekali ini saja kabulkan lah permintaan kakak!"


Zhao Fu Jun mencengkram ujung meja. Rahangnya yang mengeras berbanding lurus dengan raut wajahnya. Ada ketidakberdayaan di sana.


Ya, pria tua itu pun tau jika putra satu-satunya tidak pernah mengecewakan dirinya. Dia pun tau bahwa anaknya itu telah jatuh cinta pada putri pertama Chu.


Tapi apa mau dikata, jenderal Chu telah memintanya menikahkan sang anak dengan putri bungsunya. Ia tidak bisa menolak karena plakat resmi milik kaisar.


"Ming De, tolong mengertilah! Situasi kali ini tidak semudah yang kau pikirkan. Plakat pribadi Yang mulia kaisar telah ikut andil dalam pertunangan kalian. Pernikahan antara kau dan Chu Ling atas perintah Kaisar. Dekrit itu akan turun ketika upacara pernikahan kalian berlangsung.. "


Zhao Ming De dan adiknya saling bertukar pandang. Sorot mata keduanya telah menggambarkan ketidakpahaman yang mereka terima.


"Kita tidak bisa menolak pernikahan ini. Kaisar lah yang menjodohkan kalian! Kau pasti tau konsekuensinya jika tetap bersikeras menolak perintah yang mulia, bukan?!" Jelas tuan besar Zhao dengan suara melemah.


Zhao Ming De terduduk lemas. Ia kehilangan kata-kata. Sang adik gelagapan memapah tubuhnya yang seakan kehilangan kendali.


"Mengapa yang mulia sampai turun tangan menikahkan kakak dan Chu Ling, bukankah keluarga kita tidak pernah memihak dalam pertikaian politik manapun?" Tanya Lin Lin masih dalam posisi tidak mengerti.


"Justru karena itu, Lin Lin! Yang mulia ingin kita berpihak pada kubu jenderal Chu. Dengan menyetujui pernikahan kakakmu, masa depan keluarga kita akan dijamin oleh Kaisar secara langsung. Paling tidak nyawa kita aman untuk sementara waktu. " Jawab sang ayah dengan penuh kesabaran.


"Berarti kita tidak bisa netral lagi? Benarkah kakak?" Gumam Lin Lin sedikit gelisah.


Zhao Ming De tak bergeming. Pria itu tetap menatap lantai tanpa bergerak sedikitpun.


"Tidak pernah ada posisi netral dalam politik. Tidak akan pernah ada. Selalu ada dua pilihan yang tersedia, memilih untuk bersekutu atau menjadi musuh. Itulah jahatnya politik." Lirih tuan besar Zhao mengakhiri pembicaraan sebelum ia benar-benar meninggalkan kedua anaknya yang masih berlutut ditempat semula.


Zhao Lin Lin mengelus lembut punggung saudaranya. Meski tidak berkata apapun, ia mengerti dengan jelas kesedihan dan kekecewaan yang dirasakan kakak laki-laki nya itu.


"Kak... Kakak harus kuat. Mungkin suatu saat kakak akan bisa membuka hati untuk istri kakak dan melupakan kakak Yao." Hibur Lin Lin dengan lembut.


Sang kakak tetap mematung bahkan tubuhnya tambah bergetar menahan gejolak emosi yang ia pendam.


Ia tidak akan mungkin bisa melupakan Chu Yao dengan mudah. Dari sekian gadis yang pernah ia temui di sepanjang hidupnya, hanya Chu Yao yang telah meluluhlantakkan hatinya.


Tidak ada yang sebanding dengan kelincahan dan kecerdikan gadis itu. Pahatan garis tubuh yang tegas nan lembut yang Tuhan ciptakan untuk gadis itu begitu sempurna. Perpaduan yang nyata antara kecantikan dan karakter diri yang langka.


