
Hari sudah petang ketika Chu Yao melangkah keluar kamar. Dengan pakaian santainya yang cukup tebal, ia menikmati hembusan angin peralihan. Musim gugur sepertinya akan segera tiba.
"Kau sudah meminum obatmu?" Tanya Chu Yao dengan sudut bibir sedikit melengkung saat menyadari siluet Mo Yan telah berada dibelakangnya.
"Sudah." Jawab Mo Yan singkat. Pria itu tau persis mangkuk yang berisi cairan hitam pekat disamping mangkuk kosong itu pasti sengaja disediakan untuknya.
Ya, obat di mangkuk satunya sudah lebih dulu habis ditelan perempuan itu. Sebelum ia beranjak keluar dari kamarnya.
"Dari mana saja kau? Bukankah aku menyuruhmu beristirahat dan baru menemuiku esok pagi." Chu Yao membalikkan badan dan kembali menanyai pria berwajah datar itu.
Mo Yan menundukkan badan dengan sikap hormat, "saya patut di hukum."
Chu Yao tidak bisa berkata-kata. Mo Yan benar-benar pria paling kaku yang pernah ia jumpai di dua kehidupan. Ia tak ingin mendebat. Tubuhnya sudah cukup lelah efek perjalanan yang cukup hebat beberapa hari yang lalu. Ditambah beban pikiran baru yang diperolehnya dari paman Tong dan bibi Hui.
Seakan-akan hitamnya obat yang tadi ia telan berbanding lurus dengan perasaan yang ia rasakan sekarang.
Chu Yao tak menghiraukan tatapan dalam sang pengawal. Ia sibuk berpikir hingga tidak sadar telah duduk di kursi taman yang terletak tidak jauh dari kamar pribadinya.
Tanpa berkata apapun Mo Yan tetap mengikuti sang majikan. Mata elangnya tak berkedip melihat sosok cantik bak lukisan itu. Rambut panjang yang tergerai dengan lembut menyentuh tangan Mo Yan akibat angin yang bertiup.
Samar, keharuman khas Chu Yao memenuhi rongga pernapasannya. Cukup membuat nalurinya sebagai laki-laki terlena.
"Permaisuri mengirimkan mata-matanya ke kediaman Chu. Dua orang diantaranya sudah berada di paviliun ini. Tapi mereka belum aku ijinkan bertemu denganku. Bagaimana menurut mu? Apa kau sudah melihat mereka?" Chu Yao membuka pembicaraan dengan menyibak helaian rambutnya yang masih tertiup angin. Leher putihnya yang jenjang seketika nampak memenuhi penglihatan Mo Yan saat itu.
"Meski sekilas, saya sudah melihat dua orang perempuan dengan rentang usia dua puluh lima tahun lebih ketika memasuki paviliun dingin hari ini. Melihat dari bahasa tubuh, mereka memang seperti pelayan yang sudah terlatih. Setidaknya dalam hal memata-matai orang lain." Jawab Mo Yan dengan wajah tanpa ekspresi.
Chu Yao diam dalam hening. Ia mencoba kembali menghubungkan benang merah dari semua informasi yang dia terima. Namun otaknya tetap menemui jalan buntu.
"Aku merasa permasalahan yang sedang ku hadapi ini seperti gumpalan benang yang tak beraturan. " Keluh Chu Yao sembari menghela napas panjang.
"Padahal gadis seusiaku pada umumnya tengah sibuk mencari kandidat pendamping hidup, tapi aku justru terjebak dengan permasalah pelik ini." Ia teringat adik tirinya yang sering salah tingkah ketika bertemu dengan tuan muda Zhao dan itu malah membuatnya terkekeh.
Mo Yan tak bergeming. Ia hanya mendengarkan celoteh acak Chu Yao. Seolah-olah memahami bahwa gadis itu tengah berada di fase lelah berpikir.
"Oh iya, apa aku boleh bertanya hal yang sedikit pribadi?"
