
Sudah hampir tiga puluh menit Mo Yan berdiri di balik pohon besar di ujung paviliun alam. Seolah-olah menunggu seseorang muncul untuk mempersilakannya masuk kedalam salah satu kamar.
Padahal fakta sebenarnya, ia tidak mengetahui kamar manakah yang harus ia tuju.
Seharusnya sejak memutuskan untuk mencari tau, Mo Yan harus bertanya dimanakah tabib perempuan itu tidur.
Tapi jika bertanya, malah menimbulkan kesan absurd dan sedikit cabul.
Mo Yan mengusap wajah dengan tangan kanannya. Entah karena merasa bodoh atau malu dengan tindakan tidak bermoral yang ingin dia lakukan.
Meski dulu dia pernah melakukan hal yang sama saat menjadi pengawal pribadi dikediaman Chu. Mengintip seseorang atas perintah majikan dengan niat sendiri itu sungguh berbeda.
"Ini konyol! Hanya karena sebuah firasat, aku harus melakukan hal yang tidak terpuji seperti ini." Bisik Mo Yan dalam hati.
Alih-alih mengurungkan niat, Mo Yan justru kembali melompat dan menuju kesisi kiri paviliun alam. Diantara ketiga kamar yang ada disana, hanya kamar paling kiri itu saja yang masih terang dengan cahaya lilin.
Tanpa membuat suara sedikitpun, Mo Yan turun dan berjalan kearah jendela kamar yang terbuka lebar.
"Sampai kapan kau akan memperhatikanku seperti itu?"
Mo Yan terkesiap. Hampir saja memperlihatkan diri karena suara itu terdengar akrab di telinganya. Namun akhirnya ia tetap stagnan ditempat semula saat menyadari bahwa perkataan itu bukan ditujukan untuk dirinya.
"Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu menatapku dengan wajah murung. Jelek sekali!"
"Biar saja jelek dari pada harus melihat kakak seperti tadi!"
Chu Yao terkekeh pelan mendengar respon detensif sang adik.
Siang tadi, ketika kembali selepas perselisihan dengan putri perdana menteri, kondisi Chu Yao sudah mulai tidak stabil.
Penyakit lama perempuan itu kambuh. Sebenarnya itu merupakan penyakit yang diakibatkan rasa traumatis yang berlebihan.
Penyakit itu jarang sekali kambuh dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Hanya saja hari ini sepertinya penyakit itu timbul kembali karena di rangsang oleh situasi yang diluar kendali.
"apakah nona Sheng sudah pulang?" Tanya Chu Yao mengalihkan pembicaraan.
Fu Rong menganggukkan kepala, "Dia pergi setelah membantuku membaringkan kakak di tempat tidur. Tapi kakak tidak perlu cemas, dia tidak melihat kakak kambuh."
"Apa aku menyakitimu?!" Chu Yao kembali bertanya dengan nada serius.
"Tidak, kakak hanya merusak itu.. " Tunjuk Fu Rong kearah lemari pakaian yang sudah tidak utuh.
"Aku sudah menekan saraf gerak di punggung atas kakak dengan jarum akupuntur sesuai arahan kak Bai. Untungnya si cerewet itu meninggalkan beberapa butir obat untuk kakak sebelum berangkat. Aku tidak tau apa yang terjadi jika obat itu tidak ada.."
Fu Rong menghentikan ucapannya dan membuang wajah. Chu Yao tau bahwa gadis itu tengah menangis. Ia telah membuat sang adik bersedih.
"Sudah, jangan sedih begitu. Aku baik-baik saja."
"Tetap saja tidak baik!" Sela Fu Rong dengan suara sengau, "seandainya aku tidak mendapat masalah itu, penyakit kakak tidak akan kumat dengan cepat."
Chu Yao menghela napas dan mengelus lembut rambut gadis itu, "itu bukan salahmu. Oh ya, apakah tadi begitu parah?"
"Tidak separah biasanya. Kakak hanya sekali memuntahkan darah."
Fu Rong menatap Chu Yao yang tiba-tiba terdiam. Tangannya saling bertaut dan menggenggam. Ia terlihat kikuk dan serba salah.
"Apakah kita kembali saja? Sepertinya situasi disini tidak baik untuk kesehatan kakak."
"Tidak bisa, Xiao Rong. Fu Bai masih di pusat medis kerajaan dan kita pun sudah terikat janji untuk menyembuhkan kaisar.. " Tutur Chu Yao seraya menjelaskan.
"Tapi kak.. "
__ADS_1
"Tidak apa. Kau tidak perlu cemas. Sudah! Kembalilah ke kamarmu sekarang. Aku sudah jauh lebih baik. "
"Tapi.."