"Dahulu aku skeptis mendengar rumor kecantikan istri pertama jenderal Chu yang konon bisa membuat orang-orang yang melihatnya terdiam terpesona. Namun sekarang aku mengerti setelah aku mengalaminya sendiri. Anaknya telah membuatku jatuh dalam pesonanya.. "


Zhao Ming De menatap sang adik dengan sendu, "... Aku telah jatuh cinta pada Chu Yao dan aku tidak bisa memilikinya.. "


"Kakak... " Air mata Lin Lin menetes tanpa ia sadari, " ... Kakak belum benar-benar menikah dengan Chu Ling. Kakak masih memiliki kesempatan."


"Ayo, ikutlah denganku sekarang. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat."

__ADS_1


Zhao Lin Lin menarik tubuh kakak laki-laki nya hingga berdiri tegak. Kemudian keduanya berjalan keluar kediaman bersama dua orang pelayan pribadi yang mereka miliki.


Nampak sebuah kereta didepan pintu gerbang kediaman. Kereta itu seakan menunggu kedatangan mereka. Meski tidak bersemangat, Zhao Ming De tetap mengikuti  instruksi sang adik yang menyuruhnya masuk kedalam gerbong.


Dalam hitungan menit, kereta itu telah melaju meninggalkan kediaman Zhao. Menuju pusat perkotaan yang ramai dengan hiruk pikuk jual beli perdagangan.


***


Dilain tempat, Mo Yan kembali bertemu dengan jenderal Luo dan menteri Chen. Kedua orang itu menyamar sedemikian rupa agar menyerupai penduduk ibu kota.


Mereka memasuki sebuah kedai kecil yang tidak begitu ramai di sudut gang sempit di tengah kota. Di sana, mereka dituntun untuk berjalan mengikuti seorang pelayan yang merupakan mata-mata Alorra.


Begitu sampai di sebuah ruang rahasia, jenderal Luo dan menteri Chen memberi salam hormat kepada Mo Yan.


Pemuda itu menganggukkan kepalanya kemudian mempersilakan kedua orang tua itu duduk bersama mengelilingi sebuah meja persegi panjang yang cukup besar.


"Pesan yang mulia sudah kami terima. Hanya saja kami tidak bisa membalasnya secara tertulis." Ucap jenderal Luo membuka pembicaraan.


"Benar yang mulia. Kami berpikir lebih baik bertemu langsung dengan yang mulia dan menceritakan semua yang kami ketahui." Timpal menteri Chen.


Mo Yan mengangguk pelan kemudian bertanya, "Bagaimana keadaan Alorra saat ini?"


"Berkat instruksi dan saran dari yang mulia kami bisa menangkap dalang dibalik penyerangan di kota Nian. Kami sudah memberi ultimatum kepada pejabat lainnya. Jika ada yang ingin berkhianat, kita tidak akan segan melenyapkan mereka hingga tiga keturunannya." Jawab menteri Chen tanpa ragu.


"Saat ini sistem dan kondisi pemerintahan kita sudah terkendali. Alorra siap menyambut kepulangan yang mulia." Tambah pria tua itu dengan senyum puas.


Mo Yan tetap datar menanggapi antusiasme menteri Chen. Wajah dinginnya kembali beralih pada jenderal Luo, "Bagaimana dengan informasi yang saya minta? Apakah jenderal sudah menemukan kebenarannya?"


Sesaat jenderal Luo memutar bola matanya kearah menteri Chen. Seakan meminta dukungan mental sebelum menyampaikan apa yang ingin didengar oleh penguasa Alorra tersebut.


"Sesuai dugaan yang mulia, perjanjian perdamaian Airland dan Alorra memang di prakarsai oleh jenderal Chu. Beliaulah yang meminta Kaisar untuk menarik semua prajurit di perbatasan.."


"Pernikahan Chu Zhan?" Gumam Mo Yan dengan wajah serius.


Ia berpikir sejenak kemudian mengambil sebuah kuas dan menuliskan beberapa kata di atas kertas yang sudah terbentang di atas meja sebelumnya.


Kedua orang tua kepercayaannya ikut mengamati apa yang sedang ditulisnya. Sesekali mereka saling bertukar pandang. Seolah sedang bertanya tentang makna tulisan didepan mereka.


"Ini... Apakah yang mulia sedang membuat analisis permasalahan?" Tebak menteri Chen ketika melihat tarikan garis yang seperti menghubungkan satu kata dengan kata lainnya.