Mo Yan refleks menganggukkan kepala ketika gadis itu menyibak kan belahan rambutnya kesamping. Chu Yao memang tidak bermaksud menggoda namun gerak anggunnya justru membuat membuat Mo Yan tak bisa berkata-kata. Pemuda itu terpukau. Siluet cantik itu telah menguasai alam bawah sadarnya.
"Jepit rambut yang kau simpan itu milik kekasihmu?" Tanya Chu Yao dengan kikuk.
"Bukan.." Mo Yan terlihat sedikit kebingungan, "... benda itu akan saya berikan untuk perempuan yang saya cintai."
Jawaban ambigu yang Mo Yan berikan justru membuat keduanya menjeda. Chu Yao mendadak canggung bahkan menggaruk pipinya yang sama sekali tidak gatal. Ia cukup menyesal telah menanyakan pertanyaan bodoh itu kepada Mo Yan.
Ia cukup terkejut jika pria kaku itu juga bisa mempunyai perasaan cinta layaknya seorang pria pada umumnya. Ia malah semakin terkekeh. Di satu sisi ia bahagia mengetahui bahwa Mo Yan juga merupakan pria yang normal. Di satu sisi ia pun merasa sedikit sebal karena perempuan beruntung itu bukan dirinya.
Entahlah! Chu Yao sendiri tak mengerti dirinya.
"Nona, tunggulah sebentar. Ada yang ingin saya perkenalkan." Mo Yan menghentikan gerak langkah Chu Yao. Pria itu memanggil sebuah nama. Dalam sekejap sesosok pria dengan rentang usia yang hampir sama dengan Chu Yao telah berdiri didepan mereka.
"Dia adalah junior saya. Dia akan menggantikan saya untuk menjaga nona jika saya sedang tidak ada disisi nona. Nona bisa memerintahkan hal yang sama padanya seperti yang nona lakukan terhadap saya." Jelas Mo Yan.
"Nona bisa memanggil saya, A-Wei." Ucap A-Wei memperkenalkan dirinya secara singkat.
__ADS_1
Chu Yao tersenyum dan menyapa pemuda baru itu dengan ramah. Meski hanya sekilas, Mo Yan melihat ada jejak kekaguman dimata A-Wei.
Sekilas! Hanya sekilas! Tetapi sudah membuat rahang Mo Yan mengeras.
A-Wei merogoh baju dalamnya dan mengeluarkan sesuatu di sana. Ia menyerahkan benda tersebut kepada Mo Yan. Tanpa memperpanjang waktu, A-Wei memberi hormat dan kembali menghilang hanya dalam sekejap mata.
" Ini?" Chu Yao melayangkan tatapan penuh tanya ketika sebuah belati berwarna perak berada di tangannya.
"Ini belati baru yang secara khusus saya desain untuk mengganti belati milik nona yang hilang. Belati ini memiliki ketajaman di atas rata-rata karena terbuat dari bijih baja murni yang ditempa setipis mungkin untuk menyesuaikan gerak tubuh pemiliknya."
"Lihatlah, di bagian bawah gagang ada sebuah celah, di sana terdapat sebuah pisau dengan ukuran yang sangat kecil namun memiliki kemampuan membunuh setara dengan lima kali tusukan di area vital."
Mo Yan menjelaskan dengan begitu detil. Ia bahkan langsung membuka sarung belati dan menunjukkan ketajaman belati itu dengan melemparkan nya di ranting pohon yang cukup besar. Seketika ranting tersebut putus dan terjatuh dengan mulus ke tanah.
Mo Yan segera mengambil kembali belati tersebut dan menyerahkannya pada Chu Yao. Perempuan cantik itu menerima dengan perasaan bahagia.
"Terima kasih, Mo Yan. Aku akan menyimpannya dengan hati-hati." Ucap Chu Yao yang tanpa ragu memegang tangan pemuda itu.
Semburat merah pun menjalari wajah Mo Yan yang tegas. Dan lagi-lagi mengunci dirinya dalam kilauan pesona. Perempuan itu telah menghipnotis dirinya.