"Pergilah!" Bujuk Chu Yao dengan senyum dibalik cadar tipisnya. Ia tidak ingin Fu Rong merasa tidak aman tinggal disana.
Setidaknya ditempat itu hidup mereka terjamin dengan makan minum dan tempat beristirahat yang layak. Meskipun dalam tekanan, hanya tempat itu yang menerima mereka.
Fu Rong bangkit dengan ragu dan berjalan pelan kearah pintu. Raut wajahnya tak terlihat tenang.
"Tidurlah! Aku akan membangunkanmu jika memerlukan sesuatu." Ucap Chu Yao yang berusaha menenangkan perasaan gadis kecil itu.
Chu Yao menatap punggung Fu Rong dari balik jendela yang terbuka. Ia merenung dalam diam.
Begitu lama hingga Mo Yan harus mengintip untuk sekedar memastikan keadaan perempuan itu.
Mo Yan mengerutkan alis. Dia sedikit bingung. Perempuan bercadar itu tetap menatap kegelapan malam dalam diam. Entah apa yang sedang dipikirkannya sehingga pandangannya begitu jauh.
Namun tiba-tiba suara perempuan itu terdengar dengan lantang, "apapun niatmu, sebaiknya kau cepat pergi dari tempat ini! Malam ini aku tidak ingin berkelahi lagi! Jika aku sampai menangkapmu, jangan salahkan aku tidak memberi ampun! Aku bukan tipe orang yang akan berbaik hati untuk orang yang suka mencuri dengar pembicaraan orang lain. Dasar tukang intip!"
Mo Yan terkesiap mendengar bunyi 'BRAK!' yang keras. Ternyata jendela itu ditutup oleh perempuan itu dengan sekali tarikan.
Chu Yao sengaja membanting daun pintu jendela itu. Meski ia tidak tau siapa yang berada dibalik kamarnya, namun ia tau ada seseorang yang sedang mencuri dengar pembicaraannya dengan Fu Rong barusan.
Chu Yao merasa sedikit kesal karenanya. Alih-alih menangkap penyusup itu, Chu Yao justru merebahkan dirinya diatas dipan dan segera tidur.
Sedangkan Mo Yan harus mengerutkan alis karena mendapat perlakuan kasar dari perempuan itu.
Sudut bibir Mo Yan terangkat sekilas membentuk senyum yang samar. Wajah dinginnya kembali datar. Dengan sekali lompatan ia telah berada di atas atap kamar.
Rambut peraknya yang tergerai membuat siluetnya begitu indah dibawah sinar bulan.
Ia berjalan cepat, melompat melewati setiap tempat tanpa menimbulkan suara sedikitpun.
Merupakan suatu hal yang langka jika kaisar muda itu menyunggingkan senyum. Entah apa yang terjadi padanya. A-Wei tidak berani untuk bertanya.
"Mulai besok, sebarkan berita jika kondisi tubuhku melemah dan harus dirawat oleh nona Fu secara pribadi di sini. " Ucap Mo Yan sembari berbaring di tempat tidurnya.
"Baik." A-Wei menjawab dengan cepat.
Begitu hendak pergi, pengawal itu berhenti sejenak. Dengan ragu, ia kembali bertanya, "umm, nona Fu ada dua orang. Jadi.."
"A-Wei.." Panggil Mo Yan dengan suara berat, "aku tidak suka bercanda."
A-Wei menelan saliva saat menyadari perkataan dingin sang majikan. Dengan sigap pemuda itu undur diri dan pergi meninggalkan Mo Yan yang masih memandangnya dengan tajam.
***
Keesokan harinya kabar tentang kesehatan Mo Yan yang menurun telah menyebar dan sampai ke paviliun alam. Membuat Chu Yao dilema.
Disatu sisi ia ingin menghindari Mo Yan. Ia tak ingin pemuda itu menyadari jika dia masih hidup. Ia tidak mungkin menyeret pria itu dalam setiap permasalahan yang ia hadapi.
Disisi lain, kondisi Mo Yan sedang tidak baik-baik saja. Dia membutuhkan perawatan cepat. Saat ini hanya ada Chu Yao di sana.
Dengan berat hati Chu Yao mengikuti langkah kaki seorang kasim yang sudah menjemputnya menuju paviliun pribadi sang kaisar.
Begitu sampai didepan pintu kamar, Chu Yao disambut oleh seorang pria berpakaian hitam yang ia kenal.
A-Wei mempersilakan perempuan itu masuk dan kembali menutup pintu kamar dengan cepat.
"Nona Fu bisa langsung kedalam." Ucap A-Wei dengan sangat sopan hingga membuat bibir Chu Yao terangkat.