"Benar! Aku merasa harus menjabarkan semua data laporan yang telah ku terima agar bisa membuat suatu kesimpulan." Jawab Mo Yan dengan suara yang dalam.


Menteri Chen dan jenderal Luo seketika tersentak begitu mengetahui beberapa fakta yang tertulis di kertas tersebut.


"Apakah kalian cukup terkejut?" Sindir Mo Yan dengan halus saat mendapati kedua orang itu membelalakkan mata ke satu arah.


"Yang mulia lebih tau dari kami. Jujur saja kami memang sangat terkejut mengetahui bahwa Kaisar dan putri raja Merva adalah sepasang suami-istri." Ucap menteri Chen rendah hati.


"Berarti putri jenderal Chu yang pertama itu adalah putri kandung Kaisar Airland saat ini? Bagaimana bisa? Apakah perempuan itu sudah tau jati dirinya?" Timpal jenderal Luo dengan ekspresi terperangah.


"Tidak, dia belum tau kebenarannya sampai saat ini... " Jawab Mo Yan dingin.


Ia kembali menambahkan, "Bantu aku membaca rencana jenderal Chu dengan semua petunjuk yang ada disini."


Kedua orang tua itu mengangguk siap. Dalam sekejap raut wajah mereka bertiga menjadi sangat serius.


Mo Yan menunjuk satu demi satu kata yang tertulis di atas kertas itu dan dengan sabar menjelaskannya. Sesekali ia membuat tarikan garis dan menuliskan beberapa kata diatasnya. Memberi beberapa lingkaran dan tanda khusus di bagian tertentu yang dianggap penting.


Beberapa jam berlalu hingga ketiganya menemukan satu kesimpulan yang tidak terbantahkan.

__ADS_1


Jenderal Chu sekarang sedang mempersiapkan pertahanan guna melawan serangan permaisuri dan putra mahkota.


"Orang ini tidak waras. Apakah dia benar-benar akan mengorbankan putri kandungnya sendiri setelah sekian lama ia rahasiakan keberadaannya?" Cerca jenderal Luo sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Dan jenderal Chu juga mau-mau saja melakukan hal-hal diluar nalar demi Kaisar sinting ini. Apa dia berniat mengorbankan dirinya?" Tambah jenderal Luo frustasi.


Memang benar bagi orang-orang yang berkecimpung dalam dunia kemiliteran seperti mereka, kesetiaan itu menjadi prioritas utama. Namun situasinya akan berbeda jika pimpinan negaranya penuh keegoisan seperti Kaisar Airland.


Kesetiaan untuk orang seperti itu tidak diperlukan!


"Jika dugaan saya tidak salah, jenderal Chu sedang mempersiapkan perlawanan terhadap permaisuri dan putra mahkota." Tutur menteri Chen dengan sikap yang lumayan tenang.


Pria tampan dengan mata yang tajam itu menarik napas, "Menteri Chen benar. Tidak mudah melawan permaisuri yang memiliki banyak dukungan dibelakangnya.."


"Jenderal Chu nampaknya mengikat Kaisar dengan pernikahan putranya. Jika tuan muda Chu menikah sebagai pangeran pendamping, setidaknya apapun yang akan terjadi pada sang jenderal tidak akan membawa dampak besar bagi keluarga nya. Akan ada Kaisar yang memberi kelonggaran hukuman, jikalau sang jenderal dituduh melakukan kudeta ketika melawan permaisuri secara terang-terangan.. " Ucap Mo Yan.


"Meski nyawa jenderal Chu ini akan melayang, bisa dipastikan keselamatan anak dan istrinya akan terjaga dengan status pangeran pendamping serta dukungan dari Kaisar.." Celetuk menteri Chen yang mulai tertarik dengan penjabaran yang Mo Yan berikan.


"Kaisar akan menurunkan titah penyelamatan untuk keluarga jenderal Chu mengingat jasa yang telah diberikan jenderal semasa hidupnya.."


"Belum lagi seandainya jenderal Chu berhasil mengikat pejabat netral yang berpengaruh besar di masyarakat, bisa jadi pihak permaisuri dan Sekutu tidak akan berkutik sedikitpun." Tambah menteri Chen berspekulasi.