***
Tak terasa pasukan jenderal Chu sudah memasuki ibu kota. Pasukan yang gagah berani itu disambut dengan meriah oleh tepuk tangan dan rasa bangga masyarakat sekitar.
Perjalanan yang cukup panjang itu akhirnya terhenti tepat di depan benteng pertahanan istana Kekaisaran. Semua prajurit berdiri dengan posisi siap menunggu komando dari sang jenderal.
Jenderal Chu dan Chu Zhan mewakili para pasukan untuk menghadap baginda kaisar. Mereka berjalan begitu berwibawa dengan baju zirah yang masih terpakai lengkap di atas karpet merah yang membentang dari ujung gerbang hingga kedalam aula pertemuan.
Kedua orang itu berlutut dan memberi salam hormat kepada pria nomor satu di negara Airland. Disaksikan jajaran para menteri dan putra mahkota, Kaisar mengangkat tangannya dan memberi ucapan selamat kepada mereka.
"Berkat kebaikan hati Yang mulia lah kami bisa berada di ibukota lagi. Hamba beserta seluruh pasukan mengucapkan terimakasih." Balas jenderal Chu dengan rendah hati.
"Kau terlalu memujiku." Senyum Kaisar Long Jin Mao, "mendekatlah! Aku ingin mendengar bagaimana cara kau menjaga perbatasan. Aku ingin semua orang di istana mendengar perjuangan heroik kalian membela tanah Kekaisaran Airland yang besar ini."
Jenderal Chu menuruti perintah. Ia berjalan maju beberapa langkah dengan sikap yang masih penuh rasa hormat. Putra mahkota yang berada di barisan paling depan para menteri tanpa sadar melirik sinis. Dan sialnya tatapan itu telah dilihat oleh Chu Zhan. Raut wajah tenang yang dimiliki putra satu-satunya jenderal Chu itu menjadi tidak terbaca.
"Katakan padaku apa kalian mengalami hal-hal yang sulit selama berada ditempat terpencil itu?" Tanya kaisar dengan intonasi pembicaraan yang sangat bersahabat hingga sedikit banyak menimbulkan rasa iri dari beberapa pejabat yang hadir di sana.
"Hamba tidak berani mengeluh. Semua berjalan dengan lancar sebagaimana yang mulia harapkan. Pasukan Alorra pun sudah ditarik mundur dari tempat itu. Kedamaian akan selalu berada di kedua negara selama yang mulia memimpin. Sepertinya Tuhan pun memberi berkahNya karena negara kita memiliki pemimpin yang begitu bijaksana, seperti yang mulia. Semoga yang mulia selalu berjaya dan panjang umur. "
Kaisar tertawa renyah mendengar pujian yang dilontarkan jenderal kepadanya, namun tidak dengan putra mahkota dan beberapa menteri serta pejabat yang menjadi sekutunya.
"Nampaknya mengirim jenderal keperbatasan kali ini benar-benar suatu keberuntungan untuk Airland. Bagaimana tidak, semua permasalah yang hampir tidak memiliki solusi tiba-tiba terselesaikan dengan begitu mudah dan juga singkat." Ucap menteri perdagangan yang notabene pendukung putra mahkota garis keras.
"Benar, sebelumnya saya sempat merasa cemas akan terjadinya peperangan dengan negara tetangga. Ditambah desas-desus tentang pangeran bungsu yang masih hidup dan selama ini berada di Airland. Bukankah semua itu cukup membuat pihak Alorra mengira kita telah menculik penerus mereka." Tambah putra mahkota menimpali.