__ADS_1
Chu Yao tersenyum melihat pengawal itu. Sekarang, A-Wei sudah semakin tinggi dan entah mengapa pria itu pun semakin kaku. Semakin mirip dengan Mo Yan waktu itu.
Dengan perasaan waspada, Chu Yao berjalan pelan memasuki kamar pribadi sang kaisar muda.
Tak ada seorangpun disana.
Mata Chu Yao beralih seirama dengan gerak leher nya yang memutar seratus delapan puluh derajat.
Nihil. Ruang itu tetap kosong.
Tangan Chu Yao mengepal. Tubuhnya bergerak kesembarang arah. Mencari keberadaan pria yang katanya berada dalam kondisi lemah.
Haruskah aku memanggilnya?
Gila! Itu bunuh diri namanya! Pria itu bukan lagi pengawal pribadi yang bisa dipanggil seenak hati.
Chu Yao berdecak kecil. Ia tanpa sadar mengetuk kepalanya sendiri, "Memang sudah tidak waras."
"Apakah menungguku sebentar membuatmu bebas mengumpat?!" Suara berat Mo Yan yang tiba-tiba memecah kesunyian berhasil mengejutkan Chu Yao.
Perempuan itu mendadak membalikkan badan dan tidak sengaja menabrak tubuh atletis dibelakangnya.
Chu Yao mengaduh dengan kedua mata yang langsung tertutup rapat. Tangannya refleks mengelus dahinya yang memerah.
Mo Yan menghela napas. Dengan satu jari telunjuk, dia mendorong tubuh Chu Yao untuk pindah ke pinggir dan berjalan kearah kursi santai di tepi balkon.
Mata Chu Yao langsung terbelalak. Seakan tidak percaya dengan perlakuan pria itu barusan.
'Bisa-bisanya dia bersikap seperti itu! Apa dia jijik padaku?' Pikir Chu Yao.
Chu Yao mendadak menjadi kesal. Akan tetapi ia hanya bisa mengelus dada. Berusaha untuk tidak memberikan respon apapun.
"Saya datang untung memeriksa keadaan yang mulia." Tutur Chu Yao sambil memberi salam hormat.
Mo Yan tidak menggubris. Dia masih memandang keluar dengan tangan yang bersedekap.
Tak bisa dipungkiri bahwa sosok pemuda itu sekarang semakin rupawan. Wajahnya simetrisnya semakin tampan dengan rambut putih keperakan yang tergerai acak.
Postur tubuhnya semakin proposional. Kain yang menutup tubuhnya tidak bisa menyembunyikan otot-otot bisep yang telah terbentuk dengan sempurna.
Chu Yao menundukkan kepala. Mengalihkan pandangannya yang semakin liar. Meski tertutup kain tipis, namun sebagian wajahnya masih bisa menunjukkan semburat merah di beberapa sisi.
"Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu memeriksa kondisiku. Mulai hari ini kau akan tinggal bersamaku disini." Gumam Mo Yan dengan wajah datar tanpa memperdulikan rasa keterkejutan Chu Yao.
Dengan santai ia pun menambahkan, "semua keperluanmu sudah ada disana. Jika ada yang kau butuhkan, kau bisa memberitahukannya pada para penjaga. "
Mata Chu Yao bergerak mengikuti arah jari telunjuk Mo Yan. Diujung kamar terdapat sebuah dipan dengan lemari yang dibatasi oleh sekat tebal yang diduga Chu Yao sebagai 'tempat' barunya.
Chu Yao menelan saliva. Dengan gugup ia berkata, "i, ini tidak benar. Yang mulia ja.. "
Belum selesai Chu Yao berkata, sosok indah itu telah lenyap begitu saja. Seketika ruangan luas itu menjadi senyap.
Chu Yao melongo nampak seperti orang yang bodoh. Ia tidak bisa berkata-kata. Pria itu menjadi semaunya. Entah permainan apa yang sedang ia rencanakan.
Bulu kuduk Chu Yao meremang. Ia bergidik dan berjalan lemas kearah tempat tidurnya. Ia berbaring. Seolah pasrah dengan keadaan.
"Kenapa jadi seperti ini?" Keluh Chu Yao seraya memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri.
Tanpa ia sadari, tatapan tajam Mo Yan telah memperhatikannya dari kejauhan. Dengan wajah tanpa ekspresi, pemuda itu memerintahkan A-Wei untuk memperhatikan gerak gerik yang dilakukan Chu Yao.
Walaupun tidak mengerti jalan pikiran sang majikan, namun A-Wei mengangguk patuh dan menjalankan perintah tanpa bantahan sedikitpun.
__ADS_1
Mo Yan stagnan dengan pemikiran yang kompleks.