"Benar.. Membuang satu kepala demi menyelamatkan banyak kepala.. Pengorbanan yang sepadan.. " Gumam Mo Yan yang mulai faham dengan perdebatan di kamar pribadi Kaisar beberapa hari yang lalu.


Menteri Chen mendekat kearah Mo Yan. Gerak tubuhnya terlihat gusar. Meski sedikit ragu ia tetap menyampaikan apa yang ia ingin katakan.


"Yang mulia, mohon maafkan jika saya berkata lancang. Situasi yang keluarga Chu hadapi sangat berbahaya. Sebaliknya yang mulia tidak ikut campur dalam permasalahan ini. Kembalilah bersama kami secepatnya."


"Tapi kita harus membalas dendam kepada Airland. Kaisar Airland telah berhutang nyawa pada Alorra. Manusia paling serakah yang pernah ada di jagat bumi adalah dirinya!" Geram jenderal Luo.


"Meski seluruh keturunannya meminta maaf takkan bisa mengganti rasa sakit penduduk Alorra! Yang mulia harus membalaskan dendam kedua orang tua dan saudara-saudara yang mulia yang telah tewas ditangan Kaisar laknat itu! Yang mulia harus membuat penjahat dan para keturunannya merasakan apa yang rakyat kita rasakan!!!" Raung jenderal Luo dengan amarah yang tidak tertahankan.


Mo Yan terdiam. Ia nampak berpikir panjang menanggapi perkataan jenderal Luo barusan.


"Apakah ada yang mengganggu pikiran yang mulia?" Tanya menteri Chen penuh selidik.


"Apakah yang mulia merasa ragu karena putri pertama jenderal Chu adalah anak kandung Kaisar?" Tambah menteri Chen dengan nada curiga.


Meski nampak tenang, nyatanya Mo Yan cukup terkejut atas ucapan berani menteri tua itu.


"Dia tidak bersalah." Kilah Mo Yan yang masih stagnan dengan wajah datarnya.


"Namun dia masih keturunan Kaisar bejat itu! Ada darah pembunuh yang mengalir ditubuhnya! Saya harap yang mulia tidak mudah terpengaruh hanya karena perasaan sesaat yang sedang yang mulia rasakan!" Tegas jenderal Luo.


"Yang mulia harus ingat pengorbanan dan rasa sakit yang diderita Alorra! Tolong balaskan dendam negara kita! Saya mohon yang mulia!"


Jenderal Luo membalas dengan frontal seraya bersujud dihadapan Mo Yan. Pemuda itu mengerutkan alis. Pikiran nya semakin tidak menemui ketenangan.


"Aku pasti membalaskan dendam keluarga dan rakyat Alorra. Tapi tidak saat ini. Meskipun Chu Yao merupakan anak kandung Kaisar Airland, dia tidak boleh menanggung karma dari kebiadaban ayahnya." Ucap Mo Yan tertekan.


Ia menahan emosinya dengan menarik napas dan memejamkan mata sejenak, "Aku akan kembali secepatnya. Setelah menyelesaikan tugas terakhirku disini. Kalian tak perlu khawatir. "


"Tapi.. " Suara jenderal Luo terhenti karena hentakan di kaki. Menteri Chen memberinya isyarat untuk diam.


"Kami mengerti. Kami akan mendukung keputusan yang mulia pilih. Kamipun akan tetap setia menunggu kepulangan yang mulia. Kapanpun itu. Perihal balas dendam, akan kita lakukan ketika situasi sudah terasa aman. " Senyum menteri Chen menenangkan syaraf-syaraf Mo Yan yang berdenyut.


Pria tua yang pintar berstrategi itu sengaja mengalah. Seolah-olah memberi ijin atas kelonggaran yang Mo Yan harapkan.


Tapi nyatanya tidak demikian.

__ADS_1


Menteri Chen hanya mengulur waktu. Mencari celah untuk membawa penerus terakhir Alorra kembali ketempat asalnya. Meski harus dengan cara licik sekalipun.


__ADS_2