Putra mahkota tersenyum sinis dan kembali menambahkan,"Apa lagi beberapa waktu yang lalu saya mendengar bahwa beberapa prajurit Kekaisaran telah membunuh para penyusup Alorra secara membabi buta di pinggir kota Nian. Dengan keadaan yang seperti itu, jika saya berada di posisi Alorra, saya tidak akan mau melakukan perdamaian dengan mudah. Kecuali memang ada yang bisa memberikan jaminan kompensasi yang sesuai dengan keinginan... "
"Putra mahkota tidak perlu khawatir, kami tidak akan berkhianat. Kamipun tidak mengetahui tentang penyerangan para penyusup apa lagi tentang desas-desus penerus kerajaan Alorra. Bagi kami yang ditugaskan menjaga pertahanan negara, kami tidak memiliki waktu luang untuk mencampuri urusan yang bukan menjadi kapasitas kami." Bantah jenderal Chu dengan rasa sabar meskipun beliau sangat memahami perkataan putra mahkota yang tengah menyudutkan nya.
Putra mahkota dan antek-antek nya memasang tampang tidak senang. Mereka tau bahwa jenderal Chu sedang membalas tudingan mereka. Seakan-akan merekalah yang suka ikut campur urusan yang bukan menjadi tanggung jawab mereka.
"Jadi kau menuduhku suka mencampuri urusan orang lain?" Ucap putra mahkota dengan penekanan yang cukup tinggi.
__ADS_1
"Hamba tidak berani. Yang mulia putra mahkota akan menjadi penerus baginda Kaisar, sudah sepatutnya memiliki andil memikirkan keamanan negara. " Bantah jenderal Chu dengan sopan dan tenang.
"Hanya saja, keputusan damai kali ini atas dasar pertimbangan matang baginda Kaisar. Hamba rasa kita sebagai orang-orang yang setia tidak pantas mempertanyakan tindakan yang di tempuh Yang mulia. Bukankah kita justru harus mendukung dekrit yang dititahkan beliau demi keamanan dan kejayaan masyarakat Airland?" Tambah jenderal Chu sembari menunduk hormat kearah baginda Kaisar.
Hiruk pikuk didalam aula pertemuan mulai terdengar. Jawaban jenderal Chu membuat semua yang berada di sana berpikir bahwa secara tidak langsung putra mahkota tidak mendukung langkah ayahandanya sendiri.
Putra mahkota dan beberapa orang dibelakangnya seakan tidak menginginkan kedamaian di kedua negara.
Padahal sudah cukup bagus jika Alorra menyetujui kesepakatan damai. Kesempatan baik ini bahkan bisa mereka manfaatkan kelak untuk mengajak pihak Alorra bekerjasama dalam berbagai aspek. Khususnya dalam memperbesar ruang lingkup perdagangan. Bukankah tindakan Yang mulia kali ini justru membantu memakmurkan rakyat Alorra.
Meskipun tujuan asli dari Kaisar tidak terbaca oleh para pejabat netral di sana, namun pihak jenderal Chu dan putra mahkota sangat memahaminya. Perang Dingin diantara dua kubu tersebut memang sudah tidak bisa terelakkan.
Terlebih ketika putra mahkota merasakan keberpihakan Kaisar terhadap kubu jenderal Chu alih-alih padanya. Ia semakin mengibarkan bendera permusuhan pada orang-orang yang ada dihadapannya.
Kaisar kembali berdehem. Meredam suasana yang mulai memanas dengan membubarkan pertemuan lebih awal.
Jenderal Chu dan putranya kembali menemui para pasukan yang sejak tadi menunggu mereka. Dengan sikap tegas penuh wibawa dan atas perintah jenderal Chu, Chu Zhan membubarkan barisan pasukan dengan tertib.
Tak lama setelah pembubaran pasukan, sosok pangeran kedelapan muncul bersamaan dengan dua orang pengawal pribadinya dan mencegat kedua orang itu tepat diluar gerbang istana.
"Salam hormat untuk pangeran kedelapan." Ucap jenderal Chu bersamaan dengan Chu Zhan.
Ye Zuan mengangkat kipasnya, "tidak perlu sungkan, saya akan menemani kepulangan kalian kali ini. "
Jenderal Chu tak menolak. Ia bahkan membalas perlakuan sopan Ye Zuan dengan senyum hangat. Tanpa banyak bicara pun mereka tau bahwa Yang mulia kaisar lah yang telah menyuruh pangeran tersebut mengawal mereka.
Pangeran Ye Zuan yang sering bergerak dibalik layar itu justru menampakkan diri bersama mereka dimuka umum, bukankah secara tidak langsung telah menyatakan dukungannya terhadap kubu jenderal Chu.
"Apakah tidak apa-apa menyatakan perlawanan secara langsung seperti ini, pangeran?" Chu Zhan akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. Rasa penasaran telah mengalahkan sikap sungkannya terhadap status mulia sang pangeran. Alih-alih tersinggung, Ye Zuan justru bersikap santai.
Ye Zuan tertawa dengan kibasan kipas, "Tidak! Tentu saja tidak apa-apa! Cukup lama aku menunggu moment ini."
Ye Zuan memang tidak berbohong. Ia memang sudah merencanakan perlawanan terhadap putra mahkota sejak lama, hanya saja belum menemukan waktu yang tepat. Dan jenderal Chu telah membantunya mewujudkan rencana tertundanya ketika beradu mulut dengan putra mahkota di aula pertemuan barusan.
Ye Zuan terkekeh mengingat raut wajah kakaknya saat itu. Mungkin putra mahkota tidak pernah menyangka bahwa sikap provokatif nya justru menjadi bumerang untuknya. Dia teledor karena telah menganggap remeh jenderal Chu.
***
Kediaman Chu akhirnya telah nampak lebih baik setelah mempersiapkan berbagai persiapan guna menyambut kepulangan jenderal dan Chu Zhan. Semua sisi terlihat semakin bersih dan rapi. Aneka tanaman kembali ditata sedemikian rupa, ornamen dan pernak-pernik keberuntungan berada hampir di setiap tempat.
Chu Yao hanya duduk memperhatikan ibu dan adik tirinya dari kejauhan. Dua perempuan itu nampak sibuk dari semua aspek. Entah itu persiapan di dalam mansion bahkan penampilan mereka pribadi.
Seperti biasa, Chu Ling memakai gaun terbaiknya dengan tatanan rambut kekinian. Chu Yao tidak bisa menapik bahwa adik tirinya itu memang memiliki paras yang lumayan cantik. Hanya saja kecantikannya tenggelam karena sifat manja dan arogan yang sudah mendarah daging di dirinya.
Sedangkan nyonya Xun tidak kalah memukau. Gaun hijau tosca yang dikenakannya sangat kontras dengan karakter yang dimilikinya. Suka tidak suka, Chu Yao tetap harus memuji wanita pilihan ayahnya ini dan itu cukup membuat rasa geli di dalam perutnya.
Seorang penjaga berjalan cepat kearah nyonya Xun. Pria itu mengabarkan kalau rombongan jenderal sudah mendekati mansion.
Chu Yao tetap berjalan santai disaat yang lain nampak terburu-buru. Ia bahkan berdiri sedikit jauh dari ibu dan adik tirinya.
"Apa nona sedang berpikir kepulangan jenderal kali ini sedikit mencurigakan?" Tanya Mo Yan yang sejak tadi berada disamping nya.
Chu Yao tertawa pelan. Ia memang tidak bisa menyembunyikan apapun dari pengawal pribadi nya. Mo Yan seakan tau apa yang telah dipikirkan nya sejak tadi.
__ADS_1
"Kau benar. Aku mungkin terkesan berlebihan tapi coba kau pikir dalam-dalam. Aku merasa sikap permaisuri sebelumnya berkaitan erat dengan keputusan yang mulia Kaisar memulangkan pasukan dari perbatasan." Jawab Chu Yao dengan suara yang hampir mendesis.
Mo Yan sependapat. Ia pun mencium aroma konspirasi dari kepulangan jenderal Chu kali ini. Nampak Chu Yao dan Mo Yan ingin sekali mengupas dan menjabarkan duduk persoalan yang sedang menari-nari di otak mereka. Namun dengan tiba-tiba kedua orang itu terpaksa diam seribu bahasa saat menyadari salah satu pelayan kiriman permaisuri sedang memperhatikan gerak-gerik mereka.